
POV CALLISTA
Aku menggeliat sambil meregangkan otot otot yang kaku. Membuka mata perlahan sambil sesekali masih menguap karena kantuk yang belum seratus persen hilang. Tubuh yang rasanya remuk redam membuatku malas untuk bangkit dari pembaringan. Persendianku terasa lemas akibat semalaman bergelut dengan Biru. Ya, Biru suami tampanku yang kemarin berulang tahun. Gara gara selalu gagal membeli kado, akhirnya kuserahkan tubuh ini sebagai kado.
Tanganku meraba kesebalah, kosong. Akupun menoleh. Benar saja, tak ada Biru disana. Kulihat jam yang bertengger didinding, ternyata sekarang sudah hampir tengah hari. Pantas saja perutku terasa lapar.
Ceklek.
Mataku langsung tertuju pada pintu saat mendengar suara itu.
"Morning sayang." Sapa Biru sambil membawa nampan yang entah berisi apa.
"Morning Abang." Sahutku sambil menyunggingkan senyuman termanis.
Biru berjalan menghampiriku, dapat kucium aroma sedap yang menggugah selera. Dari bau baunya, seperti nasi goreng.
Biru duduk ditepi ranjang dan meletakkan nampan berisi nasi goreng dan teh hangat diatas meja sebelah ranjang.
Aku mengubah posisiku menjadi duduk sambil memegangi selimut untuk menutupi kepolosanku.
"Cantik banget sih istri abang kalau bangun tidur gini." Pujinya sambil merapikan rambutku yang berantakan.
"Jadi cantiknya kalau pas bangun tidur aja nih?" Protesku sambil menyebikkan bibir.
"Selalu." Sahutnya sambil membelai wajahku dengan punggung tangannya.
"Kamu tahu gak, kamu itu selalu bikin abang kangen. Sampai sampai pas bikin nasi goreng aja, abang kayak ngelihat muka kamu dikuali." Lanjutnya sambil terkekeh. Entah itu pujian atau hinaan, masa aku disamakan dengan nasi goreng. Aku yang kesal hanya bisa cemberut sambil melihat kearah lain.
Cup
Sebuah kecupan singkat dipipi membuatku terkejut dan kembali menatap kearah Biru.
"Lihat abang dong, abang kangen." Godanya sambil menyentuh daguku.
"Ishh gombal." Geramku sambil mencubit pinggangnya. Membuat Biru meringis sebentar lalu terkekeh geli.
"Lapar gak?"
Aku mengangguk.
"Mau mandi dulu apa makan dulu?"
"Lapar..." Rengekku manja sambil mengusap perut.
"Ya udah kita makan dulu. Abang suapin ya." Biru menyendok nasi lalu menyodorkannya kedepan mulutku dan langsung aku lahap. Aku memang lapar sekali karena tenaga habis terkuras untuk tempur semalam.
Melihatku yang kurang nyaman karena terus memegangi selimut, membuat Biru berinisiatif mengambilkan pakaian dari almari. Dengan telaten Biru membantuku mengenakan pakaian. Meski awalnya aku menolak karena malu, tapi dia terus memaksa, membuatku tak bisa berbuat apa apa selain menurut.
Setelah perpakaian lengkap, ku ambil alih piring yang ada dipangkuannya. Sekarang ganti aku yang menyuapinya dan diriku sendiri.
"Cal."
"Hem." Sahutku sambil mengunyah nasi yang masih memenuhi rongga mulutku. Biru tampak gugup, membuatku penasaran dengan apa yang ingin dia sampaikan.
"Apa?" Tanyaku karena dia tak kunjung bicara.
"Kemarin aku bertemu Mas Saiful, dia minta tolong agar aku mau membawa kapalnya."
"Membawa kapalnya? Aku gak paham? kapal kamu rusak lagi?"
"Kapal aku gak papa. Hanya saja milik Mas Saiful lebih besar dan bagus. Bisa untuk menampung banyak orang."
Menampung banyak orang, apa maksudnya? Bukankah biasanya dia hanya berdua dengan Pak De kalau sedang mencari ikan.
Biru mengambil nafas lalu membuangnya perlahan.
__ADS_1
"Emmm.... begini." Biru meraih sebelah tanganku dan menggenggamnya. "Mas Saiful sakit, jadi dia minta aku menggantikannya membawa kapal mengantar teman teman Safa yang ingin memancing dilaut dan membuat konten."
Aku melotot mendengar nama Safa. Tak adakah manusia lain selain dirinya. Aku tak keberatan Biru membawa siapapun naik kapal. Entah itu sekedar jalan jalan, membuat konten atau apapun. Yang jadi masalah, ini teman Safa. Aku takut semua ini sudah direncanakan. Takut ada udang dibalik rempeyek yang renyah.
"Upahnya lumayan."
Aku menarik tanganku kasar sambil membuang pandangan kerah lain. Berapapun upahnya, jika berhubungan dengan Safa, aku tak akan setuju.
"Cal..." Biru menyentuh daguku dan membuatku kembali menatap kearahnya.
"Aku hanya ingin bisa memberikan nafkah yang lebih buat kamu. Aku ingin bisa bahagiain kamu. Mencukupi kebutuhan kamu dan_"
Biru menjeda ucapnnya. Dia menunduk dengan raut wajah ditekuk.
"Aku tahu kamu sudah punya banyak uang. Aku tahu jika upah yang menurutku besar itu tak ada apa apanya buat kamu. Tapi aku hanya berusaha untuk me_"
"Aku mengijinkannya." Segera kupotong ucapannya karena tak tega melihat wajah sendunya. Aku tahu dia melakukan ini buat aku. Dia ingin aku melihatnya sebagai suami yang bertanggung jawab, suami yang bisa mencukupi semua kebutuhanku dan suami yang bisa diandalkan.
"Kamu yakin?" Wajahnya mulai terlihat sumringah.
"Hem." Jawabku sambil mengangguk dan mengulum senyum. Meskipun senyum yang agak terpaksa karena aku setengah hati mengijinkannya.
"Tapi bolehkan aku nanti ikut mengantarmu kepantai? Aku ingin bertemu dengan teman teman Safa juga. Siapa tahu ada yang cantik dan bikin kamu oleng."
"Hahaha." Biru terbahak mendengar celotehku.
"Cuma Callista yang bisa bikin abang Biru oleng." Serunya sambil mengacak pelan puncak kepalaku.
Aku menyendok nasi lalu menyodorkannya kearah Biru. Bukannya membuka mulut, dia malah membelokkan sendok itu kerah mulutku.
"Abang udah kenyang, kamu aja yang habisin. Biar kembali bertenaga."
Aku mencium aroma aroma ada maunya. Biru membelai rambut panjangku dan matanya menatap nakal kearahku. Dia gak lagi ngode mau minta lagikan?
"Abang..." Aku berusaha menghindar saat Biru makin meringsek maju dan memberikan kecupan kecupan basah diarea leher dan telinga.
Astaga, jadi benar apa yang aku pikirkan. Apa belum cukup yang kami lakukan semalam?
"Semalam kan udah Bang."
"Iya, tapi pengen lagi. Sejak bantuin kamu pakai baju tadi, si adek udah berontak mulu."
Hadeh, kalau udah gini, mana tega aku menolak.
Biru mengambil piring dari tanganku lalu memindahkannya kemeja. Mengambil teh hangat, menyeruputnya sedikit lalu memberikannya padaku. Selesai aku minum, dia dia langsung menyatukan bibir kami.
"Cal, Cal, Biru.." Teriakan dari luar membuat kami menghantikan aktifitas menyenangkan itu.
"Cal."
Aku hafal suara itu, siapa lagi kalau bukan Santi. Kenapa dia dan Gani selalu datang disaat yang tidak tepat.
"Ada apa?" Sahutku setengah berteriak.
"Yaelah, masih ngorok kamu."
Kudengar suaranya makin dekat. Mungkin saja dia berdiri didepan pintu kamar sekarang. Santi memang sering tiba tiba nyelonong masuk kerumah ini.
"Tuh dapur kamu berantakan, cucian kamu juga sudah penuh dikeranjang. Nih lantai juga masih kotor. Bangun gih bersih bersih. Jangan molor mulu."
Yaelah, dia itu tim audit atau apa sih, bisa bisanya gitu memeriksa pekerjaan rumahku.
"Biru mana?" Teriaknya lagi.
"Ngapain nyari suamiku?" Sahutku garang.
__ADS_1
"Yaelah baru ditanyain aja udah ngegas, belum juga aku toel orangnya."
"Berani noel suamiku, bakal panjang kali lebar urusannya."
Kulihat Biru terkekeh geli, membuatku langsung memelototinya.
"Mau pinjam motornya Biru. Motor aku mogok."
Yaelah, gangguin orang yang lagi asyik cuma mau pinjem motor, aku mengerutu dalam hati.
"Ya udah pakai aja." Sengaja tak aku tanya untuk apa biar cepet kelar urusannya.
"Ya kuncinya mana?"
Aku mendengus kesal. Benar juga, mana bisa motor itu nyala kalau gak ada kuncinya.
Biru beranjak dari ranjang lalu mengambil kunci motor dilaci meja lalu membuka pintu. Benar dugaanku, Santi berdiri tepat didepan pintu.
"Yaelah, kamu ternyata didalam Ru? Kirain lagi keluar." Santi melongokkan kepala untuk melihatku yang masih rebahan diatas ranjang.
"Jam segini masih aja bikin anak. Tuh cucian segunung."
Dih, cosplay jadi mertua kejam nih anak rupanya.
"Mau segunung, dua gunung atau berapapun, suka suka aku. Sana kamu cuciin kalau mau, kalau enggak gak usah protes. Sudah buruan pergi daripada gak aku pinjemin motor." Ancamku.
"Iya iya." Santi merebut kunci dari tangan Biru.
"Tunggu." Seruku saat Santi hendak pergi.
"Motor itu pakai bensin. Dan bensin sekarang naik." Sengaja aku tekankan kata mahal.
Santi mengernyitkan dahi. Roman romannya dia sedikit paham kemana arah pembicaraanku.
"Terus?"
"Cuciin yang segunung tadi sebagai ganti bensin."
Santi seketika melongo mendengar ucapannya. Ingin sekali aku ketawa melihat ekspresinya, tapi aku tahan agar terlihat serius.
Santi merogoh saku celananya dan menarik uang dari sana. Ditariknya telapak tangan Biru dan meletakkan uang itu disana.
"Dua ribu cukup buat ganti bensin. Cuma mau kesekolah Galang. Palingan bensinnya gak habis sampai seperempat liter. Cukuplah dua ribu. Bye Cal." Santi dada kearahku yang masih melongo. "Jangan lupa nyuci baju." Teriaknya sambil berlalu begitu saja.
...----------------...
Sore ini aku ikut Biru kelaut. Penasaran juga dengan teman teman Safa. Semoga saja cowok semua agar tak terselip seorangpun pelakor diantara mereka. Tapi tetap saja, ada Safa yang perlu diwaspadai.
Sementara Biru dan Mas Saiful sibuk dikapal, aku berjalan jalan. Aku pikir mereka akan memancing siang atau malam, tak taunya sore hari. Ya balik lagi, mereka melakukan ini bukan demi ikan, tapi demi konten. Jadi mungkin mereka memilih waktu dimana matahari sedang indah indahnya.
Aku terdiam saat tak sengaja menatap sesuatu dipasir. Sebuah tulisan yang membuatku seketika kembali ke masa lalu. Ada hufuf CK didalam lambang love.
Tidak, ini pasti orang lain. Tak mungkin Kak Ken ada disini. Dulu, setiap kali kita membuat apapun, selalu membubuhkan dua huruf itu, C dan K, yang tak lain Cal dan Ken.
CK tidak hanya bermakna Cal dan Ken, bahkan ada brand ternama dengan logo itu. Jadi mungkin itu orang lain, aku gak boleh parno dulu.
Buk
Seseorang menepuk pundakku, membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Tubuhku mendadak terasa lemas.
"Cal."
Aku bernafas lega saat mendengar suara Biru. Aku menoleh dan mendapati Biru berdiri dibelakangku.
"Kamu sakit, wajah kamu pucat?"
__ADS_1
"Aku...aku..." Aku hendak menjelaskan tapi tiba tiba mataku menangkap sosok yang sangat aku kenali.
Kania! Ya, aku melihat Kania diantara orang orang yang berjalan bergerombol dengan Safa. Jadi Safa tak hanya membual waktu itu. Anak pemilik CALS yang dia maksud adalah Kania. Jadi mereka berteman?