
"A-air"
Rosa segera mengambil gelas berisikan air dan membantu queen minum,, Rosa mengembalikan gelas tersebut ketempat semula.
"Dimana yang sakit? Biar papa periksa" kata Pram lembut untuk pertama kalinya queen mendengar suara Pram dengan nada rendah.
"Iya sayang kasih tau kita jika ada yang sakit" Rosa membelai rambut queen matanya sudah berkaca-kaca melihat anak nya bisa kembali melihat dunia.
Rosa memeluk tubuh queen menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya. "Maaf,, maafin mama sayang tolong jangan pergi dari mama lagi"
"Iya papa juga minta maaf"
'apa yang sebenarnya terjadi sama gue? kenapa gue ada disini?' batin Queen masih bingung.
"Sudah sebaiknya anak mama istirahat!! kalo queen butuh sesuatu bilang sama mama ya" Rosa menyuruh queen untuk tidur dia juga menawarkan makan takut anaknya lapar karena sudah lama koma tapi queen menolak dia memilih untuk memejamkan matanya. Suami istri itu membiarkan queen kembali istirahat Rosa juga membaringkan tubuhnya di samping queen untuk tidur bersama.
"Papa ngapain berdiri disitu? sudah sana ke kamar papah istirahat juga ini sudah larut malam" usir Rosa karena melihat suaminya masih berdiri merhatikan dirinya dan queen.
"Papa juga pengen tidur dengan kalian"
"Enak aja gak boleh, papa gak lihat ranjang ini cukup untuk berdua"
"Tapi mah"
"Gak ada sudah balik lagi ke kamar papah" ucap Rosa tak ingin dibantah queen hanya mendengarkan percakapan kedua manusia itu tak berniat untuk membuka matanya karena badan dia masih sakit untuk digerakkan.
Pram mengalah karena tak ingin mengganggu istirahat anaknya dia lebih memilih keluar menyisakan kedua orang itu istri dan anaknya.
***
"Pasien sudah dari setengah jam yang lalu sudah tiada"
"SEKALI LAGI LO BICARA SEPERTI ITU,, GUE BUNUH LO DETIK INI JUGA" teriak elang berapi-api bahunya naik turun akibat emosinya yang tidak bisa terkontrol bahkan elang memegang kerah baju sang dokter.
"El tenangin diri lo, ini rumah sakit jangan mengganggu pasien disini" Xavier dan Jhonatan memegang tangan elang takut dia menghajar pak dokter.
"Dia bilang Nara udah gak ada" lirih elang menjatuhkan tubuhnya kelantai, yang lain hanya menatap nanar kearah elang mereka juga tak menyangka bahwa gadis yang beberapa bulan menemani mereka pergi begitu cepat.
"Gue tau gimana perasaan Lo" ucap Xavier berjongkok untuk menyamakan dengan elang.
__ADS_1
Elang menggeleng cepat karena mereka tidak tau apa yang dirasakan dia sekarang. "Lo gak akan tau gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang"
"Kenapa Lo ngomong gitu, asal Lo tau El gue juga pernah kehilangan orang yang gue sayang Lima tahun yang lalu" sahut Xavier dia juga pernah kehilangan dan tau bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang paling berarti di hidupnya.
Elang tertegun mendengar perkataan Xavier benar dia juga pernah merasakan kehilangan dan ini terulang lagi untuk nya.
"El gue tau Lo kuat jadi sebaiknya kita bawa Nara pulang biar kita bisa mengurus pemakaman nya besok" ucap Jho dialah yang paling memahami dengan keadaan genting seperti ini, Jho juga terpukul karena melihat sahabatnya yang kesekian kalinya kehilangan orang yang dia sayang.
Mereka mengangguk setuju dengan Jhonatan untuk membawa pulang jasad Nara, setelah mengurus dirumah sakit mereka semua akan menuju kerumahnya Nara.
Selang menempuh perjalanan lumayan dari rumah sakit ke rumah Nara akhirnya mereka sampai dan diteras rumah sudah ada bik rumi yang tengah menangis didampingi clarissa yang tidak tahu menahu kenapa bibi nya itu menangis sejak dari tadi.
Bik rumi yang melihat ada ambulance berhenti di depan rumah segera berlari menuju kearah ambulance.
"Ada apa ini" gumam clarissa bingung melihat beberapa motor dan mobil masuk di teras rumah ini.
"NON NARA" teriak bik rumi histeris memanggil nama Nara berulang kali Meisya memeluk bik rumi supaya lebih tenang air matanya kembali menetes tak sanggup melihat kenyataan yang ada didepan matanya.
"Na-nara" tenggorokan clarissa terasa tercekat melihat orang yang di gendong elang masuk kedalam rumah.
Elang menaruh tubuh kaku Nara ke alas yang disediakan oleh anak BW tadi, Elang bangkit dia menuju belakang rumah untuk menenangkan dirinya.
.
"Papa sama mama pulang duluan aja gak papa, nanti Meisya biar Mike aja yang anterin pulang" ujar meisya karena mereka sekarang berada dimakam Nara tadi jasad Nara sudah di kebumikan orang-orang yang datang juga sudah pulang hanya tinggal beberapa orang saja yang berada saat ini.
"Mike titip anak om"
"Iya om"
"Tuan Angga dan tuan Louis saya pamit duluan,, kami permisi" ucap Kevin yang diangguki oleh mereka Kevin memapah Anita karena takut istri nya itu pingsan lagi karena tadi malam saja mendapatkan kabar kematian Nara Anita langsung pingsan jadi Kevin berjaga-jaga untuk saat ini.
"Kalian masih ingin disini?" tanya ayah Angga kepada mereka yang tak lain adalah elang dan kelima sahabatnya juga Meisya yang masih menemani mereka.
"Iya om kalo mau pulang duluan juga gak papa kok. mama sama papa pulang bareng om Angga, Xavier masih mau disini" ucap Xavier keluarga itu pun mengerti jadi mereka meninggalkan anak-anaknya.
"El ayo pulang" ajak Xavier sudah lama elang menatap tanah yang masih basah itu dia sama sekali menghiraukan ucapan sahabat nya.
"Elang" panggil Jho mengguncang bahu elang dengan pelan, elang mendongak menatap Jhonatan yang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ayo pulang"
"Kalian duluan aja gue mau disini" ucap elang tangannya memainkan bunga mawar yang tadi dia taburkan. mereka saling pandang dan setuju membiarkan elang sendirian tapi mereka tak benar-benar meninggalkan nya hanya saja menunggu di luar pemakaman.
"Baiklah kalo itu kemauan elo"
"Kenapa Lo secepat itu pergi Ra, kenapa?" elang terus berbicara sendiri menumpahkan kesedihan nya dimakam Nara.
"Apa salah gue? kenapa saat gue mencintai seseorang dia pergi ninggalin gue" lirih elang dia kembali teringat dengan kejadian lima tahun lalu kehilangan gadis yang dicintainya.
***
"Queen bukan anak kandung kalian kan?" ucap queen tanpa ekspresi hanya menampilkan wajah datarnya menatap kedua orang dihadapannya yang kalang kabut mendapatkan pertanyaan yang dilontarkan anak angkatnya itu.
"JAWAB"
Pram dan Rosa tersentak mendengar bentakan queen yang menuntut mereka menjawab pertanyaan nya.
'apa ingatannya kembali?' batin Pram panik jika benar dugaannya Pram tidak mau kehilangan queen saat ini dia sudah menerima queen sebagai anak nya.
"Kenapa kalian hanya diam queen hanya ingin tahu saja, apa queen bukan anak kalian?" Gue mengulangi pertanyaannya karena ingin tahu dari mulut mereka langsung.
"A-apa yang kamu katakan queen, kamu itu anak papa dan mama kenapa kamu bicara seperti itu" sahut Pram menyembunyikan kepanikan nya sedangkan Rosa dia sudah keringat dingin.
"Mama tahu queen gak bisa maafin kesalahan mama tapi queen itu anak mama, anak kandung mama. plis jangan bicara seperti itu lagi" ucap Rosa air matanya sudah keluar saat menjelaskan nya.
Queen hanya tersenyum miris mendengar jawaban yang tak diinginkan keluar dari mulut mereka.
"Keluar saya tidak ingin melihat wajah kalian" ucap queen dingin matanya menatap nyalang mereka.
"Queen"
"KELUAR B4NGS4T" mereka lebih memilih keluar membiarkan queen tenang lebih dulu jadi nanti mereka akan mencoba berbicara lagi.
"Pah mama gak mau kehilangan queen" ucap Rosa didalam dekapan suaminya, Pram mengangguk paham dengan ketakutan istri nya ini.
"Percaya lah semua akan baik-baik saja"
'kenapa mereka tak mengakui nya? apa yang sebenarnya terjadi' queen memijat pelipisnya pusing jika memikirkan tentang dirinya sendiri....
__ADS_1
Bersambung