
"Kamu sudah siapin skripsimu nak?" tanya Ayah Putra mencoba semakin akrab dengan Qiara agar Qiara juga nyaman saat Putra tak disampingnya.
"Belum ayah masih cari-cari bahan" jawan Qiara sopan.
"Bunda itu seneng banget bakal punya anak perempuan dan adik-adik Putra pasti juga seneng ada kakak perempuan" kata Bunda sambil tersenyum dan mengelus dengan lembut kepala Qiara.
"Apa kamu siap kalau kita minta kalian untuk segera menikah?" tanya Ayah serius.
"Qiara sih terserah Mas Putra aja maunya gimana" jawab Qiara tertunduk malu.
Qiara bingung harus jawab apa karna Qiara juga belum banyak bicara dengan kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Putra. Rasanya Qiara seperti dikerjain sama Putra yang langsung mengajaknya bertemu dengan orang tuanya sebelum berbicara dengan orang tuanya terlebih dahulu.
Tak lama Putra datang membawa 4 kotak makanan. Putra sengaja membeli nasi padang kesukaan Qiara. Anggap saja sebagai permintaan maafnya karna membuat Qiara terkejut dengan perbuatannya hari ini.
"Kapan kamu isi rumah kamu dengan perabotan?" tanya Bunda "Masa sampai piring dan sendok juga gak ada sih Put".
"Iya nanti lah Bun kalau udah deket nikahnya aku pindahin barang dikost sekalian pindah kesini" jawab Putra sambil melahap makanannya.
"Ayah kapan mau lamarin aku buat nikahin Qiara?" tanya Putra yang membuat mata Qiara terbelalak kaget.
"Ya kamu ngomong dulu dong sama Qiara dan Qiara kan juga mau skripsi emang gak bisa tunggu sampai dia lulus" jawab Ayah sambil menggoda Putra.
__ADS_1
"Kelamaan ayah tar kebanyakan dosanya kalau nunggu Qiara lulus".
Mendengar kata-kata Putra, Qiara langsung mencubit lengan Putra.
"Aduh sakit sayang" Putra meringis kesakitan.
"Bisa nggak makan dulu nak nanti dibahas lagi" kata Bunda.
Mereka berempat akhirnya makan dengan hening tanpa pembahasan tentang lamar melamar lagi. Hanya sesekali Bunda mengajak Qiara mengobrol.
Selesai makan mereka tak melanjutkan lagi obrolan tentang melamar karna itu akan membuat Qiara kurang nyaman.
Hari semakin malam dan orang tua Putra memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sebenarnya bisa saja mereka menginap di kost ato rumah Putra tapi mereka kepikiran dengan adik Putra dirumah.
Begitu juga dengan Qiara yang mencium tangan Ayah dan Bunda Putra.
"Kalau gitu bawa mobil aja ya udah malam tar motornya aku yang bawa" kata Putra sambil menyerahkan kunci mobil kepada Ayahnya.
"Ya udah neh kunci motornya besok kamu tuker ya sama motor kamu dirumah" kata Ayah.
Qiara langsung duduk lemas disofa dengan menarik nafas panjang penuh kelegaan karna orang tua Putra sudah pulang. Qiara seperti melayang tapi ia juga merasa jatuh dengan cepat dari atas langit. Putra yang melihat Qiara langsung mengelus kepala Qiara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Good job sayang" kata Putra.
"Jadi ini kejutan buat aku?".
"Heem".
"Terus kenapa kok gak tinggal disini aja daripada di kost?".
"Rumah ini baru selesai renov 3 hari yang lalu sayang dan rencananya bulan depan aku mau pindah kesini".
"Tapi ini kan deket banget sama rumah aku?".
"Emang sengaja biar deket sama rumah kamu".
"Kenapa? Niar bisa sering ketemu aku ya?".
"Karna aku tahu kalau kamu nggak bisa jauh dari mama kamu makanya aku beli rumah disini biar kalau kita nikah kamu gampang mau ketemu mama kamu".
Jawaban Putra jujur membuat Qiara meleleh. Qiara langsung memeluk Putra.
"Makasih ya sayang" bisik Qiara.
__ADS_1
"Ya sama-sama sayang" jawab Putra sambil membalas pelukan Qiara.