
Rasa penasaran itu bisa membunuhmu secara perlahan jika terus di ikuti. Tolong untuk tidak tersakiti lagi setelah ini.
-Ragil-
Tepuk tangan bergemuruh di ruangan bundar itu. Beberapa orang terlihat berdiri sambil terus menepukkan kedua tangannya kuat-kuat. Tiga orang di atas panggung membungkuk beberapa kali sebagai tanda hormat dan terima kasih. Ya, penelitian tentang pengolahan segala jenis sampah dengan agen biologi yang telah dilakukan di berbagai kota, survey terhadap kepuasan, dan pengajuan pembuatan instalasi nasional di beberapa kota itu di terima. Kini, mereka bisa berharap bahwa proyek ini nantinya akan bisa dilakukan secara nasional seperti di Swedia.
Selesai menerima beberapa bingkisan, ketiganya turun. Mereka menuju seluruh tim yang tengah menunggu di pinggir podium. Dengan wajah-wajah bahagia dan bersemangat menjemput proyek dan pekerjaan baru. Azka, salah satu diantara tiga orang itu turun lebih dulu. Ia berjalan cepat ke arah Kara yang sudah tersenyum ke arahnya. Ia menghambur pada pemuda yang telah banyak membantu timnya tersebut.
"Thanks Kara." ucap Azka setelah pelukan singkat itu Ia berikan.
"Uŕ welcome Teh. Selamat, semoga saya masih bisa lanjut bersama tim ini." Kara berharap.
"Oh, tentu Kar. Kamu terhebat. Kamu membantu kami lebih banyak dari yang kami harapkan." Azka bersungguh-sungguh.
"Ya.. saya memang hebat." ucapnya bangga.
Lalu saat dua orang lainnya turun, Azka melebur bersama seluruh timnya. Menumpuk tangan lalu meneriakkan jargon yang mereka buat untuk menyemangati mereka ketika melaksanakan penelitian.
Mereka keluar ketika acara seminar telah ditutup oleh sang MC. Mereka melangkah gontai karena kelelahan menuju ruangan khusus yang disediakan untuk mereka. Meski demikian, raut wajah mereka terlihat puas dan bangga. Akan ada acara penutupan setelah ini.
---
Azka keluar dari ballroom tempat acara pameran dan seminar yang tadi baru saja ia ikuti. Ia tidak ingin mengikuti acara penutupnya, karena dirinya merasa sangat lelah setelah hampir tidak tidur tiga hari ini. Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, dirinya memilih berdiri di samping pagar pembatas yang ada di bagian depan ballroom. Ah, ia merindukan Saga. Suaminya itu sedang apa? pasti ia juga sedang sibuk dengan proyek besar yang sedang ia tangani. Bahkan ia tidak datang sebagai tamu undangan di pameran ini, dan lebih memilih diwakilkan oleh salah satu staffnya.
Azka mendial nomor suaminya itu, menunggu dalam diam dengan diselingi bunyi nada sambung dari ponselnya. Nihil. Saga tidak mengangkat, Azka lirik penunjuk waktu di sudut kanan layar ponselnya. 18.30. Apakah suaminya masih di masjid? Azka mencoba kembali mendial nomor yang sejak tadi masih tertera di layar. Pada sambungan ketiga, suara Saga menyapa di seberang sana.
"Halo, Assalamu'alaikum." sapanya dengan suara lembut seperti biasanya.
"Wa'alaikumsalam Ay, kamu sudah makan? masih di kantor ya?" tanya Azka beruntun.
"Sudah, tadi makan sama Dimas di kantor. Aku masih di kantor Yang, masih banyak yang harus diurus." jawab Saga tanpa menghilangkan nada lembut dalam suaranya. "Bagaimana? lancar presentasinya?" kini giliran Saga yang melontarkan pertanyaan.
"Lancar, dan sangat diluar dugaan. Proyek ini akan didanai oleh para donatur untuk pembuatan instalasi nasionalnya. Aku merasa luar biasa." ucap Azka takjub.
"Syukurlah, wah aku akan sering ditinggal nih sama istri aku." ledeknya.
"Hanya sementara, sampai instalasi itu selesai dibangun. Sepertinya kami juga akan menambah orang untuk menjadi tim ahli. Jadi aku tidak akan sesibuk sekarang." Azka menggerak-gerakkan kakinya, membuat ketukan-ketukan di lantai dengan suara yang samar. Ia membalik tubuhnya menghadap ke lantai di bawahnya. Menyaksikan bagaimana riuhnya orang-orang di loby hotel. Keluar masuk, berjalan terburu-buru. Bahkan ada yang bertabrakan karena tidak fokus berjalan.
"Baguslah. Oiya, malam ini pulang jam berapa? apa aku harus menjemput?" tanya Saga dari seberang telepon.
__ADS_1
"Boleh, nanti-" tiba-tiba suaranya terhenti. Ia melihat kembalo wanita itu. Kini ia tengah bergelayut manja di lengan laki-laki yang sama dengan yang ia lihat siang tadi. Mereka baru saja memasuki pintu lobi, menuju ke meja resepsionis.
"Nanti? halo Yang? kamu masih di sana?" suara Saga berdengung di telinganya. Namun pandangannya tak lepas dari dua sosok yang membuat perutnya mual. Wanita itu, benar-benar perusak hidup Ragil!
Bersamaan dengan menghilangnya bayangan dua orang itu dari pandangan Azka, dirinya kemudian mengatakan akan mengabari Saga lagi nanti. Dengan secepat kilat dirinya menuruni tangga melengkung di sana. Berjalan menuju kemana dua sosok tadi menghilang. Ia menggenggam erat ponselnya. Menyiapkan kamera dalam mode aktif. Ia ingat betul bahwa Ragil akan mengajukan gugatan cerai pada wanita itu. Mungkin bukti ini akan mempermudah prosesnya. Perasaan iba pada wanita itu karena ditinggal Ragil sejak mereka menikah hilang seketika. Berganti dengan rasa benci karena wanita itu sudah mengambil kehidupan normal Ragil-nya. orang yang Ia selalu semogakan kebahagiaan dalam hidupnya.
Jantungnya berdetak cepat, berdentum-dentum lebih cepat dari langkahnya yang terburu-buru. Memasuki lorong di sisi kiri hotel, Ia melangkahkan kakinya mengantarkan dirinya menuju deretan pintu-pintu bernomor yang di dalamnya terdapat kamar dengan dekorasi yang mewah.
Dua sosok itu berhenti di salah satu kamar. Azka sudah pasrah jika keduanya segera masuk ke dalam. Karena dengan begitu, dirinya tidak akan bisa memergoki mereka. Namun sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya. Keduanya, alih-alih masuk ke dalam kamar, justru saling berpagut bibir di depan sana. Hal itu membuat perut Azka mual seketika. Gejolak di dalam perutnya nyaris membuatnya limbung. Namun ia tahan sekuat tenaga. Ia arahkan kamera itu ke pemandangan menjijikkan di depan sana.
Ckrek!
Ckrek!
Suara kamera itu bergema di sepanjang lorong. membuat Marsha, wanita yang Azka ikuti itu melepaskan pagutannya.
Azka segera mengalihkan dirinya menuju deretan lukisan yang di pajang di dinding di lorong itu. Sambil merutuki diri sendiri kenapa tidak menon aktifkan suara kamera sebelum beraksi. Marsha menyipitkan matanya, Ia sepertinya tahu siapa wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Bersamaan dengan langkah berbalik yang dilakukan Azka, Marsha mengikuti dengan langkah terburu-buru. Memastikan bahwa apa yang ia lakukan tidak diketahui siapapun. Terlebih jika yang mengetahuinya adalah Azka.
"Azka!" teriakan Marsha membuat Azka gugup, ia mempercepat langkahnya. Jangan sampai dirinya ketahuan. Bisa saja Marsha akan membalas dendam padanya setelah ini. Langkah kaki Marsha yang cepat semakin nyaring terdengar. Ia ingin lari, tapi itu akan semakin membongkar kedoknya. Sampai akhirnya satu lengan menariknya dari lorong itu masuk ke dalam sebuah kamar. Tubuh Azka yang terhuyung tidak mampu menjaga keseimbangannya. Ia menubruk tubuh lain yang ia rasa milik si penyelamat yang beberapa saat lalu menariknya dari kejaran Marsha.
"Lo ngapain Ka?" tanya seseorang itu, masih dengan posisi yang sama. Deru napasnya yang kasar dan tidak beraturan menerpa puncak kepala Azka.
Perlahan, Azka menjauhkan tubuhnya, dan tanpa paksaan lengan itu semakin mengendur melepaskan ikatannya dari tubuh mungil Azka. Azka mendongak, saat jarak sudah tercipta. Mendapati Ragil adalah seseorang yang menariknya tadi, ada perasaan yang tidak beraturan di sudut hatinya. Ia senang, tapi juga takut. Ia takut karena merasa sudah semakin ikut campur dalam urusan keluarga kecil itu. Namun Ia senang bahwa yang menolongnya adalah orang yang ia kenal. Bukan penculik, misalnya.
"Eh- emm.. aku lagi," Ia menggenggam erat ponselnya. alat yang tadi ia gunakan untuk memergoki Marsha, yang adalah istri dari laki-laki di depannya.
"Lo ngapain ngikutin Marsha?"
"Eh?" ternyata dirinya sudah ketahuan. " Aku lihat dia dari tadi siang di sini. Aku lagi, trus.. emm-" Azka bingung harus menjelaskan dari mana.
"Lo gak pernah tahu Marsha itu segila apa. Jangan bawa diri Lo dalam masalah Ka. apalagi masalah itu berhubungan lagi sama Gue." ucap Ragil dengan suara yang lemah.
"Tapi aku bisa bantu kamu dengan bukti ini." Azka menyodorkan ponselnya. Dua gambar Marsha dan Reno yang tengah berciuman itu ada diantara gambar lainnya. Ragil membelalak, Ia ambil ponsel itu. Ia lalu membawanya ke ruangan lain di kamar itu.
"Masukin ini sebagai bukti Rif." Ragil menyerahkan ponsel itu kepada Arif. Azka baru menyadari bahwa ada orang lain di kamar itu.
"Lama amat depan pintu. Lo berdua ngapain dulu?" pertanyaan itu membuat keduanya jadi kikuk.
__ADS_1
"Lo kenalan dulu kek. Main ngomong gak jelas aja Lo!" timpal Ragil menjatuhkan dirinya di sofa sebelah Arif.
"Kambing! awas aja lo ternyata main belakang juga. Kagak ada beda Lo sama Marsha! emang dasar jodoh mah gak jauh beda."
"Asus!" sembur Ragil. Laki-laki bernama Arif itu tertawa.
"Duduk Ka. Ini Arif, temen gue yang bantuin buat urus perceraian gue. Rif, ini Azka. Dia... temen SMA gue." kentara sekali ada kegugupan di suara Ragil saat mengenalkan Azka.
"Arif."
"Azka."
"Jadi ini Lo yang ambil gambarnya Ka?" tanya Arif.
"Iya." jawab Azka jujur.
"Kenapa Lo ngikutin Marsha?" pertanyaan itu membuat Azka terdiam. Ia tidak tahu apakah alasannya masuk akal. Dirinya hanya membenci Marsha karena wanita itu telah berselingkuh dari Ragil. Tapi di luar itu semua, Ia hanya mengikuti rasa penasarannya. Dan mendapati ternyata Marsha melakukan hal menjijikkan di depannya, Ia sungguh merasa tidak rela. Tidak rela bahwa Ragil, harus berakhir dengan wanita semacam itu. Jadi? apa semuanya masuk akal?
---
"Teh, kamu kemana aja?" Kara terlihat panik saat melihat Azka kembali ke ballroom.
"Aku, tadi ke toilet sebentar. Trus nyari angin seger." jawab Azka berusaha tenang dan bersikap normal.
"Kamu mual muntah lagi?" tanya Kara lagi.
"Enggak kok, emm.. acaranya udah selesai?" Azka mengalihkan pembicaraan.
"Udah, yang lain udah ke kamar . Barang-barang udah diberesin. Kita lagi siap-siap pulang." jelas Kara.
"Oke deh."
"Yaudah yuk, kita kesana. Kasian yang lain udah pada nunggu." ucap Kara menarik lengan Azka.
"Kar, nanti pulangnya aku mau beli dulu sesuatu boleh?"
"Boleh, mau beli apa?"
"Aku tiba-tiba pengen pisang goreng pake saos." ucap Azka polos.
__ADS_1
"Hah?"