
Ketika aku merasa hilang pijakan, hadirmu membuat rasa risau ini hilang.
-Ragil-
"Ragil"
Panggil Azka saat sudah berada di belakang pemuda itu. Ragil menoleh, ada gurat keterkejutan di wajahnya. Beberapa saat dirinya hanya terpaku pada sosok perempuan yang ada di hadapannya. Namun kemudian Ia bisa memenangkan suasana. Ragil tersenyum. Senyum yang manis dan tulus. Senyum yang telah lama, sangat lama, tidak Azka lihat. Senyum yang dulu bisa meluluhlantakkan pertahanan hatinya. Tapi kini Azka sudah lebih kuat untuk tidak memecahkan hatinya yang memang sudah berkeping-keping itu.
"Azka?" Ragil membalik tubuhnya sempurna. Kini keduanya benar-benar berada dalam satu garis lurus. Tatapan mereka masih beradu, keduanya seolah enggan menjauh apalagi memutus tatapan. Sekilas, sensasi hangat yang dialirkan dari tatapan teduh keduanya menjalari seluruh perasaan. Mereka berdua larut pada dalamnya tatapan yang tercipta. Hingga akhirnya Azka memilih memutus kontak matanya. Ia menunduk sejenak, lalu kembali mendongak menatap pemuda pemilik netra gelap itu.
"Kamu di sini Gil?" tanya Azka memulai pembicaraan.
"Ya, ini dekat dengan tempat tugas Gue Ka" jawab Ragil ikut menunduk. Sepertinya Ia baru sadar sudah menatap perempuan yang pasti sudah tidak gadis itu begitu lama. Ah, Perempuan ini adalah gadisnya dulu.
"Kemarin dateng ke nikahan Anda ya? Kirain masih di sana?" Azka mencoba mencari celah untuk bisa mencari tahu sesuatu yang di bahas Ocha kemarin. Azka menelisik tampilan pemuda itu. Tidak ada yang berubah, hanya saja wajahnya sedikit terlihat kacau. Kantung matanya sedikit membengkak dan menghitam. Ada gurat lelah dan kecewa di sana. Azka semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada seorang Ragil hingga tampilannya sekacau ini.
"Oh Iya. Gue pulang kemarin. Ada urusan keluarga juga. Mendesak" Ucapnya sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Azka.
"Oh, mm—Ibu kamu sakit?" Azka berdoa dalam hati agar nada bicaranya tidak terlalu terlihat seperti orang yang sedang KEPO akut.
"Kok Lo bisa tau?" ucapnya memicingkan matanya. Hal itu membuat degub jantung Azka semakin bertalu-talu. Ia harus menjawab apa? Tidakkah ini sangat terkesan ingin tahu? Atau lebih parahnya terkesan bahwa Azka masih ingin tahu tentang pemuda itu? Ah, bagaimana jika Ragil merasa dirinya seperti stalker yang selalu menguntit informasi kehidupannya? "Tau dari mana Ka?" pertanyaan yang sederhana tapi membuat Azka gugup seketika.
"Ah, kemarin aku lagi chat sama Ocha dan—"
"Oh, Ocha. Iya iya. Gue juga ketemu Ocha sama Rizky kemarin di pernikahan Anda" Ragil mengangguk tanda mengerti. Azka pun ikut menganggukkan kepalanya. Lega karena merasa tidak perlu terlalu banyak bicara dan lawan bicaranya telah menangkap maksudnya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan gugup yang mendera.
"Jangan gigitin bibir gitu depan Gue, Ka"
"Eh?"
"Gue takut khilaf" Ragil menjeda sebentar, "Lo udah punya suami soalnya" Ia terkekeh.
"Apa?" Azka terbelalak, Lalu mendengus karena merasa kesal dengan ucapan Ragil.
"Maaf" Ucap Azka kemudian, yang justru membuat Ragil tergelak di tempatnya.
"Kenapa Lo gak duduk dulu Ka?" Ucap Ragil menepuk bangku di hadapannya yang sedari tadi kosong tak berpenghuni.
__ADS_1
"Ah, kayaknya gak usah deh Gil. Saga bentar lagi dateng mungkin" semua yang tadi akan Ia tanyakan mendadak menghilang dari kepalanya. Kepalanya sudah dipenuhi dengan fakta bahwa dirinya ke sana bersama Saga. Azka berdoa semoga Saga tidak melihat dengan siapa dirinya saat ini berbicara. Azka tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya.
"Jadi Lo udah tau apa aja dari Ocha?"
"Hmm?" Azka mengalihkan pandangannya ke segala arah, haruskah Ia menyuarakan rasa penasarannya? "Ibu kamu katanya sakit? Sakit apa?"
"Sakit apa yah? Jantungnya lemah karena terlalu sering naik darah. Terutama dalam dua bulan ini"
"Kok bisa?"
"Lo pengen tau banget?" Ragil terkekeh, garis tegas di wajahnya terlihat jelas. "Ibu di rawat di sini kok. Di Jakarta. Kali-kali Lo mau jenguk Ibu" lanjutnya saat kekehan itu hilang dari bibirnya.
"Oh, Abang kamu di sini juga?"
"Enggak. Ibu aja. Gue yang nemenin" Azka ber ooh ria.
"Ibu di rawat di mana?" Azka memberanikan diri bertanya.
"Gue kasih alamatnya nanti. Masih punya nomor Gue?"
"Eh, emm hape aku ilang beberapa waktu lalu Gil. Jadi kontaknya ilang semua"
"Nih, nanti kirim aja lokasinya sama ruangannya. Aku mau jenguk Ibu kamu"
"Siap" Ucap Ragil mengacungkan jempolnya.
"Emmmh, Aku masih pengen nanya sesuatu sih sama kamu, tap—"
Tin!
Tin!
"Aku pamit dulu Gil. Jangan lupa kabarin aku" ucap Azka kemudian beranjak pergi.
"Tanyain semua yang pengen Lo tanya pas kita ketemu Ka" ucap Ragil membuat langkah Azka terhenti. Lalu berbalik dan tersenyum sekilas. Ia melanjutkan langkahnya menuju mobil Saga yang sudah terparkir di seberang sana.
Saga yang berada di dalam mobil menunggu Azka menghampirinya. Ia mengernyit, pasalnya Azka sedang berbicara dengan seseorang. Dan posisi berhentinya kini tidak mendukung untuknya melihat siapa yang sedang berbicara dengan istrinya. Jadi yang dia lakukan adalah menunggu saja.
__ADS_1
Azka mendekat dengan perasaan tidak karuan. Ia gugup jika Saga bertanya dengan siapa tadi Ia bicara. Tapi Ia tidak harus menutupi ini kan? Tapi apa Ia nanti akan tetap bisa menjenguk Tante Nuri jika Saga tahu bahwa yang akan di jenguknya adalah Ibu dari Ragil? Azka menggeleng, menyadari dirinya sudah berada di depan pintu mobil. Ia buka pintu mobil dengan satu tangannya. Lalu Ia biarkan tubuhnya melesak ke dalam mobil itu. Azka meletakkan tas tangannya di bawah kaki. Saat dirinya menegakkan tubuh, Ia menyadari bahwa Saga memperhatikannya sedari tadi.
Tangan Saga terulur, menarik seatbelt di sisi kiri Azka dan menariknya melingkupi tubuh Azka. Kini Azka sudah tertahan seatbelt di depan dada dan perutnya. Saga mengelus pipi mulus milik Azka sekilas, Lalu dirinya tersenyum.
"Tadi ke minimarket ngapain?"
"Eh?" Azka tergagap mendengar pertanyaan Saga. "Emm itu, aku nyari piring kertas buat kue, tapi ternyata enggak ada" Hanya itu yang terpikir oleh Azka. Ia menghela napas beratnya. Mencoba menenangkan dirinya dari kebohongan yang sekali lagi mulai Ia bangun terhadap Saga, suaminya sendiri.
"Oh, kenapa gak bilang mau beli itu. Tadi kita bisa ke supermarket dulu. Besok aku anterin ya?"
"Eh, gak usah Ay. Besok aku sendiri aja. Aku juga pengen keliling di sini biar tau tempat. Sekalian beli bahan-bahan bikin kuenya"
Saga mengangguk tanda setuju. "Oke, bilang aja kalo butuh di jemput ya? Kerjaan aku masih ga terlalu padat minggu ini" Ucap Saga. Ia memalingkan wajahnya ke depan. Menghidupkan kembali mesin mobilnya seraya melirik sekilas pada wajah cantik yang bersinar terkena pancaran lampu jalan di sampingnya. "Kita pulang?"
"Emm" Gumam Azka menyetujui ajakan Saga.
Mobil pun melaju, membelah jalanan di sekitarnya menuju sebuah apartemen yang akan menjadi tempat berlabuh segala peluh yang mereka rasa hari ini.
---
Ragil memutuskan kembali ke Rumah Sakit tempat Nuri, Ibunya tengah di rawat. Dengan perlahan Ia mendorong pintu kaca di hadapannya. Pintu terbuka dengan derit yang nyaris tak terdengar. Ragil berjalan gontai. Dirinya seperti kehilangan pijakan. Ia pusing. Masalah yang datang padanya kali ini begitu pelik dan Ia belum menemukan solusi untuk itu. Ditambah kondisi Nuri yang justru menurun.
"Beg**! Ragil Beg**!" Ia mengumpat dalam lirih suaranya.
"Marsha, kalo Ibu sampe kenapa-kenapa, Lo yang pertama kali akan dapet balasannya" Ia mendengus kasar, mengusap wajahnya dan mengguyar rambutnya sampai berantakan. Rasanya Ia tidak pernah sefrustasi ini. Bahkan ketika terakhir kali dirinya bertemu Azka dan ditinggal menikah oleh gadis itu, Ragil justru mendapatkan ketenangan. Kenapa Marsha kembali pada dirinya setelah tujuh tahun menghilang? Dan kenapa dia harus membawa masalah itu di depan orang tuanya?
"B******!!!" Ragil menendang keras udara di depannya. Ponsel yang ada di sakunya sampai terjungkal dan terserak di lantai. Ia melirik sekilas ke arah Nuri, takut kalau-kalau Ibunya yang terbaring sakit itu terbangun akibat usik yang dibuat olehnya. Pandangannya kemudian jatuh pada benda persegi yang sudah tergeletak di bawah sana. Tidak ada yang berubah meski benda itu terlempar dengan kuat ke lantai. Ragil bersyukur untuk itu. Ia raih benda pipih itu. Membuka icon kontak di layar depannya.
Setelah mengetikkan sebuah nama, Ia mengklik tanda pesan. Berbekal kelihaian tangannya, Ia mampu mengetikkan sederet pesan hanya dengan satu jarinya dengan cepat. Ia menggeletakkan benda itu di atas nakas di sebelahnya. Lalu terlelap begitu saja karena lelah yang Ia rasa.
Rumah Sakit Royal Taruna
Ruang Cengkih nomor 3A.
a.n Nuri Hapsari
__ADS_1
terkirim.