Queenara Transmigrasi

Queenara Transmigrasi
Bab 10


__ADS_3

Terdapat perkelahian sengit satu lawan lima memang tidak sebanding itulah MORTAL ENEMY


Mereka tak pernah konsisten dalam pertarungan.


Walaupun begitu elang bisa menahan serangan mereka tapi elang tidak menyadari dari arah


belakang xavier mengeluarkan pisau lipat.


AAHHKK......


Tepat di punggung elang pisau itu menancap dengan sempurna, Mereka tersenyum bangga dan pergi begitu saja membiarkan elang sendirian.


"Gue gak akan pernah berhenti sebelum lo mati di tangan gue" Xavier tersenyum miring meninggalkan elang.


Elang mengambil ponsel di saku celana nya untuk menghubungi anak BW.


Sedangkan anak BW sekarang sedang mengikuti pelajaran mereka fokus mendengarkan apa yang guru jelaskan.


Di dalam kelas kaget saat ada ponsel berdering mereka melihat kearah orang pemilik ponsel itu.


Jho jadi salah tingkah dia lupa me silent ponselnya tapi Jho berusaha untuk tetap dingin menghiraukan mereka.


"Jhonatan bisa kah kamu mematikan ponsel nya" Ibu devina memperingati Jho dengan tegas.


Jho mengecek ponselnya ternyata elang yang menghubungi dirinya. "Bu saya ijin ke toilet" Tanpa persetujuan ibu devina Jho langsung keluar kelas.


"Apa ada masalah? Tanya mike berbisik ke athar.


"Gue gak tau" Sahut athar berbisik bisik.


"Eh lo berdua gak usah bisik bisik noh fokus saja ke depan" Gara nyahut dari belakang.


Jho mencoba menghubungi elang karena elang bolos di jam kedua takut terjadi sesuatu pada elang.


J.[ Ada apa bro? ]


E.[ Jalan XX no.26 ]


J.[ Apa ada masalah ]


E.[ Stthh... Cepat ]


Jho yang mendengar ucapan elang langsung menuju parkiran untuk mengambil motor setelah Jho menemukan lokasi elang jho menancap gas dengan kecepatan tinggi.


Elang duduk bersandar di bawah pohon menahan rasa sakit di punggung nya elang tadi berhasil


mencabut pisau itu jadi darah nya terus mengalir.


Jhonatan melihat elang terkejut dengan luka di sudut bibirnya.


"Apa yang terjadi?

__ADS_1


"Anterin gue ke rumah sakit" Elang tidak menjawab pertanyaan jho melainkan memerintahkan Jho untuk


mengantarnya.


"Baiklah ayo"


Elang duduk di jok belakang dan berpegangan pada jho supaya dia tidak jatoh, Soal motor elang tenang nanti dia akan menyuruh salah satu anak BW untuk mengambilnya.


••••••••••


Setelah sampai ke rumah sakit jho ingin membantu elang tapi elang menolak dia bisa jalan sendiri lagi pula yang terluka punggungnya bukan kaki jadi bisa jalan sendiri.


Elang sekarang berada di dalam sedang ditangani oleh dokter jho ikut masuk menemani elang yang tengah di jahit oleh dokter.


"Lukanya tidak terlalu dalam tapi tetap hati-hati jangan melakukan aktivitas berat dulu takut jahitannya terbuka" Kata dokter menjelaskan dan memberikan resep obat yang harus di tebus ke apotek.


"Ini silahkan obat nya di ambil ke apotek rumah sakit ya"


"Baik dok terimakasih kami permisi" Jho berpamitan ke dokter dan menyusul elang yang terlebih dulu keluar.


"Xavier ? Tepat saat Jho berada di samping elang dia menyebutkan nama xavier karena jho yakin xavier pelaku nya.


Elang mengangguk menjawab pertanyaan jho, Kini mereka akan pulang setelah selesai menebus obat nya.


"Ke markas BW"


"Gak pulang ke rumah? Tanya jho yang mendapati tatapan tajam yakali elang pulang dengan keadaan seperti ini yang ada bunda nya bakalan khawatir.


"Ye canda kali, motor lo udah gue nyuruh anak BW untuk di bawa ke markas" Ucap jho.


••••••••••


"ANARA BERANI NYA KAU" Hendra menatap nyalang queen.


Nyali queen menciut melihat hendra sekaligus bingung kenapa apa ada masalah, kenapa hendra terlihat marah.


"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA CLARISSA SAMPAI MASUK RUMAH SAKIT"


"Apa? Queen bingung dia tetap berdiri di tempatnya.


"JANGAN PURA-PURA BODOH TIDAK MAU MENGAKUI KESALAHANNYA" Hendra perlahan mulai mendekati queen sedangkan queen dia refleks berjalan mundur.


"Lah salah gue apa coba" Tanya queen


PLAKK....


Satu tamparan keras mengenai pipi queen hingga tubuh queen jatuh kelantai akibat terlalu keras hidung nya mengeluarkan darah Queen menutup hidung dengan tangan nya supaya darah tidak terus mengalir.


Queen menarik kaki Hendra membuat sang empu memb*nting tubuh sendiri gue tersenyum puas segera bangkit dan menginjak kaki hendra kuat.


"Aakhh...

__ADS_1


"Lo gak usah cari masalah sama gue anj" ucap queen terus menginjak kaki hendra.


"Dan satu lagi gue gak tahu apa yang Lo katakan" queen menjauh dari Hendra terlihat Hendra bangun memegangi kepalanya karena terbentur lantai.


"KAMU MELUKAI CLARISSA"Jawab hendra dengan penuh emosi Hendra mengambil Guci vas bunga di dekat nya dan melemparkan ke arah queen.


PRAANGG.....


Guci vas bunga itu hancur mengotori lantai yang tadinya bersih Queen memegangi kepalanya yang tadi terkena guci.


Pusing yang dirasakan queen, queen mengerjap ngerjapkan matanya supaya bisa menghilangkan pusing akibat benturan benda tadi.


"NARA SUDAH BERANI KAMU SAMA PAPA"


"Kenapa? Lo pikir gue takut sama Lo!! Hendra" gue menekan kata akhir tersenyum meremehkan.


"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI" Bentak Hendra ingin memukul queen tapi segera di tepis oleh queen dan melayangkan tinju di wajah hendra.


"LO YANG TIDAK TAHU DIRI MENY*KSA ANAK NYA SENDIRI" Pertengkaran mereka sudah jadi tontonan oleh ibu dan anak mereka tak berani mendekat karena takut jadi korban selanjutnya.


AAAAKKHHH.....


Hendra berteriak kesakitan saat tangan kanan nya di patahkan oleh queen.


"INI BALASAN KARENA LO NAMPAR GUE TADI"


Queen terus menyerang Hendra tanpa ampun dia sudah muak dengan kelakuannya Hendra sudah babak belur dia tidak bisa melawan lagi tenaganya sudah terkuras.


Queen berjongkok supaya bisa melihat Hendra lebih dekat "Gue bisa saja mencebloskan Lo ke penjara karena sudah ny*ksa anak sendiri"


Bughh....


Gue kembali menendang perut hendra dia sudah mengeluarkan darah dari mulut nya.


Mata gue tak sengaja melihat anak dan ibu itu sedang ketakutan gue memberikan senyuman manis ke arah mereka.


"Ngapain disana sini bantu noh si Hendra takut mati"ucap queen menunjuk hendra dengan dagu nya.


Queen meninggalkan mereka dia sudah cukup bermain main jadi sekarang waktunya istirahat. Meyra segera menghampiri suami nya yang sudah tak berdaya.


"Papa" Meyra dan clarissa memapah Hendra supaya duduk di sofa.


"Pah kita ke dokter aja" ucap meyra khawatir dengan keadaan hendra.


Hendra hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan meyra.


"Kenapa bisa seperti ini pa!! hiks.." clarissa sebenarnya sudah ketakutan melihat apa yang dilakukan oleh saudara tirinya.


Mereka berdua membawa Hendra ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan nya apalagi tangan Hendra tidak bisa di gerakan akibat dipatahkan oleh anak nya sendiri.


Queen menutup pintu depan kasar dia melampiaskan emosi nya ke pintu, queen menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.

__ADS_1


"Sabar queen lo pasti bisa, miris banget lo queen di kehidupan sebelumnya lo juga di s*ksa sama bokap elo" Queen mengingat kembali dimana dia selalu mendapatkan kekerasan hidup dengan kepahitan selalu queen rasakan.....


Bersambung........


__ADS_2