RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #19


__ADS_3

Kamu memilikinya, dan itu cukup membuatku percaya bahwa kamu tidak akan mengalami apa-apa.


-Ragil-


"Maaf untuk semuanya Pak. Terima kasih." ucap Ragil menahan gejolak amarahnya. Ia sudah tidak bisa membiarkan wanita ini ada di sekitarnya. Meski Marsha masih berstatus istrinya, tapi kelakuannya tidak jauh seperti ******. Jika dibiarkan, reputasinya di kantor, di depan teman-teman polisinya, akan hancur.


Sekitar satu jam yang lalu Ragil sampai di kantor polisi. Ia mendapat laporan bahwa Marsha melakukan keributan yang menyebabkan beberapa kerusakan di sebuah klub malam. Berdasarkan kronologis yang di jelaskan oleh pihak kepolisian, itu semua bermula dari godaan yang di dapat Marsha dari salah seorang pria hidung belang di sana. Marsha yang tidak suka memilih untuk pergi begitu saja. Namun sialnya, dirinya yang berjalan dengan sempoyongan tanpa sengaja menabrak pelayan klub itu. Marsha dengan amarahnya lalu mencaci maki pelayan itu, Ia terus menghujani pelayan wanita yang sudah bergidik ketakutan itu dengan umpatan. Meski sebenarnya dirinya lah yang bersalah. Sampai akhirnya ia kehilangan kesabaran dan menghancurkan beberapa barang di klub itu dan melemparkannya ke arah pelayan. Pemilik klub melaporkan kejadian itu, sehingga Marsha akhirnya diringkus dengan tuduhan membuat kekacauan dan kerusakan.


Ragil memijit pangkal hidungnya. Ia merasa penat dengan semua ini. Belum sebulan ia menikah, dan perempuan yang menjadi istrinya itu sudah membuatnya muak berkali-kali dengan tingkahnya. Laki-laki mana yang tahan dengan perempuan macam Marsha?


Sampai di rumah, Ragil memapah Marsha masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia menutup pintu kamar itu sebelum dirinya sendiri pergi keluar. Hari sudah hampir larut malam, dan Ragil tidak tahu harus pergi kemana selarut ini. Ia mengambil rokok di dashboard mobilnya, memantik api hingga ujungnya membara dan mengeluarkan kepulan asap. Sepertinya malam ini ia akan menghabiskan malam di dalam mobil, dengan ditemani oleh sekotak rokok.


---


Pagi hari Ragil terbangun dan segera masuk ke dalam rumah. Dirinya harus membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor. Sekaligus, ada hal yang akan ia sampaikan pada wanita yang tertidur di rumahnya.


"Ragil, maafin gue."


"Gue udah muak sama lo."


"Semalem itu gak sengaja, aku mabuk Gil. Dan itu semua karena perempuan sialan itu." Ragil mendelik, siapa yang disebut perempuan sialan oleh Marsha?


"Dia cuma pelayan, dan lo emang gila sampe bikin kerusakan kayak gitu. Dan lagi-lagi gue yang harus nanggung. Ya malu, ya rugi," ucap Ragil masih menahan amarahnya. Ia masih mengingat berapa rupiah yang perempuan itu ambil dari tabungannya. Ia mengesampingkan terlebih dahulu masalah itu.


"Gue mau lo pulang ke rumah besok. Gue urus tiketnya. Gue udah gak tahan ada lo di sini."


"Gak bisa!!! gue gak mau pulang ke sana! gue mau di sini sama lo Gil!" Marsha mendekat, mengelus rahang Ragil seraya memohon.


"Lo di sini bukan mau sama gue Sha. Lo mau ke sini karena ada Reno kan? Ck," Ragil menepis tangan Marsha.


"Lo? pasti tau dari cewek sialan itu kan??? Lo pasti-"


"SIAPA YANG LO BILANG CEWEK SIALAN HAH???" Ragil sudah kehilangan kesabarannya.

__ADS_1


"AZKA!!! DIA CEWEK SIALAN ITU! AAAH!!!" Marsha balas berteriak. Ia memegang kepalanya frustasi.


Ragil mendengus malas, "Tanpa Azka kasih foto itu gue udah tau semuanya Sha. berhenti nyalahin Azka untuk semua kesalahan lo!" Ragil frustasi, sementara Marsha mendelik terkejut. Jadi, cewek sialan itu bener-bener ngasih foto itu ke Ragil?? Sialan!


"Surat ijin dari kantor udah keluar Sha. Semua berkas udah siap gue serahin ke pengadilan agama. Kita ketemu dan bahas di sana aja. Gue cape." Ragil meninggalkan Marsha menuju ke arah kamarnya, saat suara Marsha menggema di ruangan itu lagi.


"Kalo lo nyerahin berkas perceraian itu, gue pastiin Azka akan ikut kena akibatnya!" Namun Ragil tidak menghiraukannya. Ia percaya Azka akan terlindungi. Ia memiliki Saga sebagai suami. Azka juga memiliki banyak teman di sini. Ragil tidak akan gentar untuk menyerahkan berkas perceraian itu.


"Terserah, kalau hanya itu ancaman dari lo, gue gak takut. Azka akan baik-baik aja."


---


"Yang, kemeja aku yang abu dimana ya?" Saga tengah mencari kemejanya di antara barisan kemeja yang tergantung di lemari pakaian.


"Kemeja abu yang mana? Kamu gak akan pakai kemeja yang udah aku siapin?" tanya Azka dari dapur. Ia tengah menyiapkan sarapan untuk lelakinya itu.


"Hari ini ternyata disuruh pake seragam Yang. Kemeja yang abu." jawab Saga lagi, kini Azka berjalan mendekati kamar mereka.


"Aku taroh di sana kok. Sini aku yang cariin." ucapnya. Azka mendekat ke arah lemari pakaian. Mencari kemeja abu yang dimaksud Saga. Ia berjinjit untuk mengecek di bagian atas lemari, tempatnya menumpuk kaos rumahan Saga.


"Ih, kamu tuh buat kaget aja." Azka mengelus tangan Saga yang melingkar di perutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang kemeja abu yang tadi diminta.


"Kangen tau." Saga menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Azka, membuat Azka sedikit bergidik karena geli.


"Aku juga kangen, kamu sibuk."


"Kita sibuk, maaf ya." Saga mengucapkannya tanpa mengubah posisi, membuat kulit leher Azka merasakan terpaan hangat dari napas Saga.


"Sama, aku juga minta maaf. Eh iya, semalem Ay kemana?" tanya Azka memiringkan wajahnya ke arah Saga.


"Ketemu seseorang," ucapnya. Azka membalik tubuhnya, membuat kepala Saga tidak lagi bertumpu di pundaknya.


"Ketemu siapa? kok malem-malem?" tanya Azka.

__ADS_1


"Ada hal penting yang harus di obrolin." Tiba-tiba tatapan mata Saga berubah sendu, Azka tidak mengerti kenapa tatapan Saga berubah saat membicarakan masalah ini.


"Kenapa gak di rumah?"


"Aku takut kamu keganggu."


"Emmmh. Nih, kemejanya. Pake dulu, nanti kamu kedinginan." Azka menyerahkan kemeja abu pada Saga, yang segera dikenakan olehnya. Azka membantu mengancingkan kemeja bagian depan selagi Saga mengancingkan lengannya.


"Hari ini mau kemana? perut kamu masih sakit? ada yang Ayang mau? masih ingin pisang goreng bersaos?" tanya Saga menatap wajah istrinya.


"Aku udah gak mau pisang goreng, tapi aku lagi mau makan rujak nanas. Kayaknya seger."


"Nanti aku anter ke kantor kamu ya." ucap Saga sembari mengecup kening istrinya. Azka mengangguk. "Tapi pagi ini ya. Aku ke kantor jam delapan." tambah Azka.


"Kamu kayak lagi hamil, banyak maunya, aneh-aneh lagi." ucap Saga melewati pintu kamar menuju meja makan.


"A-aku.."


"Aku gak lagi minta kamu cepet-cepet hamil kok. Kita nikmatin aja dulu pacaran after merried ini. Jangan stres cuma karena di tanya udah isi apa belum ya." ucap Saga. Ia menarik kursi ke belakang, mendudukinya dan mengambil satu tumpuk roti berisi daging dan keju buatan Azka. Azka ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan suaminya.


"Aku gak stres kok. Aku juga pengen cepet hamil, punya anak." ucap Azka menunduk.


"Gak stres tapi wajahnya kusut terus setiap kita ngebahas ini," Saga terkekeh. menggigit kembali rotinya dalam ukuran besar.


"Kita selesaikan proyek kita, nanti kita agendain lagi bulan madu ke dua ya." ucap Saga yang di balas anggukan kecil oleh kepala Azka.


"Aku berangkat dulu. Kamu nanti kabarin aku kalo udah sampe kantor. Aku bawain rujak nanas."


"Emm, sama mangga ya Ay" potong Azka cepat.


"Hah?" Saga terkejut.


Saga berpikir bahwa keinginan Azka sudah mulai semakin aneh. Saat ini bukan musim mangga, dimana ia bisa mendapat mangga disaat seperti ini? Bahkan di supermarket pun mungkin mustahil mendapatkan mangga. Namun ia tidak mau membuat mood Azka rusak sepagi ini. Yang bisa ia lakukan hanya mengangguk, dan berlalu keluar dari apartemennya.

__ADS_1


Urusan ada atau tidak mangga itu nantinya, biarlah nanti Saga memikirkan alasannya, begitu pikirnya.


__ADS_2