RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #10


__ADS_3

Ada rasa dalam tubuh ini yang bisa mengindera orang seperti apa kamu sebenarnya


-Azka-


Notifikasi di grup proyek penelitian yang sedang di ikuti Azka terdengar ramai. Entah ada apa sampai anggota grup itu ramai saling berbalas pesan menimbulkan dering tak berhenti di ponsel Azka.


Rasa penasaran membuat Azka akhirnya menyerah untuk tidak membuka kolom grup chat itu. Ia berjalan ke arah meja kecil tempat Ia meletakkan ponsel yang sedang dicharge. Ia arahkan jemarinya untuk menekan icon lambang aplikasi chat itu untuk mengetahui apa yang sedang di bahas di sana.


Azka membelalakkan matanya saat dirinya membaca informasi pertama yang belum Ia baca seharian ini.


Prof. Ara menambahkan Kara Bocah


"APA????" Azka terkejut setengah mati. Kenapa bisa Kara di tambah ke grup penelitian mereka? Azka meneliti dengan seksama. Ia tidak salah mengira. Nomor itu jelas tersimpan dengan nama Kara. Jadi, kenapa Kara masuk ke sana?


Drrrrt


Drrrrt


Getar panggilan dari ponsel di tangannya membuat Azka terlonjak. Beruntung ponsel itu masih bisa Ia pegang dengan erat.


"Halo."


"Haloow rekan kerja!" Suara riang dari seberang telepon membuat telinga Azka pengang seketika.


"Kara! Astaga. Kenapa kamu bisa masuk ke grup itu?" Azka sudah tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Hebat kan? Hahahaha." Pemuda itu malah tertawa.


"Jelaskan!" pinta Azka.


"Aku bagian dari penelitian itu Teh. Aku akan membantu kalian di bagian statistik dan perhitungan." ucap Kara santai.


"Waw, bagus!" Azka ikut senang. "Jadi itu alasanmu ke kampus tempo hari?" Tanya Azka.


"Ya, begitulah. Hei mana Saga? Beritahu dia oke. Aku tidak mau dicemburui olehnya jika nanti kita jadi sering bersama."


"Oke, aku pasti akan memberi tahunya. Saga masih di kantor. Sebentar lagi-Ah, itu dia. Baiklah Kar, sampai ketemu lagi." Azka mematikan sambungan telepon dan berlari ke pintu untuk membukakannya.


Saga berdiri di depan pintu. Ia menyeruak masuk saat pintu terbuka lebar di depannya. Wajahnya lelah dan ekspresinya kacau. Ia berjalan terus tanpa menghiraukan keberadaan Azka.


Azka pasrah saja dengan rutukan di hatinya. Ia menutup pintu itu dan bergegas menghampiri Saga yang sudah duduk di sofa ruang keluarga.


"Kamu cape, Ay?" Tanya Azka takut-takut.


"Hmmm." Saga berhem sebagai jawaban.


"Apa mau aku siapkan air hangat?"


"Gak usah, Yang" jawabnya singkat.


"Aku ambilkan teh dulu."


"Air saja. Nggak perlu teh " ucapnya lagi memotong gerakan Azka menuju dapur. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya terpejam seolah ingin menenggelamkan lelah di sekujur tubuhnya.


Azka kembali dengan segelas air di tangannya. Ia segera mendudukkan dirinya di sebelah Saga setelah meletakkan gelas di atas meja.


"Apa proyeknya masih terhambat?" Azka mencoba membuka kembali percakapan..


"Hmm" Saga lagi-lagi hanya berdehem. Membuat Azka menjadi salah tingkah di tempatnya. Kenapa jadi seperti ini? Huh.


"Minumlah, lalu kita tidur. Kamu pasti lelah, Ay." Azka bersuara lagi, membuat Saga bergerak tidak nyaman di sofanya. Matanya masih terpejam, namun akhirnya Saga bergerak dari tempatnya. Ia mengambil segelas air yang disiapkan Azka tadi.


"Maaf." ucapnya dengan suara lirih. Azka hanya terkesiap di tempatnya.


Lalu sebuah kecupan mendarat di keningnya. Membuatnya refleks menutup mata. Kecupan itu beralih ke rahangnya, dan mendarat di bibirnya untuk waktu yang lama. Hingga...


"Minggir Ay, aku mual!" Azka melepas pagutan mereka dengan kasar dan segera berlari ke wastafel.


---


"Hari ini Ayang kemana?" Saga sedang memasang kemejanya.


"Aku akan bertemu Kara. Oh iya, aku semalam lupa memberitahu kamu soal ini. Kara ternyata masuk dalam tim penelitian aku dengan Prof. Ara. Jadi mungkin kami akan sering bertemu selama proyek ini berjalan." Azka menjawab dengan kalimat panjang tanpa jeda.

__ADS_1


"Baguslah, jadi kamu punya temen di sini." jawab Saga. Kali ini ia tengah memasang dasi berwarna navy di kemejanya.


"Iya, aku juga berpikir begitu. Ah, sini Ay, aku yang pasang." ucapnya saat melihat Saga kesulitan menggunakan dasinya. Azka berjalan menuju suaminya dan berhenti saat keduanya sudah berada dalam jarak yang dekat.


Azka memasangkan dasi itu dengan rapi lalu tangannya beralih untuk menepuk kedua bahu Saga.


"Selesai." ucapnya.


"Kamu sudah enakan?"


"Lumayan."


"Bawa jaket kalo keluar rumah. Sepertinya kamu masuk angin, Yang" ucap Saga sambil mengelus lembut pipi Azka.


"Iya Ay, aku akan bawa jaket nanti." Azka menggenggam tangan suaminya itu seraya tersenyum.


"Aku sarapan di kantor," ucap Saga berpamitan. Ia mengecup kening Azka sekilas sebelum dirinya melesat keluar dengan terburu-buru. Azka mengucapkan hati-hati dengan sedikit berteriak sebelum ia menutup pintu.


Azka bergegas ke kamarnya. Bersiap untuk bertemu Kara di sebuah co-working yang ada di Jakarta. Ia mengambil kemejanya yang berwarna krem, memadupadankan dengan sebuah rok berwarna senada. Ia menyapukan make up tipis di wajahnya, membiarkan pipinya merona karena sapuan blush on.


Selesai dengan make up, Ia bergegas membuka lemari sepatu, mengambil sebuah sepatu berhak tipis berwarna senada dengan pakaian yang dikenakannya. Sebuah telepon dari Kara membuatnya segera bergegas keluar dari apartemennya. Pemuda itu sudah menunggunya di luar.


"Wooow, mau kemana Teh? Hahaha." Kara tertawa melihat tampilan Azka yang begitu formal.


"Kerja." ucap Azka ketus. Ia melirik ke arah pakaiannya, mencari letak kesalahannya menggunakan setelan kemeja dan rok itu.


"Bagus ah, kenapa kamu ketawa?"


"Emang siapa yang bilang gak bagus. Cuma formal banget. Kan cuma mau ketemu saya." ucap Kara masih terkikik.


"Jadi ganti nih?" Azka hendak keluar dari mobil Kara, namun gerakannya terhenti.


"Gak usah Teh, ya ampun. Lama lagi kalo kamu ganti baju dulu." ucap Kara menahan lengan Azka yang hendak keluar dari mobilnya.


"Makanya! Gausah banyak komentar!" ucap Azka kembali duduk dengan posisi menghadap ke depan.


"Oke siap saya diem." lalu Kara merapatkan bibirnya dan menggerakkan tangannya seperti sedang mengaitkan risleting di mulutnya. Azka tersenyum melihat tingkah konyol Kara.


"Astaga, tulang punggung saya serasa mau patah!" ucap Kara menggerakkan badannya ke kanan dan kiri.


"Kita makan dulu yuk. Udah mau jam makan siang nih," ucap Azka mulai merapikan segala kertas yang berserak.


"Siap bosque. Mau makan dimana?" Tanya Kara seraya membantu Azka merapikan berkas-berkas di atas meja.


"Di deket sini aja deh. Cari yang deket dan enak. Aku mau ayam bakar tapi," usul Azka yang mendapat anggukan dari Kara.


"Jadi udahan aja nih hari ini? Gak dilanjut setelah makan siang?" Kara bertanya memastikan.


"Kayaknya gitu." ucap Azka yang sudah berdiri.


Setelah Kara mengangguk, mereka meninggalkan ruangan itu untuk segera memburu makan siang. Perut mereka sudah terasa sangat kosong akibat pekerjaan hari itu.


"Teh, mau tanya dong." Kara bertanya saat keduanya sudah duduk berhadapan di sebuah tempat makan yang menyediakan ayam bakar sebagai salah satu menunya. Entah kenapa Azka ingin sekali makan ayam bakar siang ini.


"Apa?" Azka terlihat acuh, Ia sedang menikmati makanan di hadapannya. Apalagi kalo bukan ayam bakar.


"Yang kemarin itu siapa?"


Uhuk uhuk!!!


"Minum minum." ucap Kara sambil menyodorkan segelas air pada Azka. Azka sibuk menepuk-nepuk dadanya. Meredakan sakit akibat tersedak makanan.


"Pelan-pelan makanya," ucap Kara lagi saat batuk Azka sudah reda.


"Sorry sorry. Kamu nanya apa?"


"Yang kemarin siapa?" ulang Kara.


"Ragil, bukannya kamu udah kenalan?" Azka berlagak polos.


"Iya, dia siapa kamu, Teh?" Tanya Kara menghentikan aktivitas makannya.


"Emm- temen aku." Azka kikuk. Terlihat sekali Ia tidak nyaman dengan pertanyaan Kara.

__ADS_1


"Temen? Yakin?" Kara mulai menyelidik.


"Hem-em." Azka mengangguk.


"Oooh."


"Kenapa?"


"Gak ada apa-apa" kilah Kara. Ia melanjutkan makannya yang tertunda. Menelan rasa penasarannya hanya karena tidak ingin terlalu terkesan ingin tahu.


"Kamu kok bisa sih masuk ke tim ini Kar?" Azka mengalihkan pembicaraan.


"Temannya Prof. Ara yang sebenernya diminta. Dia supervisor saya di kantor. Karena dia gak bisa. Jadi saya yang di tawarin untuk ngegantiin."


Azka manggut-manggut, "Oh, gitu"


"Iya, pas saya lihat ada nama kamu, ya saya terima aja. Udah lama juga kita gak ketemu. Ya kan?"


"Emang kamu tau nama lengkap aku?" Azka terkejut. Seingatnya Ia tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya pada Kara.


"Tau lah, apa yang gak saya tau dari kamu."


"Cih!" Azka berdecih meledek.


"Hahaha, bercanda. Saya ingat nama kamu dari undangan nikah kamu dulu," jelasnya.


"Oooh, iya. Hahaha, bener juga. Tapi kamu gak dateng nikahan aku Kar." Azka cemberut.


"Sorry." ucapnya. Kara memejamkan mata sekilas, mengingat dulu ia begitu merasa sakit ketika tahu bahwa Azka benar-benar menikah dengan Saga. Ah, tapi itu dulu.


"Teh, itu bukannya..." kalimat Kara menggantung bersamaan dengan telunjuknya yang mengarah pada salah satu meja.


Azka mengikuti arah telunjuk Kara. Dan ia mendapati Ragil tengah duduk di sana. Bersama seorang wanita yang Azka tidak tahu siapa. Ia mencoba bersikap biasa saja. Toh, itu urusan Ragil. Bukan urusannya.


"Iya, Ragil kayaknya."


"Sama siapa tuh? Tebel amat make upnya." celoteh Kara dari kursinya.


"Husssh!!! Kamu ini, suka banget ngomongin orang," sembur Azka. Kara hanya terkekeh.


"Sorry-sorry." ucapnya nyeleneh, "tapi serius itu sama siapa sih?"


"Gak tau, istrinya kali." jawab Azka asal.


"Hah???" Kara melongo, "dia udah nikah?" Kara jadi sedikit heboh. Sementara Azka hanya mengangguk. Ia jadi kepikiran dengan ucapannya sendiri. Benarkah itu Marsha? Istri Ragil saat ini? Untuk apa ia kesini? Mau rujuk? Atau justru mengurus perceraian?


Azka menggeleng-gelengkan kepalanya samar. Mencoba menghilangkan putaran pertanyaan di kepalanya.


"Azka?" Suara yang tidak asing menyapa Azka.


"Eh Tante. Tante lagi di sini?" Sapa Azka sambil mencium punggung tangan Nuri. Ya, Nuri yang adalah Ibunda Ragil.


"Iya, eh ini Siapa--?"


"Kara Tante, temen kerjanya Azka."


"Ooh." Nuri mengangguk paham. "Ragil di sana sama Marsha. Ayo Tante kenalin ke istrinya Ragil," Jelas sekali ucapan itu kaku. Seolah ada hal yang disembunyikan Nuri dari lawan bicaranya. Ya, apalagi kalau bukan hubungan anak dan anak mantunya yang tidak akur. Juga tentang pernikahan mereka yang mendadak.


Padahal aku sudah tahu semuanya, pikir Azka.


"Ragil," panggil Ibunya, kini Nuri sudah berdiri di samping meja Ragil dan Marsha. Pandangan keduanya menunjukkan ketegangan. Ragil menoleh ke arah Ibunya. Dan mengetahui Nuri tidak sendiri, ia segera menetralkan ekspresinya.


"Eh, Ka. Lagi di sini juga?" Tanya Ragil segera berdiri.


"I-iya, abis bahas kerjaan di sana." ucap Azka jadi sedikit canggung seraya menunjuk meja dimana Kara masih duduk di sana seorang diri. Tatapan Marsha seolah menelanjanginya. Bola mata bernetra coklat itu mengabsen setiap inci penampilan Azka.


"Siapa ini Gil?" Tanya Marsha tanpa repot menggunakan nada ramah. Ragil hanya menoleh tidak suka. Ia tidak sudi memperkenalkan mereka. Melihat laki-laki yang berstatus suaminya itu hanya mendelik ke arahnya, Marsha berinisiatif bangkit dan mengulurkan tangan.


"Marsha, istrinya Ragil." Ia mengenalkan diri. Ada rasa mual yang tiba-tiba bergejolak di dalam perut Azka saat nama dan status itu disebut. Lucu sekali! Pikir Azka.


"Azka, temen Ragil saat sekolah." Azka ikut mengenalkan dirinya. Ia membalas uluran tangan Marsha sehingga mereka berdua berjabat tangan.


Detik berikutnya setelah kulit mereka bersentuhan, Azka benar-benar tidak bisa menahan rasa mualnya. Dengan menangkup mulutnya, Azka segera berlari menuju ke toilet untuk menumpahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


__ADS_2