
Setelah acara pengajian selesai dan rumah Qiara sudah mulai sepi. Qiara masih bermanja-manja kepada sang Mama.
"Ma malam ini Qiara bobok sama Mama ya" pinta Qiara dengan wajah memelas.
"Kamu ini besok udah jadi istri masih aja manja sama Mama".
"Ayo dong Ma kan terakhir bobok sama Mama dirumah ini".
"Ya udah boleh deh bobok sama Mama tapi di kamar kamu aja ya" kata Mama sambil tersenyum.
"Kita juga ikut juga ya mbak kan besok mbak qiara udah mulai tinggal dirumah mbak sama mas putra" kata kedua adiknya.
"Ya udah malam ini kita bobok bareng-bareng di kamar kakak kalian" kata Mama sambil berjalan ke kamar Qiara.
Malam ini menjadi malam yang sangat mendebarkan bagi Qiara. Malam yang masih terasa seperti mimpi baginya. Saat semua telah terlelap dan Qiara masih terjaga tak bisa membayangkan apa yang terjadi besok.
Saat Qiara masih berdebar menantikan hari esok, ponselnya berbunyi dan Putra mengiriminya sebuah pesan.
"Malam terakhir kamu sebagai nona dan besok kamu akan menjadi nyonya. selamat malam sayangku sampai ketemu besok setelah aku menjadikan kamu sebagai istriku".
Qiara bertambah deg-degan dan dia sedikit tersenyum sambil memeluk ponselnya.
__ADS_1
Matahari sudah bersinar dan kesibukan kembali terlihat dirumah Qiara. Acara pernikahan memang diadakan di gedung tapi semua kerabat bersiap untuk dirias dari rumah Qiara.
Qiara tampak sangat deg-degan. Dia mungkin hanya tidur beberapa jam sampai subuh berkumandang dan ia pun bangun untuk melaksanakan sholat subuh.
Qiara yang mulai dirias tampak grogi dan tak terlihat sedikitpun senyuman diwajah cantiknya.
"Mbak gak usah grogi tar auranya kurang terpancar lho" kata perias pengantin menggodanya.
"Ah mbak bisa aja kan aku grogi mbak" jawab Qiara.
"Insyaallah semua pasti lancar mbak percaya aja deh".
"Amin. makasih ya mbak".
"Merah aja deh mbak lebih kelihatan fresh kayaknya" jawab Qiara.
"Mbak Aiara ini udah cantik gak perlu make up yang tebel udah kelihatan cantik kok".
"Ah mbak bisa aja kalau muji aku".
Untuk merias pengantin memang butuh waktu yang lebih lama dibandingkan keluarga yang lain. Saat keluarga hampi siap semua Qiara masih belum selesai dengan rias pengantinnya.
__ADS_1
"Anak Mama cantik banget" puji Mama Qiara setelah melihat Qiara keluar dari kamar lengkap dengan make up dan baju pengantin adat jawa.
"Ih mama bikin malu aja" jawab Qiara malu-malu.
"Mbak Qiara pangling banget aura pengantinnya keluar banget deh" puji Dinda adiknya.
"Dijamin deh Putra gak bakalan brenti liatin kamu Qi" kata Rini sambil menggandeng Qiara menuju mobil.
Setelah siap semua berangkat menuju gedung pernikahan. Gedung yang mereka pilih memang tak terlalu jauh dari rumah hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai gedung pernikahan.
Sesampainya disana pihak dari keluarga Putra sudah terlebih dahulu sampai. Qiara dibawa kesebuah ruangan khusus sampai acara akad selesai agar Putra tak bisa melihat Qiara sampai dia selesai membacakan ijab.
Setelah semua siap, penghulu sudah tiba dan para saksi sudah duduk ditempatnya masing-masing acara ijab pun dimulai. Putra duduk berhadapan langsung dengan papa qiara. Tampak Putra menarik nafas panjang sebelum menjabat tangan papa qiara.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Qiara Permatasari dengan mas kawin uang sebesar satu juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Qiara Permatasari binti Purnomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".
"Saksi gimana sah?".
"Sah".
__ADS_1
Putra tampak sangat lega bisa sekali ucap dengan satu tarikan nafas. Diruangan berbeda Qiara pun tampak sangat lega dan mata Qiara juga berkaca-kaca.
Setelah itu Qiara dengan didampingi kedua adiknya berjalan menuju ruang akad nikah. Qiara duduk disamping Putra yang telah sah menjadi suaminya. Qiara mencium tangan suaminya untuk pertama kali dan Putra juga mencium kening istrinya untuk pertama kali setelah sah menjadi suami istri.