
Sudah berapa banyak langkah kita saling menjauh?
-Azka-
Hari itu Azka memilih untuk tidak menghubungi Saga lebih dulu. Ia akan menunggu Saga untuk menghubunginya, dengan demikian dia akan mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Setelah pertemuan dengan Kara siang itu, Azka menghabiskan waktu malamnya dengan saling berbalas pesan dengan Kara. Sore tadi Ia menghubungi Azka melalui pesan singkat. Kara benar-benar seseorang yang ceria. Meskipun baru beberapa kali Azka bertemu lagi dengannya akhir-akhir ini, namun Azka merasa sangat nyaman berteman dengan Kara. Ia tidak sungkan menceritakan kisahnya, Ia akan sangat cerewet dan ekspresif saat menceritakan segala kisahnya. Tapi seolah bunglon, Ia kemudian berubah menjadi pendengar yang baik saat giliran Azka yang berbicara. Perpaduan karakter yang unik. Pembicara yang asik, dan pendengar yang baik. Ah, andai Azka mengenal Kara sejak lama, mungkin Ia akan lebih nyaman dan santai menjalani hari-harinya di tanah rantau itu.
Bisa keluar sebentar?
Saya di depan rumah.
Ayo kita bicara.
Tiga pesan masuk ke ponsel Azka membuat dirinya terkesiap dan segera bangkit dari kegiatan rebahannya. Ia memburu cermin, merapihkan pakaiannya, memoles wajahnya dengan bedak tipis agar terlihat lebih segar. Azka mendekati pintu, namun sebelum membukanya, Azka mengintip terlebih dahulu dari balik tirai. Terlihat seorang laki-laki berdiri tegap menghadap jalan. Ia sungguh mengenali sosok itu, seseorang yang sudah menemaninya selama beberapa tahun belakangan. Saga.
Suara pintu terbuka, membuat sosok laki-laki di depan pagar rumah Azka seketika menoleh. Ia menyunggingkan senyum seperti biasa. Azka membalas senyumnya. Ia kemudian mempersilahkan Saga untuk masuk dan duduk di kursi yang ada di depan rumah Azka.
"Tunggu ya, Aku ambil minum dulu" Azka masuk kembali ke dalam rumah, menyiapkan sebotol minum dan dua gelas yang disusun di atas nampan. Ia membawanya, meletakkannya di atas meja yang memisahkan dua kursi tempat mereka duduk. Azka menuangkan minuman itu ke dalam dua gelas yang tersedia, lalu menyodorkan salah satunya mendekat ke arah Saga.
"Minum Ga, maaf gak bisa sediain yang lain" ucap Azka mempersilahkan tamunya untuk minum.
"Iya, makasih ya kak" Saga mengambil gelas berisi air itu, dan menenggaknya sedikit.
"Jadi, mau ngomong apa?" tanya Azka tanpa basa basi. Lebih baik to the point saja lah, toh mereka berdua sama-sama tau bahwa pertemuan sebelumnya membuat keduanya merasa sama-sama tidak enak.
"Ehm, soal tadi siang, Maafin saya ya. Saya gak seharusnya maksa kamu kak" Saga memulai,
"Oh, iya. Aku juga minta maaf. Aku terlalu terbawa emosi sehingga sedikit marah. Maaf kalo aku nyakitin dengan pergi gitu aja ya Ga" ucap Azka membalas permintaan maaf Saga. Saga tersenyum mendengarnya.
"Emm- Tapi aku berpikir, sepertinya gak ada salahnya aku mampir sebentar ke rumah kamu." Azka menjeda, memperhatikan Saga yang ekspresinya berubah takjub. " Emm, tapi jangan buat orang tua kamu salah paham, tolong kenalkan aku sebagai teman. Gimana?" Azka menunggu tanggapan Saga. Laki-laki di hadapannya seperti kehilangan kalimat akibat terkejut mendengar apa yang Azka sampaikan.
"Serius???" hanya satu kata bernada tanya itu saja yang terucap dari bibir Saga? Senyuman tercetak jelas di wajahnya. Azka mengangguk, ikut membalas senyuman itu.
"Oke" jawabnya santai, tetapi kemudian – "Wooohwoooow!!!"Saga sedikit berteriak karena girang.
"Ssssttt, Ga! Nanti tetangga pada keganggu!" ucap Azka menyuruh Saga untuk menutup mulutnya.
__ADS_1
"Hehehe, sorry"
Saga pamit setelah sedikit berbincang ringan dengan Azka. Azka mengantarnya sampai depan pagar. Ia menunggu disana sampai sosok Saga menghilang bersama deru motornya yang menjauh. Azka membuang nafasnya perlahan, menarik nafas kembali, lalu membuangnya lagi. Ia menenangkan dirinya. Keputusannya tadi sungguh membuat dirinya takut. Ia takut kalau apa yang Ia lakukan justru akan membawa Saga pada kepelikan hidupnya yang tak sudah-sudah.
Azka memutuskan kembali ke kamar, dan membenamkan kepalanya pada bantal. Hari sudah semakin larut, Azka yang sudah cukup lelah akhirnya terpejam dan tertidur.
---
Kara, aku hari ini akan ke rumah Saga. Seperti yang kamu bilang. Mungkin aku bisa sedikit mencoba. Doakan aku ya.
Azka mengirim pesan pada Kara saat dirinya sudah berada di depan rumah Saga. Disampingnya, Saga terlihat sangat senang. Senyum selalu terpasang di wajahnya yang tegas. Ia mengetuk lagi pintu yang masih rapat terkunci. Azka yang berdiri di sampingnya hanya bisa menunggu sambil sesekali melirik ke arah ponselnya. Sekedar menghilangkan rasa gugup. Seingat Azka, Ini kali kedua Ia dibawa ke rumah seorang laki-laki yang dekat dengannya. Kali pertama adalah saat dirinya dekat dengan Rasya dulu. Ah, Azka jadi mengingat kembali masa-masa itu. Masa dimana Ragil tak menoleh sedikitpun padanya. Masa dimana Rasya selalu hadir dan membersamainya hingga Azka lupa pada perasaan cintanya pada Ragil, cinta pertamanya. Masa itu, seolah dirinya akan terus begitu, terlarut dalam kasih yang diberikan Rasya. Masa itu, seolah cinta dan perhatian Rasya benar-benar bisa mengikis perasaan Azka untuk Ragil. Masa itu juga, yang membuat Azka bangga dan bahagia bisa merasa sangat di cintai, bukan hanya oleh Rasya tapi juga keluarganya. Tapi masa itu juga, yang membuat Azka menjadi sangat tertutup saat ini. Tahun-tahun yang dilewatinya bersama Rasya, ternyata tak berujung baik. Mereka berpisah. Rasya menghilang. Salam kesendiriannya, perasaan itu muncul lagi, kembali membelitnya hingga tersungkur di relung hati paling dalam. Rasa cinta yang ternyata telah mendarah daging itu, ternyata tak pernah pergi. Dulu, kini, entah sampai kapan, mungkin selamanya.
"Ayo masuk" ajak Saga membuyarkan lamunan Azka. Ia mengangguk dan mengulas senyum. Di sana ada seorang wanita paruh baya yang Azka duga adalah Ibu dari Saga.
"Silahkan duduk" wanita itu mempersilahkan Azka dengan sangat ramah. Ia memalingkan wajahnya pada anaknya, memberikan ekspresi yang sulit ditebak. Mungkin sepasang Ibu anak itu sedang saling bertanya jawab.
"Ini Kak Azka Bu. Rekan asisten di kampus" akhirnya Saga mengenalkan Azka.
"Azka tante, rekan asisten Saga di kampus" Ulang Azka memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ibunda Saga.
"Azka aja tante, gausah pake teteh. hehe" Ucap Azka sopan. "gausah repot-repot tante" ucap Azka lagi.
"Saga cuma sebentar kok Bu. Habis ini mau ke undangan temen. Saga Cuma mau ambil barang yang tertinggal" ucap Saga seraya bangkit dari duduknya menuju sebuah kamar. "Tunggu disini ya, ngobrol aja sama Ibu" Saga meninggalkan Azka berdua.
Suasana canggung tak terelakkan. Azka segera mencari topik obrolan yang bisa Ia jadikan topik. Ia menanyakan kegiatan Ibunda Saga, lalu ikut membahas beberapa hal yang bisa ditanggapi oleh Azka. Ibunda Saga sangat ramah, dan enak di ajak bicara. Hingga Saga sudah duduk kembali di kursinya, Ibunda Saga masih asik membicarakan program di PAUD yang Ia pimpin. Sepertinya penyuka anak-anak.
"Saga pamit ya Bu" Ucap Saga sambil mencium kening ibunya. Azka ikut mendekat dan salim.
"Azka pamit ya tante. Senang bisa ketemu tante" Azka tersenyum
"Iya, sering-sering kesini. Biar Ibu ada teman ngobrol" ucap Ibunda Saga basa basi. Mana mungkin Ibunya tidak ada teman ngobrol. Sudah sangat jelas dari isi percakapannya tadi bahwa wanita paruh baya tersebut sangat aktif. Bahkan mungkin lebih sibuk dari Azka yang jauh lebih muda.
---
Azka sampai di sebuah gedung yang sudah didekorasi penuh dengan nuansa putih emas. Beberapa orang dengan seragam rapih menyambut mereka di pintu penerimaan tamu. Azka menuliskan namanya pada buku tamu dan menerima satu kartu kecil bertuliskan 'kupon souvenir'. Azka takjub dengan ruangan yang dimasukinya. Bunga-bunga berwarna senada dengan dekorasi di luar gedung sudah terpasang menghiasi setiap sudut ruangan. Azka mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari sosok-sosok yang mungkin Ia kenali. Pandangannya terpaku pada sosok perempuan yang tangannya melingkar sempurna pada lengan laki-laki yang Ia kenali.
__ADS_1
Kak Rasya? dengan siapa
Azka terpaku, diam di tempat sampai Saga menyentuh lengannya.
"Kak" panggilnya pelan. Azka tak bergeming, perlahan Ia mengikuti arah pandang Azka. Ia menerka-nerka siapa yang menjadi pusat perhatian Azka saat ini. Tatapan Azka tidak seperti biasanya. Saga tidak pernah melihat ekspresi itu sebelumnya. Ada rasa rindu yang sangat besar, tetapi rasa sedih dan terluka juga hadir di dalamnya. Tatapan itu, seperti menggambarkan Azka yang sedang sedih sekaligus mendamba dalam satu waktu yang sama.
Seorang perempuan mendekati, parasnya cantik, menyerupai artis-artis muda yang sedang naik daun.
"Azka. Hei! Kamu dateng?" Sapaan itu membuat Azka sadar, wajahnya seketika berubah menjadi bahagia. Ia mengulas senyum tulus yang manis seperti biasanya. Tatapan rindu dan sendu yang tadi Ia lihat seolah pergi begitu saja entah kemana.
"Hai Yuk, Ayuk Dira apa kabar?" tanya Azka bersalaman dan cipika cipiki khas perempuan jaman sekarang.
"Alhamdulillah. Makasih sudah dateng ke nikahan Irine. Irine sedang berganti pakaian, ayo kita ke sana. Ada eyang dan tante Laila" Dira, sepupu Rasya yang juga kakak dari Irine, menarik tangannya begitu saja. Saga mengikuti dari belakang, barulah Dira sadar bahwa ada Saga disamping Azka. "Oh iya, Ini siapa?" tanya nya.
"Eh, kenalin Yuk, Ini Saga. Teman Azka di tim asisten dosen di kampus" ucapnya.
"Oh iya? Bukan pacar?"
Uhuk-uhuk.
"B-bukan. Ahaha. Ayuk ini ada-ada saja" ucap Azka terbata. Ia melirik Saga yang masih bersikap dingin dan tenang di sebelahnya.
"Kirain kayak Rasya, udah ada gandengan baru. Haha, jangan hiraukan dia ya kalo kamu gak nyaman" ucap Dira sambil tertawa. "Pura-pura gak lihat aja" bisik Dira lagi ketika Azka menunjukkan keterkejutannya.
"Eyang, Tante, Azka dateng nih" ucap Dira riang menghampiri kumpulan keluarga itu. Mendengar nama Azka disebut, Rasya seketika berbalik. Pandangan mereka bertemu cukup lama. Tante Laila, Eyang dan semua orang yang ada disana ikut terdiam. Seolah-olah sama terkejutnya dengan Rasya karena kedatangan Azka. Azka berdehem, memutus kontak mata itu lalu tersenyum ke arah keluarga Rasya yang lain.
"Apa kabar Eyang? Tante? Om? Sudah lama Azka gak ketemu" sapa Azka basa basi.
"Azka diundang Irine karena Azka memang di Bandung selama ini. Kita masih suka kontak via chat loh" Dira ikut bersuara, mencairkan ketegangan yang sangat terasa di keluarga mereka. Seketika semua ikut tersenyum, menyapa ramah kepada Azka. Dari sudut mata Azka, Rasya masih memandanginya. Sesekali Ia berganti memandang Saga yang masih tampak tenang dan tak berbicara apa-apa di samping Azka. Bahkan Azka mungkin lupa tidak mengenalkan Saga. Atau memang Azka tidak akan mengenalkannya.
Gadis di samping Rasya mulai gelisah. Ia mengenali Azka sebagai mantan yang paling lama berhubungan dengan lelaki disebelahnya. Lihatlah, bahkan ia menyalami dengan ramah semua anggota keluarga Rasya. Naya
Ia mengendurkan lingkaran tangannya pada lengan Rasya, tapi belum sempat terlepas Rasya menahan tangannya agar tetap melingkar disana.
Azka menyadari ada kecanggungan antara dirinya dan Rasya, juga perempuan di sebelahnya itu. Ia akhirnya lebih memilih undur diri dan bergerak menjauh mencari tempat lain yang lebih terbuka, menyelamatkan hatinya dari kecanggungan yang menyiksa.
__ADS_1
Bahkan seucap katapun tidak! Oh, sudah berapa banyak langkah kita saling menjauh? Azka.