
POV BIRU
Aku kasihan melihat Cal. Aku tahu hatinya sedang mengalami pergolakan yang hebat. Menjebloskan saudara sendiri kepenjara bukanlah hal yang mudah. Tapi aku salut, Cal wanita yang hebat, Cal bisa melakukan itu meski aku tahu, hatinya terluka.
Kulihat tak ada senyum diwajahnya sejak peristiwa penangkapan kemarin. Ditambah pagi ini Rama mengabarkan jika saham perusahaan anjlok karena berita ini sudah tersebar. Konflik intern ini jelas membuat kepercayaan orang pada CALS menurun.
Belum lagi Ken yang menjabat sebagai CEO adalah anak mereka si pengkhianat. Otomatis publik akan berasumsi jika Ken terlibat didalamnya demi bisa menguasai CALS.
Baru saja kami menuruni tangga hendak sarapan, Lastri sudah heboh memanggil.
"Non Cal, sini Non. Beritanya masuk tv." Lastri menarik tangan Cal menuju tv dimana para art berkumpul. Sedangkan aku mengikutinya dibelakang. Sebenarnya aku dan Cal sudah tahu tentang ini dari portal berita online. Dan untuk saat ini, orang yang paling dicari untuk dimintai klarifikasi adalah Cal dan Ken.
Bagaimana tak menghebohkan, pewaris tunggal CALS yang dinyatakan meninggal satu setengah bulan yang lalu, tiba tiba kembali dalam keadaan masih hidup. Dan yang lebih mengejutkan, Om dan tentenya sendiri yang telah melakukan kejahatan demi menguasai hartanya..
"Permisi Non." Seorang sekurity masuk dan langsung menghampiri Cal. "Diluar banyak wartawan yang minta wawancara."
Cal tak langsung menjawab, dia menatapku seolah menanyakan pendapat.
"Kalau kamu merasa perlu, lakukan. Tapi kalau kamu gak nyaman, tolak saja." Aku hanya bisa memberi saran, untuk keputusan, tetap Cal yang harus mengambil karena yang paling tahu tentang kesiapan mentalnya, jelas dia sendiri.
"Abang mau kan dampingi aku?"
Seketika aku langsung mengangguk. Jangan salah paham, bukan aku ingin exis atau masuk tv. Hanya semata mata ingin mendampingi Cal agar dia lebih nyaman. Lebih cepat memberikan klarifikasi akan lebih baik, menghindar tak akan menyurutkan semangat para wartawan untuk mengejarnya demi berita.
Setelah menghubungi pengacara dan mempersiapkan tempat, Pak Sapto mempersilakan para wartawan masuk. Sebenarnya Cal juga ingin mengajak Ken sekalian, sayangnya pria itu menolak dengan alasan malu. Aku mengerti perasaannya, dia pasti malu dengan kelakuan orang tuanya.
Wajah Cal begitu tegang. Tapi aku yakin, dia wanita yang tangguh. Ini bukan apa apa jika dibanding dengan perjuangannya bertahan hidup saat tenggelam waktu itu.
Cal menceritakan semuanya secara gamblang pada wartawan. Air mata Cal menetes saat menceritakan betapa sulitnya dia bertahan dilautan demi bisa bertahan hidup.
"Hukuman apa yang menurut Nona Callista pantas untuk mereka?" tanya salah satu wartawan.
Untuk pertanyaan itu, pengacara yang menjawab karena Cal tak begitu paham tentang hukum dan pasal pasal yang menjerat keduanya.
"Apa anda yakin jika Kenan tak termasuk bagian dari mereka?"
Cal seketika menggeleng. "Saya yakin Kak Ken bersih. Dia bahkan telah banyak membantu saya."
"Nona Callista, tolong ceritakan bagaimana anda bisa selamat dan kehidupan seperti apa yang anda jalani selama 1,5 bulan ini?"
Cal seketika menoleh padaku sambil mengeratkan genggaman tangan kami.
__ADS_1
"Dia, pria yang ada disebelah saya ini yang telah menyelamatkan saya. Dan sekarang, pria ini telah resmi menjadi suami saya."
Seorang wartawan mengangkat tangannya.
"Apa mbak Cal menikah karena nazar?"
"Maksudnya?" Cal mengernyitkan dahi.
"Seperti didongeng dongeng. Biasanya saat berada disituasi sulit, seseorang akan bernazar. Misal, jika aku berhasil selamat, dan yang menyelamatkanku adalah laki laki, dia akan menjadi suamiku, jika perempuan, dia akan menjadi saudaraku."
Sontak semuanya tertawa mendengar kekonyolan itu. Meski aku tahu Cal kadang kadang melalukan sesuatu yang konyol, tapi aku rasa, dia tak pernah bernazar demikian.
"Tidak, saya tidak bernazar demikian. Saya juga tidak pernah membayangkan akan diselamatkan oleh pria tampan." Ujarnya sambil tersenyum padakua. "Semua berjalan sesuai alur yang telah dibuat Sang Maha Kuasa. Mungkin memang seperti ini cara saya bertemu jodoh."
Selanjutnya Cal menceritakan bagaimana dia pura pura amnesia agar bisa tinggal dikampung nelayan serta kekonyolannya yang minta aku menikahinya. Tak pelak wawancara yang awalnya kaku menjadi mencair, sering kali tawa mewarnai cerita Cal yang mungkin terdengar sedikit konyol itu.
Lagi, seorang wartawan mengangkat tangan.
"Kalau ada yang mau membuat cerita Nona Callista sama Mas Biru jadi novel, kira kira boleh gak?"
"Kita lihat saja nanti." Jawab Cal sambil tersenyum lalu menoleh padaku.
"Kamu hebat, alm orang tuamu pasti bangga punya anak seperti kamu." Puji Pak Julian, pengacara keluarga Cal.
"Om bisa aja."
"Tapi bener Cal, kamu hebat." Aku menimpali.
"Untuk kasus ini, kamu gak perlu khawatir, om yang akan kawal hingga mereka mendekam dipenjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Terimakasih om."
"Dan untuk kabar baiknya lagi, karena wali kamu kena kasus pidana, jadi semua warisan sudah menjadi hak mutlak kamu tanpa perwalian lagi."
"Beneran Om?" Cal tampak sangat antusias. Dan begitu Pak Julian mengangguk, Cal langsung memeluk pria yang duduk disebelah kanannya itu.
Tak ingin cemburu tapi tetap terasa nyelekit dihati. Meski pelukan itu hanya sebatas ekspresi senang semata, hati kecilku tetap tak terima.
"Suamimu cemburu." Lirih Pak Julian tapi masih bisa terdengar olehku. Apa kentara banget diwajahku raut cemburu itu.
"Abang." Cal berbalik kemudian memelukku yang duduk disebelah kirinya.
__ADS_1
"Cemburu?" Bisiknya.
"Kebiasaan kamu," desisku.
"Maaf." Ujarnya lalu mengecup bibirku singkat.
"Aduh aduh, pengantin baru suka lupa tempat. Kok Om yang malu jadinya." Ujar Pak Julian sambil tertawa renyah, membuatku malu dan melepaskan belitan tangan Cal.
"Tak apa, jangan sungkan, ini rumah kalian, Om yang sungkan." Lagi lagi ledekannya membuatku makin malu.
Sedangkan Cal, dia hanya nyengir santai.
"Om pulang dulu ya Cal." Pamitnya sambil mengemasi barangnya lalu berdiri.
Aku dan Cal menyelaminya dan mengantarkannya hingga ke teras.
"Astaga, om sampai lupa. Gara gara kalian sih." Ujar Pak Julian saat kami sudah berada diteras.
"Ada apa Om?" Tanya Cal.
"Kamu sudah lihat sahamkan?" Cal mengangguk.
"Saran Om, Ken sebaiknya mengundurkan diri. Om yakin kepercayaan orang pada Ken sudah menurun drastis, kalau dibiarkan, saham akan makin terjun bebas. Sebaiknya, kamu saja yang maju jadi CEO."
"A, aku om?" Cal terlihat gugup. "Aku belum mampu Om."
Pak Julian menunjuk dagu kearahku. "Suamimu pasti akan bantu. Walaupun Om belum tahu sampai dimana kemampuannya, tapi dia terlihat seperti orang yang mau belajar. Om yakin kalian berdua mampu membawa CALS menuju puncak kesuksesan."
"Ta, tapi."
"Cal." Pak Julian mendesaah pelan. "Om mohon kali ini ikuti saran om. Berdirilah diatas kakimu sendiri. Karena apa? Karena hanya dirimu sendirilah yang tak akan mungkin mengkhianatimu. Om yakin kamu mampu. Kamu cerdas seperti mamamu. Dan kamu pemberani dan pantang menyerah seperti papamu. Dan untuk Ken, sementara dia bisa bekerja dibalik layar."
"Maksud Om? Aku yang jadi CEO dihadapan semua orang tapi Kak Ken yang sebenarnya melakukan pekerjaan itu?"
Apa itu artinya, Cal hanya menjadi CEO boneka? Hanya untuk imej perusahaan saja?
Pak Julian menggeleng. "Tidak seperti ini. Mungkin diawal akan terasa seperti itu. Tapi lambat laun, kamu sendiri yang akan menjalankannya. Ken hanya sebagai mentor. Dan kamu." Pak Julian ganti menatapku.
"Om yakin kamu tipe pekerja keras. Belajarlah dengan rajin. Dampingi Cal untuk menjadi orang yang hebat. Om yakin kalian berdua bisa melakukannya. Jangan sia siakan waktu meski saat ini bisa dibilang kehidupan kalian berkecukupan. Tapi, roda terus berputar. Jadi berusahalah agar posisi kalian tetap berada diatas."
Aku dan Cal kompak mengangguk. Aku sangat setuju dengan usul Pak Julian. Tak ada yang lebih pantas memimpin CALS kecuali Cal sendiri. Dia saksi hidup perjuangan orang tuanya mendirikan CALS. Aku yakin dia orang yang paling tidak mau melihat CALS jatuh.
__ADS_1