RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Ternyata, saat kau mencintai wanita kau akan bahagia.


Saat Ia menemukan pria idamannya, kau pasti mendoakan mereka bahagia selamanya.


-Ragil-


Ragil akan kembali ke tempat kerjanya hari ini. Ia akan kembali ke tanah perantauan. Lebih dari dua minggu Ia selalu menemani Ibu yang bolak balik ke rumah sakit untuk terapi, sampai Ia tidak punya waktu untuk menemui siapapun disini. Maka sebelum Ia benar-benar kembali, Ia ingin mengunjungi suatu tempat. Sebuah tempat dimana seseorang berada, yang mungkin akan menjadi labuhan hatinya. Setelah selaksa peristiwa menerpanya silih berganti, Ragil akhirnya memutuskan apa yang akan Ia lakukan. Ia akan mencoba berbicara, dari hati ke hati, tentang sebuah perasaan yang mungkin sudah lama bersembunyi.


Ragil merapihkan tas ranselnya. Koper yang Ia bawa saat pulang Ia kirim melalui jasa pengiriman menuju mess kerjanya. Ia berpamitan kepada Ibu sebelum akhirnya masuk ke mobil yang dikendarai Pak Ganjar. Setelah Ia menutup pintu, mobil melaju meninggalkan rumah yang berada di gang kecil itu, melenggang lepas di atas jalanan. Di dalamnya, Ragil terus melayangkan pikirnya pada seorang gadis nun jauh disana. Khayalan-khayalannya telah terbang bersama deru mesin mobil yang membawanya. Semua reka kejadian yang diimpikannya berputar-putar. Bukan, bukan lagi kenangan yang Ia bayangkan saat ini. Melainkan semua kejadian di masa depan yang Ia reka sendiri untuk memenuhi imajinya.


Bukan ke Jakarta, Ragil memilih penerbangan dari kotanya menuju Bandung. Selama kurang lebih 75 menit penerbangan, Ia sampai di bandara Husein Sastranegara. Segera Ia pesan taksi Online untuk mengantarnya ke sebuah tempat. Notifikasi muncul di ponsel pintarnya, menunjukkan informasi mobil dan driver yang akan mengantarnya sudah sampai. Buru-buru Ia membawa dirinya berjalan menuju sebuah mobil Honda Mobilio yang sudah menunggu.


Mobil taksi online yang ditumpangi Ragil mulai memasuki sebuah area sebuah kampus terkenal di Kota Bandung. Ragil memberikan pesan untuk menurunkannya di depan lobi sebuah gedung fakultas. Sopir yang mengerti segera mengangguk dan menyunggingkan senyum melalui kaca spion.


"Kembalinya ambil aja Pak" ucap Ragil saat dirinya sudah turun sambil menggendong tas ransel di punggungnya.


Bagai pucuk dicinta, ulampun tiba. Gadis yang ingin Ia temui sedang berdiri tak jauh darinya. Sepertinya Ia sedang bercakap dengan mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti kelas asistensinya. Ragil melangkah mendekat, mengikis jarak diantara mereka.


"Azka" Panggilnya saat dua mahasiswa yang tadi berbicara dengan Azka sudah pamit undur diri. Merasa namanya dipanggil, Azkapun menoleh, mencari sosok yang menjadi sumber suara panggilan. Betapa terkejutnya Azka, mendapati Ragil berdiri di hadapannya.


"Ragil?"


"Hai" ucap Ragil santai.


"K-Kamu ngapain disini?" Azka tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Mau ketemu cewek cantik" ucapnya sembari mendekat.


"Cewek? Siapa?" tanya Azka penasaran


"Kamu"


"Hah??" Blush! Rasanya ada yang salah dengan dirinya setelah mendengar ucapan Ragil. Perasaan membuncang memenuhi dadanya. Ada rasa menggelitik di perutnya seolah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan. Segera Azka menyadarkan dirinya. Memasang wajah senormal mungkin. Masa bodoh dengan wajahnya yang memerah. Azka rasanya ingin segera melarikan diri dari tempatnya saat ini jika saja hal itu bisa Ia lakukan.


"Kamu mau ketemu aku?" tanya Azka akhirnya, setelah sekian detik Ia berjuang melawan detak dalam dadanya yang rasanya hampir berhasil memporak-porandakan dirinya.


"Iya, katanya Gue boleh ngunjungin Lo" Ragil masih terlihat santai. Senyum terus mengembang di wajahnya.


"O-Oh, I-Iya, boleh. Kita ke—" Azka gugup. Ia tidak memiliki ide harus membawa Ragil kemana. Ini kampus!! Rasanya tidak mungkin jika Ia harus mengobrol di sekitar sini berdua dengan Ragil. Tapi dimana?


"Kemana aja Ka, asal sama kamu" Lagi! Baru sesaat Ia bertemu dengan laki-laki di depannya ini, tapi jantungnya sudah nyaris dibuat copot dari tempatnya.


Maka, berakhirlah mereka berdua disini. Sebuah tempat wisata di pusat kota yang biasa digunakan untuk menghabiskan waktu liburan dengan keluarga. Mereka duduk di sebuah kursi taman panjang di bawah sebuah pohon rindang.

__ADS_1


"Kamu baru sampe?" Tanya Azka melihat penampilan Ragil yang membawa sebuah ransel di punggungnya.


"Iya, baru banget. Sampe Husein langsung ke Kampus Lo. Untung Lo ada di depan, Gue tadi mikirnya gue harus nyari-nyari Lo sambil nanya-nanya ke orang-orang gitu" ucapnya riang


"Kamu udah makan?" dari sekian banyak pertanyaan, pertanyaan 'sudah makan belum' yang justru terpilih untuk dilontarkan kepada laki-laki di sebelahnya.


"Udah tadi di rumah" jawabnya enteng.


"Di rumah?" alis Azka menukik turun, "Sebelum berangkat maksud kamu? Itu mah sarapan Gil!" ucap Azka yang mengerti maksudnya.


"Hehehehe, Gak apa-apa, nanti aja gampang makan mah"


"Ih, gak boleh gitu, Ayo kita makan!" ajak Azka yang tiba-tiba berdiri dengan menarik lengan Ragil. Ragil yang tangannya ditarik justru diam melihat lengannya yang sudah tergantung di udara. Merasa orang yang di ajak tidak bergerak Azka berbalik. Ia mendapati Ragil yang tengah terkejut memandang lengannya. Buru-buru Azka lepaskan pegangannya pada lengan Ragil. Ia berdeham, lalu melipat tangannya di depan dada "Ayo, cepetan. Nanti kalo kamu sakit bisa repot" ucap Azka mulai berjalan meninggalkan Ragil.


"Sebelum ini, Gue sempet ke Bandung" Ragil memulai percakapan setelah mereka sampai, "Tapi sayang, gue gak ketemu Lo Ka. Padahal tujuan utama ke Bandung mau ketemu Lo"


"Kenapa bisa gitu?"


"Gue malah ketemu Tama. Trus dia malah nggak ngebolehin Gue karena katanya lo lagi sama pacar" Ragil mendongak, matanya menerawang jauh.


"Kenapa kamu gak ngehubungin aku dulu?" Ah, Iya! Itu letak kebodohan Ragil. Ia justru langsung memutuskan kembali ke Jakarta setelah bertemu Saga saat itu.


"Nah, Itu bodohnya Gue Ka" seolah Ia tidak sanggup jika hanya merutuk dalam hati. "Padahal bisa jadi itu bukan pacar Lo kan?" Ia terkekeh


"Iya. Trus kemana kamu setelah itu? Kenapa kamu gak ngehubungin aku kalo kamu nitip sesuatu sama Saga?" Ah, menyebut nama itu rasanya hati Azka saat ini sungguh teriris.


"Apanya? Lirik lagunya? Ya Bagus. Itu lagu Sheila on seven kan?" tanya Azka menutupi perasaannya. Rasanya hatinya kini sudah remuk redam mendengar semua penuturan Ragil tentang kenangan itu.


"Iya, hemmmh Gue ngelewatin Lo terlalu lama ya?"


"Hah?" Lagi, Azka terkejut dengan apa yang diucapkan Ragil.


"Gue terlalu lama ya ngelewatin lo?" ulang Ragil menatap Azka dalam "Padahal Lo udah lama nunggu Gue kan! Bahkan ketika Lo bilang perasaan lo ke Gue, Gue tetep gak punya keberanian untuk melakukan apa-apa" Sesalnya


"Kamu kemana aja selama ini?" Suara Azka tercekat, rasanya satu pertanyaan itu sudah mewakili apa yang ingin Ia tanyakan pada laki-laki di hadapannya.


"Lo nungguin ya?" Ragil menarik nafas dalam, Lalu dengan perlahan Ia menggeser tangannya untuk menggenggam tangan Azka yang terulur di atas meja, "Gue terlambat gak sih, Ka?" Azka terperanjat saat tangannya digenggam oleh Ragil secara tiba-tiba. Karena ulahnya, Ragil tiba-tiba saja terdiam. Pandangannya terkunci pada sebuah benda yang melingkar di jari manis Azka. "Ka?" sebutnya lirih, segera Azka melepas tangannya dari genggaman Ragil.


"Maaf Gil" ucapnya lirih.


Ragil tertawa sekilas, lebih mirip dengusan sebenarnya, "Kenapa lo yang minta maaf Ka?" Ia terlihat menarik nafas dalam-dalam "Harusnya Gue yang minta maaf. Udah nyiksa Lo dengan perasaan itu sebegitu lama. Dan ketika gue sadar, gue udah gak bisa lagi bantuin Lo berjuang. Sorry Ka" Detik selanjutnya, bulir-bulir bening itu sudah meluncur begitu saja dari kelopak mata yang menahannya. Azka terisak, Berkali-kali Ia mencoba menahan isaknya, tapi itu justru membuat suara yang keluar lebih keras dari sebelumnya.


Ragil bergerak, mendekat ke arah Azka. Ia menggeser kursi Azka hingga gadis itu duduk menghadapnya. Dalam posisi setengah berdiri, Ia menunduk, menarik tubuh mungil itu ke dalam rengkuhannya. Tangannya mengusap punggung Azka pelan,

__ADS_1


"Setelah ini, lo harus berjuang lebih keras dari kemarin-kemarin Ka. Lo harus berjuang lebih hebat untuk cinta yang akan lo dapet dari suami Lo" Isak Azka terdengar semakin pilu, bahunya bergetar, "Maafin Gue ya Ka"


Azka tak bisa berkata apapun setelah itu. Yang Ia tau adalah, rasanya Ia ingin menghentikan waktu untuk sementara, membiarkan dirinya berada dalam posisi itu lebih lama. Merasakan bahwa perasaannya terjawab. Merasakan bagaimana merayakan cinta untuk sesaat. Cinta yang telah lama dipendam, cinta yang bahkan mungkin tak bisa Ia hilangkan. Nyatanya, saat ini Ia merasa ingin berhenti. Disini.


---


Aku dalam kisahmu,


Bagai jarum jam yang mati


sebelum sampai pada menit yang dituju.


Aku dalam kisahmu,


Bak daun jatuh yang tertiup angin


sebelum berhasil memeluk tanah yang dirindu.


Aku dalam kisahmu,


Serupa karang yang retak


Sebelum diterpa terjangan ombak.


Aku dalam kisahmu,


Telah berhenti lebih dulu


Sebelum tertulis judul pada kisah itu.


-Azka-


------‐---------------------------------------------------------------------------


TAMAT.


Akan ada epilog dan lanjut season 2.


Semoga masih tetap bosa menghibur.


Nantikan season 2 Ragil dengan konflik yang lebih pelik.


Sedikit ya? iya. karena memang ga ingin di lama-lama. Salah satu tujuan menulis itu adalah membubuhkan kata TAMAT.

__ADS_1


See u di season 2 RAGIL.


Tapi sebelum itu, baca dulu epilog setelah bab ini ya😘


__ADS_2