
POV CALLISTA
Hari sudah semakin sore, tapi yang katanya pergi sebentar, tak kunjung pulang. Hatiku makin tak tenang. Berulang kali mondar mandir antara kamar dan teras. Mataku menerawang melihat jalanan. Tapi sosok yang ingin kulihat, tak tampak juga batang hidungnya. Sesekali aku membuka ponsel dan berselancar disosmed, sayangnya apa yang ku lakukan sama sekali tak bisa meredam hati yang gundah gulana. Pikiranku tak bisa fokus pada apapun kecuali Biru.
"Belum pulang juga?" tanya Rama yang ternyata sudah ada diruang tamu, menyambutku yang baru saja dari halaman.
"Ini semua gara gara kamu." Sahutku kesal.
"Kok aku? Laki kamu aja yang baperan. Masak laki dikit dikit ngambek." Ujarnya sambil menyebikkan bibir.
Astaga, benar benar ngeselin nih anak. Pantas saja dari dulu aku selalu putus gara gara dia.
"Jadi laki itu harus tahan banting, bukan suka membanting, apalagi ngambekan, kayak cewek aja." Dia masih saja terus nyerocos.
Dadaku bergemuruh, ingin sekali segera menyuruh Rama kembali ke kota, karena kalau tidak, rumah tanggaku jadi taruhannya. Namun jika ingat betapa baik dia selama ini padaku, tak tega juga aku mengusirnya. Apalagi aku yang menghubunginya lebih dulu dan memintanya datang. Rasanya, tak pantas jika aku menyuruhnya pergi begitu saja.
"Jalan jalan yuk Cal, bosen dirumah. Kita lihat sunset dilaut."
Sunset, mengingatkanku pada obrolan beberapa waktu lalu dengan Biru. Kala itu, dia bercerita kalau tempat yang paling bisa membuatnya tenang adalah pantai. Jangan jangan, saat ini Biru sedang berada dipantai.
"Aku harus pergi." Segera aku manyaut ponsel yang ada diatas meja lalu berlari keluar.
"Mau kemana?" Teriak Rama sambil mengejarku.
"Cari Biru, kamu tunggu aja dirumah." Jawabku sembari terus berlari. Setelah agak jauh, aku menoleh kebelakang. Seketika aku bernafas lega karena Rama tak lagi mengejarku.
Aku berhenti berlari dan lanjut jalan. Ternyata capek juga lari. Nafasku sampai ngos ngosan meski jarak yang kutempuh belum terlalu jauh. Tujuanku adalah pantai tempat Biru menyandarkan perahu. Disana meski tak seindah pantai wisata, tapi tempatnya sepi, cocok untuk menenangkan pikiran. Entah benar atau tidak, firasatku mengatakan jika Biru ada disana.
Aku tersenyum lega saat netra ini akhirnya menemukannya. Sosok pria yang sejak pagi pergi dan bilang sebentar tapi nyatanya tak pulang pulang. Aku masih sangat ingat baju yang dia pakai tadi lagi. Jadi, meski hanya tampak punggungnya, aku yakin itu Biru. Dia duduk dibawah sebuah pohon dengan tatapan lurus kelaut. Entah apa yang dia pikirkan, semoga saja aku.
Sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Terbukti sampai aku terdiri tepat dibelakangnya, dia tak juga menoleh.
"Lihat sunset tapi gak ngajak ngajak." Ucapku sambil duduk disebelahnya. Biru menoleh kearahku dengan ekspresi terkejut.
"Mau tanya kenapa aku tahu kalau kamu ada disini?" Ujarku sambil menyunggingkan senyum. "Aku punya radar yang bisa mendeteksi keberadaanmu. Jadi jangan pernah berfikir untuk sembunyi dariku."
__ADS_1
"Bukan sembunyi Cal, takutnya tak terlihat."
"Yeey..emang kamu segede upil apa, sampai gak kelihatan." Sahutku sambil menyebikkan bibir.
Biru mengalihkan pandangannya dariku. Mengambil batu karang kecil, lalu melemparkannya sekuat mungkin kelaut.
"Aku seperti batu itu Cal. Terlalu kecil dan tak berharga dilautan luas ini."
"Maksud kamu?"
"Aku bukan siapa siapa dan tak punya apa apa. Dan mungkin tak ada artinya apa apa buatmu." Jawabnya sambil menatapku.
Dugaanku benar. Biru tersinggung karena aku lebih memilih mengobati Rama. Ya, aku memang salah. Dengan sadar, telah melukai hati suamiku.
"Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati orang, tak bisa tak ada yang tahu. Jadi jangan sok tahu tentang isi hatiku. Kadang apa yang kamu lihat, tak seratus persen sesuai dengan apa yang kamu pikirkan." Ujarku sambil meraih ranting kecil didekatku lalu mengukir namaku diatas pasir. CAL aku menulisnya dengan huruf besar. Tak tahu kenapa, aku lebih suka nama Cal daripada Callista.
"Boleh aku bertanya?" Biru menoleh padaku.
"Apa?" Aku pun sama, menoleh padanya.
Kutulis nama Rama diatas pasir tepat disebelah namaku. Kupandangi lekat lekat, begitupun Biru. Netranya menatap tulisan yang aku ukir diatas pasir.
Kusilang nama Rama sambil berkata, "tidak."
"Apa kau yakin jika dimasa lalumu, kau tidak mencintai Rama?"
Kuhapus hingga bersih nama Rama yang baru saja kusilang. Sekarang hanya tinggal namaku diatas pasir.
"Tidak ada. Tidak pernah ada nama Rama dihatiku, entah masa lalu, ataupun saat ini."
Aku menoleh kearah Biru, dan ternyata dia juga sedang menatapku. Senyuman terukir dibibirnya. Hanya melihatnya senyum saja, segala gundah gulanaku seharian ini langsung lenyap. Semagig itu efek senyum Biru.
Biru mengambil alih ranting dari tanganku. Dengan ranting itu, tangannya bergerak mengukir nama BIRU disamping namaku.
"Apa dia layak berada disini? disamping namamu?"
__ADS_1
"Ya." Jawabku tanpa berfikir dua kali.
"Tak perlu terburu buru, pikirkan dulu Cal. Biru, pemuda itu tak punya apa apa dan bukan siapa siapa." Ucapnya sambil menatap kedua manik mataku.
"Separah itukah?"
"Hanya cinta, kesetiaan, serta badan yang rela menerjang panas dan hujan demi mencari nafkah. Hanya itu."
Aku meraih kedua tangan Biru dan menautkan jari jari kami.
"Itu sudah lebih dari cukup." Jawabku sambil menatap kedua matanya. Mata yang memancarkan kejujuran, ketulusan dan kesederhanaan.
"Aku tak bisa menjanjikan apa apa selain kasih sayang dan perhatian. Sesederhana itu modal yang aku punya Cal."
Sejuk hati ini mendengarnya. Aku memang tak butuh janji Ru, aku butuh bukti. Dan aku yakin, kamu adalah pria yang bisa membuktikan kata katanya. Kasih sayang dan perhatian, kedua hal itu hilang sejak kedua orang tuaku tiada. Jika kau menawarkan itu, sudah pasti aku akan dengan senang hati menyambutnya.
"Sederhana lebih baik dari pada janji muluk yang tinggal janji, tanpa pernah terealisasi."
Kamu berdua saling beradu pandang untuk beberapa saat. Hingga tanpa komanda, kami saling mendekatkan diri hingga tak ada jarak sama sekali. Setelah tadi malam, hari ini bibir kami kembali saling berpagutan. Dengan background sunset yang sangat indah, kami berciuman penuh kasih sayang. Seakan tak ingin berakhir, kami hanya berhenti untuk mengambil nafas kemudian kembali berpagutan.
"Aku mencintaimu Cal." Ucap Biru disela sela ciuman kami.
Akhirnya kata keramat itu keluar juga dari bibirnya. Tak terkira betapa bahagia diri ini.
"Aku juga mencintaimu." Jawabku saat pagutan kami terlepas.
Biru mengusap sisa saliva disekitaran bibirku dengan jari jempolnya. Setiap sentuhannya membuat bulu kuduku meremang.
Biru meraih kedua tanganku dan dikecupnya mesra.
"Ternyata selain jago ngabisin duit, kamu ada juga kelebihan lain."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Jago ciuman."
__ADS_1
Tawa kami berdua seketika meledak saat itu juga.