
POV CALLISTA
Hari ini, tamu spesial akan datang. Kemarin aku udah ngasih breefing ke semua pekerja apa saja yang harus mereka kerjakan. Menyiapkan kamar tamu, memasak aneka masakan spesial, serta menyiapakan segala kebutuhan yang mungkin mereka perlukan selama menginap disini. Tak lupa aku berpesan agar semuanya menghormati dan membuat nyaman tamu tamuku nanti.
Setelah mendapat telepon dari sekurity jika mobil Pak Sapto sudah tiba, aku dan Biru segera menyambut diteras.
Sumpah, ngakak banget lihat ekspresi mereka pas baru keluar mobil. Mulutnya terbuka lebar dan matanya tak berkedip saat melihat rumahku. Dikampung nelayan memang tidak ada rumah semewah rumahku.
Disaat para orang dewasa masih cengo, Galang berlari kearahku dan Biru.
"Pak Lik." Serunya sambil langsung menghambur kepelukan Biru.
Biru memeluk Galang, menciuminya lalu mengangkatnya tinggi tinggi. Aku jadi ngebayangin kalau punya anak nanti. Aku yakin Biru akan sangat menyayangi anak kami. Dia akan jadi sosok family man yang menjadi kebanggaanku dan anak kami.
"Pak Lik kangen banget sama Galang."
"Galang juga."
"Sama tante Cal gak kangen nih?" Ledekku sambil mengacak acak rambutnya.
"Kangen juga tante."
"CALLLL." Teriak Santi sambil berlari kearahku dan langsung memelukku. Ketubruk tubuh montoknya bikin aku sampai terhuyung kebelakang. Untung aja gak sampai jatuh. Kalau ketiban Santi, bisa penyet badanku.
"Ini beneran rumah kamu Ru?" Tanya Pak De sambil memperhatikan sekeliling dengan tatapan keheranan.
"Bukan Pak De, ini rumah Cal." Jawab Biru sambil menoleh padaku dan menurunkan Galang dari gendongannya.
"Rumah kami berdua." ralatku.
"Gila, rumah kamu kayak istana Cal." Santi memandang takjub kesekitaran rumahku.
Kulihat Biru mengulurkan tangannya kearah Pak De.
"Ngapain?" Tanya Pak De dengan dahi mengekerut. Makin kelihatan jelas deh keriputnya.
"Salim pak De." Jawab Biru.
"Astaghfirullah hal adzim." Pak De menepuk dahinya. Sedangkan yang lain langsung tertawa ngakak.
"Bapak jadi linglung gara gara lihat rumahnya Cal." Ledek Gani sambil geleng geleng
"Gimana gak linglung. Seumur hidup, baru kali ini bapak lihat secara langsung rumah yang kayak ditv tv, kayak istana." Kejujuran Pak De membuat kami kian terbahak.
Inilah yang aku suka dari mereka, kepolosan dan kejujuran. Mereka juga tulus. Meski tak banyak uang, mereka tak haus akan uang. Justru orang yang banyak uang yang seringkali merasa kurang dan kurang. Sebenarnya, yang kurang itu bukan uang mereka, tapi rasa bersyukurnya yang kurang.
Aku dan Biru meraih tangan Pak De dan Bu De untuk salim.
"Selamat datang dirumahnya Non Cal." Sapa Bi Nuning yang datang bersama rombongannya. Total ada 5 orang.
__ADS_1
"Mereka siapa Cal?" Tanya Bu De.
"Asiten rumah tangga Bu De." Jawabku.
"Pembantu Bu, kalau ibu gak ngerti istilah asisten rumah tangga." Sahut Gani. Pria itu kemudian maju mendekati para art.
"Gani." Ujarnya sambil mengulurkan tangan ke arah Lastri, art paling bening disini.
"MAS." Teriakan Santi membuat Lastri yang hendak menjabat tangan Gani kaget dan menarik kembali tangannya. Gak hanya Lastri, kami semua juga kaget saking kerasnya teriakan itu. Bahkan polisi tidur aja kebangun saking kerasnya.
"Gani. Jaga sikap, ini rumah orang." Peringat Pak De.
"Yaelah, cuma mau kenalan udah ditereakin. Perempuan oh perempuan." Gani membuang nafas berat sambil geleng geleng. "Istri kamu gak kayak gitukan Ru?" Lirih Gani tapi masih bisa terdengar olehku.
"Lebih parah."
"Awww." Biru meringis karena kakinya aku injak kuat sambil aku pelototin. Gani tertawa ngakak, tapi tak lama kemudian, tawanya spontan berhenti saat Santi menginjak kakinya. Mampus, sekarang ganti aku dan Santi yang tertawa mengejek.
"Masuk yuk." Ajakku sambil meraih lengan Bu De dan menggandengnya menuju dalam.
"Cal, sandalnya boleh dipakai gak?"
Pertanyaan Gani membuat para art menahan tawa.
"Haduh Mas, jangan malu maluin deh. Orang lantainya kinclong kayak kaca gini, ya pasti dilepas." Sahut Santi sok tahu sambil melepas sepatu sandalnya.
"Dipakai saja tidak apa apa." Ujar Bi Nuning sambil menahan tawa. Kulihat Santi tersenyum absurd untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Wow."
Bisa kudengar decak kagum dari bibir mereka semua. Rasanya aku ingin mengajak mereka semua tinggal disini. Rumah segede ini pasti tak akan pernah sepi jika ada mereka. Tapi mereka juga punya kehidupan sendiri sendiri. Bahkan senurut survei, orang tua lebih suka tinggal dirumahnya sendiri seperti apapun keadaannya, daripada dirumah anak atau saudaranya meski semewah apapun.
Gani mendekati sofa dan menepuk nepuknya.
"Boleh cobain duduk sini gak Cal?"
Om My God Gani, hanya untuk duduk disofa saja, dia minta ijin dulu padaku. Dia yang biasanya menyebalkan dan sedikit sok kecakepan itu, mendadak kocak hari ini.
"Duduk boleh, tiduran juga. Kalau kamu mau salto disitu juga terserah kamu." Sahut Biru sambil ketawa. Sejak mereka datang, bawaannya pengen ketawa mulu. Ada aja tingkah mereka yang bikin perut keram.
"Kalau dibawa pulang, boleh gak?"
Tuh kan, ada ada aja yang dipikirkan anak itu.
"Boleh, asal ada tempat buat naruhnya." Sahut Biru dengan tawa yang makin keras.
"Lagian aneh aneh aja kamu Gan. Kursi segede itu mau kamu bawa pulang. Gak cocok kursi seperti itu dipajang dirumah kita. Pintunya aja gak muat buat jalan masuk kursinya." Bu De menimpali sambil geleng geleng.
"Entar aku beliin sofa yang sesuai buat dirumah Bu De." Ujarku sambil menatap Bu De.
__ADS_1
"Apaan sih Cal. Jangan ambil hati omongan Gani. Kamu gak perlu repot repot kayak gitu." Sahut Bu De.
"Gak repot kok. Jaman sekarang tinggal pencet pencet doang, barang udah bisa sampai dirumah."
"Itukan buat yang berduit Cal. Kalau yang enggak kayak kita, mencet sampai jempol kesleo yang gak akan nyampek barangnya. Wong gak dibayar." Ujar Santi dan langsung diangguki oleh Gani.
Bi Nuning mempersilakan kami langsung kemeja makan karena makanan sudah disiapkan. Melihat meja makan yang penuh, Gani dan Santi seketika meneguk ludah mereka.
"Kamu mau ngadain hajatan Cal? banyak banget makanannya?" Tanya Santi sambil mendekati meja makan dan memperhatikan satu persatu hidangan disana.
"Gak ada hajatan. Tapi sengaja masak banyak dan spesial buat kalian. Makan yuk." Sebagai tuan rumah, aku ingin menyambut tamuku dengan special. Bukannya mau pamer kekayaan, hanya saja, aku pengen membuat mereka senang. Merasa dihargai sebagai tamu.
Kami semua mengambil tempat duduk masing masing. Karena tak ada yang mau mengawali makan, akhirya aku duluan yang mengambilkan makanan untuk Biru lalu aku.
Kulihat mereka masih diam saja, tak ada seorangpun yang bergerak mengambil makanan.
"Kenapa? gak suka ya sama makanannya?" Tanyaku bingung.
Mereka berlima kompak menggeleng. Kalau memang bukan itu alasannya, kenapa mereka tak kunjung mengambil?
"Ayo dimakan." Biru menimpali.
"Bu De bingung Ru, mau makan yang mana. Semuanya kelihatan enak enak."
Aku dan Biru seketika tersenyum mendengarnya. "Dicicipi sedikit sedikit aja Bu De, biar bisa ngerasain semuanya."
"Boleh gitu semua dicicipi?" Tanya Pak De.
"Ya boleh Pak De."
"Bu, aku mau makan itu, itu dan itu." Galang semangat menunjuk makanan diatas meja.
"Biar saya saja yang ambilkan. Mbak nya makan saja dulu." Ujar Lastri yang langsung sigap mengambilkan makana untuk Galang.
Kulihat mereka begitu menikmati makanan yang kusediakan. Lagi lagi yang membuatku kagum, tak tampak kerakusan disana. Mereka mengambil secukupnya, baru nambah jika merasa kurang sehingga tak ada makanan yang tersisa dipiring. Dulu Santi pernah bilang, pantang menyisakan makanan dirumah mereka. Karena tak semua orang bisa makan, jadi harus bersyukur dengan
cara tidak menyianyiakan makanan apalagi sampai membuangnya.
"Aku yakin Biru mendadak amnesia sekarang." Celetuk Gani.
"Maksudnya?" Biru menegaskan.
"Setelah tinggal disini, kamu pasti lupa jalan pulang. Lupa rumah kamu, dan lupa belahan jiwa kamu."
"Belahan jiwa?" Aku langsung menatap Biru tajam.
Tiba tiba kudengar Gani tertawa ngakak, membuatku seketika menoleh padanya.
"Benar kata kamu Ru, Cal lebih parah. Masak sama Lisa cemburu, hahaha."
__ADS_1
Astaga, jadi belahan jiwa yang dimaksud Gani itu Lisa. Kenapa aku gak kepikiran kesana sih, malah mikirnya Safa.