
Meisya mondar-mandir di depan kelas queen untuk mengajak nya ke Gramedia tadi mereka sepakat untuk kesana.
"Ngapain Lo disini" ucap gara saat melewati Meisya.
"Gak ada" jawab meisya cuek.
"Anjir seorang Gara Handoyo di cuekin cewek" gumam gara masih terdengar oleh mereka.
"Kasian banget hidup lo" timpal Mike ya dia sudah kembali ke asalnya menjadi Mike cerewet Mike tidak mau larut dalam masalah tak berguna itu, memang mencintai seseorang sangat lama tidak mudah untuk melupakan nya tapi bagaimana pun orang tersebut berhak untuk bahagia dengan pilihan nya sendiri.
"Meisya" panggil queen.
"Ayok Nara cepat" Meisya langsung menarik tangan queen untuk menuju parkiran dia tidak sabar untuk bertemu dengan ayang fiksi nya.
"Mereka mau kemana? Tanya Athar heran.
"Apa kalian tidak ingin pulang" suara bariton itu menusuk gendang telinga mereka terpampang lah elang dengan Jho.
"Eh bos... Bang jho..." Cengir Athar.
Jho Elang melewati mereka saja membuat sang empu menggerutu tak jelas. "Perasaan dari tadi kita di cuekin mulu" gerutu gara heran apa ada yang salah pikirnya.
"Menstruasi mungkin" jawab Mike apa adanya.
"Eh bego mereka itu cowok mana mungkin menstruasi" Athar menoyor kepala mike bisa-bisanya kepikiran kek gitu.
"Gue bilang apa? Mungkin..." Mike menekan kata mungkin.
"Eh kalian berdua mungkin Jho sama Elang lagi mode serius" seru gara sampai tidak sadar sudah berada di parkiran.
"Langsung pulang nih? Tanya Mike.
"Iya nanti sore ketemuan di markas seperti biasa" jawab Jhonatan.
Mereka mengendarai motornya untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Ra ini mana yang lebih bagus? Tanya meisya dia bingung mana yang akan dibeli.
Queen melihat buku yang di pegang Mei. "Gak tau" jawab seadanya.
"Is Lo dari tadi ditanya malah jawab nya gitu" Gerutu Meisya kesal karena cerita nya terlalu menarik semua jadi bingung mau yang mana.
"Ya udah beli aja dua duanya" saran queen sebenarnya queen malas tapi dia tidak mau membuat Meisya kecewa.
"Nara gue udah beli satu dan Lo nyuruh gue beli dua lagi gak makan gue" ucap meisya menimang-nimang bukunya.
"Ck...kek elo gak punya uang aja bokap lo itu bisa dibilang lumayan" setau queen memang keluarga Meisya bisa dibilang berada tapi anak nya bertingkah sok miskin.
__ADS_1
"Masalahnya bukan itu entar kalo bokap gue tau gue beli kek ginian yang ada uang jajan gue dikurangi, Lo tau sendiri kalo bokap gue gak seneng gue koleksi pernovelan apalagi album K-Pop di usir gue dari rumah" omel meisya teringat pada papa nya pernah hampir membakar koleksi nya.
"Itu urusan Lo"
"Punya teman gak bisa di andalkan" gumam Meisya pelan takut terdengar oleh queen.
"Apa"
Meisya nyengir lalu menggeleng akhirnya pilihan nya jatuh kepada tangan kanan. "Ini aja deh lebih bagus kek nya lain kali kalo masih ada gue beli lagi"
Meisya dan queen menuju kasir untuk membayar setelah bayar mereka keluar dari toko.
"Cari makan yuk" ajak queen dirasa perutnya sudah lapar menunggu mei yang berjam-jam mengelilingi toko Gramedia jadi mereka berisiniatif untuk cari cafe terdekat.
"Oke ke cafe itu aja gimana? Tanya mei menunjuk cafe diseberang jalan.
"Iya"
"Mau pesan apa? Tanya mei melihat buku menu.
"Nasi goreng sama orange jus" jawab queen setelah beberapa saat memilih menu dan di catat oleh pelayan cafe mereka dipersilahkan untuk menunggu.
Queen sibuk dengan ponsel sama halnya dengan mei tak ada percakapan tiba-tiba mei bersuara.
"Nara besok kan weekend gimana kalo kita jalan²" ucap meisya dengan mata berbinar-binar.
"Kenapa" terdengar meisya kecewa padahal kan mei sudah berencana untuk ke pantai.
"Gue ada urusan" ucap queen tak enak hati melihat reaksi Meisya dihadapannya.
"Oh!!! Oke gue ngerti kok" ucap mei cemberut.
"Mei bukan gitu gue---" ucapan queen terhenti saat pelayan cafe datang membawa makanan yang mereka pesan.
"Silahkan mbak" ucap pelayan ramah.
"Ya terimakasih" jawab mereka barengan.
Mereka makan dalam diam hanya terdengar dentingan sendok sudah jadi kebiasaan jika makan tidak boleh berbicara.
••••••••
"Lo gak kangen gue! udah satu bulan lo tiduran disini hiks..." ucap Bianca terisak disebelah gadis koma tak lain adalah queenara tidak ada tanda-tanda sadar sama seperti biasa malah semakin kritis dari sebelumnya.
"Pliss gue mohon bangun Queen bangun hiks! Sampai kapan Lo nyiksa gue seperti ini"
Pintu ruangan terbuka seseorang masuk mendekati brankar lalu mengusap punggung Bianca.
__ADS_1
"Bang" Bianca memeluk Revano menenggelamkan wajahnya ke perut Reno menumpahkan apa yang dirasakan.
"Abang tau perasaan Lo gimana, menangis lah agar lebih tenang" Reno terus mengusap pelan memberi kekuatan pada sang adek.
"Abang mau bicara serius soal Queen" ucap Reno tiba-tiba dia mengajak Bianca duduk di sofa.
"Abang langsung ke intinya aja! Abang ada pekerjaan di kota X hanya satu Minggu di sana"
"Terus queen gimana?
"Abang ingin menyerahkan kepada keluarga nya"
"GAK GUE GAK SETUJU, abang tau kan keluarga queen seperti apa bian gak yakin kalau mereka mau ngerawat queen yang ada malah keadaan nya semakin buruk ditangan mereka" ucap Bianca marah Reno memegang tangan bianca supaya tenang.
"Lo mau dia kembali kan? Ucap Reno lembut untuk bisa mendapatkan pengertian Bianca.
Bianca mengangguk cepat bagaimana pun dia rindu kehadiran sahabat nya.
"Papa nya queen seorang dokter hebat kalo kita menyerahkan dia padanya secepat mungkin akan lebih baik" jelas Reno walaupun Reno sendiri dokter tak mampu membuat queen pulih.
"Dan Abang kan mau ke kota X jadi siapa yang bakal meriksa dia setiap saat" lanjut Reno.
"Kan kita bisa ikut" ucap Bianca polos Reno menggeleng tak menyetujui ucapan Bianca.
"Bi Lo harus ngerti keadaan nya gimana sekarang cuma papah nya yang bisa" jelas Reno sabar.
"Tapi--"
"Gak ada tapi tapian Lo harus nurut sama gue kali ini aja" ujar Reno tegas tak terbantahkan.
"Besok Abang berangkat dan nanti malam kita bakal nyerahin queen pada keluarganya" jelas Reno.
"Kalo mereka gak setuju"
"Gue udah bicara sama dokter Pram awalnya dia menolak karena queen pergi dari rumah tapi Abang meyakinkan dia"
"Jadi dia setuju? Tapi bian gak percaya" ragu Bianca mengingat perlakuan Pramesti Gabriela kepada Queen.
"Ya dia menolak tapi gue bayar dia sebagai dokter yang menangani pasien nya bukan sebagai ayah"
"Hah!!! Abang serius" kaget Bianca dia tak habis pikir kenapa bokap queen sampai segitunya pada anak sendiri.
"Gue bakal ngelakuin apa aja asal queen kembali, gue udah menganggap queen adek kandung gue sendiri" Reno memang menyayangi Queen sama seperti Bianca tidak membandingkan antara kedua adeknya.
"Terus gue gimana? Tanya bian lesu jika tidak ada Reno disampingnya akan berat padahal kan Bianca ditinggal queen sekarang mau ditinggal Abang nya.
"Cuma satu Minggu setelah selesai gue langsung balik kesini" Reno memeluk Bianca erat memberikan kecupan singkat di dahi Bianca....
__ADS_1
Bersambung.......