RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Setidaknya waktu terus terulur, memberi alur tambahan untuk kisah yang belum sampai.


-Azka-


Azka duduk di sofa ditemani Ocha yang dimintanya datang sejam yang lalu. Wajah Azka tak bisa menyembunyikan perasaan gundahnya. Berkali-kali Ia mengembuskan nafas kasar secara tiba-tiba. Ekspresinya seperti sedang berpikir keras.


"Ka, kamu jangan gini dong" ucap Ocha yang ada di sebelahnya


"Gini gimana Cha?" jawab Azka masih pada posisi dan ekspresinya. Tidak ada yang berubah sedikitpun.


"Kamu, apa kamu gak mau mencoba dulu menjalani ini? Semuanya sudah di depan mata Ka"


"Belum berakhir disini Cha. Kamu tau gak? Bahkan sepanjang malam Ragil selalu muncul di kepala aku Cha. Semua ini begitu menyesakkan" Ujar Azka setelah berkali-kali menarik nafas dalam. "Aku takut semua ini nantinya ga baik untuk hubungan aku" Azka menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Tapi Ka, Kamu juga harus memikirkan Mama dan Papa kamu. Apalagi ini keluarga yang sudah sangat dekat. Ya kan?" Ocha mulai mengeluarkan nasihat-nasihat untuk Azka. Ocha berpikir, bahwa ini nyaris tidak ada harapan untuk menanti Ragil atau Saga. Tidak mungkin juga Azka menolak kedatangan keluarga itu untuk alasan yang tidak jelas. Sudahlah tidak jelas secara syariat, tidak jelas juga apakah memang penantian Azka berbuah seperti apa yang Ia harapkan.


"Maafin aku ya Ka" ucap Ocha akhirnya


"Untuk?" Azka menautkan alisnya, menoleh ke arah sahabatnya yang sudah menunduk.


"Maaf gak bisa bantu kamu apa-apa. Maaf aku gak bisa berbuat apa-apa untuk kamu Ka"


"Ya ampun Cha. Kamu gak harus minta maaf untuk itu. Kamu selalu ada buat aku juga sudah lebih dari membantu. Aku bersyukur punya kamu disini Cha" Mereka berdua berpelukan, menumpahkan tangis sendu yang sudah tak lagi bisa tertahan.


Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lebih lima puluh menit. Sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang, tidak lama kemudian waktu akan memasuki waktu makan siang. Belum ada kabar atau informasi apa-apa tentang kedatangan keluarga om Robi. Mama dan Papa terlihat cemas. Azka dan Ocha yang sudah berhenti menangis ikut cemas. Cemas jika terjadi sesuatu dengan keluarga itu. Meskipun di sisi lain hati Azka ada yang bersorak untuk hal lain.


Setidaknya waktu terus terulur, memberi alur tambahan untuk kisah yang belum sampai. Azka.

__ADS_1


"Ka, kita shalat dulu yuk" Ajak Ocha menyenggol lengan Azka pelan


"Eh, Iya Cha. Kamu ke kamar aku duluan ya. Aku ke Mama dulu" Azka menghampiri Mama yang sedang duduk sendirian. Papa sudah lebih dulu berangkat ke masjid untuk shalat dzuhur berjamaah.


"Ma" Panggil Azka. Mama menoleh lalu tersenyum.


"Mama udah shalat? Shalat dulu yuk. Nunggu Tante Ani nya dilanjut kalo udah selesai shalat" Ajak Azka


"Semoga keluarga mereka baik-baik aja ya Ka" Ucap Mama menepuk pelan punggung tangan Azka yang menggenggam tangan mama.


"Aamiin" Azka kemudian berpamitan menuju kamarnya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun" Suara Papa yang terdengar dari kamar Azka kentara sekali sangat terkejut. Azka segera keluar dari kamarnya diikuti oleh Ocha.


"Siapa yang meninggal Pa?" Azka bertanya takut-takut. Telinga dan hatinya disiapkan untuk menerima kabar mengerikan apa yang akan didengarnya. Mama yang tadi berada di dapur sudah ikut bergabung di ruang keluarga.


"Ka, kamu ikut melayat?" tanya Ocha yang berada di sampingnya.


"Ikut kayaknya Cha" ucap Azka lirih


"Yaudah kalo gitu, aku pulang ya?" Azka mengangguk, lalu tersenyum.


Mama dan Papa serta Azka melayat ke kampung simbah yang berjarak sekitar tiga puluh menit dari rumah. Saat datang, terlihat keluarga Om Robi dan Tante Ani sudah berkumpul. Semuanya mengelilingi Simbah. Ada yang membaca Alqur'an, Ada yang terisak sambil berpelukan. Suasana haru dan sedih sungguh terasa, bagai ada kabut pekat berwarna kelabu yang menaungi tempat itu. Mama mendekat ke Tante Ani diikuti oleh Azka. Mama menyampaikan belasungkawa sambil terus memberikan penguatan pada tante Ani. Papa juga melakukan hal yang sama kepada Om Robi. Azka mengedarkan pandangannya, tapi tak dilihat seorangpun anak tante Ani disana. Tidak ada Mas Banan, Romi, Hana, atau yang lainnya. Sepertinya semuanya sedang membantu mengurus persiapan pemakaman simbah sore itu. Setelah selesai menyolatkan, Mama dan Papa serta Azka berpamitan. Pemakaman belum dilangsungkan karena harus menunggu keluarga yang masih di jalan.


---


Setelah kepergian simbah, tidak ada kabar apapun dari keluarga Tante Ani dan Om Robi. Tidak ada lagi pembicaraan mengenai perjodohan. Semua menguap begitu saja di tengah badai menyedihkan yang datang tiba-tiba. Seolah semua lupa apa yang direncanakan sebelum itu. Maka, hari ini Azka berpamitan pada Mama dan Papa untuk kembali ke Bandung. Ke tanah perantauan tempat Ia akan memulai kembali kehidupannya.

__ADS_1


"Kamu hati-hati ya De. Nanti Mama kabari lagi gimana kelanjutannya" ucap Mama memeluk Azka.


"Iya Ma. Ade pamit ya. Apapun yang terjadi nanti, Ade akan coba ngejalanin semuanya. Doain ade ya Mam" ucap Azka, Ia lalu beralih memeluk Papa yang juga sudah berdiri di sana.


Azka memasuki bis malam tujuan Bandung, menduduki kursi di belakang kemudi yang terhalang kaca. Ia duduk di sisi jendela, melihat Mama dan Papa yang berdiri di samping mobil melepas kepergiannya. Azka melambaikan tangannya sampai sosok kedua orang tua yang begitu dicintai sudah tak terlihat.


Selama perjalanan Ia tidak bisa berhenti berpikir tentang apa yang akan terjadi ke depan. Allah begitu baik, memberikan skenario yang luar biasa dalam hidup Azka. Mungkin doa-doa yang selalu dilantunkannya kemarin sampai. Azka sungguh bersyukur bahwa saat ini Ia belum harus menghadapi sebuah lamaran dari siapapun. Sepertinya memang Ia diberi kesempatan untuk mempersiapkan hati dan perasaannya. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi dikemudian hari. Mungkin Ia akan menerima perjodohan itu, melepas perasaannya pada Ragil demi seorang yang dipilih mama dan papa. Mungkin juga, ia justru akan memulai kisahnya bersama orang yang selama ini Ia tunggu. Menyelesaikan sesuatu yang sudah lama tergantung diantara masa, menunggu untuk dimulai. Mungkin juga, Ia akan menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang mencintainya sepenuh hati, menerima dirinya apa adanya, meski dengan ketidaksempurnaan hati yang dimiliki Azka. Tapi seperti apa yang Ia katakan pada Mama, Apapun yang terjadi nanti Ia akan coba menjalani semuanya. Ia akan mengikuti skenario apa yang Allah berikan padanya. Sepertinya, sudah saatnya Ia tidak terlalu memilih takdir.


---


Mama dan Papa sedang duduk di ruang keluarga dengan pakaian santai masing-masing. Menikmati angin segar yang berhembus dari salah satu pintu di ruangan itu yang berhubungan dengan halaman belakang dimana terdapat pendopo dan kolam ikan. Dua cangkir teh dengan asap yang masih mengepul menemani obrolan keduanya. Tidak lupa juga sepiring pisang goreng yang tadi diantarkan Bude dari dapur. Hari masih begitu pagi untuk memulai aktivitas di luar rumah. Rumah terasa begitu lengang setelah kepulangan Azka. Kedua kakak Azka tinggal diluar kota, dan adik Azka sudah kembali ke pesantrennya. Hal itu membuat Mama dan Papa hanya menikmati suasana hari itu berdua saja.


Sayup-sayup terdengar ketukan dari arah pintu di ruang tamu diiringi dengan ucapan salam. Bude tergopoh-gopoh menyebrangi ruangan untuk sampai ke pintu di ruang tamu rumah itu. Dibukanya pintu itu setelah sekali lagi terdengar ketukan dan salam dari suara yang sepertinya sing di telinga Bude.


"Siang Bu, Mama dan Papa Azkanya ada dirumah?"


"Ada Mas, mari masuk. Saya panggilkan dulu Bapak sama Ibu" ucap Bude. Bude segera menuju ke ruang keluarga setelah mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Mas, Mbak, ada tamu di depan. Nyariin Mas Hatta sama Mbak Siska. Sepertinya temen De Azka" begitu lah Bude memanggil Mama dan Papa Azka, untuk memberitahukan kedatangan tamu yang sudah duduk di ruang tamu keluarga itu. Mama dan Papa segera menuju ke ruang tamu. Nampak jelas rasa penasaran di raut wajah keduanya.


Temen Azka? Siapa? Azka kan sudah pulang ke Bandung. Mama.


"Pagi Om, Tante" Sapa tamunya yang seorang laki-laki dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Mama dan Papa hanya saling pandang. Kerutan di dahi keduanya mengisyaratkan kebingungan. Apa maksud dan tujuan seorang teman laki-laki Azka datang ke rumah sepagi ini? Bahkan Ia datang saat Azka sendiri tidak berada di sana.


---


"De, Ada yang datang ke rumah" suara Mama terdengar sedikit berbisik, namun Azka dapat mendengar dengan jelas pesan yang disampaikan Mama.

__ADS_1


__ADS_2