RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Aku hanya tidak siap tersakiti, terlebih jika orang yang menyakitiku adalah kamu.


-Azka-


Sejak pertemuannya dengan Saga hari itu, Azka memilih untuk menghindar. Berkali-kali Ia harus berbalik arah saat tanpa sengaja dirinya melihat Saga di suatu tempat. Ia juga lebih memilih untuk segera pulang ke kontrakannya setiap kali sesi asistensinya selesai. Azka memilih untuk membawa bekal agar Ia bisa menghabiskan waktu istirahat di ruangan Pak Ara atau ditempat lain. Azka juga tidak bertemu dengan Kara. Kara yang sudah dinyatakan lulus memilih untuk pergi ke Jakarta mengadu nasibnya. Kini Azka benar-benar sendiri di tanah perantauan. Sesekali Ia menelpon keluarganya di rumah. Atau menelpon Ocha untuk mengajaknya bicara. Ketika Azka menceritakan kejadian itu pada Ocha, Ocha hanya bisa meminta maaf telah menceritakan semuanya pada Saga. Ia juga mengatakan alasannya. Azka mengerti, dan memang yang dilakukan Ocha benar. Azka tidak bisa menutupi semua kenyataan yang ada pada dirinya, dari Saga atau dari siapapun yang berniat mendekatinya. Mereka harus tau, agar tidak ada rasa sakit karena mereka mengira Azka berpura-pura. Atau setidaknya, mereka memiliki pilihan lain setelah mengetahuinya. Bertahan atau mundur perlahan, karena Azka sendiri tidak pernah tau sampai kapan Ia akan seperti ini.


Pada akhir semester, Azka memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Satu semester yang melelahkan sudah berhasil Ia lewati. Ia sekarang berada di Bis menuju pelabuhan, dengan headphone yang terpasang di kedua telinganya. Bis cukup penuh, karena memang saat ini bertepatan dengan waktu liburan sekolah. Seperti de javu, Ia kembali mendengar lantunan suara penyanyi wanita yang sedang membawakan lagu Cinta Pertama dari pemutar musik yang ada di dalam bis. Persis seperti saat Ia pulang lima bulan lalu. Ia memperbesar volume musik di ponselnya, menghalau suara yang saat ini sedang mencoba menghibur penumpang yang terlihat lelah dengan perjalanan malam.


Azka melirik pada jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sebelas hampir tengah malam. Sudah tiga jam lamanya perjalanan, dan mungkin Ia akan sampai di pelabuhan dua jam lagi. Azka memilih perjalanan malam agar Ia sampai di rumahnya menjelang siang. Meski Ia lelah, namun nyatanya Ia tetap terjaga. Pikirannya tak mampu berhenti, tak membiarkannya terlelap membunuh malam. Akhirnya Azka memutuskan untuk membuka aplikasi *******, aplikasi yang sama yang Ia gunakan untuk menulis selama ini. Ia larut membaca dalam sebuah cerita yang hampir mirip dengan apa yang Ia alami selama ini. Sampai Ia tidak menyadari bahwa pelabuhan telah nampak di depannya. Buru-buru Azka menutup aplikasinya, memasukkannya pada saku jaket, menurunkan headphone ke lehernya dan bersiap untuk turun dari bis bersama penumpang lain.


---


"Assalamu'alaikum" Azka mengetuk pintu rumahnya tiga kali


"Wa'alaikumsalam" Ucap suara yang Azka kenali sebagai suara Mama dari dalam rumah. Sesaat kemudian pintu di depan Azka terbuka dengan mama berdiri menyambutnya.


"Alhamdulillah Ade udah sampe. Gimana perjalanannya de? Lancar?" tanya Mama mengambil alih tas yang dipegang Azka, menggiring anak gadisnya masuk ke dalam rumah.


"Alhamdulillah Ma. Makanya bisa sampe jam segini. Ade cape Ma" keluh Azka yang sudah merebahkan dirinya di sofa di ruang keluarga.


"Mandi dulu, kalo udah bersih enak Istirahatnya. Nanti Mama bangunin kalo udah jam makan siang" Ucap Mama mengelus kepala Azka dan meninggalkannya pergi menuju dapur. Azka yang merasa lelah karena selama perjalanan dirinya terus terjaga justru memejamkan matanya. Ia pun tertidur dengan pakaian dan jaket yang masih melekat ditubuhnya.


.


.


"Jadi, kapan Ade mau ngenalin calon menantu untuk Mama Papa?" Ucapan Mama di sela-sela makan siang kali itu membuat Azka tersedak. Batuknya mereda saat segelas air disodorkan oleh Mama yang langsung diteguk hingga tandas. Azka mengelap sisa air di sisi bibirnya. Dengan susah payah Azka menyahut pertanyaan itu, "Gimana gimana Ma?" tanya Azka masih menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Jadi kapan ade mau ngenalin calon buat mama papa?" Ulang Mama lebih pelan, Papa masih makan dengan tenang, sesekali melirik ke arah Azka dan Mama.


"Emm-itu" Azka bingung harus mengatakan apa, mengingat dirinya tak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.


"Ade udah cukup umur loh buat menikah" ucap Papa akhirnya ikut nimbrung dengan percakapan Mama dan Azka.


"Iya Pa, doain aja, mudah-mudahan segera ada jodohnya" Ucap Azka pada Papa dan Mama.


"Memang nggak ada yang lagi dekat?" tanya Mama penuh rasa penasaran


"Gak ada Ma" ucap Azka cepat, Ia memilih melanjutkan makannya untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Anaknya om Robi, pernah menanyakan de Azka. Masih inget kan sama Nak Romi?" tanya Papa membuat Azka mendongak menatap Papa dan Mama bergantian. Azka mengernyit, mencoba mengingat Romi anak Om Robi yang dimaksud Papa. Ah, Ya Azka mengingatnya, laki-laki tinggi putih yang berbeda satu tahun darinya. Dulu mereka bertetangga, tapi keluarga Om Robi pindah ke Tangerang karena pekerjaan.


"Oh, Iya ade inget"


Azka mengangkat bahunya, "Ade belum tau Pa. Nikah kan bukan hal main-main. Ade coba pikirin dulu Pa" Azka melanjutkan makannya, menyelesaikannya lebih dulu sebelum Papa dan Mama beranjak. Azka ijin ke belakang untuk meletakkan piring kotor. Papa dan Mama yang masih duduk di meja makan hanya mengangguk. Sebelum Azka masuk ke kamar, Papa mengatakan sesuatu pada Azka.


"De, kalo gak ada yang dateng berniat melamar atau menyampaikan keinginannya untuk melamar ade, Papa gak ada alasan untuk menolak kalo Om Robi melamar ade untuk Nak Romi" Azka sempat berhenti sejenak, setelah menghela nafas pelan, Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Apalagi ini?" Azka menutup kepalanya dengan bantal. Rasanya Ia ingin pergi ke Goa agar tak perlu menghadapi situasi semacam ini. Lalu Ia ingat Ocha. Ia sepertinya harus bertemu dengan gadis itu. Azka segera bersiap, lalu berpamitan kepada Mama dan Papa untuk ke klinik tempat Ocha bekerja.


---


"Cha, aku di depan klinik. Kamu udah selesai praktek belum?" suara Azka di sambungan telpon membuat Ocha membulatkan matanya sempurna. Ia nyaris tersedak makanannya karena terlalu terkejut mendapati kabar Azka yang ada di depan kliniknya.


"Kamu pulang Ka??? Aku masih ada satu pasien. Tunggu aja di ruang tunggu. Aku selesai dua puluh menit lagi" Ucap Ocha segera menyudahi pembicaraannya dengan Azka. Dengan sigap Ia menyelesaikan prakteknya. Lebih lima menit dari yang Ia sebutkan, Ia akhirnya keluar dari ruang praktik. Ia menuju ruang tunggu dimana Ia meminta Azka menunggu. Gadis itu sedang duduk, masih fokus pada ponsel di tangan kanannya. Ocha mendekat,

__ADS_1


"Hei, sampe disini kapan?" tanya Ocha mengambil tempat di sebelah Azka.


"Hei Cha, kamu sehat? Aku sampe tadi siang jam sebelas" Azka memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.


"Baru dong? Buru-buru banget langsung nyamperin aku? Kangen yaa" tanya Ocha sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Hehehe, iya aja deh. Aku perlu banyak cerita sama kamu"


"Tentang Saga?" tanya Ocha yang mendapat gelengan kepala Azka


"Trus? Ragil lagi?" tanya Ocha lalu Ia menghela nafas pelan, "Kamu masih pengen nanya sama dia apa maksud kertas itu?" Azka terdiam


"Ka, kan aku udah pernah bilang, keputusan kamu untuk jujur sama Ragil disaat dia lagi sendiri, akan bikin kamu susah. Kamu bilang semua udah selesai, tapi ketika Ragil dateng cuma dengan secuil kalimat kamu udah lemah lagi" Ocha nyerocos panjang lebar.


"Gimana kalo Ragil sebenernya memang mau serius ke aku Cha?" Azka bergidik, seketika awan hitam menyelimuti perasaannya. Ia tiba-tiba merasa sesak dengan berbagai pertanyaannya tentang Ragil. Bagaimana jika dia ingin menjalin hubungan serius dengan Azka seperti impian Azka selama ini? Bagaimana jika dia sebenarnya ingin menyatakan perasaannya tetapi Ragil justru malah bertemu dengan Saga? Ah, membayangkannya saja membuat hati Azka meringis perih. Ia tidak pernah merasa ingin melihat Ragil terluka, Ia selalu ingin melihatnya bahagia, meski dari jarak sejauh apapun. Di sisi lain, Ia takut jika perasaannya terjawab, suatu saat nanti justru Ragil menyakitinya. Dirinya tidak pernah siap tersakiti, terlebih jika orang yang menyakitinya adalah Ragil.


"Jadi kamu ga mau berhenti nunggu? Kamu bener-bener masih ada di bawah pengaruh perasaan itu ya Ka" Ocha pasrah


"Cha, apa yang akan kamu lakukan kalo jadi aku?" tanya Azka takut-takut, dilihatnya klinik itu sudah hampir kosong. Hanya ada beberapa orang yang sedang beberes di dalam sebuah ruangan. Tak lama mereka berpamitan dengan Ocha. Tinggallah Ocha dan Azka berdua disana.


"Kalo aku jadi kamu, aku akan memilih orang yang benar-benar serius sama aku Ka. Orang yang masih mau nemenin aku meski dia tau aku gak sempurna buat dia. Aku akan memilih orang yang siap berusaha menjadi teman perjalanan aku disaat dia tau semua kekurangan aku." Azka memandangi Ocha, "Aku gak mau kamu menyia-nyiakan lagi waktu kamu untuk menunggu Ragil. Orang yang sampai saat ini belum kamu ketahui gimana perasaannya" lanjut Ocha.


"Apa kamu bener-bener gak bisa membuka hati untuk Saga Ka?" tanya Ocha telak.


Azka hanya menggeleng, Ia bingung. Sebelum Ini Ia sudah cukup yakin untuk mulai membuka hatinya. Tapi kebodohan Saga memberikan kertas yang dititipkan Ragil, membuatnya menutup seluruh pintu menuju hatinya. Bahkan hampir empat bulan Azka tak membiarkan dirinya untuk bertemu dengan Saga, meski laki-laki itu mencarinya dan menghubunginya.


"Cha, sebenarnya ada masalah lain yang sedang aku hadapi" ucap Azka lirih, Ocha menunggu Azka yang sedang menimbang-nimbang kalimat yang akan Ia keluarkan.

__ADS_1


"Papa mau menjodohkan aku dengan anak temannya, tetangga kami dahulu"


__ADS_2