RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #7


__ADS_3

Sampai kapan kamu harus bertahan?


Sampai kita berhasil mengalahkan dan menjadi tak terkalahkan.


-Azka-


"Apa kemarin acaranya lancar?" tanya Azka. Mereka tengah duduk bersama di depan sebuah minimarket. 


"Lo tau Gue gak pernah berharap acara itu lancar" Ragil duduk dengan tatapan menerawang.


"Kenapa kamu secepat ini kembali ke Jakarta?"


"Bahkan kalo Gue bisa pulang kemarin, Gue pulang Ka" Azka menunduk. Ia merasa iba pada wanita yang menjadi istri Ragil. Azka juga wanita, Ia bisa merasakan bagaimana dicampakkan pada hari dimana Ia mengikat janji untuk satu tujuan. Ah, Azka tidak tahu bagaimana rasanya tidak diinginkan oleh seseorang yang kelak akan menjadi surga atau nerakanya.


"Apa gak bisa diperbaiki Gil?" Masih tersimpan rasa harap pada hati Azka bahwa laki-laki di depannya itu akan baik-baik saja dengan pernikahannya.


"Nasi sudah jadi bubur Ka. Dan bubur gak pernah bisa kembali jadi nasi, meski Lo memasaknya lebih lama" Ragil ingin mengambil batang bernikotin dari sakunya. Tapi kehadiran Azka membuat Ia berpikir ulang. Ia masih harus menghormati wanita yang kini tengah duduk di sampingnya dengan terhalang sebuah meja.


"Tapi apa gak ada kesempatan untuk bubur itu bisa dinikmati? Bubur bukan--"


"Gue gak bisa Ka" Nada tinggi dari suara Ragil menghentikan ucapan Azka seketika.


"Maaf" ucap Azka menyesal. Sepertinya Ia sudah terlalu banyak bicara.


"Lo gak perlu minta maaf Ka"


"Gil?" Panggil Azka lemah, Ragil hanya menoleh. Memperhatikan raut wajah wanita di sebelahnya yang menunjukkan ekspresi tak tertebak.


"Apa kamu bener-bener mau cerai nantinya?" Ragil membenarkan duduknya, Ia menarik napasnya perlahan.  Ia mendengus beberapa kali sebelum menjawab.


"Gue gabisa hidup sama orang yang udah bikin keluarga Gue ancur Ka. Lo gak akan ngerti gimana rasanya" Ragil sudah tidak tahan. Ia rogoh saku celananya, mengambil sebuah kotak yang sudah terasa enteng karena sudah Ia gunakan sebagian. Ia menyelipkan batang bernikotin itu di antara dua bibirnya. Merogoh kembali sakunya untuk meraih sebuah korek api. Ia memantik api, menempelkannya pada ujung benda yang terselip diantara bibirnya. Menahannya lebih lama sehingga benda itu terbakar dan mengembuskan asap.

__ADS_1


"Sorry, Ka. Gue butuh ini" Ucapnya tanpa menoleh. Azka hanya memandangi laki-laki itu dengan pandangan lesu. Sepertinya bukan saatnya Ia mengiba. Bukan pula saatnya Ia memaksakan kehendaknya.


"Apa gak ada satu pun temen yang tau kamu nikah hari itu?" Azka mengalihkan pembicaraan. Ragil menggeleng, mengepulkan asap menjauhi wajah Azka. Ia menyesap kembali benda itu hingga ujungnya terlihat membara kemerahan. Azka meringis melihatnya. Kini Ia menyadari satu hal. Ragil kini bukan lagi Ragilnya yang dulu. Seorang siswa SMP dengan segala kenakalan iseng khas remaja beranjak dewasa. Ragilnya dulu kini sudah menjelma menjadi sesosok pemuda yang berbeda. Azka sangat mengerti itu. Dan meskipun perubahan itu terlihat nyata di depannya, nyatanya hatinya masih tak bergeming ke arah lain. Ragil tetaplah Sunny baginya. Cinta pertamanya yang sampai  saat ini masih terpatri jelas di hatinya. Meski Ia tahu, apapun itu kini tak lagi mungkin membuat kisah mereka berhasil.


"Apa kamu sekarang tenang ninggalin dia di sana? sementara kamu di sini?" Lagi, ini adalah pertanyaan terakhir Azka. Ia sudah terlalu lama duduk di sana. Sepertinya Ia butuh udara segar agar pikirannya kembali waras. Ia tidak boleh terlarut dalam masalah orang lain. Sekalipun itu adalah Ragil. Hmm, mungkin justru karena ini adalah Ragil, Ia harusnya bisa menjaga dirinya untuk tidak terlalu ikut campur. Atau mungkin dirinya justru bisa terseret lebih jauh. Lalu, bagaimana dengan usahanya setahun ini?


"Gue lebih tenang di sini" Ragil menoleh, "Makasih ya Ka"


"Hm?" Azka ikut menoleh ke arahnya, "untuk?"


"Semuanya" senyuman terbit di wajah muram itu. Meninggalkan garis-garis senyum yang jelas di sekitar bibirnya. Azka balas tersenyum. Lalu Ia memutus tatapan itu. Ia menunduk, menggamit tas kecil di pangkuannya untuk Ia sampirkan di lengan.


"Aku pulang dulu Gil. Sampe ketemu lagi" ucap Azka bangkit. Detik selanjutnya Ia sudah berjalan menjauh, meninggalkan Ragil yang masih memandangnya dengan tatapan teduh. 


--- 


"Yang, kok kamu di sini?" Saga terkejut dengan kehadiran Azka di kantornya.


"Hmm, boleh. setelah aku selesai kita makan di luar" Azka tersenyum. 


"Aku bisa tunggu di sini? atau aku harus tunggu diluar?"


"Di sini aja"


Cklek!


"Pak, saya ingin menyampaikan bahwa hari ini -" seseorang yang baru saja masuk menghentikan ucapannya. Ia terkejut melihat kehadiran Azka di tengah-tengah mereka. "Maaf Bu. Saya kira hanya ada Pak Saga"


"Gak apa-apa Dimas" Azka menanggapinya dengan senyum. "Emmm, sepertinya ada yang harus dibicarakan ya. Aku keluar ya Ay. Aku tunggu di kursi depan" Azka segera keluar setelah dirasa suasana di dalam sana menjadi sedikit canggung. Entah apa yang akan mereka bahas, Azka tidak mengerti. Dan sepertinya lebih bijak jika Azka tidak ikut campur dalam urusan pekerjaan diantara mereka.


"Kamu kemana aja hari ini?" Tanya Saga saat keduanya sudah duduk berhadapan di sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemen mereka.

__ADS_1


"Aku? Tadi ngerjain tugas kampus. Deadline hari ini. Lalu aku keluar, dan ketemu Ragil di minimarket depan kantor kamu" Azka menjelaskan dengan lugas. Tidak ada yang Ia tutupi, karena memang harusnya begitu bukan?


Wajah Saga terlihat tegang sejenak, namun kemudian Ia sudah kembali normal seperti biasanya. "Ragil? Dia ada di Jakarta?"


"Emm emm, banyak Ay temen aku yang di sini. Salah satunya dia" Azka mencoba menceritakan semuanya tanpa dusta.


"Hati-hati Yang, aku tau kamu berusaha keras setahun ini untuk menetralkan hati dari seseorang bernama Ragil itu" Saga jadi lebih serius, Azka memandang suaminya. Menatapnya dengan tatapan dalam tanpa kebohongan. Karena sekuat apapun Ia berbohong, laki-laki di depannya ini selalu akan tahu.


"Aku gak akan kenapa-kenapa Ay"


Tapi aku yang akan kenapa-kenapa. Apa kamu gak ngerti? Hn?


Mereka melanjutkan makan malamnya dalam diam. Saga tak lagi membuka suara, menahan kalimatnya agar tetap tercekat dalam tenggorokan. Ia tidak ingin bertengkar dengan Azka. Terlebih dirinya sedang terlalu lelah. Bukan saat yang tepat untuk membahas hal berat. Seperti masa lalu misalnya. Saga butuh asupan energi untuk menetralkan pikirannya.


"Apa kamu merasakan hal yang sama ketika bertemu dengannya?" Saga baru membuka suara saat keduanya sudah memasuki mobil yang terparkir di halaman restoran.


"Hmm?" Azka terkesiap. Ia tidak menyiapkan diri untuk menerima pertanyaan ini dari Saga. Pertanyaan yang hampir setahun ini tidak pernah terlontar pada dirinya.


"Apa rasanya masih sama? Atau sudah berubah karena usaha kita selama satu tahun ini?"


"Saga.." Azka memanggil namanya dalam suara lemah. Menandakan bahwa wanita yang berstatus istrinya itu tidak ingin membahas hal ini. Tapi Saga sepertinya sudah terlalu penasaran dengan itu. Terlebih, Ragil kembali menampakkan diri di hadapan Azka, istrinya.


"Azka, tolong jawab aja pertanyaan aku. Supaya aku gak perlu menduga-duga" ucap Saga ditempatnya. Buku-buku jarinya memutih karena tangannya mencengkeram kuat kemudi.


"Ga.. tolong jangan paksa aku" hanya itu yang bisa di ucapkan. Karena setelahnya, rasa bersalah kembali menyelimuti diri Azka. Saga mendengus, Ia terlalu paham reaksi ini. Reaksi yang selalu Azka tunjukkan saat pertanyaan itu terlontar.


Saga memilih diam, Ia ingat betul kala terakhir kali memaksa Azka menjawab pertanyaan itu. Azka yang saat itu belum dinikahinya justru terisak, badannya bergetar hebat. Seolah beragam kesedihan dan rasa bersalah menghujamnya dengan kuat. Azka terlihat sangat tersiksa dan itu membuat Saga tidak tega. Maka Ia berjanji dalam hati bahwa Ia akan sekuat tenaga untuk tidak menanyakan hal itu lagi.


Tapi, memang sampai kapan Saga harus berharap bahwa Azka akan bersikap normal terhadap perasaan itu?


Bukankah setiap orang punya kisah cinta pertama dan berhasil melewati hidupnya tanpa bayang-bayang cinta pertamanya?

__ADS_1


Seharusnya Saga tidak menanyakan itu. Karena Ia pun tahu bagaimana berbedanya cinta pertama Azka dengan cinta-cinta pertama yang lainnya. Seharusnya Ia tidak mengulang pertanyaan itu untuk dirinya. Karena dengan begitu Ia mengijinkan penjelasan Ocha kembali bergaung di pendengarannya. Penjelasan yang membuatnya berani mengambil posisi, juga penjelasan yang kadangkala membuatnya nyaris berhenti.


__ADS_2