
Hari berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa usia kandungan Qiara sudah masuk bulan ke 9 yang artinya sebentar lagi malaikat kecil akan hadir melengkapi keluarga kecilnya.
Seperti biasa setiap pagi setelah subuh, Qiara berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahnya. Putra pun selalu menemani Qiara. Menantikan kelahiran sang buah hati sungguh sangat membuat mereka bahagia.
Setelah berjalan-jalan mereka berdua sarapan dan setelahnya melanjutkan menata kamar bayi. Qiara dan Putra memang sudah mempersiapkan kamar untuk sang anak. Kamar dengan nuansa pink sesuai dengan kemauan Qiara. Mulai dari tempat tidur sampai lemari bayi juga berwarna pink.
Qiara mulai menata baju bayi ke dalam tas untuk persiapan kalau sewaktu-waktu lahiran barang bawaan sudah siap semua dalam satu tas.
"Sayang bisa tolong ambilkan kaos kaki bayi di laci situ dong" kata Qiara sambil menunjuk laci tempat ia menyimpan sepatu dan kaos kaki bayi.
"Ini sayang" kata Putra sambil memberikan kaos kaki bayi.
"Sayang sekarang semua sudah siap jadi kapanpun kamu mau lahir Ibu dan Ayah sudah siap sayang" kata Qiara sambil mengelus perutnya.
"Ayah juga udah gak sabar banget mau ketemu kamu nak" kata Putra tak mau ketinggalan.
Kamar bayi sengaja Qiara desain sendiri dan tak lupa Qiara juga menambahkan sofabed untuk ia bisa tidur menemani bayinya. Putra sangat mengerti bahwa setelah anaknya lahir anak lah yang akan menjadi prioritas utama Qiara. Putra dan Qiara sudah sepakat untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya. Begitu juga soal mengurus dan merawat sang anak akan mereka lakukan sendiri tanpa bantuan baby sitter tapi mereka akan bekerjasama berdua untuk merawat sang anak.
"Assalamualaikum".
Terdengar pintu diketuk dan sepertinya ada tamu diluar. Putra keluar untuk membukakan pintu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" kata Putra sambil membuka pintu.
"Kamu lama banget sih buka pintunya" kata Bunda.
"Ayah sama Bunda ngapain kesini?".
"Kamu nggak suka Bunda datang?".
"Bukan gitu cuma tumben aja Bun" kata Putra.
"Qiara mana?" tanya Ayah yang tampak membawa tas belanjaan.
Mereka bertiga langsung berjalan ke kamar bayi dan melihat Qiara duduk di sofa bed sambil mengelus perutnya.
"Ayah sama Bunda datang?" tanya Qiara.
"Iya ini Bunda kamu masih aja heboh belanja baju bayi buat anak kamu" kata Ayah sambil menaruh tas belanjaan di lantai.
"Kan bajunya udah banyak Bunda" kata Putra.
"Sebenarnya nggak niat juga sih belanja cuma kemarin pas belanja bulanan liat ada toko baju bayi lucu-lucu banget akhirnya Bunda masuk dan beli lagi deh" jelas Bunda.
__ADS_1
"Kan Bunda kamu seneng gak kesampaian punya anak cewek eh sekarang dapet cucu perempuan" tambah Ayah.
Kamar bayi yang nyaman akan menjadi ruang keluarga nantinya setelah anak mereka lahir. Sudah jelas setelah ada bayi semua pasti akan masuk ke kamar bayi. Tak salah kalau Qiara dan Putra membuat kamar anaknya menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai juga.
"Kamu udah kontrol ke dokter kan?" tanya Bunda sambil mengelus perut Qiara.
"Udah kok Bunda 2hari yang lalu" jawab Qiara.
"Terus kata dokter gimana?" Bunda masih penasaran dan mungkin ikut tak sabar menanti kelahiran sang cucu.
"Bayinya sehat dan posisinya juga udah turun ke pinggul Bunda jadi insyaallah bisa lahir normal dan bisa kapan aja lahirnya" jelas Qiara.
"Kamu harus siap siaga terus Put" kata Ayah sambil menepuk pundak Putra.
"Iya dong Yah kan bisa kapan aja Qiara lahiran" jawab Putra.
"Hari ini Bunda sama Ayah nginep disini ya temani kalian berdua sapa tahu ada Oma dan Opa nya disini anak kalian lahir hari ini" kata Bunda bersemangat.
"Amin" kata Qiara.
Setiap anak akan memilih jalan lahirnya sendiri. Qiara dan Putra juga sering berkata kepada anaknya kapanpun ia lahir mereka akan siap karena mereka percaya sang anak akan lahir dengan jalannya sendiri. Qiara sudah bertekat untuk bisa melahirkan secara normal jadi dia akan menunggu sampai saat si jabang bayi memberinya kode untuk melahirkannya.
__ADS_1