RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #25


__ADS_3

Sebentar lagi, semoga alur kisah hidup ini akan sampai pada happy ending.


-Ragil-


Azka mengerjapkan matanya. Ia tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai di sofa apartemennya. Akibat kelelahan yang begitu sangat, dirinya tertidur selama perjalanan dari kantor menuju apartemennya selepas mengantar Nita. Sepertinya Kara yang membawanya. Ah, Azka merasa malu membayangkan bagaimana bocah itu membawanya dari parkiran. Bagaimana lagi? sudah pasti bocah itu menggendongnya. Ya Tuhan!


Azka mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian meraih gelas berisi air di atas meja yang entah sejak kapan ada di sana. Sepertinya Kara meletakkannya untuk Azka. Setelah tenggorokannya lebih basah oleh air yang ia teguk, ia kemudian beranjak menuju dapur. Azka meletakkan gelas di atas bowl sink pencucian piring.


Ia hendak menuju kamarnya, saat matanya mendapati dua buah testpack yang ia gunakan pagi tadi. Ia segera meraihnya, menimbang-nimbang dengan senyum merekah di wajahnya. Ia mengusap perut yang masih rata itu seraya terus menggumamkan doa agar janin di sana akan tumbuh dengan sehat.


Azka menggenggam erat alat tes kehamilan itu. Ia sudah membulatkan tekad. Ia akan memberitahu Saga sepulangnya dari kantor. Dan karena ini sudah mendekati kepulangan suaminya itu. Ia tentu harus bersiap.


Azka berlari kecil ke arah kamarnya. Nyaris tersandung oleh kakinya sendiri. Ia kemudian memelankan langkahnya seraya mengelus perutnya. "Maaf ya, Bunda terlalu bahagia." ucapnya pada perut itu. Seolah-olah janin di dalamnya bisa mendengar apa yang ia ucapkan.


---


Setelah mandi, ia memilih satu buah terusan sebatas lutut berwarna biru muda. Ia kini tengah memandang dirinya di depan cermin. Mengoleskan krim malam diikuti dengan beberapa make up lain yang membuatnya lebih segar. Make up tipis yang disapukan pada wajahnya membuat dirinya merasa lebih percaya diri untuk memberikan berita bahagia ini untuk suami tercinta.


Ia berdiri seraya menggenggam dua buah alat pendeteksi kehamilan itu dengan erat. Sebentar lagi Saga akan pulang. Apakah ia harus menunggunya di kamar? Atau ia harus menyambutnya terlebih dahulu di depan pintu saat Saga datang? Ah, kenapa ia jadi segugup ini?


Akhirnya Azka memilih menunggu di ruang tamu. Ia akan mengajak Saga berbicara terlebih dahulu sebelum mengatakan berita yang pasti akan membuatnya senang. Setidaknya itu yang Azka harapkan. Namun saat ia sampai di pintu kamar, tepat saat di pintu depan juga terdengar tombol passcode ditekan, rasa mual itu kembali datang. Dengan cepat Azka menuju kamar mandi yang ada di sisi ruangan itu. Ia menumpahkan semuanya di sana. Tidak seperti biasanya, mual kali ini lebih hebat. Ada rasa nyeri di ulu hatinya. Ada rasa keram di pusat perutnya. Dan kombinasi itu membuatnya menangis.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, Saga menyeruak menuju ke arah Azka. Ia segera memegang kedua bahu istrinya itu. Entah mengapa sentuhan yang terasa di bahunya itu membuat rasa sedih dalam diri Azka semakin membuncah. Azka justru menangis sejadi-jadinya. Beginikah rasanya seseorang yang tengah hamil? Perubahan perasaan ini membuat Saga panik, sementara Azka merasa bingung dengan yang dirinya alami.


"Ssssh. Sayang, kenapa nangis? masih mual? ada yang sakit?" tanya Saga cepat. Ada nada panik dan khawatir dalam bicaranya.


Azka hanya menggeleng. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan ia bingung dengan apa yang saat ini membuatnya menangis tersedu-sedu.


"Yang? sakit banget perutnya? Bagian mana yang sakit?" Saga membalik tubuh Azka. mengelus dengan lembut perut Azka dengan tangannya. Namun Azka justru merasa tidak suka dengan hal itu. Ia tepis cepat-cepat tangan Saga yang sudah mendarat di perutnya dengan gerakan kasar.


"Yang, maaf. Sakit?" dan tangis Azka yang semakin menjadi membuat Saga kebingungan.


"Ayang kenapa?"


"Maafin aku. Aku gak tau aku kenapa. Maafin aku." hanya itu yang bisa Azka katakan untuk menyampaikan bahwa bukan maksudnya untuk menyentak tangan Saga begitu keras. Bukan maksudnya juga untuk menangis seperti ini, membuat Saga bingung dan juga panik.


Dengan cepat Saga meraih dua benda yang berbeda ukuran itu. Meneliti dengan raut kebingungan yang jelas tercetak di wajahnya. Ia tidak mengerti apa maksud tanda-tanda di sana. Dua garis merah yang warnanya sudah agak memudar. Tidak melihat benda yang lain, ia segera menarik kesimpulan bahwa, Jadi, Azka berharap mual muntahnya ini adalah pertanda hamil? Namun ternyata ia tidak benar-benar hamil?


Saga segera membuang dua benda itu ke sembarang arah. Membuat Azka membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka Saga akan membuang benda itu begitu saja. Apakah Saga sebegitu tidak inginnya jika ia benar-benar hamil?


"Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan itu ya. Aku.. Aku gak ingin kamu merasa terbeban dengan ini semua. Kita masih terlalu dini untuk memikirkannya sekarang. Sssh, kamu ga usah nangis hanya karena permintaan aku selama setahun kita menikah. Aku sebenernya gak pengen cepet-cepet punya anak kok. Kita bisa menundanya oke. Kita akan mulai lagi program kehamilan nanti, setelah kondisi kamu, kita sudah lebih baik." Deg!


Ada rasa perih di ulu hati Azka mendengar itu semua. Bahkan Azka belum menjelaskan apa-apa. Azka juga belum mengatakan bahwa sebenarnya sudah ada bayi mereka di perutnya. Namun mendengar apa yang Saga katakan, dirinya merasa bahwa sepertinya hanya dirinya yang menginginkan bayi ini sekarang. Dan Azka memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Ia akan memberitahu Saga nanti, tidak hari ini. Dengan menekan perasaan sesak di dadanya, Azka bangkit. Melepas begitu saja pegangan tangan Saga di bahunya. Ia kemudian melangkah ke arah kamar mereka. Mendudukkan diri kembali di depan cermin. Ia menghapus semua make up yang ada di wajahnya. Make up ini sudah tidak diperlukan, pikirnya.

__ADS_1


Saga melihat dengan hati meringis. Ia hanya bisa diam. Ia berpikir bahwa Azka mungkin masih belum tenang. Ia mungkin masih terlalu berharap pada hasil yang membahagiakan. Dan Saga mencoba memahami itu. Alih-alih mendekati Azka, ia justru keluar kamar untuk menyiapkan makan malam mereka dengan beberapa makanan yang tadi ia beli di perjalanan.


Azka melirik dari balik cermin. Ia sungguh kecewa saat ini. Bahkan Saga tidak melirik ke arahnya. Ia pun memilih untuk mulai membiasakan dirinya. Ia akan menjaga bayinya, meski Saga belum menginginkannya. Ia berjanji, bahwa ia akan membuat Saga menerima mereka. "Maaf ya Baby, Ayah kamu bukan gak mau kamu. Dia hanya belum tahu bahwa kamu lucu. Nanti bunda akan bilang sama Ayah. Bunda yakin, Ayah sangat sayang sama kamu. Sehat-sehat ya Baby." ucap Azka ke arah perutnya dengan suara lirih yang lembut.


Azka mengalihkan pandangannya dari perutnya ke arah ponsel di atas meja rias itu. Sebuah pesan masuk. Dari nomor yang jelas ia tahu siapa. Namanya tertera di sana.


Besok bisa ketemu gak Ka? Gue mau ngobrol bentar.


---


Ragil pulang ke rumah dengan seluruh lelah di badannya. Ia merindukan kasurnya. Ia juga ingin memastikan bahwa Marsha sudah pulang. Bahwa wanita itu sudah tak lagi di sana. Ia buka pintu rumah perlahan. Ia segera disambut dengan beberapa barang yang tergeletak tak beraturan di lantai.


"Sialan! rumah gue ancur gini!" gumamnya.


Ia segera masuk melewati begitu saja beberapa barang yang tergeletak. Ada juga gelas yang sudah pecah di lantai. Ia melesat menuju kamar Marsha. Ia dorong pintu kamar itu hingga terbuka dengan lebar. Marsha sepertinya sudah pergi. Terlihat dari kamarnya yang terasa lebih kosong. Kopernya sudah tak ada, Ragil membuka lemari pakaian yang ternyata sudah kosong menyisakan handuk yang terlipat di dalamnya.


"Akhirnya, pulang juga itu orang." Ragil tersenyum sekilas. "Tunggu sampe gue juga pulang, dan kita selesai." tambahnya.


Ia beranjak dari sana. Meraih ponselnya di saku celana sebelah kanan. Ia mengirim pesan pada seseorang yang biasa ia mintakan bantuan untuk membersihkan rumahnya. Lalu ketika tubuhnya sudah berada di kamarnya, ia segera melepas seluruh pakaiannya. Ragil butuh mandi, mengguyur tubuhnya dengan air agar dirinya merasa lebih segar. Terlebih, dirinya butuh mandi agar pikirannya lebih jernih setelah seharian begitu penat dan lelah.


Ragil melilitkan handuk di sebatas pinggangnya. Meletakkan handuk yang lebih kecil di lehernya untuk ia gunakan mengeringkan rambut yang sudah lebih panjang dari biasanya. Ia kemudian ingat akan menghubungi Azka tentang ajakannya untuk bertemu. Ya, Ragil merasa perlu berterima kasih secara langsung pada wanita itu. Dengan begitu, dirinya akan merasa lega. Dan ia juga berharap bahwa setelah itu, Azka juga akan merasa senang karena dirinya sudah membantu Ragil berhasil sampai pada tujuannya, menceraikan Marsha. Ia hanya ingin mengatakan pada Azka, bahwa dirinya juga akan segera menemukan alur cerita hidupnya sendiri setelah ini. Alur cerita yang akan membawanya pada happy ending seperti yang ia impikan. Seperti yang kini Azka rasakan.

__ADS_1


Besok bisa ketemu gak Ka? Gue mau ngobrol bentar.


Pesan terkirim, ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dan menuju lemari pakaian untuk mengambil selembar baju untuk ia kenakan.


__ADS_2