Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
SAHABAT


__ADS_3

POV CALLISTA


Aku tak menyangka jika tamu yang datang adalah Rama. Antara senang dan bingung, aku tak tahu harus berbuat apa. Padahal aku sudah berpesan pada Rama agar menghubungiku dulu sebelum kesini, eh dia malah datang dadakan gini.


"Aku gak mimpikan Cal. Ini beneran kamu Cal." Racaunya sambil memelukku erat sampai aku kesusahan bernafas.


"Siapa yang datang Cal?" Teriak Biru dari dalam. Aku yang masih bingung, diam saja tak menjawab.


"Kamu masih hidup Cal, kamu masih hidup."


Yaelah, Rama pakai acara nangis segala. Segitu senengnya dia ngelihat aku masih hidup dan sehat walafiat. Kami memang sudah kenal sejak kecil, membuat hubungan kami sangatlah dekat.


"Cal, siapa tamunya?" Kudengar suara Biru makin dekat. Jangan jangan pria itu sedang menuju kesini. Buru buru aku melepaskan pelukan Rama. Aku tak mau Biru salah paham saat melihatku dipeluk pria lain.


"Ram lepas Ram." Kudorong tubuh kekar itu agar menjauh dariku. Sayangnya pelukannya terlalu kuat hingga aku sama sekali tak bisa berkutik.


Rama masih saja menangis. Kayaknya dia masih terbawa suasana. Sepertinya aku harus mengetok kepalanya supaya dia sadar.


Langkah Biru terdengar makin dekat, membuatku makin ketar ketar.


"Apa apaan ini?" Seru Biru yang melihat aku sedang dipeluk Rama. Rama yang tersadar ada orang lain selain kami, segera melepaskanku. Biru meraih pergelangan tanganku lalu menarikku mundur, menjauh dari Rama. Ceile, gak rela kali istrinya dipeluk cowok lain.


"Kamu kenal dia Cal, Kenapa dia meluk kamu?"Tanyanya dengan sorot mata mengintimidasi.


"A, aku gak kenal." Jawabku sambil menggeleng cepat. Semoga saja Rama ingat dengan apa yang aku ceritakan dulu. Yaitu aku pura pura amnesia demi bisa bertahan ditempat ini.


"Cal, ini aku Rama." Ucap Rama sambil bergerak maju mendekatiku. Mati aku, kayaknya Rama gak ingat kalau aku lagi mode pura pura amnesia. Biru terlihat kaget mendengar dia memanggil namaku.


"Kamu kenal istri saya?" Tanya Biru.


"I, i, istri!" Mulut Rama menganga lebar. Soal ini, aku memang belum cerita. Aku hanya bilang jika pura pura amnesia dan tinggal dirumah orang yang telah menyelamatkanku.


"Ka, ka , kalian." Rama menatap bingung kami satu persatu.


"Anda mengenal istri saya?" Biru kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


Aku beberapa kali mengedipkan mata pada Rama. Memberinya kode supaya tak membuka kebohonganku.


Bibirku terus saja mengucapkan kata amnesia tanpa mengeluarkan suara. Semoga saja Rama paham. Kalau dia bilang aku kirim email padanya dan memberitahu alamat ini, habislah aku. Yang ada Biru marah dan nyuruh aku pulang bareng Rama.


"Ya, saya kenal Cal, Calista."


Jantungku berpacu seiring kalimat yang diucapkan Rama.


"A, aku gak kenal dia." Sahutku sambil mengedipkan sebelah mata pada Rama, tentu saja tanpa sepengetahuan Biru.


"Aku Rama Cal, Rama, sahabat kamu sejak kecil."


Biru mengeryit mendengar jika Rama sahabatku sejak kecil. Pria itu lalu menatapku. Segera saja aku menggeleng cepat karena dalam mode pura pura amnesia.

__ADS_1


"Apa kau yakin jika dia adalah Calista sahabatmu sejak kecil?" tanya Biru.


"Ya, aku sangat yakin. Cal, kenapa kau seperti ini, kenapa kamu bilang tak mengenaliku?" Rama maju lalu memegang lenganku. "Kau hutang penjelasan padaku." Bisiknya tepat ditelingaku.


Aku melepaskan tangannya lalu bergeser mendekati Biru. Memegang lengannya seolah olah aku sedang meminta perlindungannya. Padahal aku hanya berakting.


"Cal mengalami amnesia. Oleh karena itu, dia tak ingat apa apa tentang masa lalunya." Ujar Biru sambil menggenggam tanganku.


"Apa, amnesia!" Teriak Rama pura pura shock. Pintar juga dia berakting.


"Benar. Saya sangat senang jika ada yang mengenali Cal dimasa lalu. Berharap dia bisa ingat semuanya lagi dan kembali bertemu dengan keluarganya."


Tuhkan, Biru pengen aku kembali ke keluargaku. Enggak, aku masih mau disini. Pokoknya aku gak mau kemana mana, titik.


Rama, pria itu menunjukkan foto fotoku bersamanya. Mulai dari kami kecil, hingga kami dewasa.


"Sekarang kamu percayakan, jika aku memang mengenal Cal sejak kecil. Bahkan keluarga kami juga sangat dekat." Rama menyakinkan.


"Iya, saya percaya." Jawab Biru.


"Sekarang saya butuh penjelasan kamu. Tadi kamu bilang jika Cal istri kamu."


"Ya, dia istri saya, kami sudah menikah."


Rama mendelik lalu mencengkeram bagian leher kaos Biru. "Kurang ajar, tega kamu mengambil keuntungan dari seseorang yang sedang amnesia. Kamu memanfaatkannya demi keuntunganmu."


Gila Rama, apa apaan dia ini. Aku mulai panik, takut jika mereka berdua berkelahi. Sejak dulu aku selalu putus sama pacar gara gara Rama, kali ini jangan sampai gara gara dia aku pisah sama Biru.


Ingin sekali kuseret Rama dari tempat ini. Awas kalau sampai dia menghancurkan skenario yang telah aku buat selama ini.


"Jelaskan padaku Cal, apa laki laki ini memaksamu menikah dengannya? Apa dia menjahatimu." Tanya Rama sambil menatap kedua mataku. Aku sama sekali tak bisa membedakan ini akting atau real. Jika cuma akting, aku harus banyak belajar dari Rama.


"Tidak, dia tidak memaksaku."


"Bisakah aku bicara berdua dengan Cal? Aku tidak mau dia berbohong karena dibawah tekanan." Tanyanya sambil menatap Biru tajam.


Biru menyeringai. Jelas dia tak terima dengan semua tuduhan Rama.


"Silakan. Tapi saya tidak mau ada kontak fisik apalagi sampai pelukan." Tekannya.


Uuhhhn senang sekali hati ini mendengarnya. Sepertinya Biru memang tak rela aku dipeluk cowok lain.


Biru meninggalkan kami berdua, seketika itu juga, aku merasa lega.


"Apa apaan ini Cal, kamu nikah sama pria tadi?" Rama mulai ngegas.


"Pria tadi punya nama, namanya Biru." Sahutku.


"Mau Biru, ungu, pink atau merahpun, aku gak peduli. Yang aku peduliin, kenapa kamu nikah sama dia?" Tekannya sambil menunjuk kearah dalam.

__ADS_1


"Udahlah Ram, gak usah ngurusin aku nikah ma dia. Mending sekarang segera kasih aku uang terus kamu pulang." Kejam gak sih aku? habis manis sepah dibuang. Cuma mau uangnya terus orangnya diusir tanpa perasaan.


"Enggak, aku gak jadi pinjamin kamu uang. Kita balik ke kota sekarang." Tekannya sambil memegang kedua bahuku.


"Lepas!" Aku mendelik padanya. "Lupa pesan suamiku, gak boleh ada kontak fisik." tekanku.


"Suami apaan itu, posesif amat. Udah, mending pulang sama aku, daripada disini kamu dikekang."


"Ogah! Ngapain ikut kamu, orang aku udah punya suami."Tolakku.


"Jangab bilang kalau kamu suka sama suami kamu itu?"


"Iyalah, orang dia baik, ganteng, bertanggung jawab, seksi, perha_"


"Stop stop, mules perutku denger kamu muji muji dia."


"Ya udah buruan ke toilet, ada dibelakang."


"Ngapain?" Tanyanya dengan dahi mengkerut.


"Nyanyi! ya pup lah, kataya perut kamu mules."


Rama mendorong kepalaku dengan telunjuknya. "Dasar cewek somplak." makinya.


Mumpung dia deket, segera kuraba pantatnya. Jangan mikir macem macem, gak nafsu aku sama pantatnya, tapi aku nyasar dompetnya.


"Kembaliin dompetku." Teriaknya sambil merebut dompet yang ada ditanganku. Tak ku gubris ucapannya, segera aku membuka isinya.


What! mataku melotot melihat lembaran merah didompet Rama. Hanya selembar, gak salah? Manager di CALS duitnya cuma seratus rebu?


"Ram, apa CALS bener bener bangkrut?" Tanyaku sambil menatapnya nanar. Mataku mendadak panas membayangkan jika perusahaan yang dibangun papa dari nol itu bangkrut. Rama duduk disebelahku lalu menggenggam tanganku.


"Perusahaan segede itu, mana bisa bangkrut. Jangan khawatir Cal, perusahaan orang tua kamu masih berjaya. Makanya pulang sama aku. Kamu harus mengawasi perusahaan itu. Jangan biarkan orang orang serakah itu menguasainya? Aku dengar, mereka sedang sibuk mengurus asuransi kematian kamu."


Air mataku menetes seketika. Tak habis pikir dengan mereka. Sudah mendapatkan harta sebanyak itu, masih saja sibuk mengurusi asuransi kematian yang tak seberapa nilainya. Sepertinya mereka sangat bahagia dengan kematianku. Uang benar benar bisa membuat orang buta. Dasar serakah.


"Aku tak menyangka mereka setega itu padamu Cal."


"Harta bisa membuat siapapun buta Ram."


"Tuh kamu tahu. Yakin suami kamu itu gak gila harta juga."


"Ram." Desisku sambil melotot. Bisa bisanya di menyamakan Biru dengan para manusia laknat itu. "Jangan samakan suamiku dengan mereka."


"Jangan mudah percaya sama orang Cal, apalagi yang baru kenal."


"Emang kenapa dengan yang baru kenal. Toh yang udah kenal sejak bayi, justru menghianatiku." Sakit sekali hatiku mengingat pengkhianatan mereka.


Rama menghela nafas, dia kemudian menarik kedua bahuku agar menghadap kearahnya. "Pulang ya, ikut denganku. Kamu bisa tinggal diapartemenku sementara waktu."

__ADS_1


Aku menggeleng yakin. "Aku masih mau disini Ram."


"Cal..."Desisnya frustasi. "Please, jangan keras kepala. Kalau kamu memang merasa berhutang budi pada pria yang telah menolongmu tadi, kita bisa memberinya uang sebagai ucapan terimakasih."


__ADS_2