
Putra kembali masuk kedalam rumah dan melihat Qiara berberes di dapur. Qiara menata peralatan dapur dan memasukkan ke lemari.
"Udah biarin aja dulu sayang kan tinggal masukin ke lemari aja" Putra yang tiba-tiba memeluk Qiara dari belakang.
"Biar cepet bersih rumahnya sayang" Qiara melepaskan tangan Putra yang memeluknya dari belakang dan menariknya untuk duduk di meja makan "Udah kamu duduk aja disini biar aku beresin ini sebentar ya".
"Aku beliin makanan dulu ya sayang kan tadi kamu cuma beli buat pak tukang" kata Putra beranjak dari tempat duduknya.
"Bisa beliin pangsit aja gak sayang tapi basah ya kayaknya enak deh" pinta Qiara sambil berberes.
"Ok deh aku beliin ditempat biasa kan?" tanya Putra.
Qiara hanya menganguk dan tersenyum. Putra pun berlalu dan pergi membelikan makanan pesanan Qiara. Setelah Putra pergi Qiara lebih leluasa berberes tanpa gangguan dari Putra. Walapun Qiara sangat senang tapi dia masih harus menjaga jarak sebelum sah menjadi suami istri.
Selesai berberes Qiara bersantai sambil menonton tv. Qiara merebahkan badannya di sofa. Tak lama Putra datang sambil membawa makanan pesanan Qiara.
"Makanan datang" Putra sambil menaruh makanan di meja depan Qiara.
__ADS_1
"Wah pasti enak neh apalagi udah laper gini" jawab Qiara sambil tersenyum.
"Iya dong kan aku beli di tempat favorit kamu".
"Emang sih cuma disitu yang enak kalau ditempat lain rasanya kurang pas".
"Aku tu beruntung banget ya punya calon istri kayak kamu. Jaman sekarang cewek-cewek sukanya nongkrong di cafe atau mall dan kamu mau makan dipinggir jalan juga mau aja".
"Emang yakin aku calon istri kamu?".
"Lho kan aku udah minta langsung sama orang tua kamu".
Putra langsung beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam kamar. Qiara yang melihat hal itu langsung berpikiran kalau Putra ngambek atau tersinggung dengan perkataannya. Qiara menyusul Putra masuk kedalam kamar. Putra duduk di ujung tempat tidurnya.
"Kamu kenapa? Apa aku salah ngomong" kata Qiara masih didepan kamar Putra.
"Sini" kata Putra sambil menepuk tempat tidurnya agar Qiara duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Qiara.
Putra tiba-tiba berdiri dan dia berlutut didepan Qiara sambil memegang kedua tangan Qiara dengan lembut.
"Mungkin aku sudah sangat sering membuat kamu menagis. Aku juga sudah sering bersikap sangat dingin sama kamu. Tapi jujur dalam hatiku cuma ada kamu dan aku selama ini berusaha untuk menjadi yang pantas buat kamu. Berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu. Aku tak bisa menjanjikan banyak hal tapi aku berjanji tak akan membuat kamu menangis dan akan selalu berusaha membuat kamu bahagia".
Qiara sangat tersentuh dengan semua ucapan Putra. Qiara pun menangis terharu.
"Mau kah kamu menjadi satu-satunya wanita yang ada dihati aku? Menjadi wanita yang mengisi setiap hariku? Menjadi wanita yang selalu ada disaat aku terbangun di pagi hari dan terlelap di malam hari? Maukah kau menerima segala kekurangan dan kelebihanku? Maukah kau menjadi istriku?".
Qiara langsung memeluk Putra dan air matanya tak terbendung lagi. Qiara tak bisa berkata-kata dan pelukannya sudah berarti bahwa ia menerima lamaran Putra.
Putra membalas pelukan Qiara dengan erat.
"Terima kasih sayang sudah menungguku selama ini" bisik Putra di telinga Qiara.
Putra melepaskan pelukannya dan menyematkan cincin dijari manis Qiara.
__ADS_1
Air mata Qiara masih menetes. Dengan penuh rasa sayang Putra menghapus air mata Qiara dan kembali memeluk kekasihnya.