RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #23


__ADS_3

Ini lah hal berbahaya dari yang namanya perasaan tak selesai dengan sempurna. Ia akan menyakiti bukan hanya aku, tapi juga kamu.


-Azka-


"Kamu mau apa?" tanya Azka lemah, dirinya benar-benar tidak tahan dengan denyut nyeri di perut bagian bawahnya. Rasa nyeri itu begitu menyiksanya. Ia menahannya dengan sekuat tenaga. Yang ada dipikirannya hanyalah mencoba membuat Marsha keluar dari apartemennya. "Keluar dari sini, Marsha."


"Wah wah wah, keluarga bahagia ya," Marsha sibuk melihat pajangan di lemari sudut di ruangan itu. Ia mengambil sebuah bingkai dengan Azka dan Saga yang saling berpelukan menghadap kamera. Senyum tercetak jelas di kedua wajah di dalam foto itu.


"Gak tau aja, kalo ternyata istrinya masih sibuk ngurusin suami orang." ucap Marsha meledek, saat beralih menyentuh bingkai lain dengan gambar yang serupa.


"Lepasin tangan kamu dari barang-barang aku!" sekuat tenaga Azka berteriak, namun yang keluar justru cicitan. Ia masih terus meringis di tempatnya, rasa sakit di perutnya hanya membiarkan matanya yang bergerak kesana kemari mengikuti gerakan Marsha.


Jelas sekali Marsha tidak peduli dengan rasa sakit yang sedang Azka alami.


"Gimana kalo foto-foto kemarin itu, kita kirim aja ke suami lo? kira-kira gimana reaksinya ya?" Marsha pura-pura berpikir.


"Jangan macem-macem kamu Sha. Aku udah gak ikut campur lagi dengan urusan kalian." lirih Azka,


"Oh ya? tapi nama lo masih disebut sama Ragil!!" Marsha geram, bagaimana bisa Marsha merasa bahwa Azka tidak ikut campur lagi? Selama nama wanita itu disebut oleh Ragil, dilindungi, dan lebih dikhawatirkan oleh Ragil ketimbang dirinya. Maka selamanya Azka akan berurusan dengannya.


"Itu bukan ur-"


"Bukan urusan lo? lo bilang bukan urusan lo? Bahkan karena satu bukti yang lo kasih ke Ragil, dia akan serahin berkas perceraian ke pengadilan!!! dan lo bilang itu bukan urusan lo???" Marsha terus berteriak di atas kepala Azka. Azka pusing, bahkan untuk menegakkan kepalanya saja dirinya tak mampu. Belum lagi rasa nyeri di perut bawahnya yang semakin hebat .


"Lo tau?" Marsha berjongkok di depan Azka, menarik dagunya dengan sentakan kasar hingga mempertemukan pandangan mereka.

__ADS_1


"Bahkan gue diusir dari rumah Ragil gara-gara lo!!!" semburnya di depan wajah Azka. suaranya yang melengking membuat Azka meringis, telinganya pengang seketika.


"Aku?" tanya Azka heran, "Kenapa gara-gara aku? itu salah kamu Marsha, salah kamu karena masih berhubungan dengan pa-"


PLAK!!!


Azka terkejut, mendapati pipinya memanas akibat sentuhan kasar dengan kulit tangan Marsha. Ia geram, Marsha terlalu semena-mena dan asal menarik kesimpulan. Bukan dirinya yang menyebabkan Ragil berbuat seperti itu. Ragil sudah membenci Marsha bahkan sebelum Azka dan Ragil bertemu beberapa minggu lalu. Masalah mereka sudah lebih dulu berkobar bahkan sebelum Azka tahu semuanya. Ia tidak bisa diam saja. Marsha memang gila, dan dirinya tidak bisa membiarkan itu. Ia hendak bangun dan membalas Marsha, namun seketika nyeri diperutnya bergejolak semakin kuat, membuat dirinya semakin meringkuk di lantai. "Aw,"


"Gue cuma mau kasih pelajaran aja sama lo Ka. pelajaran untuk gak ikut campur masalah orang lain."


"Tapi Ragil ng-gak cinta ka-kamu, ssh- Ragil gak p-pernah bahagia -- kalo kamu masih terus ada di sekitar dia." balas Azka terbata.


"Cih, segitu perhatiannya lo sama suami gue," decih Marsha,


"Maksud kamu calon mantan suami?" Azka masih berusaha terus bersuara. Yang itu membuat Marsha semakin menggila.


"Gue bisa lebih jahat sama lo Ka!" ucapnya selesai menampar pipi Azka sekali lagi. Marsha geram. Napasnya cepat, membuat dadanya naik turun tidak beraturan. Marsha segera merogoh tasnya, meraih tablet pipih dan membuka laman pesan di sebuah aplikasi,


"Kita lihat, gimana reaksi suami lo lihat foto-foto ini." Ujung bibirnya tertarik sebelah, membentuk sebuah seringai. Jarinya mengetikkan sesuatu, lalu melampirkan beberapa foto yang kemarin sempat ia perlihatkan pada Azka. Ia kemudian beralih pada Azka. Memastikan bahwa ia dapat melihat dengan jelas bahwa ucapan Marsha beberapa hari lalu itu tidak pernah main-main. Ia tersenyum sinis, merasa menang karena sebentar lagi Azka mungkin saja akan sama hancurnya dengan dirinya, terusir oleh suami mereka sendiri.


"Marsha, jangan!" pekik Azka saat ia bisa melihat dengan jelas isi pesan Marsha untuk Saga. Darimana juga dirinya tahu kontak Saga? Ia mencoba bangun dengan tertatih. Dan saat Marsha tersenyum karena pesannya sudah terkirim, Azka segera merebut tablet milik Marsha.


"Kurang ajar kamu!" Azka sudah diliputi amarah.


Sementara Azka berteriak, Marsha justru tertawa. Ia merasa senang dengan ini semua. Sampai sebuah notifikasi di tablet Marsha membuat Azka terdiam. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa seolah lega. Ia biarkan tubuhnya kembali merasakan nyeri di perutnya setelah beberapa detik lalu menghilang tertutup emosinya. Ia tersenyum melihat pesan itu.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, bahwa suami aku gak akan percaya begitu aja." Azka menyeringai, menyerahkan kembali tablet itu pada Marsha. "Sekarang, aku mohon kamu keluar!"


Marsha segera melihat balasan Saga untuk pesannya,


<0821-xxxx-xxxx> Kamu salah sambung. Urusi urusanmu sendiri.


Dengan mengepalkan tangannya, Ia kemudian menghentak kakinya ke lantai sebelum keluar dari apartemen itu. Marsha bersumpah, ia tidak akan berhenti di sini.


Azka bersimbah keringat, nyeri itu datang lagi dengan hebat dan membuat dirinya lemas. Ia merasa ada cairan hangat keluar dari inti tubuhnya dan mengalir di sepanjang kakinya. Ia melirik ke bawah, tempat kakinya terjulur tak berdaya dari atas sofa hingga ke lantai. Matanya membola, ketika mendapati cairan yang mengalir di sepanjang kakinya ternyata berwarna merah kental dan berbau amis. Darah.


---


"Nit, ijinin saya ke Prof. Ara. Saya harus kembali ke apartemen Azka." ucap Kara saat Nita baru saja turun dari mobilnya. Mereka baru saja sampai di sana, saat sebuah pesan dari Azka sampai di ponsel Kara.


"Lho, kenapa?" Nita khawatir.


"Azka pendarahan, dia baru kabarin saya lewat whatsapp." ucap Kara sudah siap melajukan kembali mobilnya.


"Aku ikut Kar. Nanti kita ijin aja." ucap Nita sudah menarik kembali pintu mobil di hadapannya. Karena gadis itu sudah masuk dan duduk kembali di mobil yang baru saja ia tumpangi, Kara hanya mengangguk. Ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Azka. Tempat yang baru saja mereka tinggalkan.


----------------------------------------------------------------------------------


Maaf ya kalo kurang ngefeel. Maaf juga sedikit. Tungguin aja episode selanjutnya ya..


Semoga tetap menghibur dan buat penasaran.

__ADS_1


Aku padamu 💕


__ADS_2