RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH DUA


__ADS_3

Kamu harus memikirkan keputusanmu. Menemani seseorang yang hatinya sudah tidak lagi utuh itu pasti sulit. Aku tak tahu kapan aku akan 'sembuh' atau mungkin aku memang tak pernah merasa sakit dengan adanya perasaan ini.


-Azka-


Siang itu, Saga menghampiri Azka yang terlihat sedang sibuk membereskan peralatan praktikum. Ia memilih masuk ke ruangan laboratorium melalui pintu belakang dan duduk di dekat tempat Azka meletakkan tasnya. Hampir sepuluh menit berlalu, kehadiran Saga di sana tak disadari oleh Azka. Saga menikmati kegiatannya memandangi Azka dari belakang, sampai akhirnya Azka menoleh dan Ia menyunggingkan senyum untuk gadis di depan sana.


"Saga, sejak kapan disana?"Azka segera mendekati laki-laki itu ketika mendapatinya sedang asik duduk di bangku paling belakang di ruangan lab.


"Sejak sepuluh menit yang lalu" ucap Saga masih dengan senyum tersungging di wajahnya.


"Kenapa gak manggil? aku terlalu asik sampai gak sadar kamu dateng" ucap Azka mengambil tempat di kursi sebelah Saga. Ia menarik tasnya mendekat.


"Gak mau ganggu aja. Udah selesai hari ini?" tanya nya sambil terus memperhatikan Azka


"Udah, hari ini cuma dua kelas" jelas Azka sambil menutup risleting tasnya, lalu memeluknya di atas meja.


"Makan?" satu kata yang Azka pahami sebagai ajakan untuk makan siang bersama itu ditanggapinya dengan anggukan. Mereka berduapun keluar dari ruangan menuju kantin seperti biasa. Sesampainya di kantin, keduanya segera memesan makanan dan minuman. Saga mengajak Azka untuk duduk di kursi yang ada di sudut kiri karena disana terlihat masih kosong. Kantin masih terlihat sangat ramai meskipun jam makan siang sudah hampir berlalu.


Saga merogoh tasnya ketika mereka berdua sudah duduk menunggu pesanan datang. Ia mencari sebuah benda yang akan Ia berikan untuk Azka. Setelah mendapatkannya, perlahan-lahan Ia meletakkan benda berbentuk kotak berwarna merah itu di meja. Lalu Ia sorongkan benda itu mendekati Azka yang tengah sibuk melihat ke arah ponselnya.


"Apa nih?" tanya Azka terkejut lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Ragu-ragu Ia ambil kotak berwarna merah dihadapannya itu. Beberapa detik Ia memerhatikan kotak berwarna merah dengan lambang gajah di atasnya itu tanpa membukanya.


"Buka aja" ucap Saga


"Bukan prank kan?" tanya Azka ragu-ragu


"Bukan lah, buka aja. Itu oleh-oleh dari Bangkok. Belum sempet saya kasih ke Kakak" Azka mengangguk, lalu melihat kembali ke arah kotak yang ada di genggamannya.


"Dibuka nih?" tanya nya memastikan.


"Iya, buka aja. Semoga suka" ucap Saga sambil tersenyum.


Azka membuka kotak itu. Ekspresi Azka selanjutnya menunjukkan betapa terkejutnya Azka. Matanya membulat sempurna, sebelah tangannya mengatup mulutnya menyembunyikan teriakan yang hampir keluar begitu saja. Sebuah liontin, cantik sekali. Azka tidak tau apa yang khas dari liontin ini. Mengapa Saga memilih liontin itu sebagai hadiah dari kepulangannya dari Bangkok?


"Suka?" tanya Saga membuat Azka mendongak ke arahnya


"Ini cantik, tapi kenapa kamu memilih ini sebagai oleh-oleh?" tanya Azka ragu-ragu, "Aku pikir aku akan mendapat beberapa hiasan khas Thailand yang biasa dibawakan teman-temanku jika pulang dari sana" Ucap Azka kembali melirik liontin di kotak itu.


"Jadi, kakak lebih suka hadiah seperti itu?"


Azka menggeleng cepat, "Bukan. Bukan begitu maksudku Ga. Tapi, liontin ini terlihat mahal." Azka menutup kotak itu lagi. Ia menjadi ragu untuk menerimanya.


"Tidak berniat memakainya?" tanya Saga melihat Azka dan kotak yang sekarang sudah tertutup itu bergantian.


"Emm- aku gak biasa pake kalung" Azka beralasan.


"Apa kamu gak suka kak?" Saga mulai sedikit curiga, ada kecewa di nada bicaranya

__ADS_1


"Aku- aku suka sekali. Tapi aku takut menerimanya" ucap Azka jujur.


"Kenapa takut? Hahaha, ini bukan cincin lamaran! Dan kakak masih takut menerimanya?" Saga tertawa, "Padahal saya sudah berharap kamu aka pakai itu, pasti cantik" ucapnya kecewa.


"Maafkan aku Saga" Azka menyesal, "Tapi aku betul-betul tidak bisa menerima barang semacam ini" ucap Azka penuh penyesalan. Ia menyorongkan kotak itu kepada Saga. "Simpanlah, kamu bisa memberikan ini kepada Ibumu. Pasti beliau akan senang" Ucap Azka mencoba mencari pengalihan.


"Tapi itu saya beli untuk kamu-"


"Maaf" Ucap Azka memotong kalimat Saga. Beruntung pelayan datang membawakan pesanan mereka, Azka dengan sigap menerimanya dan mengajak Saga untuk makan terlebih dahulu.


"Jadi, proyek penelitian apa yang dibahas di sana?" tanya Azka mencoba mencairkan suasana, Ia melirik ke arah Saga yang tertunduk memakan makanannya. Dihadapannya teronggok kotak kecil berwarna merah yang tadi di kembalikan oleh Azka.


"Proyek penelitian kerjasama" ucap Saga singkat. Ia terus memakan makanannya hingga tandas lebih cepat dari Azka. Azka merasa suasana pertemuan pertama mereka menjadi sedikit menegangkan. Azka segera menghabiskan makanannya menyusul Saga yang sudah meletakkan sendok dan garpu di atas mangkok yang sudah kosong.


"Apa hanya jika orang itu yang memberi baru kamu mau menerima Kak?" Saga berbicara tepat saat Azka meletakkan sendok dan garpunya di tengah piring. Ia mendongak, tidak mengerti arah pembicaraan Saga.


"Maksud kamu?"


Saga menghela nafas pelan, "Lupakan. Mungkin saya memang tidak akan pernah bisa menggantikan dia di hati kamu" Azka mengernyit, masih menunggu kalimat apa lagi yang akan dikeluarkan oleh bibir Saga


"Apa memang benar selama itu dia tidak bisa pergi dari sana?" Saga menatap Azka. Azka mengerjap, Apa yang ingin Saga katakan?


"S-siapa?" Azka kehilangan kata-katanya sesaat, "Siapa yang sedang kamu bicarakan Saga?" Perasaan Azka mulai tidak enak.


Apa-apaan ini? Siapa yang sedang dibicarakan Saga? Azka.


"Jawab saja Kak. Saya yakin kamu mengerti siapa yang sedang kita bicarakan"


"Saya pikir, yang membuat hati kamu masih tertutup adalah masa lalu yang kamu ceritakan ke saya. Ternyata—" Saga menjeda kalimatnya.


"Ternyata ada orang lain lagi, yang bahkan gak pernah kamu sebut selama ini" Ia menyelesaikan kalimatnya


"Apa yang kamu tau tentang masa lalu aku?" Azka mulai menyadarkan dirinya bahwa Saga sedang membahas masalalunya yang satu itu. Masa lalu yang tak pernah Ia buka kepada siapapun kecuali Ocha dan Suci. Atau mungkin juga sebagian kepada Kara tanpa menyebutkan siapa orangnya.


"Apapun yang kamu tau, benar atau salah, kamu gak punya hak untuk memaksa, Saga" Ucap Azka dengan suara sedikit bergetar. Saga memandangnya, Ia mengambil buku catatan dan mengambil secarik kertas yang terselip disana. Saga meletakkannya pelan di atas meja. Ia menyodorkan kertas itu ke hadapan Azka. Azka mengernyit lagi untuk kesekian kalinya. Tanpa bertanya, Ia membuka kertas itu, dan membaca apa yang tertulis di sana. Hanya ada beberapa baris kalimat yang Azka tau itu dinukil dari sebuah lirik lagu.


Pandangannya seketika berubah saat Ia melihat inisial yang tertulis diakhir pesan. Pandangannya terkunci, bibirnya mengatup rapat, seketika itu juga jantungnya terpompa lebih cepat, menciptakan debum-debum keras pada dadanya. Tanpa Ia perintah, matanya mulai memanas.


"Darimana kamu dapet ini Ga?" tanya Azka lirih hampir tak terdengar, kalau saja posisi duduk mereka tidak berhadapan. Saga terdiam. Sepertinya langkahnya untuk memberikan kertas itu salah. Persis seperti dugaan Ocha saat Ia menghubunginya beberapa hari lalu. Azka akan terbawa perasaannya lagi jika mengetahui Ragil, begitu namanya disebut Ocha, ternyata mencarinya atau mungkin justru mengharapkannya.


Ya, Saga menghubungi Ocha. Perempuan yang baru dua kali Ia temui itu satu-satunya orang yang bisa Ia tanyai mengenai siapa orang yang menitipkan secarik kertas itu. Orang yang ternyata memiliki cerita paling dalam di hidup Azka. Orang yang tak pernah disebut, dibahas, atau mungkin berusaha disembunyikan Azka dari dunia diluar hatinya.


---


Ocha menerima pesan dari nomor yang tak Ia kenal. Setelah Ia membacanya Ia tau bahwa itu adalah nomor Saga. Ocha kemudian membalas pesannya. Saga meminta waktu untuk berbicara sebentar melalui telpon. Ocha menyanggupi untuk menelponnya saat Ia selesai menangani pasien terakhir. Setelah Ia selesai praktek, Ocha menelpon Saga. Pada dering ketiga suara laki-laki itu sudah terdengar di seberang telpon.


"Halo Saga, ada apa? Ada yang bisa kubantu?"

__ADS_1


"Maaf mengganggu Cha. Ada yang ingin saya tanyakan"


"Tentang?" tanya Ocha


"Tentang inisial R.A, apakah itu ada artinya?"


Ocha terdiam sejenak, Saga tau dari mana? "Kamu kenapa tanya itu ke aku? Memang kamu liat inisial itu dimana?" Jangan bilang Saga melihatnya di dompet Azka!


"Di secarik kertas yang dititipkan ke saya. Untuk Azka. Tapi belum saya berikan sampai hari ini?" Saga mengatakannya dengan jelas, membuat Ocha mematung sempurna di tempatnya. Siapa yang melakukan itu?


"Emm, aku tidak tau" Ucapnya berbohong


"Benarkah?" Saga masih belum menyerah. Lalu Ia menceritakan apa yang terjadi di pusat perbelanjaan sekitar sebulan yang lalu. Tentang pertemuan mereka dengan Tama, yang Ocha juga tau karena Azka menceritakannya. Saga juga menceritakan bahwa Ia bertemu dengannya dan seorang lagi yang tidak Ia kenali. Ocha menebak-nebak dari apa yang diceritakan Saga. Ocha mengusulkan akan mengirim beberapa foto teman Azka untuk dikenali oleh Saga. Beberapa waktu kemudian, Ocha mengirimkan foto Rasya, Ragil, Alan, dan teman-teman laki-laki mereka. Saga sedikit berpikir, lalu Ia dengan yakin mengatakan bahwa Ragil adalah orang yang mereka temui.


Ocha terkejut mengetahui Ragil yang menitipkan secarik kertas itu. Ragil masih ditugaskan di Sabang, di perbatasan dan tak diijinkan untuk keluar. Apakah Ia melakukan itu saat jeda kerja yang memperbolehkan mereka bepergian selama seminggu atau Ragil sudah dipindahkan ke Jakarta?


"Tolong ceritakan siapa dia sebenarnya. Saya rasa saya harus tau"


"Saga, maafkan aku. Tapi tidakkah kamu mau bertanya dengan Azka secara langsung?"


"Dia tidak akan menjawab. Dia selalu menghindar jika diajak bicara tentang ini. Satu-satunya yang Ia ceritakan adalah kenangannya bersama seseorang bernama Rasya. Saya tau itu sudah selesai, di pesta pernikahan dua minggu sebelum saya pergi ke Bangkok" Saga menceritakan pertemuan mereka dengan Rasya dipernikahan Irine. Bagaimana pandangan Azka terhadap laki-laki itu, bagaimana akhirnya Azka menyudahi masalah mereka. Meskipun berujung airmata, Azka terlihat lega setelahnya.


"Cha, saya baru akan mencoba menjalani semua ini dengan Azka. Apakah tidak ada jalan lain selain menyembunyikan semua ini dalam-dalam?"


"Maafkan aku Saga. Tapi semua ini mungkin sulit untuk dipahami" Ocha mendesah, Ia bingung harus memulai dari mana. Tapi Saga benar, Ia harus tau. Saga adalah satu-satunya orang yang saat ini mungkin bisa melepaskan bayang-bayang Ragil di dalam pikiran Azka. Meskipun Ocha tak begitu yakin, mengingat pengalamannya dengan Rasya yang begitu cukup lama. Bayangan Ragil tetap ada setelah mereka berpisah. Mungkin Ocha juga harus mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Agar Saga tak salah langkah, atau mungkin Ia akan memiliki pilihan jika akhirnya Ia merasa tak mampu untuk membersamai Azka dan perasaannya yang sudah tak utuh. "Aku bingung harus memulai darimana" Ucap Ocha lemah.


"Ceritakan apa saja yang kamu tau" Saga memohon dengan mantap


"Baiklah, Ragil adalah cinta pertama Azka. Cinta pertama yang menurutnya sudah selesai meski belum pernah dimulai. Azka menyimpan perasaannya sejak kelas tujuh di bangku SMP. Jika kita hitung, sudah sekitar dua belas tahun perasaan itu ada. Ragil tidak pernah tau perasaan Azka padanya, tapi sempat ada gosip beredar bahwa Ia pernah memiliki rasa pada Azka. Hingga pada kelas sepuluh, Azka menjalin kedekatan dengan Rasya. Rasya adalah sahabat Ragil. Saat bersama Rasya Ia merasa dirinya sembuh dari penantian dan harapan yang tak berbilang itu. Sekitar lima tahun Ia dekat dengan Rasya. Bahkan mereka sempat mengucap janji untuk selalu bersama. Terlebih karena Rasya pernah mengalami kecelakaan dan Azka adalah orang yang membersamainya. Tapi sayang, hubungan mereka tidak berhasil. Sampai saat ini akupun tak tau apa masalahnya. Sepertinya Azka jenuh, dan Ia tidak terbiasa menjalin hubungan jarak jauh. Setelah mereka berpisah, Azka justru menyadari bahwa perasaannya ke Ragil, alih-alih hilang justru semakin tertanam. Selama dengan Rasya, perasaan itu seperti terkubur dalam-dalam, sampai akhirnya Azka sendiri tak mampu menemukannya. Perasaan itu sudah menyatu dengan tanah hatinya. Tersimpan tak tersentuh. Sulit untuk dikeluarkan. Bahkan mungkin, perasaan itu sudah mendarah daging dengan tubuhnya. Jika dirinya memaksakan untuk mengambil perasaan itu dan membuangnya jauh, itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri" Ocha menjeda ceritanya yang sudah terurai begitu panjang.


"Apakah Ragil saat ini tau seperti itu perasaan Azka padanya?" tanya Saga


"Tidak, aku tidak tau apakah Ragil tau sejauh itu. Yang aku tau, Azka sudah mengatakan bahwa dirinya menyukai Ragil sejak lama. Itu Ia lakukan saat kemarin Ia pulang. Mereka bertemu, di sebuah reuni teman-teman SMP. Aku rasa, mungkin Ragil ingin mencoba apa yang dulu pernah Ia coba. Ragil pernah menyatakan suka pada Azka, meskipun hanya sekedar main-main. Azka mengetahui itu dan justru menolaknya. Sejak saat itu Ia selalu bilang tak pernah berharap apa-apa. Ia hanya sudah terbiasa dengan perasaannya" Ocha menyudahi ceritanya.


"Berarti, apakah pilihan saya benar untuk tidak memberikan kertas ini pada Azka?" tanya Saga hati-hati


"Aku tidak tahu. Tapi sebaiknya jangan sampai Azka tau tentang kertas itu, jika kamu gak siap untuk melihat ekspresinya".


---


Semua perkataan Ocha terngiang, Saga menyadarkan dirinya. Ia menatap Azka yang sudah menatap nyalang padanya. Matanya berair, sekali Ia berkedip, bulir itu pasti jatuh.


"Ga, darimana kamu dapet ini?" Azka mengulangi pertanyaannya. Saga masih terdiam.


"Apa kamu ketemu langsung dengan Ragil di hari yang sama ketika kita ketemu Tama?" tanya Azka sudah tak sabar menunggu jawaban Saga. Pertanyaan itu sontak membuat bola mata Saga membola. Azka tau?


Azka melipat kertas itu, Ia memasukkannya ke saku baju sebelah kiri bersama dengan ponsel yang tadi Ia letakkan di atas meja. "Ini punya aku. Aku yang akan simpen kertas ini" Ucap Azka beranjak dari kursinya. Ia ingat bahwa Ia mungkin akan terlambat menemui Kara jika masih disana bersama Saga. Saga ikut bangkit, Ia mengikuti Azka berjalan ke arah lantai tiga. Dengan cepat Ia mensejajari langkah gadis itu dan menyambar tangannya hingga pergerakannya terhenti.

__ADS_1


"Kak, tunggu! Saya bisa nerima semua itu. Saya gak ada maksud apa-apa dengan nyimpen kertas itu terlalu lama. Saya cuma gak mau kamu kembali nutup perasaan kamu. Saya tetap seperti apa yang saya katakan dulu. Saya siap untuk nemenin kamu memulai semuanya" Saga mengatakan itu tanpa jeda. Azka menatapnya, dan tanpa diduga Azka tersenyum.


"Saga, aku tau kamu tulus. Tapi, kamu bisa pikir lagi keputusan kamu. Menemani seseorang yang hatinya sudah gak utuh itu pasti sulit. Aku gak tau kapan aku akan 'sembuh' atau mungkin aku memang gak pernah merasa sakit dengan adanya perasaan ini" Azka segera pergi dari tempat itu. Ia ingin menghindari Saga sementara waktu. Saga tak harus merasakan sakit yang sama hanya karena perasaan yang tak pernah hilang ini. Azka. 


__ADS_2