RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
SATU


__ADS_3

Dia Sunny-ku.


Cinta pertama yang terkenang hingga kini


-Azka-



Sunny.. Sunny..


Jantungku berdetak tiap ku ingat padamu


Sunny.. Sunny..


Mengapa ada yang kurang saat kau tak ada


Sunny.. Sunny..


Melihatmu menyentuhmu itu yang kumau


Sebuah bis melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah pelabuhan. Seorang gadis duduk disalah satu kursi ditemani iringan lagu cinta pertama yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi wanita Indonesia. Ia akan kembali ke tanah kelahirannya. Lamat-lamat Ia dengar setiap liriknya, membawanya pada kenangan silam. Tentang seseorang yang menjadi cinta pertamanya. Sunny...


Tiap kali, aku berlutut, aku berdoa


Suatu saat kau bisa cinta pada ku


Seorang gadis berlari melewati gerbang sekolah dengan sebuah mushaf berwarna merah muda dalam pelukannya. Kakinya Ia pacu tanpa henti melewati setiap kelas menuju sebuah ruangan yang terlihat sudah penuh dengan siswa siswi.


"Azka, kemana aja kamu. Wakil kelas kita kan cuma kamu, untung ga terlambat" teriak seorang gadis dengan rambut bergelombang sebahu, Bunga.


Azka tak mengindahkan teriakan temannya dan berlalu begitu saja menyeruak diantara kumpulan siswa-siswi di depan pintu. Ia menuju sebuah kursi yang masih kosong diantara kursi-kursi lain yang sudah memiliki pemilik. Tangannya Ia julurkan untuk menggapai sandaran kursi agar tak diduduki oleh orang lain. Ia berhasil menyentuh sandaran kursi itu bersamaan dengan mendekatnya seorang siswa yang Ia tidak ketahui berasal dari mana.


"Saya yang duluan mau duduk di sana" Ucapnya sedikit tak suka


Laki-laki di hadapannya menoleh, mengernyitkan dahinya,


"Saya yang lebih dulu duduk disini" jawabnya tak mau kalah sambil menjatuhkan tubuhnya pada kursi itu.


Azka hanya mendengus kesal, bersamaan dengan tawaran duduk dari siswa lain yang ternyata bukan peserta lomba.


"Kamu aja sini yang duduk, saya cuma mau nonton kok" Ucapnya


"Makasih" Azka membalas dengan menyunggingkan senyumannya.


Perlombaan dimulai, satu persatu peserta dipanggil, mulai dari peserta kelas atas, dan terakhir adalah peserta dari angkatan 05.


"Ragil Pramana Wibawa- Tujuh Tiga" satu nama dipanggil oleh pengatur acara, laki-laki yang berebut kursi dengan Azka tadi bangkit, membenarkan kopiahnya, memeluk mushaf berwarna hitam di dadanya, kemudian Ia maju. Lantunan ayat suci Alquran terdengar bersamaan dengan terbukanya bibir Ragil. Perlahan, merdu, menenangkan, Azka mengangkat pandangannya mengarahkan manik matanya pada sang pemilik suara. Tatapan mereka bertemu sejenak. Ragil memutus tatapan itu lebih dulu, memejamkan mata, mengambil nafas lalu melanjutkan lantunan ayat selanjutnya.


"Manis" tanpa sadar Azka menggumam.


Inilah awal mula pertemuan keduanya. Pertemuan tanpa sengaja, yang ternyata membuat salah satu hati berdesir dan menggumam nama yang lainnya di setiap doa. "Ragil".


---


Tiap kali aku memanggil di dalam hati

__ADS_1


Mana Sunny.. mana Sunny ku.. mana Sunny ku.


Azka membuka matanya, menjeda pikirannya tentang seseorang yang tak pernah bisa ia raih. Samar-samar Ia tersenyum, masih adakah nama itu di hatinya? Sudah sekira tiga tahun lamanya, Ia menanggalkan setiap inci kenangan dan pikiran tentang masa itu. Memilih membuka mata lebar-lebar untuk menatap masa depan yang lebih nyata. Setidaknya, usahanya berhasil hingga sekarang. Sudah tiga tahun ini Ia memilih untuk tidak terlalu terbawa pada harapan yang Ia tancap dalam-dalam di hatinya 12 tahun lalu.


Ponsel di saku kirinya bergetar, Ia menegakkan tubuhnya dan merogoh benda pipih yang tersambung pada kabel earphone yang tertancap di telinganya. Sebuah notifikasi di salah satu aplikasi sosial media nya menunjukkan bahwa Nadia mengirimi nya pesan.


Ka, minggu depan Anne pulang. Kita kumpul yak. Aku ajak yang lain juga.


Begitu isi pesannya.


Udah ajak siapa aja?


Tanyanya kemudian. Tak lama kemudian Nadia kembali mengetikkan balasan.


Tring.


Yang siap sih ada Alan, Anne, Rangga, Tama, oiya, Ragil juga katanya mau. Dia lagi pulang juga


"Ragil?" seketika ada desir hangat di dadanya ketika untuk pertama kalinya setelah tiga tahun ini Ia kembali menyebut nama Ragil. Benarkah di saat seperti ini Ia akan bertemu Ragil? Pikirannya tiba-tiba saja membeku, ragu.



Sunny.. Sunny..


Apa kabarmu kabarku baik-baik saja


Sunny.. Sunny..


Begitu banyak cerita tak habis tentangmu


Sunny.. Sunny..


Ia meletakkan tangannya di dada, merasakan degub jantungnya yang tiba-tiba saja iramanya berubah menjadi lebih cepat. "Bahkan tanpa bertemupun jantung ini masih mengenali rasa itu" gumam nya lagi. Kembali Ia melirik benda pipih yang layarnya sudah berubah menjadi gelap. Ia tekan tombol power, membuka kembali laman direct message antara dirinya dan Nadia.



Oke deh, dirumah aku aja ya Nad.


Siap


Disentuhnya tanda panah kembali pada layar ponselnya memperlihatkan gambar dirinya sebagai wallpaper. Nafas yang memburu cepat sudah mulai teratur seiring dengan degub jantung yang mulai mengembalikan iramanya.


Tiap kali aku memanggil di dalam hati


Mana Sunny.. mana Sunny ku.. mana Sunny ku.


Lagu Cinta Pertama yang dibawakan sang penyanyi selesai. Deru mesin menandakan bahwa bis yang Ia tumpangi tengah berhenti. Ia melirik ke luar jendela, menyibak tirai yang sedari tadi menghalangi sinar mentari pagi yang sedikit menyilaukan.


"Sebentar lagi sampai" ucapnya ketika melihat papan penunjuk jalan yang memberi tahunya pelabuhan hanya tinggal berjarak 500 meter lagi. Gerbang pejalan kaki juga sudah terlihat di hadapannya. Azka bersiap merapikan barang-barangnya. Mengecek setiap sisi bangkunya agar tak ada barang yang terjatuh atau tertinggal. Mobil menderu lagi, melaju perlahan memasuki gerbang terminal tempat semua penumpang harus turun. Perjalanannya dengan bis ini berakhir.


Azka turun, membawa tas ransel dipundaknya. Earphone masih menggantung dengan alunan musik yang juga masih mengalun di telinganya. Ia melangkah mengambil antrian pada loket tiket penyebrangan. Seorang penjaga loket menanyakan jumlah tiket dan data sesuai KTP pada Azka.


"Satu mas, Aureli Nur Azkania, 24 tahun" Ia mengambil lembar tiket dan kartu penyebrangan yang diberikan mas-mas penjaga loket. Ia meneruskan berjalan, memasuki area tunggu lalu menaiki tangga menuju dermaga.


"Dermaga dua" ucapnya sambil melirik kertas tiker yang ada di tangannya. Suara Glenn Fredly membawakan lagu Sekali Ini Saja terdengar di telinga nya. Ia menekan tombol volume untuk mengecilkan sedikit suara yang masuk ke gendang telinganya.

__ADS_1


Ia memasuki kapal feri yang ukurannya cukup besar, menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada tepat disebelah jendela. Azka memilih tempat itu agar Ia bisa menikmati pemandangan laut selama pelayaran. Ia menoleh ke sekeliling tempat, lengang. Sepertinya kapal ini sepi penumpang, mengingat ini bukan waktu libur ataupun lebaran. Azka merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, mengecek ponselnya, mengirimkan kabar kepada Papa dan Mama bahwa Ia sudah berada di kapal dan siap menyebrang menuju tanah lahirnya. Ia menaikkan masker kain berwarna maroon yang terpasang di wajahnya sebatas hidung, merapatkan jaketnya, lalu kemudian perlahan Ia memejamkan mata.


---


"Mau kemana Ka?"


"Ke tujuh.tiga"


"Mau ngapain?" tanya Bunga lagi


"Mau ke Ocha. Kenapa sih, sewot banget kamu" ucap Azka sambil tersenyum jahil


"Yaelah aku nanya doang Ka. Ikut deh aku" Ucapnya kemudian menyejajari langkah dengan Azka.


Kelas mereka dan kelas tujuh tiga hanya dipisah oleh satu ruang kelas. Tak banyak memakan waktu keduanya telah sampai di depan pintu kelas tujuh.tiga.


"Cha" Azka melambai ke arah Ocha yang menyadari kehadiran Azka dan Bunga.


"Kenapa Ka? Tumben ke kelas" tanya Ocha saat sudah lebih dekat dengan keduanya.


"Mau nanya sedikit tentang persami lusa" jawab Azka sebagai permulaan.


Kemudian keduanya seru membahas persiapan dan rencana persami yang akan dilakukan esok lusa. Bunga hanya mendengarkan dengan seksama tanpa memotong pembicaraan keduanya.


"Oke deh, nanti bareng ya" Ucap Ocha menyudahi pembicaraan mereka


"Oke" jawab Azka tersenyum.


"Kamu" suara yang sepertinya tak asing bagi Azka terdengar.


"Ngapain ke kelas ini oi" serunya lagi.


Azka yang merasa diajak bicara justru mengernyitkan dahi


"Kamu ngomong sama saya?" tanya Azka hati-hati, Ragil ada di hadapannya, bersama seorang sahabatnya yang Ia ketahui bernama Rasya.


"Haha, Geer" jawab Ragil sambil tertawa sekilas


"Oh, bukan. Yaudah. Yuk Nga" Ajak Azka pada Bunga, untuk segera pergi dari sana.


"Hahaha" Ragil tertawa puas, berhasil mengerjai Azka hingga gadis itu sedikit salah tingkah.


"Itu siapa Gil?" tanya Rasya heran


"Itu, anak kelas tujuh.lima. dia mau rebut kursi saya pas lomba" jawab Ragil sekilas


"Oooh"


"Itu tadi siapa Ka?" tanya Bunga yang juga sama herannya dengan Rasya


"Itu anak tujuh tiga, Ragil. Yang menang lomba waktu itu loh Nga" jelas Azka, sekilas Ia tersenyum, tapi kemudian Ia menahan ekspresi senangnya hanya sampai disana.


"Oh, kenal?" Bunga melirik teman di sampingnya


"Enggak. Cuma tau, karena ketika lomba aku hampir ga duduk gara-gara dia gak mau ngalah" Azka menggeleng-gelengkan wajahnya mengingat betapa acuhnya Ragil di waktu itu. Waktu itu, sesaat sebelum akhirnya Ia tersihir oleh suara merdu dan tatapan tak sengaja yang diberikan Ragil.

__ADS_1


__ADS_2