
POV CALLISTA
Tidak ada yang istimewa diatas meja makan. Hanya nasi, ikan goreng, tempe dan sambal. Tapi yang menarik perhatianku, adalah kedua pria didepan dan sebelahku. Entah kenapa, aku merasa suasana mendadak tegang.
"Aku masih kayak mimpi melihat kamu masak Cal. Setahuku, selama hampir 21 tahun, bisamu cuma makan." Ucap Rama sambil menatap semua hidangan dengan takjub. Seolah olah ini adalah pencapaian luar biasa yang aku lakukan semasa hidup.
"Tidak ada yang tidak bisa jika mau belajar." Biru menyahuti.
"Ya, aku tahu. Tapi ini masalahnya Cal. Cal yang seorang a_"
Segera aku tendang kaki Rama yang ada dibawah meja sambil memelototinya. Hampir saja dia keceplosan mengatakan jika aku anak pemilik CALS.
"Seorang apa?"
Yaelah, Biru malah menegaskan.
"Se, seo...rang wanita jaman cantik. Yang biasanya tak mau mengurusi urusan dapur. Takut tangannya bau bawang dan kulit mulusnya kena cipratan minyak."
Aku bernafas lega. Untung Rama bisa berfikir cepat.
"Aku ini multitalenta. Bisa melakukan semua hal termasuk masak dan lain lain." Aku ikut bicara.
"Bisa tolong ambilin nasi buatku?" Biru menyodorkan piringnya kearahku. Biasanya aku memang mengambilkannya nasi jika letaknya di magigcom. Tapi kali ini karena ada tamu, nasi sengaja aku letakkan diatas meja.
"Yaelah padahal nasi didepan mata. Masih aja maunya ngerepotin orang." Ledek Rama ketika aku meraih piring dari tangan Biru.
"Iri, bilang aja?" Sahut Biru dengan ekspresi datar khasnya. "Makanya nikah, biar ada yang ngelayanin."
Rama berdecak kesal sambil menatap sinis kearah Biru.
Aku tak ambil pusing dengan mereka. Segera aku berdiri dan mengisi piring Biru dengan nasi lalu meletakkan dihadapannya.
"Aku juga." Rama ganti menyodorkan piringnya. Baru saja tangan ini hendak meraih piring Rama, Biru sudah memerintahkan hal lain.
"Ambilin aku ikan sama sambalnya sekalian."
"Heh, aku dulu yang nyuruh dia." Geram Rama.
"Kewajiban istri adalah melayani suaminya, bukan temannya."
"Tapi aku tamu disini. Sudah kewajiban tuan rumah melayani tamu."
Aku menatap mereka bergantian. Seperti anak kecil, mereka terus saja mempermasalahkan siapa yang harus dilayani duluan. Kenapa aku serasa cosplay jadi pelayan warung yang pelanggannya minta dilayani dulu. Lama lama geram juga melihat tingkah mereka. Tak tahu apa, jika aku sudah kelaparan saat ini.
"STOP!" Pekikku saat keduanya sama sama tak mau mengalah. "Ambil sendiri sendiri, aku lapar mau makan."
Aku yang kesal mengambil piringku sendiri lalu mengisinya dengan nasi. Kupikir semua drama udah selesai, ternyata aku salah. Rama dan Biru, malah saling berebut ikan goreng saat ini. Rama memegang kepala ikan, sedang Biru ekornya. Keduanya sama sama tak mau mengalah padahal ikan goreng bukan hanya satu tapi banyak. Hedeh, bikin aku jadi keinget ipin upin yang rebutan ayam goreng aja.
__ADS_1
"Hei, aku dulu yang ambil." Seru Rama.
"Jelas jelas aku yang ambil duluan." Sahut Biru tak terima. Yaelah, kenapa mereka lebih parah dari Lisa. Lisa aja dari tadi hanya mengeong dan menunggu dilempari ikan, tapi mereka, astaga....
Karena tak ada yang mau mengalah, akhirnya ikan itu terputus menjadi dua. Keberuntungan berpihak pada Rama karena dia mendapatkan bagian yang lebih besar. Dan disaat itu juga, dia tertawa mengejek. Biru yang kesal, langsung melemparkan potonga ikan itu pada Lisa.
Beruntung tak ada drama lagi diantara mereka. Kami bertiga makan dengan tenang tanpa ada yang berniat membuka suara. Lisa pun tak lagi berisik karena sibuk makan.
"Mau nambah?" Tanyaku saat kulihat nasi dipiring Biru sudah habis.
"Boleh." Jawabnya sambil menyodorkan piring kearahku.
"Cal, habis ini kita jadi keluarkan?" Tanya Rama.
"Mau kemana?" Tanya Biru sambil menatapku dan Rama bergantian. Tadi aku dan Rama memang janjian mau keluar. Dia mau ke atm untuk ngambil uang sekalian beliin aku hp. Susah juga berkomunikasi jika tak ada benda itu. Selain itu, aku memang udah kangen banget pengen shopping.
"Rama minta diantar ke atm. Dia juga mau beli baju dan keperluan untuk tinggal disini. Bolehkan?" tanyaku.
"Sekalian aku mau quality time dengan Cal. Aku ingin lebih banyak mengingatkannya tentang masa lalu. Bukankah itu tujuanku ada disini? Aku ingin membuat Cal mengingat lagi masa lalunya." Rama menimpali.
"Bolehkan?" Aku kembali bertanya karena Biru tak kunjung menjawab.
"Yaelah, masa gitu aja gak boleh. Aku cuma mau ngajak Cal jalan jalan, bukannya mau bawa kabur. Posesif banget jadi laki. Oh..." Rama tiba tiba tersenyum sinis. "Jangan jangan kamu memang gak ingin ingatan Cal kembali lagi? Kamu takut ya dia ninggalin kamu kalau ingatannya kembali?"
Biru tampak terdiam dengan raut wajah yang sulit digambarkan. Seperti sedih, tak terima, atau entahlah.
...****************...
POV BIRU
Aku duduk dikarpet depan tv sambil memangku Lisa. Kesayanganku yang akhir akhir ini sering terabaikan akibat kehadiran Cal. Selama ini, dialah yang paling setia, menemaniku saat susah dan senang. Tapi setelah ada Cal, seluruh perhatianku seakan tersita pada perempuan itu.
Lisa menggesek gesekkan bulunya dilenganku. Bulu bulu yang dulu selalu bersih itu, terlihat sedikit kotor karena jarang aku mandikan. Sekali lagi, karena Cal telah menyita seluruh waktu dan perhatianku.
Cal, ya Callista. Wanita yang saat ini berstatus sebagai istriku itu mampu memporak porandakan pertahanan hatiku. Pernikahan yang awalnya hanya formalitas untuk membantunya mendapat tempat tinggal, sekarang berubah. Ada rasa ingin memilikinya, menjadikan dia istri seutuhnya. Tapi sekali lagi, aku masih belum berani mengambil resiko besar itu. Aku takut saat Cal mendapatkan kembali ingatannya, dia akan pergi dariku. Bukan tidak mungkin, kalau dia memiliki kekasih sebelum dia amnesia.
Aku menatap jam yang bertengger didinding atas tv. Sudah malam, sudah lebih dari 5 jam mereka pergi, tapi belum juga ada tanda tanda mereka pulang.
"Kamu kemana Cal?" Gumamku sambil membelai bulu Lisa. 5 jam saja berpisah dengannya terasa sangat lama, apalagi kalau sampai dia meninggalkanku selamanya saat ingatannya kembali.
Aku membuka ponsel, mengamati foto pernikahan kami. Cal begitu cantik dengan balutan kebaya putih dan sanggul modern. Senyumnya yang begitu menawan mampu menggetarkan hati siapapun. Sekuat apapun usahaku untuk tak jatuh cinta padanya, nyatanya aku tetap kalah, aku jatuh cinta padanya.
Aku beranjak menuju ruang tamu saat mendengar suara mobil. Sepertinya, mereka berdua sudah pulang. Sebenarnya, aku tak rela membiarkan merek pergi berdua. Tapi aku tak mau dianggap egois, tak mau dianggap menghalangi Cal untuk mendapatkan memorinya kembali.
"Ram, bantuin bawa dong." Aku bisa mendengar suara Cal dari luar.
"Cemen, segitu aja minta bantuan." Sahut Rama.
__ADS_1
"Rama...bantuin..."
"Iya iya, cerewet."
Hatiku tercubit mendengar obrolan mereka. Terdengar sangat akbrab. Mungkinkah Cal sudah mengingat Rama? Ataukan sudah mengingat semua masa lalunya?
Mendengar langkah kaki yang semakin dekat, segera kubuka pintu. Kulihat Cal membawa banyak sekali belanjaan, begitu juga Rama. Kali ini, aku tak hanya tercubit, tapi tertampar. Cal istriku, tapi belum pernah aku memberinya apapun. Tapi orang yang baru hadir, yang mendeklarasikan dirinya sebagai sahabat, membelikan banyak sekali barang untuk Cal.
"Sori kalau sampai malam, hehehe." Ujar Cal sambil tersenyum padaku. Aku minggir agar Cal dan Rama bisa masuk lalu kututup kembali pintunya.
"Aku simpan ini dulu ya." Ucap Cal sambil mengangkat belanjaannya.
Segera aku mengejar Cal dan menahan tangannya.
"Simpan dikamarku." Bisikku ditelinganya.
Cal menatapku bingung. "Cepet bawa masuk kekamarku." Kuulang lagi berbisik padanya. Bukan apa apa, aku hanya tak mau Rama tahu jika selama ini aku dan Cal tidur terpisah.
"Paan sih pakai bisik bisik?" Tanya Rama.
"Hemm...urusan suami istri." Sahutku sambil nyengir. Karena tak segera bergerak, ku dorong bahu Cal menuju kamarku.
"Kenapa disimpan disini? barangku kan ada dikamar sebelah?"
Tak mau Rama mendengar, segera kututup pintu kamar.
"Mulai sekarang, kamu tidur disini."
Cal tampak terkejut, tapi sedetik kemudian, kulihat dia begitu girang.
"Selamanya?" tanyanya.
"Selama Rama ada disini."
Bibir yang tadi tersenyum, berubah jadi nyengir.
"Kirain selamanya." Ucapnya sambil melipat kedua tangan didada.
Inginku juga selamanya. Tapi aku takut, takut kamu yang gak bisa selamanya disini Cal. Aku takut ingatanmu kembali dan kamu pergi dengan Rama.
"Kamu kelaut malam ini?" Tanyanya.
"Enggak." jawabku sambil menggeleng.
"Kenapa, bukannya perahu kamu udah bisa digunakan?"
Mana mungkin aku membiarkan kamu berduaan saja dirumah dengan Rama. Melautpun tak ada gunanya. Karena hati dan pikiranku, pasti tertinggal dirumah.
__ADS_1