
Masalah? Senyumin aja.
-Azka-
Azka menuju plaza XX sesuai permintaan Marsha. Ia pun datang seorang diri. Meski awalnya Kara menawarkan untuk menemani, tetapi tawaran itu ia tolak. Ia hanya perlu menyelesaikan ini berdua dengan Marsha. Siapa tahu, Marsha mau mendengarkannya agar ia berhenti melakukan hal-hal buruk pada Ragil.
Sesampainya di depan sebuah restoran yang namanya dikirimkan oleh Marsha pagi ini, Azka berdiri sedikit lama sebelum membuka pintu di hadapannya. Ia mengatur napasnya. Ia bertekad untuk tidak terlalu mau ambil pusing dengan masalah ini, tetapi menghadapi Marsha secara langsung membuat dirinya sedikit bergetar. Haruskah ia melewati ini hanya karena Marsha melakukan itu pada Ragil?
Pintu terbuka, seorang pelayan menghampiri Azka. Azka menyebutkan nama Marsha pada pelayan, dan segera diarahkan ke sebuah ruangan khusus yang ternyata sudah di pesan olehnya. Azka mengucapkan terima kasih sebelum pelayan itu kembali bekerja di bagian lain restoran. Dengan hati yang berdebar, ia mendorong pintu di depannya. Sosok Marsha seketika tertangkap oleh matanya. Ia sedang duduk membelakangi Azka sambil memainkan sesuatu di atas meja. Kakinya saling bertumpu, dengan salah satunya yang tergantung di udara.
"Maaf sedikit terlambat. Saya banyak pekerjaan" ucap Azka saat sudah berdiri di samping Marsha. wanita itu menoleh, meneliti tampilan Azka yang masih berbalut kemeja kerjanya.
"Gak apa-apa. Duduk," ia mengetuk meja di depannya, mengisyaratkan Azka agar duduk di sana.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan dengan saya?" tanya Azka tanpa basa-basi setelah dirinya duduk berhadapan dengan wanita itu. Wanita itu sesungguhnya cantik, kulit putih mulus, wajah tanpa noda dan jerawat, mata tajam, apalagi ditambah dengan bibirnya yang saat ini dipoles dengan lipstik berwarna merah cerah. Sedikit berbeda dengan tampilannya saat mereka pertama kali bertemu. Ah, Ragil memberi kehidupan yang baik rupanya? pikir Azka.
"Lo gak mau pesen minum dulu?" tanya Marsha penuh basa-basi.
"Gak usah. Saya gak akan lama. Omongin aja apa yang mau kamu omongin. Supaya masalah kita cepat selesai. Saya gak mau terlibat apapun diantara hubungan kamu dengan Ragil." ucap Azka lekas.
"Oh, hmm." Marsha menjentikkan tangannya, seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu ruangan itu mendekat. Marsha menyebutkan pesanannya, satu buah minuman soda dan air mineral. Pelayan itu segera keluar. "Sayangnya, lo udah terlalu ikut campur Ka. Tapi gue juga gak sejahat itu sampe gak kasih lo minum padahal lo udah dateng ke sini." ucap Marsha mengulur waktu.
"Jahat atau baik kamu, saya gak terlalu peduli." timpal Azka, "makasih untuk perhatian kamu." tambahnya.
"Lo akan peduli kalo itu menyangkut ini." Marsha melempar sebuah amplop ke atas meja. bagian penutupnya yang tidak terekat apapun menyebabkan beberapa lembar isi di dalam amplop itu menyembul keluar.
Azka memandang Marsha sejenak, beralih ke amplop di atas meja, lalu beralih kembali ke Marsha. Ia memberikan tatapan bertanya. Apa maksudnya amplop itu? Haruskah Azka melihat isi di dalamnya?
"Buka aja kalo lo penasaran. Setidaknya lo gak usah kaget saat foto itu sampe ke tangan laki lo." ujung bibir Marsha terangkat, membentuk seringai di wajah cantiknya.
Jantung Azka berdebar lebih kencang, tetapi ia coba untuk menahan itu semua. Rasa mual yang akhir-akhir ini sering muncul pun kembali terasa, meski tidak sehebat biasanya. Kenapa selalu begini sih, setiap bertemu dia?ck.
__ADS_1
Ia menarik amplop coklat itu mendekat, menahan beberapa lembar yang mencuat dari salah satu ujung amplop agar tidak terjatuh berhamburan. Ia menimbang-nimbang sebelum akhirnya memutuskan merogohkan tangannya ke dalam amplop dan mengambil lembaran-lembaran di dalamnya. Ia keluarkan satu persatu, lalu ia jajarkan di atas meja.
Ada debar yang semakin menjadi di dadanya saat mengetahui isi amplop itu adalah foto-foto Azka. Tidak, bukan hanya foto Azka, tetapi juga foto Ragil yang di ambil di tempat yang sama. Anehnya di sana sampai tertera waktu pengambilan gambar dan tempatnya. Setiap waktu dan tempat selalu terdiri dari dua lembar foto, seolah ingin menunjukkan bahwa pada saat yang sama, Azka dan Ragil berada di tempat yang sama. lembaran-lembaran itu semakin mengejutkan Azka saat foto-foto terakhir menunjukkan gambar dirinya dan Ragil. Itu semua adalah foto saat Azka bertemu Ragil akhir-akhir ini. Pertemuan di dekat restoran saat Azka pertama kali di jakarta, di lobi rumah sakit saat Azka menjenguk Nuri, ibunya Ragil, di depan minimarket dekat kantor Saga, dan terakhir, foto Azka dan Ragil di the Crown kemarin. Dari mana foto-foto ini???
Seorang pelayan yang tadi keluar sudah kembali membawakan dua buah gelas berisi air yang berbeda ke atas meja. Azka mengucapkan terima kasih pada si pelayan sebelum kembali fokus dengan wanita di hadapannya.
"Apa maksud kamu memberi saya foto-foto ini?" Azka susah payah menenangkan dirinya. Ia merapalkan mantra berulang-ulang, all is well, all is well, all is well.
"Maksud gue, emmm.. apa lo percaya kalo gue mau ngancurin lo? Karena lo udah terlalu ikut campur, terutama masalah kemarin."
"Semoga kamu gak sekeji itu. Tapi kalo ada apa-apa dengan saya dan Sa-suami saya, saya tahu harus meminta pertanggung jawaban pada siapa." Azka menjawab tenang. "Suami saya gak akan terlalu mudah percaya dengan cara-cara murahan seperti ini, Marsha." ucap Azka menekan nama yang ia sebut.
"Oh ya? lo gak takut, kalo foto-foto ini gue kirim ke keluarga lo? yakin mereka gak akan kecewa?" Mendengar kata keluarga disebut, membuat Azka sedikit mengernyit. Hampir ia goyah, tetapi ia kembali mengumpulkan ketenangan dan keberaniannya. All is well, all is well, all is well. Azka mengulang-ulang mantra itu di hatinya.
"Mungkin ini alasan kenapa Ragil gak pernah mau kembali ke kamu Sha. Selain karena kamu terlalu gampang, kamu juga licik." cecar Azka tepat sasaran.
Marsha mengetatkan rahangnya, bibirnya sedikit terbuka akibat terkejut dengan ucapan Azka.
"Oh iya, satu lagi. Tanpa saya kasih tahu Ragil tentang apa yang saya lihat kemarin, Ragil udah tau semuanya." Azka menahan mualnya mengingat adegan Marsha dan laki-laki di depan pintu kamar hotel itu.
"Cewek sialan!" Bahkan cewek ini tahu kalau Ragil lagi urus perceraian?? Breng***!!! Siapa cewek ini untuk Ragil??? Sialan!
"Apa kamu udah selesai? saya masih banyak pekerjaan." ucap Azka meraih tas dompetnya hendak pergi. Ia mengacuhkan umpatan yang ditujukan oleh Marsha padanya.
"Lo siapa hah??? kenapa lo tau semua tentang gue sama Ragil? LO SIAPAA??? Bahkan suami lo gak bisa membuat lo berhenti untuk ikut campur masalah rumah tangga orang lain!!!" Marsha menggebrak meja dengan sedikit kasar hingga Azka berjengit di tempatnya.
"Katakan saja saya adalah salah satu teman yang peduli dengan Ragil. Dan sayangnya, dia lebih memilih bercerita kepada saya daripada berbicara dengan kamu." ucap Azka tenang. "Saya gak pernah tahu rasanya ditinggal sama suami di malam pertama di hari pernikahan." Azka menjeda kalimatnya, "tapi melihat kelakuan kamu yang terlalu berlebihan, saya jadi gak simpati." Kalimat itu selesai, dengan Marsha yang semakin shock dibuatnya.
"KAMU!!!" gelas yang isinya masih penuh itu sudah berhasil disambar oleh Marsha dengan gerakan kasar. Beberapa tetes air terpercik ke meja di depan Azka. Azka sempat kaget, tetapi ia kembali mempertahankan ketenangannya. Masih ada satu hal yang ingin ia sampaikan pada wanita di sebelahnya. Sesuatu yang ia sampaikan sebagai seorang wanita yang memahami perasaan Marsha saat ini, terlepas dari seberapa licik dan kejinya wanita itu. Namun namanya seseorang yang pernikahannya akan menemui perceraian, sudah pasti perasaan sedih akan mendominasi. Itu yang Azka pahami.
"Ya, saya tahu sampai sejauh itu. Kalau kamu mau menerima saran saya, jangan terlalu buang-buang waktu untuk mengurus hal yang sia-sia seperti sekarang. Kamu harusnya sibuk mempertahankan pernikahan kamu yang diambang kehancuran."
__ADS_1
Ucapan Azka menghentikan aksi Marsha yang nyaris membanjur Azka dengan air di gelas dalam genggamannya. Marsha diam seribu bahasa. Tangannya masih melayang di udara. Detik selanjutnya, Azka mengulur tangannya seraya bangkit. Ia tarik perlahan gelas yang dipegang oleh Marsha dan meletakkannya di atas meja seperti semula. Marsha masih terpaku, napasnya menderu, dadanya bergerak naik turun tak beraturan.
"Saya permisi." ucap Azka meninggalkan Marsha yang geram ditempatnya. Amplop berisi foto-foto yang tadi Marsha tunjukkan, dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja.
---
"Huuueeekk!!" Azka muntah begitu saja tidak jauh dari pintu keluar restoran yang ia datangi. Ia menengok ke kanan dan kiri. Apakah ia harus masuk ke plaza untuk mencari toilet? Namun baru ia akan berjalan menuju pintu masuk, rasa mual itu datang lagi.
"Huuueeekk!!!"
"Teh???" Suara Kara terdengar berteriak. Entah dari mana pemuda itu datang, tiba-tiba saja muncul di dekat Azka. "Kamu gak apa-apa?" ada nada khawatir di dalamnya.
"Gak, aku gak apa-apa Kar. Aku mau pulang aja deh Kar."
"Saya anter ya? atau mau telpon Saga?" tanya Kara, Ia merogoh saku belakang celananya, seingatnya ia menyimpan tisu di sana.
"Gausah telpon Saga, dia sibuk," pinta Azka.
"Ah elaah Teh, dia suami kamu. Dia gak akan nolak disuruh jemput istrinya!" Ia berkata seraya memberikan tisu kepada Azka.
"Makasih Kar." ucap Azka lemah.
"Jangan-jangan kamu sengaja ya? pengen pulang dianter saya, Teh? wah modus nih!" mode tengil Kara mulai keluar.
"Apasih!" kilah Azka.
"Iya kan? ngaku deh.. tapi saya kasih tau sekali lagi ya Teh, saya gak tertarik sama wanita bersuami!"
PLETAK!!!
"Aw, sakit ampun!!" Kara meringis, sementara Azka tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
Nah gitu, senyumin aja.