
POV BIRU
Berkali kalipun aku menyaksikan matahari tenggelam, tak sekalipun aku merasa bosan. Keindahan ciptaan Allah itu memang tak pernah gagal membuatku takjub. Aku melirik Calista, dia tampak sangat antusias menatap matahari yang hampir tenggelam.
"Cantik sekali." Gumamnya sambil menopang dagu dengan kedua tangan.
"Seperti kamu," lirihku.
"Apa?" Tanyanya sambil menoleh kearahku.
"Bu, bukan apa apa." Jawabku gugup. Aku tak menyangka jika dia mendengar gumamanku.
Dia tiba tiba berdiri. "Biru, fotoin aku ya." Ujarnya sambil mengibas ngibaskan gaunnya yang kotor karena pasir.
Segera aku mengangguk dan mengambil ponsel dari saku celana.
Aku tersenyum melihat Cal yang mulai berpose. Rambut dan gaunnya yang bergerak karena angin, membuat Cal makin terlihat cantik. Dengan background sunset yang sangat indah, foto Cal tampak bagitu sempurna. Gayanya sangat natural, mungkinkah dia dulunya adalah model? Dengan wajah yang cantik dan tubuh tingginya, tak menutup kemungkinan jika dia adalah seorang model.
Setelah puas berpose, dia berlari kearahku untuk melihat hasil jepretanku. Kukira, dia akan senang melihat hasilnya, tapi sebaliknya, dia malah cemberut.
"Kenapa, kurang bagus hasilnya?"
"Harusnya bisa lebih bagus lagi jika aku lebih dekat kelaut."
Aku bisa memahaminya. Sebenarnya dia ingin seperti orang lain yang bisa sesuka hati bermain dipantai. Sayang traumanya masih belum hilang.
"Bagaimana kalau kita foto berdua." Ajakku.
"Boleh juga." Jawabnya antusias.
Aku kaget saat dia tiba tiba menarik lenganku. Membawaku sedikit turun kebawah dan berdiri membelakangi sunset.
Aku mulai mengarahkan kamera pada kami. Awalnya aku grogi, tapi setelah melihat Cal yang sangat ceria dan antusias, aku mulai merasa rileks.
"1,2,3, cheese."
Berkali kali kami ganti gaya hingga tak terhitung berapa kali aku mengambil foto. Disaat cewek cewek suka terlihat cantik di kamera, Cal malah lebih suka membuat wajah jelek. Tapi karena dasarnya cantik, seperti apapun ekspresi yang dia buat, tetap saja tampak cantik dimataku. Hingga kuberanikan diri untuk mencium pipinya sambil menangkap foto kami.
Cal menatapku, ku pikir dia akan marah. Tapi diluar dugaan, dia malah balas mencium pipiku.
"Satu sama, wwleeekk." Ucapnya sambil menjulurkan lidah lalu berlari. "Kejar aku Biru." Teriaknya sambil berlari menjauhiku.
Aku tersenyum sambil menyentuh pipi yang baru saja dicium Cal. Bekas bibirnya seperti masih tertinggal disana, lembut dan lembab.
"Biru....kejar aku."
Teriakan Cal menyadarkan aku dari lamunan. Kulihat, dia sudah lumayan jauh.Tak mau dia semakin jauh dan tak terkejar, aku segera berlari menyusulnya. Berkali kali dia menoleh sambil menjulurkan lidah mengejekku yang tak mampu mengejarnya. Sengaja aku tak berlari kencang karena sambil memvidiokannya. Cal tampak seperti bidadari yang berlarian di tepi pantai, sayang sekali jika pemandangan seindah ini tak ku abadikan di ponselku dalam bentuk vidio.
__ADS_1
Kulihat dia tiba tiba berhenti. Segera saja aku mempercepat lari dan berhenti tepat disebelahnya.
"Kenapa berhenti, capek?" Tanyaku sambil mengatur nafas yang ngos ngosan.
Bukannya menjawab, dia malah menunjuk kedepan. "So sweet banget."
Tak jauh dari tempat kami berdiri, ada pasangan yang sedang melakukan pemotretan. Sepertinya, mereka sedang melakukan sesi prewedding. Sepertinya orang kota, karena didaerah sini, jarang ada yang melakukan prewedding.
"Kita menikah tapi gak ada preweding." Ucapnya dengan tatapan mata masih tertuju pada pasangan itu.
"Ya gimana mau preweding, orang nikahnya aja digrebek, dadakan. Anggap aja foto kita tadi sebagai prewedding. Sama aja kan." Jawabku.
"Ya bedalah. Masa prewedding selfie." Jawabnya dengan wajah ditekuk. Apakah menurut wanita, prewedding itu sangat penting ya? Padahal menurutku, ada prewed atau tidak, tidak mengurangi nilai dari pernikahan itu sendiri.
Melihatnya seperti itu, membuatku berinisiatif memanggil seseorang.
"Mas, bisa minta tolong fotoin kami?" Ucapku pada dua orang pemuda yang sedang lewat. Dan alhamdulilah, salah satu dari mereka langsung mengiyakan.
Cal terlihat sangat senang. Dan kamipun segera mengatur gaya agar hasilnya bagus dikamera. Awalnya aku ragu untuk melingkarkan tangan di pinggangnya. Tapi diluar dugaan, Cal justru menarik tanganku agar aku memeluknya. Setelah dua kali ganti gaya, aku langsung menghampiri mas itu untuk mengambil ponsel dan mengucapkan terimakasih.
"Bagus gak?" Tanyaku sambil menunjukkan foto kami pada Cal.
"Bagus." Jawabnya sambil tersenyum puas. "Sebenarnya aku masih pengen satu pose lagi. Tapi gak enak sama mas nya tadi."
"Emang mau pose yang gimana lagi?" Jangan jangan, dia pengen pose lagi ciuman. Biasanyakan gitu, ciuman dengan background sunset.
Seketika aku tertawa. Ada ada aja idenya. Apq semua wanita seperti itu, suka sekali meniru apa yang ada di film? Tapi tak ada salahnya aku memenuhi keinginannya. Toh hanya menggendong kan. Segera aku berdiri membelakanginya dan sedikit membungkuk.
"Naiklah." Ucapku.
"Hem." Sepertinya sia belum paham maksudku.
"Katanya pengen digendong." Ujarku sambil menoleh padanya. Seketika senyuman yang begitu indah terukir dibibirnya. Dia lalu naik ke punggungku dan melingkarkan tangannya dileherku.
Aku membawanya menyusuri pantai yang mulai gelap karena matahari sudah tenggelem sempurna. Semilir angin laut membuat suasana terasa makin syahdu. Aku yakin, siapapun yang melihat kami, akan berpikiran jika kami adalah pasangan yang saling mencintai.
"Apa aku berat?" Tanyanya didekat wajahku. Saking dekatnya, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasnya menyapu pipi dan telingaku. Seketika, aku merasakan desiran aneh dalam tubuhku.
"Sangat berat."
"His." Desisnya sambil memukul pelan bahuku.
"Sampai rumah nanti, kamu harus tanggung jawab kalau punggungku pegal. Harus mau mijitin aku."
"Siap! Nanti aku pijitin. Gak hanya punggung, kalau mau, semuanya aku pijit."
"Semuanya?"
__ADS_1
"Iya semuanya."
"Itu nya juga?" Godaku.
"Itu nya apanya?"
Aku yakin dia paham, hanya saja sesepertinya dia sedang memancingku.
"Kakinya." Jawabku sambil tertawa.
"Ish, kirain itunya."
"Itunya apanya?" Sekarang balik aku yang memangcingnya.
"Emmm....."
"Apanya Cal?" desakku.
"Yang keras waktu itu." lirihnya tepat ditelingaku.
Mataku seketika melotot. Sumpah, malu banget kalau inget waktu itu. Kenapa malah aku yang dibuat malu gini sih. Kan niatnya aku yang godain dia, kok malah senjata makan tua gini.
"Pulang yuk, udah gelap." Sengaja aku mengalihkan topik.
"Masih pengen disini." Tolaknya.
"Kapan kapan kita kesini lagi. Sekarang udah malam, pulang ya."
"Cie...udah gak sabar pengen aku pijitin ya??" ledeknya.
"Bentar lagi aku kerja Cal."
"Oh iya. Gak jadi pijit pijitan dong."
"Gak jadi. Punggung aku gak sakit."
"Kalau gitu, gendong sampai parkiran."
"Hah!" Beneran sakit punggung aku kalau gendong dia sampai parkiran. Jaraknya jauh banget dari sini. Yang iya gak hanya sakit punggung, bongkok aku besok.
"Kan gak sakit punggunya. Artinya, masih kuat buat gendong. Udah gak usah protes, aku ngantuk." Tiba tiba dia menyandarkan kepalanya di punggungku.
"Cal, jangan tidur. Turun, aku gak kuat kalau sampai parkiran." Aku ingin menurunkannya tapi dia malah pura pura tidur.
"Cal, aku lepasin nih tanganku." Aku sedikit mengendorkan tanganku yang menopang kedua pahanya, tapi Cal tetap tak berkutik dan tetap pura pura tidur. Takut dia benar benar jatuh saat ku lepaskan, akhirnya aku mengalah dengan tetap menggendongnya sampai parkiran.
Sesampainya diparkiran, dia tertawa ngakak karena puas mengerjaiku. Sedangkan punggungku, rasanya mau remuk. Kayaknya benar benar butuh dipijat setelah ini.
__ADS_1