RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Aku seperti sedang berbicara dengan dirimu. Pikirku merasa bahwa kisah yang akan berakhir itu adalah kisah kita. Semoga kita bahagia.


-Ragil-


Ragil menginjakkan kakinya di bandara. Hari ini Ia diminta untuk pulang oleh Ibunya karena ada suatu hal. Ragil tidak tau apa yang membuat hal itu begitu mendesak sehingga Ia harus mengambil ijin tahunan untuk pulang ke rumahnya. Sudah satu jam Ia menunggu mobil jemputan yang dikirim oleh Ibu ke sana, tapi mobilnya tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk memainkan ponselnya sambil membunuh waktu yang terasa begitu lama. Ia melihat-lihat semua akun sosial medianya, membuat sebuah story di salah satu akun sosial medianya. Tidak lupa Ia menyapa dan memberi komentar pada setiap feed teman-temannya. Ia tertawa, merasa senang karena rasanya sudah terlalu lama Ia tidak melakukannya. Pekerjaannya terlalu menyita waktu, membuat dirinya sangat jarang menghabiskan waktu dengan segala hiruk pikuk dunia maya. Ragil berhenti pada sebuah postingan, itu adalah postingan di akun instagram Azka. Gadis itu memposting sebuah kalimat.


Kamu, yang entah mengapa tidak bisa hilang dari pikir dan sesat rasa. Bahkan pada saat yang tidak tepat seperti sekarang, memikirkanmu adalah sesuatu yang terpilih tanpa ada batin yang berperang. Azka.


Ragil tertegun, Ia kemudian menelusuri laman akun instagram Azka. Menemukan kembali postingan serupa yang entah karena apa membuat dirinya meringis sendiri.


Sebuah kisah yang belum sempat dimulai menyisakan rasa sesak dan penasaran. Aku butuh penawar, dan itu hanya kamu. Azka.


Azka seperti sedang berbicara dengan dirinya. Ia berpikir bahwa kisah yang dimaksud Azka bisa saja adalah kisah mereka. 'Geer!' ucap sesuatu dalam dirinya. Ia lalu tertawa sendiri. Ia sungguh merasa miris. Ia sempat berkunjung ke Bandung seperti janjinya kepada Azka beberapa bulan lalu, tapi tetap saja Ia tidak bisa menemui gadis itu. Ia justru bertemu dengan Tama dan seorang laki-laki yang menurut Tama adalah kekasih Azka. Ragil sempat tidak percaya, tapi Tama memintanya untuk tidak menyusahkan Azka dengan hadir ditengah-tengah mereka berdua. Ragil sempat menitipkan sebuah kertas bertuliskan lirik lagu yang Ia anggap sanggat menggambarkan dirinya. Ia berharap Azka membacanya, lalu bisa menghubunginya dan mereka bisa bicara. Siapa tau masih ada jalan untuk mereka berdua. Tapi nyatanya Azka tidak bergeming. Ia bahkan tidak menghubungi Ragil sama sekali.


Apa mungkin Azka tak merasa lagi dirinya penting? Atau justru Azka tidak menerima kertas itu?


Setan dalam hatinya ikut berbicara. Ia tiba-tiba saja berpikiran buruk tentang laki-laki bernama Saga yang Tama bilang adalah kekasih Azka. Jangan-jangan tuh orang gak nyampein titipan gue? Saga kesal, Ia menendang asal kakinya yang terjulur dari kursi yang Ia duduki.


"Duh Mas, jangan duduk kayak di rumah sendiri dong" Ucap seorang perempuan berwajah menor dengan sangat ketus. Ternyata kaki Ragil tidak sengaja menendang kakinya saat Ia tadi menendang asal karena kesal dengan pikirannya sendiri.


"Sorry mba, gak sengaja"


"Gak sengaja- gak sengaja!" ucap perempuan itu semakin nyolot.


"Yah elah Mba, udah minta maaf ini saya" ucap Ragil tak peduli. Ia akhirnya menekuk kakinya dan meneruskan aktivitasnya. Perempuan tadi meneruskan langkahnya meskipun terus ngedumel kesal dengan Ragil.


"Mas Ragil?" Panggil bapak-bapak paruh baya tak jauh dari tempat Ragil duduk menunggu tadi.


"Eh Pak Ganjar. Lama banget sih Pak" Ucap Ragil memalingkan wajahnya dari ponsel di tangannya. Ia kemudian berdiri sambil tetap memegang ponsel di tangan sebelah kanan. Ia menyerahkan koper ke tangan Pak ganjar dan berjalan bersama Pak Ganjar menuju mobil yang terparkir tak jauh dari lobi bandara.


"Pak, Ibu kenapa nyuruh gue pulang sih? Tiba-tiba banget! Pak Ganjar tau gak kenapa?" tanya Ragil dari kursi penumpang di sebelah Pak Ganjar.

__ADS_1


"Saya gak tau Mas. Tapi Ibu kayaknya pengen Mas Ragil cepet nikah Mas. Pengen punya cucu lagi" ucap Pak Ganjar sambil tersenyum jail.


"Yaaah, jangankan Ibu, Saya juga pengen cepet nikah Pak. Tapi rasanya saya belum mapan nih. Calon juga gak ada" ucap Ragil pura-pura lesu.


"Masa sih Mas? Mas Ragil ngguanteng kayak gitu masa gak punya pacar?" tanya Pak Ganjar santai


"Lagi pengen sendiri Pak" jawab Ragil asal. Ragil memilih diam dan memejamkan matanya selama perjalanan dari bandara menuju rumah yang menghabiskan waktu selama satu jam itu. Setelah sampai di rumah, Ragil menghampiri Ibunya yang sudah menunggu di kursi yang berada di ruang keluarga.


"Bu" Panggil Ragil


"Gil, udah sampe Nak? Kamu sehat?" tanya Ibu mengelus kepala Ragil saat anak bujangnya mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah. Cape bu" ucapnya lalu merebahkan tubuh di samping Ibunya.


"Gil" panggil Ibu lembut


"Iya Bu?" Ragil menyaut meskipun matanya sudah terpejam lagi.


"Kamu kapan bawa calon ke rumah Ibu?" pertanyaan yang secara langsung menohok ulu hatinya. "Ibu pengen punya mantu, sama cucu baru" ucap Ibu.


"Kamu jangan keenakan kerja ya Gil. Biar cepet dapet jodoh" ucap Ibu mengelus kepalanya dengan lembut.


"Doain ya bu, Ragil mau usaha buat bawa mantu yang cantik dan baik buat Ibu" ucapnya pelan, "Ngomong-ngomong Ibu nyuruh Ragil pulang cuma mau ngomong ini Bu?" tanyanya setelah bangkit dan menghadap ke arah Ibu.


"Bukan. Ibu kangen sama anak bujang Ibu. Besok Ibu mau mulai terapi, ingin ditemani sama kamu selama Ibu terapi. Boleh kan?" Ragil mengangguk. Ah, dari dulu hingga sekarang, Ibu memang paling dekat dengan Ragil. Jika dulu Ragil yang selalu dimanja, maka sekarang Ragil selalu merasa Ibu lah yang harus dimanja oleh anak-anaknya terutama dirinya.


"Gil, kata tante Siska Azka mau dilamar loh! Kok bukan kamu yang lamar Azka sih?" Ibu berbicara dengan lesu, sontak Ragil terkejut dan nyaris melompat dari kursinya menjauhi Ibu


"Serius Bu????"


---

__ADS_1


Suasana hati Azka semakin tidak menentu. Hanya tinggal hitungan jam, Azka akan menghadapi pertemuan dua keluarga yang akan membicarakan masalah lamaran antara Romi dan dirinya. Azka gusar, tidak adakah cara agar dirinya bisa menolak lamaran itu? Azka mengerti benar bahwa apa yang Mama dan Papa lakukan adalah demi kebaikan dirinya. Azka juga tidak memungkiri bahwa Romi adalah sosok ideal laki-laki pujaan setiap wanita. Romi adalah pemuda tampan berkulit putih dengan alis tebal di atas bola mata berwarna hitam pekat. Perawakannya tinggi dan berisi. Romi juga tercatat sebagai mahasiswa berprestasi di kampusnya, bahkan dirinya adalah perwakilan Indonesia dalam pertukaran pelajar Indonesia-Tiongkok. Saat inipun Romi masih menjalankan beberapa program kerjasama antara Indonesia dan Tiongkok.


Esok, Rencananya keluarga Om Robi, orang tua Romi, akan datang menemui Mama dan Papa. Kebetulan keluarganya akan menengok orang tua Om Robi yang sedang sakit di kampung, kampung yang sama dengan kampung mbahnya Azka dari pihak Papa.


"Belum Ma, Mas Robi belum mengabari lagi besok akan seperti apa. Katanya Simbah semakin parah sakitnya" terdengar suara Papa yang sedang membahas pertemuan esok dengan Mama. Azka menajamkan telinganya. Bahkan Ia menempelkan telinganya untuk mendengar dari balik pintu kamar.


"Oh gitu Pa, apa gak sebaiknya di undur aja? biar Mba Ani sama Mas Robi fokus dulu ngurus Simbah?" Ucap Mama terdengar agak khawatir.


"Ya, kita lihat saja besok. Lagipula kita sebagai pihak penerima ya nerima aja Ma" ungkap Papa masih dengan nada santai.


"Pa, gimana kalo sebelum Mas Robi dan Mbak Ani kesini ada yang datengin kita buat meminang Azka? Mama takut kita jadi gak enak dengan mereka Pa"


"Ya, ini bukan masalah enak gak enak Ma. Sebelum ada ikatan apa-apa, sebelum ada peminangan, ya Azka masih bebas dipinang siapapun Ma. Kalaupun itu terjadi, Papa yakin Mas Robi dan Mba Ani ngerti. Tapi semoga tidak terjadi"


Azka menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Kemana perginya kamu, Cinta? Ucap Azka dalam hati. Entah ditujukan pada siapa kata cinta dalam kalimatnya. Dua sosok membayangi tidurnya malam itu. Semakin lama, salah satunya semakin kuat mengambil alih pikiran di dalam kepalanya. Siapa lagi? Dia yang telah bersemayam terlalu lama di dalam sana, seolah tidak sudi ada sosok lain yang menghuni ruang di dalam sana. Dalam kepala Azka, sosok dan kenangan Ragil berputar hingga kepalanya sakit. Tubuhnya mungkin nyaris limbung jika saja Ia sedang berdiri. Bayangan Saga seolah tak mau kalah, di sela-sela kenangan tentang Ragil, sosok Saga seringkali menyelinap masuk, meski tak bertahan lama. Ia nyaris selalu berhasil menyusup ke dalam setiap kenangan itu, merusak kenangan itu pada beberapa bagian. Denyut di kepala Azka semakin parah, sakit yang biasa dirasakan di dadanya itu kini berpindah ke kepala. Saat ini, batinnya seolah sedang berperang. Siapa yang sebenarnya akan Ia pilih? Seseorang yang berjuang untuknya atau seseorang yang selama ini Ia perjuangkan?


"De?" Mama membangunkan Azka dengan sedikit panik yang tergambar jelas di raut wajahnya. Azka membuka mata dengan susah payah. Tubuhnya terasa sangat lemas, Peluh telah membasahi hampir sekujur tubuhnya.


"Ade gak apa-apa?" Tanya Mama mencoba menyadarkan Azka


"Ade gak apa-apa Ma" Ucap Azka lemah setelah kesadarannya terkumpul


"Ade yakin?" Mama terlihat masih sangat cemas


"Iya Ma" Ucap Azka lirih, Ia kemudian mencoba bangun dari posisi tidur menjadi duduk.


"De, Ade mikirin apa?" Mama masih ingin tau. Azka hanya diam, tersenyum lalu menggelengkan kepalanya lemah.


"Ade baik-baik aja Ma" Azka masih menutupi perasaan sesaknya setelah semalaman Ia harus menghadapi perang batin yang seolah nyata terjadi di depannya.

__ADS_1


"Ade siap-siap ya, Keluarga Om Robi udah di jalan" Kalimat terakhir dari Mama sukses membuat sebutir air mata Azka mengalir di sepanjang pipi mulusnya. Beruntung Azka bisa menahannya hingga Mama sudah keluar lebih dulu.


Tuhan, aku harus apa?


__ADS_2