Queenara Transmigrasi

Queenara Transmigrasi
Bab 42


__ADS_3

Queen dan bik rumi sekarang sudah berada dirumahnya, hari sudah mulai sore queen masih betah di kamarnya sudah berapa kali ia menghela nafas.


"Elang ngapain ya sekarang?" gumam queen memikirkan pria itu lalu dia ingin sekali mengajak elang keluar malam ini supaya ada perpisahan diantara nya.


"Apa gue ajak dia keluar? tapi dianya mau gak ya" Queen akhirnya memutuskan untuk menghubungi elang untuk mengajak nya keluar nanti malam.


📞"Halo el Lo dimana?"


📞"Dirumah Ra kenapa" jawab elang bingung tumben sekali queen menghubungi nya.


📞"Lo nanti bisa keluar gak? soalnya gue mau ngajakin lo keluar tenang sama anak BW juga, gimana mau gak?"


📞"Tumben banget mau ngajakin gue keluar ada perayaan apa nih" Elang sedikit terkekeh dengan ucapan nya dia hanya bercanda mengatakan kalimat itu.


'perayaan? ya perayaan kalo kita akan berpisah nanti malam' queen memejamkan mata nya sejenak sebelum membalas ucapan elang.


📞"Gak ada sih tapi gue pengen makan-makan gitu emang gak boleh, kalo gak mau gak papa gue nanti tidur aja"


📞"Cie ngambek nih ceritanya" ucap elang karena tau dari nada bicara queen berbeda elang hanya menggeleng-geleng kepala dengan tingkah queen.


📞"Mana ada, udahlah gue tutup telfon nya males" Queen hendak mematikan sambungan telepon nya tapi elang menahan nya sebentar.


📞"Tunggu ra, iya gue mau. nanti gue kasih tau sama anak BW supaya ikut juga Lo tenang aja semuanya gue yang atur dimana tempatnya oke deal"


📞"Hmm oke deh" Queen langsung saja mematikan sepihak sebelum elang mengeluarkan suara nya membuat yang disana berdecak kesal.


"Ck padahal gue belum selesai ngomong main matiin aja"


Elang langsung memberitahu kepada anak BW supaya nanti malam berkumpul di cafetaria tak lupa elang juga mengundang Xavier supaya ikut dalam acara makan malam nanti.


Pintu diketuk queen menoleh kearah pintu terdengar suara bik rumi yang memanggil nya. "Non"


"Iya bik masuk aja gak dikunci pintunya" jawab gue masih berbaring di atas king size berukuran sedang tak lama pintu sedikit terbuka menampilkan kepala bik rumi saja.


"Haha bik masuk astagfirullah ngapain kek gitu"


Bik rumi masuk dia kembali menutup pintu langkah nya menuju dimana queen berada. Queen menyuruh bik rumi duduk disebelah nya dia mengamati wajah pengasuh nya Nara itu sepertinya bik rumi menangis terlihat dengan jelas mata nya yang sembab.


"Bibik nangis?"


"Non boleh peluk" Queen menaikkan sebelah alisnya dan mengangguk paham maksud ucapan bik rumi queen merengkuh tubuh bik rumi mengelus pelan punggung nya.


Terdengar isakan kecil bik rumi tak dapat membendung air matanya karena dia sangat takut kehilangan anak majikannya ya walaupun sekarang memang bukanlah Nara asli tapi beberapa terakhir ini orang yang berada dipelukan nya yang menemani dia. bik rumi terpukul karena mengetahui bahwa Nara sudah tak ada di dunia lagi dan ditambah orang menempati tubuh Nara akan pergi meninggalkan nya.


"Bik queen minta maaf ya" ucap gue matanya terasa perih jika melihat seseorang menangis dia jadi ingin ikutan nangis juga.


"Non gak boleh pergi" bik rumi menangkup wajah queen wajah yang selalu dia rawat jika keluarga nya menyakiti fisik dan mental nya.


"Tapi queen juga punya keluarga disana bik, queen juga kangen pengen kembali ke dunia queen sendiri"


Bik rumi mengangguk ia tak boleh egois bagaimana pun queen mempunyai keluarga yang menanti kehadiran nya.


"Tapi boleh kan kalo bibik ketemu non lagi" ucap bik rumi berharap suatu saat bertemu lagi dengan queen dengan dunia nya sendiri.


Queen berpikir bagaimana cara nya dia tetap berkomunikasi dengan bik rumi ponsel ya ponselnya queen akan memberikan ponsel nya kepada bik rumi yang didalamnya terdapat nomer milik nya.


"Ini ponsel queen Bik rumi pegang aja disana ada nomer queen nanti bibik tinggal cari nama queen kalo bibik kangen sama queen" Queen menaruh ponselnya di tangan bik rumi, bik rumi menatap benda persegi panjang itu lalu menatap kearah queen.


"Tapi bagaimana kalau non tidak ingat tentang kejadian ini" kata bik rumi takut queen tidak pernah mengingat soal kejadian disini.


"Emang gitu ya bik" ucap queen sedih jika harus kehilangan ingatan nya.


Queen merenung memikirkan jika yang dikatakan bik rumi benar terjadi, seperti nya queen tidak rela jika harus kehilangan kenangan dua bulan itu.

__ADS_1


Ting


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel queen keduanya menoleh kearah ponsel yang menyala ternyata elang mengirim lokasi tempat yang dijanjikan nanti malam.


Queen membuka dan mengirimkan balik lokasi itu ke Meisya karena tadi dia juga mengajak meisya untuk pergi dengannya.


"Doain queen Bik supaya bisa mengingat semua tentang disini"


***


Malam harinya anak BW sudah berkumpul di cafetaria mereka sedang menunggu queen yang belum datang, Meisya datang lebih dulu karena memang tidak bareng dengan queen dia dijemput oleh Mike karena mereka sudah jadian entah kapan hanya mereka berdua yang tau.


"Ck tega Lo, bisa-bisanya kalian pacaran gak ngasih tau kita" ucap gara melemparkan kulit kacang kearah mike.


"Emang Lo siapa?"


"Gue temen Lo peak" athar memukul kepala Mike dengan keras Mike menatap horor Athar karena berani menoyor kepala nya.


"Kalian apa apaan sih cuma beda status aja diributin" ucap meisya heran dengan pertemanan mereka Jhonatan mengangguk setuju dengan perkataan meisya.


"Dia itu iri sayang sama kita karena mereka jomblo" kata Mike memanasi Athar dan gara, Mike tahu gara sekarang tidak memiliki pacar karena sudah putus dengan pacarnya yang entah ke berapa itu.


"Gue iri dengan lo,, sorry bro tidak ada kata iri dalam kamus gue" ucap athar menepuk dadanya sendiri bangga tingkahnya itu mengundang gelak tawa anak BW.


"El Nara kok belum dateng" bisik Xavier karena sudah lama menunggu queen yang tak kunjung datang.


"Gue telfon dia ponselnya ada di bik rumi katanya ponsel Nara di charger jadi dia tidak membawa nya"


Tak lama muncul lah orang yang ditunggu-tunggu queen tersenyum karena sudah berkumpul didalam satu ruangan.


"Sorry lama" queen duduk disebelah elang yang sudah tersedia untuk nya.


"Lok gak papa kan Ra?" tanya meisya cemas membuat mereka semua menoleh kearah queen. Queen menggaruk tengkuknya karena tidak nyaman ditatap banyak orang.


"Lo tadi siang kan demam, gue takut demam Lo itu kambuh saat mengendarai motor"


"Tenang gue gak papa bukti nya gue nyampek kesini dengan selamat"


Mereka makan malam bersama sesekali dengan candaan membuat mereka tertawa hanya queen saja yang mengamati saja dirinya tak tenang.


"Ra Lo kenapa?" bisik elang yang memerhatikan queen aneh saat ini, Queen menoleh kesamping terdiam beberapa saat mengamati wajah elang yang sempurna queen akui dia telah jatuh cinta pada pria didepan nya tapi dia juga sadar siapa dirinya yang tidak seberuntung Aurora.


"Enggak"


Tangan elang terulur mengusap rambut queen. "Gue mau ngomong sesuatu sama Lo" ucap elang mengajak queen menjauh dari mereka.


"Itu ngapain?" tanya Mike.


"Sudah gak usah ngurusin mereka mending lanjut aja kita" Jawa Xavier kembali melahap makanan nya.


"Kenapa el"


"Lo beneran gak pacaran sama Reno?"


"Kan gue sudah bilang waktu itu, kalau kita hanya sebatas Abang sama adek" ucap gue melihat ke arah atas yang terlihat sangat indah bintang-bintang yang menghiasi langit malam hari.


"Tapi gue bingung kenapa Lo bisa kenal dengan dia dan ketemunya dimana"


Queen tersenyum tipis menoleh ke arah Elang. "Kan setiap orang pasti akan bertemu jika memang ditakdirkan untuk bertemu, sama halnya dengan kita"


"Hah"


"Gue udah lama kenal dengan bang Reno" ucap queen mengalihkan pandangan nya kearah lain, Elang menggenggam tangan queen sang empu tersentak dengan perlakuan elang.

__ADS_1


"Gue gak yakin dengan jawaban elo" Elang tahu gak mungkin jika keduanya baru bertemu langsung terlihat begitu akrab tapi mulutnya berkata bahwa dirinya tidak percaya, Elang mengusap pelan tangan queen saat sadar kembali queen menarik tangan nya karena membuat jantung nya berdegup kencang.


"Kenapa?" tanya elang yang di balas gelengan kepala mereka terdiam sedangkan elang ragu untuk mengutarakan perasaannya karena belum sepenuhnya yakin. melihat tingkah laku Reno terhadap nya itu membuat elang tahu kalo mereka ada hubungan.


"Gue duluan ya" ucap queen karena jam sudah menunjukkan 23.45 yang artinya hanya tinggal hitungan menit dirinya berada disini. ternyata mereka menghabiskan malam begitu lama saking asiknya karena bermain game tadi dan tak menyadari bahwa sudah larut malam.


"Gue anterin Lo pulang" tawar elang tapi queen menolak nya karena dia membawa motor.


"Gak gue pulang sendiri"


"Pulang bareng elang Ra gue takut aja karena ini sudah larut malam" ucap meisya memeluk queen, queen menerima pelukan mei.


"Udah ya gue pulang duluan, lagipula elang masih sakit itu" Queen beranjak meninggalkan mereka tapi sebelum jauh dia berbalik berlari kearah elang langsung memeluk tubuh elang sebentar, sedangkan elang yang mendapati serangan tiba-tiba terhuyung kebelakang untung dirinya sigap menahan badannya.


Queen tertawa dengan tingkah nya lalu melambaikan tangan nya. "BESOK JANGAN LUPA JEMPUT GUE" teriak queen yang sudah jauh.


"Sudah sebaiknya kita juga pulang kerumah masing-masing" ucap elang menyusul queen yang sudah mengendarai motor nya dengan cepat.


Di tengah perjalanan queen melirik ke pergelangan tangannya ternyata jam 23.55 waktu begitu cepat berlalu queen sudah merasakan kepalanya begitu berat pandangan juga sudah mulai mengabur tapi masih saja queen menambah kecepatan nya.


BRAKK...


Queen menabrak pembatasan jalan dia terpental jauh dari motor nya sebelum menutup mata queen menatap bintang diatas langit, sedangkan elang dan lainnya memang mengikuti queen dari belakang tercengang melihat adegan tragis yang dialami queen.


"NARA" teriak elang bergegas keluar dari mobil yang dikemudi oleh Jhonatan dia mengerem mendadak akibat syok apa yang dilihatnya.


Semua juga berlari ke arah queen yang tergeletak di jalanan, elang membuka helm queen lalu memangku kepala nya dia sudah menangis tak memikirkan jika dia seorang pria.


"Ra Lo denger gue kan?" elang menepuk pelan pipi queen yang masih melihat keatas darah sudah mengalir dari mulutnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya berbunyi menandakan jam 00.00 yang queen seting supaya dihari kepulangan ada alarm yang berbunyi, Queen menutup matanya perlahan diiringi oleh suara Elang yang terus memanggil namanya.


"Nara plis gue mohon jangan tutup mata" elang semakin terisak karena takut kehilangan orang yang dia cintai.


Xavier mengecek denyut nadi queen. "Denyut nadinya berhenti" kalimat yang dilontarkan xavier membuat mereka saling pandang.


"ENGGAK ITU GAK MUNGKIN NARA LO GAK BENERAN NINGGALIN GUE KAN,, BANGUN RA BANGUN" teriak Meisya mengguncangkan tubuh queen, Mike memeluk tubuh mei supaya tenang.


Elang menggeleng mendapati denyut nadi queen berhenti. "AAA...GAK MUNGKIN LO NINGGALIN GUE RA" teriak elang histeris memeluk erat tubuh queen yang terasa dingin.


"Enggak Lo gak boleh pergi gue sayang sama Lo jangan tinggalin gue mohon"


"Bawa saja kerumah sakit" ucap Jho elang langsung membopong tubuh queen menuju mobilnya diikuti oleh anak BW di belakang untuk ke rumah sakit walaupun tahu Jika queen sudah tidak ada mereka hanya ingin memastikan saja.


***


"PAPAH" teriak Rosa memanggil Pram panik karena kondisi queen yang sedang kejang-kejang Rosa memang tidur disamping queen sejak dia menerima anaknya itu.


Pram yang mendengar teriakkan berulang kali dari Rosa segera menyusul ke kamar dimana queen dirawat, Pram segera melihat apa yang terjadi seketika panik melihat queen seperti itu.


"Papa queen, tolongin dia cepat" Rosa sudah menintihkan air matanya karena baru pertama kali melihat queen kejang-kejang di tambah dia mengeluarkan darah dari mulut nya.


'ku mohon jangan ambil queen dariku , dia anakku satu-satunya yang aku punya sekarang' batin Rosa terus mendoakan queen supaya tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Setelah lama akhirnya kondisi queen stabil membuat Pram bernafas lega dia kembali ngecek tubuh queen.


Mata yang semula terpejam perlahan terbuka menyesuaikan pencahayaan diruangan itu. Rosa yang melihat queen mengerjapkan mata berteriak heboh.


"PAPA QUEEN DIA SARAR"


Pram melihat ke arah queen dan benar saja perlahan matanya terbuka sempurna.


"Queen kamu dengar papa" ucap Pram melambai-lambaikan tangannya di depan queen.


'Kak elang'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2