
Sebuah kesalahan akan menghantuimu seumur hidup. Bahkan bisa jadi Ia memintamu bertanggung jawab pada saat yang tidak tepat.
-Ragil-
Cklek!
Suara pintu terbuka membuat Ragil yang tengah menyuapi Nuri, Ibunya, menoleh ke arah asal suara itu. Ragil tersenyum, mendapati gadis itu berdiri di sana sambil menjinjing paperbag di sebelah tangannya. Gadis itu tersenyum, menunggu isyarat masuk dari sang pemilik ruangan.
"Masuk Ka" ucap Ragil setelah meletakkan piring makan Nuri di atas nakas di samping ranjang. Ia berjalan mendekati gadis itu.
Azka mengangguk, menyunggingkan senyum sebelum berbalik dan menutup pintu kamar dengan perlahan. Ia berdiri di depan pintu yang tertutup. Tidak berniat mendekat, karena Ragil terlihat berjalan mendekatinya.
"Lo dateng Ka?"
"Aku udah bilang mau jenguk Tante Nuri" ucap Azka sambil menoleh ke arah Nuri. Ia tersenyum saat wanita yang seusia dengan Mamanya itu tersenyum ke arahnya.
"Ayo ke sana" ajak Ragil menggiring Azka mendekati ranjang.
"Apa kabar Tante? Udah baikan sekarang?" Tanya Azka berbasa-basi setelah dirinya duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.
"Alhamdulillah Azka. Azka sekarang di Jakarta?" suara Tante Nuri terdengar lemah di telinga Azka.
"Untuk beberapa bulan ini Tante, Tante udah makan?" Azka melirik piring yang tadi di pegang Ragil saat dirinya datang.
"Tadi lagi makan, tapi Tante udah kenyang"
"Tapi kayaknya Tante belum banyak makannya? Mau makan sama Azka?" tanya Azka lembut. Tangannya tak henti memberi sapuan halus pada kulit telapak tangan yang sudah mulai tidak kencang itu. Anggukan kecil dari Nuri membuat senyuman terbit kembali di wajah cantik Azka. Ia segera meraih piring di atas nakas. Melanjutkan pekerjaan Ragil yang tertunda.
"Azka udah ijin sama suaminya?"
"Udah Tante" jawab Azka tersenyum
Azka terus menyuapi Nuri, sampai makanan di piring itu habis. Ragil tersenyum memperhatikan interaksi dua wanita itu dari kursi di dekat pintu. Azka meletakkan piring di atas nakas lalu mengambilkan gelas berisi air untuk Ia berikan pada Nuri.
"Minum dulu Tante"
"Makasih ya Ka"
Ragil bangkit dari kursinya, mendekati dua wanita yang sedari tadi membuat dirinya sedikit terpesona.
"Bu, Ragil ijin keluar sebentar sama Azka ya?"
"Lho? Mau kemana?" tanya Nuri pada anak bungsunya itu.
"Sebentar aja Bu. Ada yang mau diomongin sama Azka. Ragil keluar sebentar ya Bu" ucap pemuda itu sambil menghujani wajah Nuri dengan kecupan di setiap inci wajahnya. "Ragil sayang Ibu" tambahnya.
"Azka pamit sebentar ya Bu. Nanti Azka kesini lagi" pamit Azka mencium punggung tangan wanita yang dulu Ia harapkan menjadi mertuanya itu.
Azka dan Ragil berjalan beriringan, menjauh dari ruang rawat sampai bayangan mereka hilang tertelan pintu yang berdebam tertutup.
"Jadi mau mulai nanya dari mana Ka?" tanya Ragil santai. Mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Mengambil kursi di dekat jendela yang langsung menghadapkan mereka pada pemandangan kota Jakarta. Kantin tengah lengang, hanya beberapa meja yang terisi. Itupun tidak penuh.
"Emm" Azka membenarkan posisi duduknya. "Maaf kalo Aku terkesan KEPO ya Gil" ucap Azka mengawali pembicaraan.
"Jadi, kemarin pulang ke sana karena mau jemput Tante Nuri ke sini?"
"Emmm" Ragil hanya menggumam.
"Kenapa Tante bisa sampe drop kayak gini Gil?"
__ADS_1
"Gue ke rumah sebenernya bukan untuk itu aja. Ada sesuatu yang harus Gue urus Ka"
"Tentang?"
"Hhh, sesuatu" Ragil sempat tertawa kecil yang lebih mirip kekehan sebelum mengatakannya.
"Aku KEPO. Boleh gak?" Azka mengakui.
"Hahahaha" Ragil tertawa. "Ngeliat Lo kayak gitu Gue gak percaya kalo Lo bukan gadis lagi"
Plak!
"Jangan ngomong yang enggak-enggak!" ucap Azka setelah memberi tabokan di lengan Ragil.
"Hahahaha. Oke karena Gue laki-laki sejati, sesuai omongan kemarin. Lo boleh nanya apa aja sama Gue"
Senyum kembali terbit di wajah Azka.
"Kamu, tutup akun medsos ngapain? Mau puasa medsos?" tanya Azka memulai sesi tanya jawabnya.
"Gue lagi butuh menyendiri" jawab Ragil singkat.
"Mmmm" Azka menimbang-nimbang pikirannya. Memilih pertanyaan apa lagi yang akan di ajukan. "Aku sebenernya kemarin-kemarin suka buka Instagram kamu. Kamu galau" ucap Azka lebih mirip monolog. Suaranya lebih lemah dari sebelumnya. Ia sedikit takut jika Ragil berpikir bahwa dirinya seperti stalker.
"Iya. Gue lagi galau banget Ka" ucapnya. Pandangannya menerawang. Seolah Ia tengah melihat sesuatu yang jauh dan tak tergapai. "Lo mau denger cerita Gue?" Azka hanya mengangguk untuk menjawab.
"Gue dipaksa nikah"
"HAH???" tanggapan yang tidak pernah direncanakan oleh Azka keluar begitu saja. Ia sungguh terkejut dengan prolog dari cerita yang dimaksud Ragil.
"Lo inget Marsha kan?" Sekali lagi Azka mengangguk. Entah sudah berapa kali dirinya mengangguk untuk memberi tanggapan pada pemuda di hadapannya itu.
---
"Per-caya. Aku percaya" ucap Marsha sama terengahnya.
"Lo gak akan nuntut Gue apa-apa?"
"Karena selamanya kita bakal sama-sama Gil" Ragil tersenyum, lebih mirip menyeringai. Ia sudah tidak bisa menahan sesak di bagian bawah tubuhnya. Dan detik selanjutnya, ruangan remang itu menjadi saksi bagaimana mereka berdua merampas nikmat dari puncak nirwana. Nikmat yang seharusnya tidak boleh mereka ambil saat ini.
*
"Gil! Dengerin dulu penjelasan aku!" Marsha berlari tanpa alas kaki, mengejar Ragil yang sudah dibakar api cemburu. Kecemburuannya bahkan sudah habis termakan amarah. Menyisakan gurat-gurat tegang pada wajahnya yang tegas.
"Bren***k! penjelasan apa lagi yang mau Lo kasih ke Gue? Hah?" Ragil menjauh dari Marsha. Dirinya sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia butuh sesuatu untuk Ia pukul.
"Aku bisa jelasin bahwa aku gak ada apa-apa sama Reno!" Marsha setengah berteriak agar suaranya sampai di telinga Ragil.
"Sat!!!" Ragil memuntahkan sumpah serapah, Ia berjalan mendekati Marsha dengan langkah serampangan "Gak ada apa-apa Lo bilang? Hubungan macam apa yang bisa buat Lo hampir tela***ng di depan cowok itu Sha!!!" Suara Ragil melengking, membuat telinga Marsha pengang seketika.
"Aku—Aku nggak ngapa-ngapain! Ragil plis percaya sama aku. Aku cuma ngasih semuanya sama kamu"
"Cih! Sekali lagi Lo ngomong kayak gitu, Gue robek mulut Lo! Gue pergi. Lo, selamat bersenang-senang sama mereka"
"Ragil! Gil! RAGIL!!!" Marsha terus meneriaki nama Ragil meski pemuda itu sudah tertelan gelapnya malam. Marsha meluruh ke tanah. Menyatukan sebagian tubuhnya pada jalanan yang kosong. Ia menangis, meratapi kebodohannya yang tidak bisa menyembunyikan semuanya. Dan kini, Ragil pergi meninggalkannya. Setelah puas menangis di jalanan, Ia kembali ke rumah itu. Tempat dimana aktivitas dirinya dan Reno tadi sempat tertunda.
*
"Gil, kita putus" ucap Marsha saat Ragil menghampirinya setelah satu minggu mencampakkannya begitu saja. Ragil terkejut, Ia baru saja berniat memperbaiki hubungannya dengan Marsha. Ia mengumpulkan serpihan kepercayaannya, menenggelamkan gengsinya dalam-dalam hanya untuk berdiri di depan gadis itu. Ya. Gadis yang sudah tidak gadis lagi.
__ADS_1
"Maksud Lo apa Sha?"
"Kita? Selesai!" ucap Marsha dengan nada tajam.
"Tapi Gue baru mau balik ke Lo. Kita bisa selesaiin ini baik-baik"
"Gak ada kata baik-baik buat hubungan kita Gil. Gue mau kita putus. Gue bosen sama Lo. Lo gak asik! Gak suka diajak seneng-seneng"
"Shit!! Maksud Lo?"
"Gue lebih seneng sama Reno dari Lo Gil. Lo sok suci, padahal bren***k juga" Setelah mengucapkan itu, Marsha meninggalkan Ragil begitu saja. Ia menyempatkan menampar pipi Ragil pelan sebelum mengucapkan selamat tinggal dan pergi.
*
"Ragil! Pulang sekarang" Suara Nuri yang terdengar bergetar dari seberang sambungan telepon membuat Ragil mematung. Ia seolah ditarik ke jaman dirinya masih kanak-kanak. Nuri suka mengatakan kalimat itu saat dirinya dengan bandel menolak pulang dan memilih bermain hujan dengan hanya menggunakan boxer saja.
"Kenapa Bu? Ragil pulang besok. Ragil minta ijin dulu" jawab Ragil dalam ekspresi bingung.
Esoknya Ragil memaksakan diri pulang. Meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya sudah mencapai deadlinenya minggu ini. Namun permintaan Nuri, Ibunya, tidak pernah bisa ditolak oleh pemuda yang saat ini menginjak usia 26 tahun itu. Ragil sampai di depan rumahnya. Rumahnya terlihat ramai. Tidak biasanya rumah itu begitu ramai kecuali jika ada acara keluarga atau saat momen-momen seperti lebaran. Ragil dengan perasaan was-was melangkah mendekati pintu rumah.
"Ragil, masuk Nak" ajak Ayahnya ketika Ragil menunjukkan batang hidungnya di ambang pintu. Ragil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Wajah-wajah asing memenuhi penglihatannya. Hingga netra gelapnya menangkap satu bayangan yang sangat tak asing bagi dirinya. Marsha. Marsha ada di sana. Untuk apa wanita itu ada diantara orang-orang itu? Dan Ia mendapat jawabannya ketika dengan lugas seorang paruh baya mengutarakan maksud mereka.
"Kami meminta Nak Ragil bertanggung jawab pada Nak Marsha. Nikahi Marsha Nak"
"Kenapa harus saya? Saya tau Marsha punya pacar" ucap Ragil dengan nada yang tenang seperti biasa.
"Nak Marsha bilang, bahwa satu-satunya yang harus bertanggung jawab adalah Nak Ragil. Karena dia begitu mencintai Nak Ragil, dan rela melakukan hal-hal- Ehm, sedikit diluar batas hanya bersama Nak Ragil" Nuri sudah menyembunyikan wajahnya dibalik dekapan sang suami. Ragil bangkit, otaknya mendidih setelah mendengar ucapan itu.
"Bohong! Marsha gak ngelakuin apa-apa sama saya! Dia lebih banyak berurusan dengan laki-laki di klub! Bukan saya yang harus tanggung jawab! Kami udah pisah selama tujuh tahun. Dan Kalian baru datang sekarang? Kemana aja selama ini?" Ragil menarik napasnya sebentar, "Dan Lo Sha, udah berapa laki yang berhasil ngajak lo ngamar selama tujuh tahun ini?
Plak!!!
Tamparan keras mengenai pipi Ragil. Kulitnya memanas, cap jari tercetak disana, menggambarkan betapa kuatnya tamparan itu. Itu bukan Marsha, bukan juga orang tua yang gadis itu bawa. Itu adalah Nuri. Wanita yang melahirkannya.
"Tanggung jawab Ragil. Ibu gak pernah ngajarin kamu untuk gak bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat"
---
"Gil?" panggil Azka lirih. Ia sudah menggeser tubuhnya mendekat ke arah Ragil. Dilihatnya wajah itu penuh dengan peluh. Air mukanya menegang. Kemarahan tampak jelas tercetak di wajah itu. Azka tidak mendapat tanggapan. Sepertinya Ragil masih sedikit terguncang dengan cerita yang Ia sampaikan. Azka memegang lengan pemuda di sebelahnya, mengalirkan sensasi hangat pada kulit pemuda yang belum sepenuhnya sadar dari lamunannya. Ketika rasa hangat itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, barulah Ia menoleh ke arah gadis yang tengah memegang tangannya dengan ekspresi takut bercampur khawatir.
"Kamu gak apa-apa? Sorry kamu harus nyeritain itu semua" ucap Azka dengan sangat menyesal.
"Gue baik-baik aja Ka" Ragil meremas tangan Azka. Membuat Azka tersadar dan segera menghempas tangannya menjauh.
"Eh- sorry" ucapnya ketika menyadari gerakannya terlalu kasar. Ragil tersenyum tipis.
"Gak apa-apa Ka"
"Jadi, Kamu bakal nikahin Marsha?"
"Gimana lagi Ka? Semua demi Ibu" ucap Ragil lemah.
"Gak ada cara untuk ngebatalin itu? Kalo kamu tau dia cewe yang gak baik- Ehm, Maaf. Harusnya kamu bisa pertahanin diri kamu Gil. Jelasin semuanya ke keluarga kamu. Kamu gak ngelakuin it—" Azka memejamkan matanya, tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Sayangnya Gue emang ngelakuin itu Ka"
Tes.
Satu butir cairan bening menetes begitu saja.
__ADS_1