Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
BELUM SIAP


__ADS_3

POV BIRU


Pagi hari, badanku pegel semua. Kenapa bisa begitu? karena semalam aku tidur dilantai dengan hanya beralaskan bed cover. Cal sungguh tega, bisa bisanya dia ngelarang aku tidur diranjang karena katanya aku bau.


"Mukanya kok kusut gitu?" Tanya Bi Nuning sambil meletakkan teh hangat didepanku. Tadi aku memang menyuruhnya membuat teh hangat.


"Badan pegel semua Bi. Semalam gak bisa tidur nyenyak." Keluhku sambil memijit bahu dan tengkuk.


"Lho alah, kenapa bisa gitu Den? Bukannya ranjangnya empuk, ada ac nya, ada istri cantik juga buat dipeluk, masa iya masih gak nyenyak juga." Ledek Bi Nuning sambil ketawa ringan.


"Semalam aku tidur dilantai Bi."


Bi Nuning tampak terkejut. "Marahan to sama Non Cal?"


Aku menggeleng.


"Lha terus?"


"Katanya aku bau, gak mau tidur deket deket."


"Masak sih? Orang Aden wangi gini."


Aku menghela nafas lalu menyeruput teh hangat buatan Bi Nuning. Perutku seketika terasa hangat. Tapi tetap saja, badanku masih pegel pegel.


"Nanti tak panggilin Budi buat mijitin. Dia pinter mijit Den."


"Budi satpam depan?"


"Iya."


Aku mengangguk. Bagus juga jika ada yang bisa mijitin.


Bi Nuning kembali kedapur untuk melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan aku sendiri yang masih sibuk mikirin perubahan sikap Cal. Aku ngerasa alasannya gak mau tidur denganku sangat gak masuk akal. Jangan jangan dia udah mulai bosen denganku? Di kota banyak orang cakep, apalagi dikampus. Mungkinkah dia sedang jatuh cinta dengan salah satu teman kampus?


Tidak, tidak, buru buru aku menggeleng untuk membuang pikiran negatifku. Cal gak kayak gitu, aku yakin dia mencintaiku dengan tulus.


Aku terbangun dari lamunan tatkala Lastri menaruh sepiring pisang goreng dihadapanku.


"Saya bikin pisang goreng tadi. Kali aja Aden mau, buat temen minum teh."


"Makasih ya Las."


Bau pisang goreng anget membuatku tergoda. Aku ambil sebiji dan hendak memakannya. Tapi belum sempat mendarat dimulutku, sebuah teriakan sudah lebih dulu mengagetkanku.


"Lagi ngapain kalian?"

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Cal yang teriak. Kulihat dia sedang menuruni tangga sambil menatap kearahku dan Lastri tajam.


Cal berjalan cepat kearahku, menarik paksa pisang goreng ditanganku lalu melemparnya kelantai tanpa perasaan.


"Apa maksud kamu bikinin pisang goreng buat suamiku? Mau godain suamiku?"


Aku menelan ludah. Lebai banget sih Cal, orang cuma pisang goreng, kenapa malah pikirannya sampai kesana. Kulihat Lastri menunduk, mukanya pucat. Pasti dia ketakutan sekarang.


"Berani kamu ya Las godain suami aku?" Bentak Cal sekali lagi.


"Bu, bukan begitu Non." Jawab Lastri masih dengan menunduk. Matanya sudah mulai berkaca kaca.


"Udah ketahuan masih ngeles kamu ya?"


"Kamu salah paham Cal, Lastri cuma nawarin aku pisang goreng." Aku ikut menjelaskan tapi tak digubris oleh Cal.


"Kamu sukakan sama suami aku? ngomong?"


Brakkk


Cal menggebrak meja makan hingga tehku tumpah. Lastri terjingkat kaget, dia menggeleng sambil menangis tersedu sedu.


Segera kutahan lengan Cal saat dia hendak maju untuk menyerang Lastri.


Bi Nuning dan Wentri yang ada didapur sampai keluar saking kerasnya Cal menggebrak meja dan membentak bentak Lastri.


"Ada apa ini?" Bi Nuning kebingungan melihat Cal yang marah marah dan Lastri menangis tersedu sedu.


"Salah paham Bi. Cal marah gara gara Lastri ngasih saya pisang goreng." Segera kujelaskan titik permasalahannya.


"Saya gak godain Den Biru, sumpah Non. Saya cuma nawarin pisang goreng." Lastri membela diri.


Bi Nuning menghela nafas lalu memeluk Lastri.


Kemudian dia menjelaskan jika dirinyalah yang menyuruh Lastri memberikan pisang goreng padaku karena didapur mereka kebetulan sedang bikin buat camilan.


Cal terlihat sedikit malu, tapi tak berniat meminta maaf pada Lastri. Dia malah menatapku sambil memberengut. Menarik kursi lalu duduk, dan mencomot sebiji pisang goreng tanpa rasa bersalah.


"Ya udah, Non Cal sama Den Biru duduk dulu, makananya bentar lagi siap." Bi Nuning dan yang lainnya kembali kedapur.


Aku menarik kursi sebelah Cal lalu duduk. Hendak mencomot pisang goreng tapi Cal tiba tiba berlari menuju dapur.


Hoek hoek hoek


Urung aku mengambil pisang goreng. Berjalan cepat menyusul Cal kedapur, menghampirinya yang sedang muntah muntah diwastafel. Melihatku datang, Bi Nuning awalnya berada dibelakang Cal segera minggir.

__ADS_1


Baru saja tanganku terulur hendak memijit punggungnya, tahu tahu malah didorong menjauh.


"Gak usah deket deket, Abang bau."


Aku menghela nafas, bau lagi, bau lagi. Ada masalah apa dengan indra penciuman Cal?


"Habis ini ikut Abang ke THT. Hidung kamu perlu diperiksain." Batas kesabaranku lama lama habis juga. Sejak kemarin dikatain bauk mulu, dongkol rasanya.


"Kok ke THT? ke dokter kandungan," celetuk Bi Nuning.


Aku dan Cal kompak menoleh kearahnya. Bi Nuning ketawa lalu mendekati Cal.


"Udah isi kayaknya Non." Bi Nuning mengusap perut Cal.


"Isi?" Cal mengernyit.


"Kayaknya Non Cal lagi hamil. Makanya sensi, terus bawaannya sebel mulu sama bapaknya jabang bayi, gak mau deket deket."


Aku dan Cal saling menatap. Kami sama sama masih bingung. Apa iya Cal beneran hamil? Tapi biasanya orang tua kayak Bi Nuning emang paham masalah ginian.


"Wen, kamu ke apotik sebentar. Beliin Non Cal testpack." Bi Nuning mengeluarkan uang dari sakunya lalu menyerahkan pada Wentri. Aku dan Cal, jangan ditanya, masih bengong kayak orang bego.


Sembari menunggu Wentri, Bi Nuning membuatkan kami teh. Sengaja aku dan Cal duduk berjauhan dimeja makan agar dia tidak mual. Sesekali kami saling tatap, tapi tak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran masing masing. Cal tampak tegang, entah apa yang dia pikirkan. Tapi kalau beneran Cal hamil, masa iya aku gak bisa deket dia selama 9 bulan? Mampuslah si joni kalau bener iya.


Beberapa saat kemudian, Wentri datang sambil membawa testpack. Bi Nuning mengantarkan Cal ketoilet sementara aku menunggu dengan cemas dimeja makan. Aku benar benar deg degan saat ini.


"Gimana?" Aku berdiri begitu melihat Cal dan Bi Nuning datang.


"Selamat Den, Non Cal hamil."


"Yesss," teriakku girang. Senang sekali rasanya karena sebentar lagi aku akan jadi ayah. Ingin kuluapkan perasaaan ini dengan memeluk Cal, sayangnya tak bisa karena yang ada dia akan muntah lagi.


Tapi tunggu, kenapa Cal malah terlihat murung? Tak tampak sedikitpun binar kebahagiaan diwajahnya. Dia menarik kursi lalu duduk. Tak mengatakan sepatah katapun, hanya diam sambil menunduk lesu.


"Saya siapin sarapannya ya Non. Non Cal harus makan banyak, biar dedek bayinya sehat." Justru Bi Nuning yang tampak bahagia dan bersemangat. Dengan senyuman yang lebar, dia kembali kedapur untuk menyiapkan sarapan.


Sekarang tinggal kami berdua. Perasaanku tak enak melihat ekspresi Cal. Ada apa ini?


"Cal, kamu kenapa?"


Dia hanya menjawab dengan gelengan.


"Cal, ada apa?" Kembali aku mendesaknya. "Kamu kelihatan gak bahagia?"


"Aku belum siap Bang. Aku belum siap hamil."

__ADS_1


Aku membuang nafas berat. Ternyata feelingku benar, Cal tak bahagia mengetahui dirinya hamil.


__ADS_2