Qiara Dan Penantiannya

Qiara Dan Penantiannya
18. Meminta Ijin


__ADS_3

Tak lama setelah orang tuanya pulang, Putra mengantarkam Qiara pulang kerumahnya. Jarak rumah Qiara dengan rumah barunya hanya beberapa menit perjalanan. Demi Qiara dia rela membeli rumah yang berdekatan dengan rumah Qiara karna Qiara tak bisa jauh dari mamanya.


"Masuk dulu yuk" ajak Qiara.


"Sebentar aja ya udah malam neh" jawab Putra.


"Eh kalian udah pulang" sapa Mama Qiara.


"Maaf ya tante agak malam pulangnya tadi saya ajak Qiara mampir kerumah ketemu ayah sama bunda" kata Putra yang menjelaskan alasan mereka pulang terlambat.


"Oh jadi anak mama udah ketemu sama calon mertua neh ceritanya" goda mama.


"Mama apaan sih belum sejauh itu ma" jawab Qiara malu-malu.


"Kalau boleh saya mau bicara sama om dan tante tapi kalau om dan tante ada waktu" kata Putra memberanikan diri berbicara dengan mama Qiara.

__ADS_1


"Oh boleh aja kok tapi tunggu sebentar ya papa Qiara masih sholat" jawab Mama "Mama kedalam dulu ya liat papa kamu mungkin udah selesai sholatnya".


Qiara cuma bisa menatap Putra penuh tanya. Apalagi yang dia rencanakan hari ini. Tadi sudah membuat Qiara panik sampai dia pucat sekarang minta ngomong sama kedua orang tuanya. Mungkin kah Putra ingin mengutarakan niatnya melamar Qiara untuk menjadikan Qiara isterinya. Tapi apa harus secepat ini bahkan mereka belum genap sebulan pacaran. Ah terserah lah mau ngomong apa sama orang tuanya toh tujuan dia juga baik ingin menghalalkan hubungan mereka dan seperti kata orang tua Putra lebih cepat lebih baik.


"Ada apa Putra katanya mau ngomong sama om dan tante" kata Papa Qiara sambil duduk di kursi depan Putra.


"Iya om sebenarnya tadi sebelum pulang Qiara saya ajak bertemu dengan orang tua saya" jawab Putra.


"Wah bagus dong artinya orang tua kamu bisa mengenal Qiara lebih dulu kan".


"Kami juga setuju kok dengan hubungan kalian cuma Qiara kan sebentar lagi skripsi tinggal beberapa bulan lagi sudah selesai kuliahnya" kata Mama Qiara ikut menjawab perkataan Putra.


"Tujuan saya mau berbicara dengan om dan tante untuk meminta ijin bolehkah saya menikah dengan Qiara secepatnya om tante?" Putra tanpa ragu-ragu mengutarakan niatnya.


Qiara tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia ingin melompat karna terlalu bahagia tapi di satu sisi dia belum mendengar jawaban dari orang tuanya apakah mereka mengijinkan Putra apa tidak untuk menikahinya.

__ADS_1


"Gimana Qiara?Apa kamu mau nerima lamaran Putra?" tanya Papa Qiara.


Qiara tak bisa berkata apa-apa hanya menatap mama seolah meminta jawaban dari sang mama.


"Kalau mama terserah sama kamu aja nak kan kamu yang menjalani dan mama sebagai orang tua hanya mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kamu nak" kata Mama Qiara sambil memegang tangan Qiara dan sesekali mengelusnya.


"Qiara terserah papa aja kalau papa sama setuju ya Qiara akan menerima" jawab Qiara dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah om setuju dengan pilihan kalian karna tak baik juga berpacaran terlalu lama" jawab Papa Qiara sambil tersenyum.


"Jadi saya boleh kan om menikah dengan Qiara sebelum Qiara menyelesaikan kuliahnya?" tanya Putra dengan penuh antusias.


"Dengan syarat kamu tidak boleh menyuruh Qiara untuk menghentikan kuliahnya" kata Papa Qiara tegas.


"Terimakasih om tante" Putra langsung mencium tangan Papa dan Mama Qiara.

__ADS_1


Qiara lega dengan jawaban papanya yang memberikan syarat untuk tidak menghentikan dia meraih gelar sarjananya. Qiara sudah berusaha keras untuk meraih gelarnya dan apa jadinya kalau selangkah lagi menuju gelarnya harus pupus karna pernikahan.


__ADS_2