
Biarkan ini menjadi penebusan dosa paling menyedihkan dan menyakitkan. Asal nanti akan ada masa bahagia untukku.
-Ragil-
Kara menimang sebuah flashdrive yang ia terima dari temannya, Beni. Di sana terekam semua aktivitas yang terjadi di sekitar kamar bernomor 376 dan 380 di hari dimana dirinya sedang berada di the Crown untuk sebuah acara seminar. Kecurigaannya tentang gerak-gerik Azka di hari itu, membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi, yang menyita pikiran Azka. Maka saat Azka menghilang dari acara penutupan, Kara segera melesat mencari wanita itu. Ia kemudian mendapati Azka yang tengah berdiri terpaku di sebuah lorong diantara pintu-pintu kamar hotel. Tidak jauh darinya, dua orang yang Kara tidak tahu siapa tengah berciuman mesra. Entah ada hubungan apa antara Azka dengan salah satu diantaranya, yang jelas adegan itu membuat kaki Azka bergetar, bahkan ia terlihat nyaris limbung. Azka memfoto adegan itu, Kara tidak mengerti apa tujuannya. Hanya saja, aksinya itu tidak berjalan dengan mulus. Azka nyaris ketahuan dan tertangkap basah, andai tidak ada seseorang yang menariknya ke dalam salah satu kamar hotel.
Baru setelah dirinya menerima flashdrive itu, Kara tahu bahwa seseorang yang menarik Azka adalah Ragil. Ia berada di kamar itu berdua dengan seorang temannya yang namanya tertera sebagai pemesan kamar nomor 380. sementara dua orang yang dipergoki Azka, Kara masih belum mengetahuinya. Yang ia tahu, kamar nomor 376 itu dipesan atas nama Reno, yang Kara pun tidak tahu siapa pria itu.
Lantas, setelah dirinya tahu kenyataan itu, apa yang akan ia lakukan? Apakah ia akan terus membiarkan Azka masuk ke dalam lubang masa lalunya semakin jauh? Meski Kara tidak tahu apa motif dari semua perlakuan Azka kepada sosok cinta pertamanya itu, tapi Kara yakin bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan. Dirinya menyerah bukan agar Azka kembali dalam kubangan masa lalu yang menghimpitnya. Ia mengikhlaskan Azka agar gadisnya itu bisa bahagia dengan Saga, si pria baik dalam hidup Azka. Namun kenapa Ragil justru kembali menampakkan diri di depan Azka setelah satu tahun menghilang?
Tunggu, apakah benar Ragil yang menampakkan diri? atau justru Azka yang terlalu senang mencari sampai akhirnya mereka saling menemukan kembali? Aaagh!! kenapa Azka bisa terlalu bodoh jika menyangkut seorang Ragil? Bahkan dirinya, gadis itu-emm sepertinya Azka sudah tidak gadis kan?-, rela menenggelamkan dirinya, nyaris mengorbankan pernikahannya hanya untuk seorang Ragil? Kara benar-benar tidak habis pikir untuk semua hal itu.
Dengan gerakan cepat, dirinya meraih kunci mobil dan melesat keluar apartemennya. Ia harus menghentikan salah satu diantara mereka, atau mereka semua akan hancur dalam kubang bernama masa lalu yang tak kunjung selesai. Atau juga oleh sebuah kesalah pahaman. Ia mengendarai mobilnya ke sebuah tempat, tempat yang ia tahu akan mempertemukannya dengan seseorang diantara mereka.
---
__ADS_1
Ragil pulang ke rumahnya dengan kondisi kacau. Ia terlalu lelah dengan semua jam kerjanya. Ia berjalan gontai ke arah kamarnya. Namun menyadari rumah itu masih dalam keadaan gelap gulita, membuat Ragil menyadari satu hal. Marsha tidak ada di sana. Ia menekan saklar lampu, memberi secercah cahaya pada ruangan gelap di sekitarnya. Ia membuka pintu kamar yang digunakan Marsha selama di Jakarta, meskipun Ragil tidak tahu apakah wanita itu benar-benar menggunakannya. Kamar itu kosong, Marsha benar-benar tidak ada di rumah. Jadi, dimana wanita itu?
Ragil menelusuri kamar kosong itu, memperhatikan kasur yang masih rapih dengan sepasang bantal dan guling. Sudut hatinya meringis, ia masih tidak percaya mengalami semua ini. Dulu, mungkin dirinya memang sangat mencintai Marsha. Namun setelah pengkhianatan itu, hatinya benar-benar tertutup. Tertutup dari kata maaf, tertutup dari keinginan untuk merujuk kembali, tertutup pula dari rasa menerima pernikahan yang kini ia jalani. Andai Marsha adalah sosok yang ia cintai dulu, mungkin nasibnya sebagai suami tidak akan seperti ini. Andai ia menikah dengan wanita yang ia cintai, mungkin dirinya akan seperti pasangan suami istri lain. Ia akan di sambut setiap pulang kerja dan dilepas dengan cinta setiap berangkat kerja di pagi harinya. Mungkin, pernikahan akan sangat indah seperti yang orang-orang bilang jika memang itu yang terjadi. Ah, bukan saat yang tepat ia berandai-andai saat ini. Marsha saja tidak ada di sana, bahkan ketika ia bilang ia mencintai Ragil. Nyatanya ia masih bersama Reno. Benarkah saat ini istrinya itu sedang bersama Reno?
Tsk, kenapa juga ia memikirkannya. Bukankah ia tidak peduli? Bukankah ia yang mengatakan bahwa Marsha bebas mau kemana saja karena ia tidak pernah menginginkannya? Bahkan jika benar wanita itu, yang kini berstatus istrinya, saat ini sedang bersenang-senang dengan selingkuhannya.
"Bang Ke!!!"
Mengingat nama itu, rasa marah dan jijik mencuat kembali. Mengambil alih semua perasaan melankolis yang tadi sempat merasuki. Sekarang atau dulu, nyatanya Marsha memang tidak pernah puas hanya dengan dirinya. Marsha seperti rubah di mata Ragil. Ia mengikat satu hatinya pada ikatan suci, tetapi di balik itu semua ia justru bermain hati dengan pria lain.
Mengingat aksi Marsha kemarin lusa di dalam kamarnya membuat Ragil segera menyambar buku-buku itu.
"****!!!!!!" teriaknya saat melihat deretan mutasi rekening yang tercetak di sana. Kurang dari seminggu, wanita licik itu bukan hanya membuatnya muak, tapi ia juga menguras habis tabungannya.
Ragil membuka buku tabungan lainnya. Bolehkah ia merasa lega? bahwa baru satu buku tabungan yang berhasil wanita itu kuras?
__ADS_1
"BANG SUL!!!" Jadi ini yang Marsha cari di kamarnya. Lalu, apa lagi yang perempuan itu ambil dari lemarinya? dengan membawa ikut serta buku tabjngannya ia bergegas masuk ke dalam kamar. Membuka laci dan mengecek berkas-berkas yang ada di sana. Semuanya aman. Ternyata memang sematre itu istrinya. Apa Reno kurang bisa menghidupinya? rasanya itu tidak masuk akal. Untuk apa dirinya selingkuh sejak dulu pada Reno kalau pria itu tidak bisa menghidupinya. Haha!
Nampaknya, Marsha benar-benar menjadi parasit dalam hidup Ragil, dan sebagai inang yang tidak bersedia baik hati, Ragil akan pastikan bahwa perceraian itu akan segera terjadi.
---
Setelah ia selesai dengan ritual mandinya, Ia menuju ruang makan untuk mengisi perutnya. Ia lirik lemari penyimpan makanan, tidak ada apa-apa selain mie instan. Ia lupa sudah beberapa hari tidak membeli persediaan makanan. Di atas meja hanya ada roti dan beberapa selai. Dengan berat hati ia mengoleskan selai itu ke lapisan roti lalu menggigitnya dengan lembut. Bayangan sebuah pernikahan impiannya pun kembali berkelebat. Jika ia menikah dengan wanita baik, makan malamnya tidak akan semenyedihkan ini kan? Bahkan jika istrinya tidak pintar masak, ia bisa memesan makanan dari luar dan memakannya bersama. Tidak sendirian seperti sekarang. Semenyebalkan itu ternyata, menyadari diri sudah tidak sendiri, tetapi ternyata justru lebih menyedihkan daripada para jomblo mengenaskan.
Ragil hendak mengambil lapisan ke dua, saat ponselnya terdengar berdering. Dari nomor tidak dikenal. Siapa? pikirnya.
Ia membuka isi notifikasi di ponselnya saat dering telpon sudah berakhir, sebuah panggilan tidak terjawab, baru ia akan menelpon kembali, ponselnya kembali berdering.
"Tuan Ragil?" tanya suara itu, "Istri anda atas nama Marsha Deliano Putri sedang berada di kantor kami akibat melakukan aksi perusakan dan membuat keributan. Harap anda bisa menemuinya di sini dan anda bisa memberikan jaminan untuk kebebasannya."
Nah kan. Apa lagi ini? kenapa dia selalu terkena sial begini sih?
__ADS_1