RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #6


__ADS_3

Meskipun kamu menemukan sesuatu yang lain di luar sana. Tolong jangan berhenti bertahan.


-Saga-


"Sialan kamu Cha! Sumpah, Aku ngerasa gak bisa berhenti!" Pekik Azka saat sambungan telepon itu dijawab Ocha dengan sapaan 'Halo'. Azka percaya bahwa mungkin Ocha di sana sudah menutup telinganya agar tidak tuli mendadak akibat jeritan Azka.


"Sabar Ka. Apaan sih. Coba kamu tenang dulu" Ocha masih sedikit waras, sehingga menyadari bahwa merespon Azka yang sedang emosi dengan emosi yang sama adalah hal yang sia-sia.


"Kamu pasti udah tau kan masalah Ragil itu seperti apa?" Azka kembali berbicara dengan nada yang belum diturunkan.


"Memang Ragil kenapa?" Ocha berhenti sejenak, "Tunggu! Kamu udah ngehubungin Ragil Ka???" Kali ini Ocha yang menjerit. Namun suaranya kemudian tertahan. Mungkin Ia baru sadar bahwa nada suaranya bisa membuat orang-orang di sekitarnya terganggu.


"Cha.. aku bener-bener sakit hati. Aku sedih dan merasa bersalah secara bersamaan"


"Kenapa kamu merasa bersalah?" Ocha sedikit bingung.


"Kamu tahu kan aku belum sepenuhnya berhasil membuat hatiku netral? Dan aku sekarang harus melakukan ini di belakang Saga. Aku jadi merasa bersalah dengan dia. Aaah Ocha"


"Tolong cerita. Aku kepo Ka"


"Jangan bohong! kamu pasti tahu. Ragil bilang bahwa dia juga menceritakan hal yg sama dengan Rizky. Gak mungkin kan suamimu ga ngasih tau kamu" cecar Azka.


"Aku gak tau banyak.. aku mau denger apa yang dia ceritakan padamu Ka"


Azka menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya yang tidak sengaja. Tentang kunjungannya pada Ibunya Ragil di rumah sakit. Juga tentang percakapan mereka yang berbau perasaan.


"Kamu gila? Kamu bilang itu sama Ragil?"


"Cha, aku terbawa perasaan. Dan aku memang ingin melihat dia bahagia. Cha, apa kamu mendukungku?" Tanya Azka lemah


"Aku gak tau harus berkata apa. Tapi memang sepertinya Ragil membutuhkanmu. Hmm ini salahku Ka" ucap Ocha dengan nada menyesal.

__ADS_1


" kenapa?"


"Maafin aku karena aku harus ngehubungin kamu" ucap Ocha lagi, "Aku hanya berpikir bahwa dirinya sangat bodoh. Ia harus hancur seperti ini. Padahal lama sekali Ia memiliki cinta dari seorang Azka. Kalian adalah cinta pertama yang paling kuat yang aku pernah lihat" entah karena apa suara Ocha bergetar.


"Cha.."


"Aku minta maaf Ka. Aku cuma gak mau sedih sendirian setelah tahu bagaimana kondisi Ragil dengan masalah yang pelik seperti ini. Dan aku cuma bisa berbagi ke kamu. Kamu adalah orang yang paling berhak tau tentang ini. Itu yang ada dipikiranku" Ocha jadi terisak. Membangunkan rasa iba pada diri Azka. Rasanya jika Ia bisa, Ia ingin merengkuh sahabatnya itu. Berbagi duka dan kehangatan bersama-sama.


"Cha jangan nangis. Semua ini akan berlalu. Ragil akan baik-baik aja. Dia orang yang kuat kan? Aku yang akan pastikan sendiri bahwa dia akan baik-baik aja"


"Berjanji satu hal denganku Ka. Kamu tidak akan mengalami hal buruk dengan Saga. Aku mohon"


"Aku baik-baik aja Cha. Aku akan mempertahankan pernikahanku dengan sekuat tenaga apapun yang terjadi. Aku berjanji"


Sambungan telepon terputus.


Azka menghela napas perlahan. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Apa yang membuatnya bisa bicara seperti itu? Ia tahu bahwa Ocha mudah berempati. Mengetahui seseorang yang dahulu sempat tumbuh bersama-sama di sekolah seedang mengalami masalah besar, tentu akan membuat Ocha sangat bersimpati. Apalagi, yang mengalami ini adalah Ragil. Seseorang yang pernah berada sangat dekat dengan kehidupan mereka berdua. Ya, belasan tahun ini, bukankah percakapan Ocha dan Azka hampir tidak luput dari persoalan cinta yang rumit antara Azka dan Ragil?


Hei! Janji macam apa itu? Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini Azka? Tolong jangan menyusahkan dirimu lagi dengan masa lalu yang dengan susah payah kau kubur. Peringatan dari dalam kepalanya membuat dirinya bergidik ngeri.


Azka kembali dengan dirinya di ruang keluarga. Ia masih berdiri, melirik jam dinding yang tergantung di atas TV. Sudah pukul sembilan malam. Tapi Saga belum juga pulang. Azka belum makan, Ia berniat menunggu Saga pulang agar Ia bisa makan bersama. Namun yang ditunggunya belum juga menampakkan diri. Azka memilih merebahkan dirinya di sofa di ruangan itu. Tangannya bergerak mengambil remot untuk menghidupkan televisi. Suara gelak tawa dari salah satu acara komedi menggaung di ruangan itu. Menyalurkan suasana riang ke seluruh sudut ruangan. Namun sekeras apapun gelak tawa itu, nyatanya Azka tidak tersentuh. Gelak tawa itu terasa hambar di pendengarannya. Memang acara itu tidak lagi memiliki nyawa humoris, atau justru sisi humoris Azka yang tengah menghilang.


Pintu terketuk dari luar. Segera Azka bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu lebar-lebar membiarkan Saga melewatinya begitu saja. Saga menjatuhkan dirinya di sofa yang tadi Azka duduki. Melirik sekilas ke tontonan tidak berfaedah yang dinikmati istrinya. Kepalanya sakit, Ia mengurut pangkal hidungnya berharap sedikit saja sakit di kepalanya bisa menguap.


"Cape? Banyak banget kerjaan di kantor ya?" Tanya Azka berdiri di sebelah suaminya.


"Proyek ini bener-bener bikin aku pusing Yang, Aku baru saja presentasi hasil revisi program tapi sepertinya gak berjalan dengan baik"


"Kamu mau aku pijitin?" Tanya Azka lagi, Saga mendongak untuk melihat wajah cantik yang tersenyum ke arahnya. Melihat Azka tersenyum, membuatnya menjadi lebih tenang. Dan Ia pun mengangguk. Azka memijit kepalanya, memberikan tarikan-tarikan kecil pada sejumput rambut digenggamannya.


Saga meraih tangan Azka yang masih menari di atas kepalanya, Ia tarik tangan itu ke depan bibirnya. Ia cium dalam sebelum Ia melepasnya.

__ADS_1


"Duduk dong. Aku cape liat kamu sambil dongak ke atas gini" ucap Saga mengalihkan tangannya untuk menepuk sofa di sebelahnya.


Tanpa penolakan Azka duduk di sebelah saga. Melirik ke arah suaminya yang masih menampilkan wajah lelah. Saga menggeser tubuhnya sebelum mendaratkan kepalanya di atas paha Azka. Ia menutup matanya sekedar mencari rasa nyaman di sana. Hangat itu menjalar, membuat sebagian risaunya menghilang. Terlebih ketika Azka mengelus lembut rambut di kepalanya.


Saga membuka mata, menatapi wajah istrinya dengan tatapan sayu.


"Aku sayang kamu, jangan tinggalin aku meskipun kamu menemukan sesuatu di luar sana. Aku mohon" Saga mengatakan itu dengan tatapan sayu yang melayang. Netranya tidak sedang menatap ke dalam mata Azka. Saga lebih seperti sedang menerawang.


"Ay?" Azka menghentikan gerakannya. Memandang Saga dengan tatapan bingung. Baru kali ini Azka melihat Saga berbicara dengan tatapan seperti itu.


"Aku tau kamu belum sepenuhnya sembuh. Tapi, aku mohon kamu mau bertahan untuk aku. Aku ga tau akan seperti apa jika tanpa kamu" lagi, ucapan panjang yang menyentuh. Namun diucapkan dengan mata menerawang.


"Saga" lirih Azka memanggil namanya.


"Ka, kalau nanti aku ternyata kehilangan kesabaran, tolong jangan mudah berpaling. Tolong jangan merasa tersakiti oleh sikap aku. Aku gabisa ngebiarin kamu ngerasa sakit lagi. Terlebih jika rasa sakit itu aku yang buat" Oke bahasa yang mereka gunakan terdengar tidak seperti biasanya. Seperti ada sekat tak terlihat di sana sekarang yang memisahkan antara Azka dan Saga.


"Kamu perlu istirahat. Ayo kita ke kamar" Azka hendak berdiri, namun kepala Saga yang menahannya membuat Ia tidak bisa bergerak lebih jauh dari sekedar menggeser tubuh.


"Aku pengen begini dulu Yang. Sebentar aja" dan Azka tidak bisa menolaknya. Lama setelah itu mereka saling diam. Menyelami pikiran masing-masing. Hingga salah satu diantaranya tertidur. Mereka tetap di posisinya saat menjemput mimpi. Melupakan makan malam hingga suara alarm membangunkan mereka di waktu pagi.


---


"Ulangi lagi" ucap penghulu di sana.


"Kamu harus tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Baca saja yang ada di kertas" tambah pria berpeci itu.


Satu kali lagi pemuda itu mencoba mengabul ijab dari pria di hadapannya. Namun ucapannya lagi-lagi tercekat. Kalimatnya hilang begitu saja. Tidak dilanjutkan. Tepukan di bahu berkali-kali Ia dapatkan. Nyatanya Ia tidak juga mendapat ketenangan. Ini adalah pengalaman pertama, dan Ia bersumpah tidak akan menjadi pengalaman terakhirnya. Anggaplah Ia jahat, bre****k, atau sebutan apapun yang terdengar buruk. Tapi pernikahan ini benar-benar jauh dari keinginannya.


Siapa yang akan kuat bertahan hidup dalam ikatan tak diharapkan? Dengan orang yang benci terhadapnya justru semakin hari semakin besar? Ragil bersumpah, pernikahan itu hanya akan sebentar. Ia akan melakukan apa yang menurutnya benar. Biarlah ini menjadi penebusan dosa yang paling menyakitkan. Tapi masa depan, tidak boleh di abaikan bukan?


Setelah pengulangan ketiga dengan suara terbata, akhirnya seruan SAH dari para saksi terdengar. Wanita di sampingnya tersenyum bahagia. Sebentar, apakah itu lebih mirip seringai kemenangan? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2