
*Dikediaman Gabriela*
Beberapa orang sedang berkumpul diruang tamu setelah selesai menyerahkan pasien koma yang tak lain queen putri kedua dari Pram dan Rosa.
"Saya tahu kalian tidak terlalu akrab dengan queen tapi disini saya meminta kepada kalian sayangi dia sebagai pasien anda" tegas Reno menatap dingin Pramesti.
"Baiklah saya tau bagaimana cara nya untuk merawat putri kami, sebaik nya kalian pergi dari rumah saya" usir Pram karena tidak suka dengan pemuda di hadapan nya.
Revano yang mendengar perkataan Pram terkekeh saat dia menyebut queen putri nya. "Sejak kapan anda mengakui bahwa dia putri anda"
"Kamu" Pram menatap nyalang pada Reno karena selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga nya.
Reno memilih pergi dari rumah Pram sebentar lagi jadwal penerbangan ke kota X takut ketinggalan pesawat.
"Pah sebenarnya apa yang terjadi pada queen? kenapa dia koma? Tanya Rosa tidak tahu menahu jika anak nya di nyatakan koma.
Queen memang kabur dari rumah, orang tua nya pun tidak melarang dan tidak perduli dengan keadaan nya.
"Pria tadi bilang kalau anak itu kecelakaan satu bulan lalu akibat terbentur yang cukup jauh jadi queen kritis" jawab Pram mengingat Reno memberi tahu soal kejadian kecelakaan itu.
"Bagaimana kondisi nya saat ini pah" Rosa terlihat cemas walaupun queen bukan anak kandung nya di hati Rosa terselip rasa kasihan memang queen selalu dibentak oleh nya karena Rosa tidak menerima seratus persen queen sebagai anak angkat nya.
"Masih sama tapi kemungkinan dia bisa sadar kembali" Pram santai tak terlalu memikirkan anak angkat nya itu karena Pram sangat membenci nya.
"Ya sudah mama mau melihat queen" Rosa meninggalkan Pram sendirian untuk menuju kamar anak nya.
"Ternyata anak itu sangat kuat kenapa tidak mati saja" gumam Pram pelan meremas koran di atas meja kaca.
•
"Akhirnya bisa pacaran lagi dengan kasur" Queen membanting tubuh nya di atas king size berukuran sedang setelah seharian beraktivitas membuat nya lelah.
Queen memandangi langit langit kamar memikirkan cara apa yang harus dia lakukan.
Queen teringat jam pemilik pembunuh itu. "Jam nya bagus cocok nih di tangan gue" Queen cemberut karena jam itu masih longgar padahal pas banget dengan gaya Queen bad girl.
"Besok gue bawa ke toko biar bisa pas di pergelangan tangan gue, dari segi jam ini kelihatan kalo jam branded" Queen menyimpan kembali ke dalam tasnya dia bangkit untuk membersihkan diri badan nya sudah bau seharian di luar.
Beberapa menit queen sudah siap dengan baju tidur tapi dia duduk di sofa sudut ruangan memandangi balkon merenung sesekali menghembus nafas berat.
__ADS_1
"Apa gue besok ke kota A ya? Perasaan gue di sini sudah satu bulan tapi kagak selesai nih tugas" Queen bingung apa diri nya yang bodoh atau memang sangat profesional si pelaku.
"Oke deh besok weekend jadi gue bisa ke sana tapi hati gue kok ragu, apa mungkin gue orang nya terlalu cemas takut gak di percaya" Queen memijat pelipis nya merasakan pusing jika memikirkan masalah Nara.
Queen bangkit menuju ranjang untuk tidur karena sudah larut apalagi badan nya terasa capek butuh istirahat segera memejamkan mata dan terjun ke alam mimpi.
Sedangkan di sebuah ruangan seseorang sedang menatap foto berukuran besar tangan nya ia gerakan untuk menyentuh foto tersebut. "Maaf aku melakukan itu karena terpaksa jika aku tidak melakukan nya maka aku tidak akan berada di titik sekarang" ucap orang itu tersenyum aneh.
Dia kembali menutup foto itu dengan kain putih supaya tidak berdebu orang itu keluar tanpa ada penyesalan karena dari awal memang tujuan nya adalah menguasai seluruh harta milik nya.
Pintu di tutup rapat lalu ia mengunci nya agar tak ada satu orang pun masuk kedalam ruangan itu.
"Mamah"
Meyra menatap penuh curiga ke arah suami nya kenapa malam malam berada disini. "Papah ngapain disini bukan nya tidur malah keluyuran" Meyra melipat kedua tangan nya di dada terus merhatikan tingkah Hendra yang terlihat gugup.
"Oh iya kenapa kaget ngeliat mama tadi" lanjut meyra.
Hendra berusaha tenang lalu tersenyum. "Bagaimana gak kaget mama berdiri di situ , papa tadi tidak bisa tidur jadi papa kesini supaya lebih tenang pikiran papa"
"Papa masih mikirin istri pertama papa" kesal meyra kenapa selalu Liona di pikiran Hendra apalagi Hendra pernah bilang kalau gak bisa tidur atau banyak pikiran pasti selalu ke ruangan itu katanya kamar itu barang barangnya Liona jadi hendra tidak mengizinkan orang masuk takut barang peninggalan istri pertama nya hilang.
"Ya...sudah mending kita tidur papa besok harus ke kantor kan" ajak meyra manja tangan nya ia kaitkan pada lengan Hendra.
•
Di markas BW heboh dengan permainan yang mereka mainkan saat ini Athar bertingkah seperti orang gila karena Athar kalah bermain truth or dare.
Hahahaha
Tawa mereka pecah ada saja tingkah bobrok nya anak BW, kalo ada yang melihat pasti tidak akan percaya karena mereka hanya tahu anak BW cool sangar, sisi gelap anak BW ya seperti sekarang gila gilaan gak jelas.
"Cukup gue gak kuat" gara memegang perut nya tidak bisa berhenti tertawa.
"Sudah gue udah gak tahan mau kencing nih" ucap salah satu anggota BW dia langsung berlari ke toilet.
"AWAS GAK NYAMPE KE TEMPAT NYA"
Elang hanya menggeleng kepala dengan tingkah anggota nya setiap hari ngerusuh hanya elang yang tidak ikut main kalo elang ikut mau ditaruh mana muka dingin nya.
__ADS_1
"Gak ikutan bro seru loh? Jhonatan bergabung dengan elang sudah biasa bos nya duduk menyendiri.
"Males"
Jho terkekeh elang pasti menjawab dengan kata yang sama pada sebelum nya Jho memijat rahang nya supaya tidak kaku soalnya dari tadi tertawa terus.
"Pesan makan" perintah elang menyodorkan ponsel pada jho, Jho langsung membuka aplikasi untuk memesan makanan.
Setelah beberapa saat ngotak atik ponsel elang Jho menaruh ponsel elang di atas meja. "Besok refreshing mau gak?
"Iya" Hening hanya terdengar suara anggota yang sedang main Elang dan Jho hanya menikmati cemilan di depan nya.
"Lo suka sama Nara? Ujar Jho tiba tiba.
Elang menoleh ke samping alisnya terangkat. "Gue harap Lo menemukan pengganti nya" lanjut jho karena tak mendapat kan respon elang.
Elang tersenyum miris lalu menegakkan tubuh nya. "Sampai kapan pun gadis gue pemenang nya" tegas elang dia tidak suka Jho terus menyuruh nya untuk melupakan cinta pertama.
"Lo pantas bahagia El" Jho berusaha meyakinkan elang dia tidak mau sahabat nya terlalu larut dalam masa lalu. Jho paham kematian Aurora itu karena di bunuh jadi Jho ingin elang move on.
"Kalau gue ngebuka hati yang ada Xavier mengejar cewe itu bukan gue lagi" jelas elang kemungkinan besar Xavier mengincar nya.
"Ya gue tau saat ini Xavier mengawasi gerak-gerik Nara, mungkin dia ngira Nara cewek Lo"
Tentu saja elang kaget jadi dugaan nya benar. " Lo tau dari mana?
"Biasa" Jho mengedikkan bahunya.
Elang mengusap wajah nya kasar. " Gue harus gimana? Tanya elang dia tidak mau ada korban karena nya.
"Gue tau apa yang Lo takut kan, tenang kita bakal jagain dia dari jauh" Jho menepuk pundak elang agar elang tidak cemas.
"BOS ADA PAKET" teriak Mike dari pintu depan ternyata itu pesanan Jhonatan tadi.
"BAWA MASUK AJA MIKE" sahut Jho berteriak juga elang memberikan dompet pada jho untuk membayar makanan nya.
"Gue ke depan dulu"
Elang mengangguk sebagai tanda jawaban elang bergabung dengan lainnya untuk makan malam bersama.....
__ADS_1
bersambung.....