Pura pura AMNESIA

Pura pura AMNESIA
NGIDAM ( END )


__ADS_3

POV CALLISTA


Biru mendorong kursi rodaku memasuki fakultas tempatku kuliah. Beberapa orang menatap kami sambil berbisik bisik. Tapi sebagian, masih bisa aku dengar karena terang terangan berujar.


"Beruntung banget ya Cal, punya suami perhatian banget."


"Yaelah, udah ganteng, baik, perhatian ma istri. Suami idaman banget."


"Semoga saja aku dapat suami kayak dia."


Dan masih banyak lagi celoteh yang intinya memuji Biru dan mengungkapkan seberapa beruntungnya aku bersuamikan dia.


Aku menoleh menatap Biru yang masih setia mendorong kursi rodaku. Dia tersenyum padaku, tak ada raut marah ataupun kesal yang terpancar di wajahnya.


Dia mengantarkanku sampai kelas, juga membantuku berpindah dari kursi roda kebangku.


"Abang tungguin diluar ya?"


Aku mengangguk. Didalam kelaspun, masih sama yang aku dengar, semua memuji Biru. Perasaanku mendadak membuncah, aku sungguh beruntung memiliki suami seperti dia.


Kusentuh perutku yang masih rata. Ada buah cinta kami didalamnya. Bukannya aku tak mau punya anak, mau, sangat mau. Tapi saat ini aku dalam posisi tertekan. Aku dituntut untuk bekerja dan kuliah. Perusahaan belum stabil setelah krisis waktu itu. Aku berusaha menaikkan kembali saham dengan susah payah. Dan kondisi badan yang tidak bersahabat ini membuatku tak bisa bekerja dan kualiah dengan baik.


Seperti janjinya, bagitu kelas usai, Biru masuk mengampiriku. Beberapa mahasiswa bersorak meledeki kami. Tapi Biru sama sekali tak malu, dia malah menggendongku, memindahkan kekursi roda.


"Cie..cie....Cal, aku mau juga dong digendong kayak gitu."


Wajahku terasa panas. Beruntung pakai masker, jadi jika merahpun, tak akan terlihat jelas.


Kami langsung pulang setelah dari kampus. Tak ada niat mampir kemana mana karena kondisiku yang lemah.


Hari hari terus berlalu dengan Biru yang selalu mendampingiku. Saat aku ada meeting penting yang tak bisa diwakilkan, dia yang sedang ada kelas terpaksa bolos demi menemaniku.


Setiap hari dia membuatkan ku susu ibu hamil meski jarang aku minum. Tak pernah berniat tidur dikamar lain meski aku melarangku tidur diranjang. Dia bilang, akan selalu siaga disampingku 24 jam. Aku sangat terharu melihat perjuanganya untukku dan calon anak kami.


...----------------...


POV BIRU


Aku seperti merasa jika ada yang memelukku. Tapi sepertinya hanya mimpi, tak mungkin ada yang memelukku karena Cal sedang alergi padaku.


Tapi kenapa rasanya nyata. Pelukan itu makin erat, bahkan bisa kurasakan sapuan nafas yang terasa hangat diceruk leherku.


Aku membuka mata perlahan. Rasanya seperti tak percaya jika saat ini Cal sedang memelukku. Begitu erat sambil menyorokkan wajahnya diceruk leherku. Apa dia sudah tak mual lagi? Atau jangan jangan, dia sudah tak hamil lagi.


Cepat cepat aku melepaskan belitan tangan Cal lalu bangun. Cal menggeliat sambil membuka matanya karena yang barusan aku lakukan membuatnya terbangun. Dengan bodohnya, kuraba perut Cal. Perut itu memang masih rata, jadi mana bisa aku tahu dia masih hamil atau tidak.

__ADS_1


"Ada apa Bang?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu masih hamil kan sayang?"


Cal mengernyit, lalu beberapa detik kemudian tertawa.


"Emang kenapa?" tanyanya.


"Kok gak mual deket Abang?"


Cal ikutan duduk lalu memelukku.


"Tauk tuh baby nya, mendadak pengen meluk papanya."


Apa itu artinya, dia masih hamil dan udah gak mual lagi kalau deket aku.


"Kamu beneran udah gak mual lagi Yank?" kupastikan sekali lagi. Takutnya dia sedang memahan mual saat ini.


Cal tersenyum sambil menggeleng. Dia lalu menyiumi wajahku berkali kali sebagai bukti jika dia memang sudah gak mual. Lega sekali rasanya, akhirnya aku bisa deket deket Cal lagi, Gak puasa selama 9 bulan. Alhamdulillah, segera kuucap syukur. Sebulan ini terasa begitu menyiksa.


Kuusap perut Cal lalu kuciumi. Setelah tahu dia hamil, ini pertama kalinya aku bisa mencium perutnya. Tak puas hanya diluar baju, kusingkap bajunya lalu kembali kuciumi perut yang masih rata itu.


"Abang geli." Dia tertawa sambil menggeliat kayak cacing karena kegelian.


Ekspresinya sungguh menggemaskan, membuatku benar benar tidak tahan. Segera kupegang tengkuknya dan kucium bibir yang kissable itu.


Sudah lama sekali kami tak berciuman, rasanya sungguh luar biasa, tak bisa kuungkapkan dengan kata kata. Kami berdua terengah saat pagutan bibir itu terlepas. Tapi mata kami masih memancarkan gelora yang sama, yaitu masih menginginkan lagi dan lagi. Tak pelak, kamipun kembali saling mendekatkan wajah dan menyatukan bibir.


Suara kecipak bibir kami memenuhi seisi kamar. Mendadak suhu kamar menjadi panas. Nafas kami sama sama memburu dengan pandangan berkabut karena gairah yang memuncak.


"Aku menginginkanmu sayang." Ucapku disela sela ciuman panas kami.


Cal mengangguk pasrah. Mendapatkan lampu hijau, membuatku makin bersemangat. Tangaku bergerak cepat melepaskan pakaian yang menempel ditubuhnya maupun tubuhku. Tak ada niat untuk berpindah keatas ranjang. Kasur busa setebal 10 cm ini sudah cukup untuk alas pergulatan panas kami.


Akhirnya aku kembali bisa menikmati tubuh yang menjadi canduku itu. Tak kusia siakan kesempatan ini. Kujamah setiap inci tubuh Cal hingga si empunya badan melenguhh dan mendesahh tak karuan.


"Aahh Abang." Cal terus mendesaahh karena kenikmatan yang aku berikan. Kami berdua larut dalam gejolak asmara yang memabukkan. Rasanya seperti malam pertama. Setelah puasa lama, menjadikan kenikmatann ini jadi terasa berlipat lipat ganda.


"Call." Aku menyerukan namanya saat merasakan mencapai puncak. Begitupun dengan Cal, dia juga menyebut namaku.


Kami bedua tumbang dengan nafas sama sama terengah. Saling bertatapan penuh cinta dengan


jari tangan bertautan.


Aku menepuk dahi saat teringat sesuatu. Cal sedang hamil muda. Tapi barusan kami bercinta dengan sangat liar. Semoga saja tak berdampak apa apa pada anak kami.

__ADS_1


"Cal, gak ada yang sakitkan?" tanyaku cemas sambil menyentuh perutnya.


Cal menggeleng. "Enggak sakit kok Bang."


Tapi perasaanku masih belum lega. Teringat artikel yang pernah aku baca. Hamil trimester pertama itu masih rawan rawannya. Bisa bisanya aku khilaf sampai liar kayak tadi.


"Besok kita periksa ke dokter ya?"


Cal mengangguk, setelah sekian lama, akhirnya dia setuju juga..


...----------------...


POV CALLISTA


Mataku berkaca kaca melihat layar monitor yang menunjukkan gambar janin dalam perutku. Usianya sudah 10 minggu, sudah tertengar detak jantungnya. Rasanya luar biasa banget, menyadari ada jantung yang berdetak didalam perutku.


"Janinnya sehat, hanya saja mamanya mengalami malnutrisi."


"Mamanya muntah muntah terus dok." Biru menyahuti.


"Itu biasa saat awal kehamilan. Nanti saya kasih vitamin dan obat untuk mengurangi mual muntah."


Setelah dari dokter, kami langsung pulang. Tapi pas melewati rumah tetangga, mendadak aku teringin rambutan yang ada didepan rumahnya.


"Bang berhenti dulu deh, pengen rambutan." Rengekku sambil memegangi lengannya.


Sesuai permintaanku, Biru menepikan mobil lalu berhenti.


"Kok gak bilang daritadi. Kan banyak tadi yang jualan dipinggir jalan."


Aku menggeleng cepat.


"Katanya mau rambutan."


"Gak mau yang dijual, tapi mau yang itu." Aku membalikkan badan, menunjuk pohon rambutan yang buahnya lebat didepan rumah tetangga.


"Aku kamu suruh minta ketetangga?" Tanyanya ragu ragu.


"Hem, dan harus Abang sendiri yang manjat."


"APA!"


Aku ngakak melihat ekspresi terkejutnya.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2