
Kara sudah berlari beberapa putaran di stadion kampus. Tubuhnya sudah begitu lelah, Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Ia ambruk, berbaring menghadap ke langit yang sepertinya begitu berempati dengan apa yang ia rasakan. Langit yang Ia pandang begitu suram, awan kelabu tak berarak, hanya diam ditempat seolah siap mengguyurnya dengan cairan basah yang dingin. Dalam sudut hatinya Ia meringis, berharap hujan itu segera turun, agar Ia tak perlu lagi menutupi perasaan luka dengan menyiksa diri sendiri.
Ya, Seharusnya Ini bukanlah hal yang patut membuatnya bersedih sedalam ini. Bahkan dulu Ia yang dengan sangat bersemangat mendorong gadis itu untuk berjuang dan menyudahi kesakitannya. Harusnya, Ia ikut bahagia bahwa Azka akan benar-benar melabuhkan hati dan hidupnya pada Saga. Orang yang selama ini selalu menjadi pria baik dalam hidupnya. Bersikap manis, tidak menuntut, dan siap menerima. Tapi mengapa Ia begitu merasakan sesak dalam dadanya? Tubuhnya seolah penuh, hingga Ia perlu mengeluarkan semuanya. Ia tidak bisa berbahagia begitu saja, atau bersedih bermuram durja disaat seperti ini. Meski bukan pertama kali dirinya menjalin hubungan dengan seorang wanita, tapi perasaan ini begitu asing. Baru kali ini Ia merasakan hal itu.
Ingatannya kemudian berlari pada saat pertama kali dirinya melihat Azka di perpustakaan. Ia tak tau bahwa Azka merupakan seorang asisten dosen di fakultas yang sama. Ia mengenal Azka beberapa tahun yang lalu dalam sebuah organisasi. Tapi Azka yang Ia lihat dalam perpustakaan itu seperti Azka yang berbeda, keceriaannya saat pertama bertemu seolah tertutupi dengan perasaan lain yang hinggap bersamaan. Maka Kara mencoba mendekatinya, meski sempat mendapat penolakan tapi sepertinya semesta mengijinkan dirinya untuk masuk dalam kehidupan gadis itu. Menjadi teman bercerita dan berkeluh kesah saat dirinya sedang bermasalah dengan dua laki-laki dalam kehidupannya. Dan Kara? Ya, dirinya menyadari, bahwa Ia tidak masuk ke dalam lingkaran laki-laki itu. Ia tak ayal hanya sebuah penghibur di sisi pertandingan.
Azka, adalah orang yang begitu menarik di mata Kara. Sejak pertama bertemu, Ia tau bahwa gadis itu adalah gadis yang ceria sekaligus tertutup. Entahlah, Kara selalu bisa melihat sisi rahasia dibalik sikap Azka. Sampai suatu hari, rahasia itu sedikit demi sedikit terkuak.
"Kara! Apa yang kau lakukan?" Suara cempreng Sani bergaung di telinganya. Membuat kenangannya tentang Azka menguar begitu saja.
"Kamu disini?" tanya Kara singkat, menolehkan kepalanya ke arah Sani lalu kembali menatap langit yang kian kelabu.
"Ya, dan ayo kita pergi dari tempat ini. Hujan akan turun" Ajak Sani sedikit tergesa-gesa.
"Aku justru sedang menunggunya turun" jawab Kara dengan mata yang mulai terpejam.
"Hei Kara? Apa yang terjadi dengan dirimu? Ini sungguh bukan Kara yang kukenal. Apa ini masih tentang wanita perpustakaan itu?" Sani berjongkok di sisi sebelah kiri Kara, dahinya mengernyit karena Kara tak menghiraukan pertanyaannya. Ia justru bergumam, Sani mempertajam pendengarannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyakitinya. Ia sudah terlalu terluka jauh di dalam hatinya. Aku tidak bisa memaksanya untuk menerima keberadaanku sebagai lebih dari seorang teman, padahal aku tau siapa yang ada di hatinya" Sani semakin mengernyit, sampai pandangan matanya menemukan sebuah kertas undangan cantik berwarna mint menyembul di salah satu saku celana training yang digunakan Kara. Disana tertulis jelas nama Azka dan Saga.
"Ini perempuan yang kamu ceritakan?" Sani melihat anggukan kecil dari Kara. "Lalu apa yang akan kamu lakukan? Masihkah kamu akan bersama dirinya? Sebagai temannya?" tanya Sani lagi
"Entahlah, aku tidak tau" jawab Kara nyaris seperti berbisik.
"Hei! Ayolah kara, kemana dirimu yang selama ini? kenapa ini bukan dirimu sekali!" teriak Sani pada Kara
"Dia sedang bepergian, entah kapan akan kembali" ucapnya lagi, masih dalam suara sendu yang membuat Sani jengah.
"Hah! Lucu sekali Kara. Awas saja jika Ia tidak cepat kembali. Aku akan menariknya secara paksa! Aku tidak akan membiarkan dirimu terus-terusan aneh seperti ini. Memang apa yang berbeda dengan dirinya? Kau hampir gila" ucap Sani panjang lebar.
"Hei, Kamu mau kemana?"
"Terserah, kemanapun asal tidak disini dengan seseorang yang patah hati sepertimu"
"Waw, aku tersinggung dengan itu San!" Sani kemudian berlari, mempertebal jarak dengan Kara yang seketika ikut terbangun darisana. "Hei Sani!"
__ADS_1
Yah, Sani benar. Menyesali diri sendiri sampai nyaris melukai diri bukan gaya Kara sama sekali. Mungkin Ia bisa tetap menganggap Azka masih berada di tempat yang sama. Meskipun Ia sekarang bersama Saga, tapi Azka tetap Azka-nya, Azka yang sudah membuatnya jatuh cinta dari pertemuan pertama.
---
Saga masih tidak percaya bahwa apa yang ia lakukan akan membawanya pada keputusan besar seperti meminang seorang gadis untuk dinikahinya. Ya. Keputusannya dahulu untuk terus mendekati Azka membawa dirinya pada sebuah pilihan besar. Dirinya sendiri tidak paham apa yang membuatnya sangat ingin berjuang untuk gadis itu. Ekspresi Azka yang selalu ceria di hadapan semua orang, sungguh berhasil mengelabui siapa saja. Nyatanya, gadis itu lemah. Dengan mengetahui hal itu, Saga selalu mengatakan pada dirinya bahwa Azka membutuhkan seseorang untuk melindunginya, menemaninya, dan membuatnya bisa menghadapi rasa sakit. Ia bukan orang yang akan bisa membuat Azka tak pernah tersakiti. Tapi tidak ada salahnya kan mencoba menjadi seseorang yang bisa diandalkan? Setidaknya dirinya akan selalu ada untuk setiap rasa sakit yang di alami oleh Azka. Ia berjanji tidak akan kemana-mana.
Sampai suatu hari Ia mengetahui sebuah rahasia yang telah ditelan Azka dalam-dalam selama nyaris dua belas tahun. Ragil, ah mengingat nama itu rasanya hati Saga menjadi pilu. Ia menerima pesan rindu darinya untuk Azka, disaat Azka dan dirinya baru saja akan siap memulai. Ia menahan kertas itu selama sebulan dan baru memberikannya pada Azka sepulangnya dari perjalanan ke Bangkok. Ya, hari itu menjadi hari paling menyesakkan. Hanya karena sebuah kertas itu, selama satu semester penuh Azka tak lagi menghubunginya. Bahkan secara terang-terangan Azka menghindarinya. Pernah beberapa kali Ia mendapati Azka berbalik arah saat tanpa sengaja mengetahui keberadaannya. Menyakitkan memang, tapi mungkin itu juga disebabkan oleh dirinya. Satu hal yang Ia sadari, bahwa ternyata cinta pertama itu begitu nyata adanya.
Maka ketika Ocha mengatakan Azka akan dilamar oleh teman kecilnya, Saga mulai merasa frustasi. Ia merasa dirinya tidak bisa lagi kehilangan Azka lebih jauh. Satu semester sudah begitu menyiksa. Ia tak bisa membayangkan jika Ia harus merelakan gadis itu untuk selamanya. Maka setelah berpikir panjang, Ia akhirnya nekat mendatangi rumah kedua orang tua Azka. Masa bodoh dengan lamaran itu, Masa bodoh dengan cinta pertamanya, siapa tau Ia yang justru diberikan kesempatan untuk bersama dengan gadis yang dicintainya itu. Kejutan, bukan dirinya yang memberi kejutan, tapi justru Ia yang terkejut karena sampai Ia datang di hadapan kedua orang tua Azka, lamaran itu belum pernah terjadi. Maka Ia memberanikan diri untuk menyampaikan dengan bahasa paling lugas yang bisa ia keluarkan. Ia dengan berani meminang Azka.
Dan disinilah dirinya saat ini, berada di sebuah rumah yang kecil namun nyaman. Menyandang status sebagai suami dari gadis yang masih terlihat sama dengan pertama kali mereka bertemu. Nyaris sama, karena bahkan sampai saat ini, gadis itu masih menyuarakan rasa rindunya. Seperti yang Saga lihat beberapa hari sebelum mereka menikah di sebuah akun sosial media. Saga tau itu adalah Azka meski tidak tertera namanya disana. Ia menuliskan sesuatu, tentang pertemuan dan perpisahan yang begitu pilu.
Sebuah kisah yang belum sempat dimulai, menyisakan rasa sesak dan penasaran. Aku butuh penawar, dan itu kamu.
Lalu ketika kamu hadir pada waktu yang tak mungkin bagi kita. Satu hal bernama melepaskan adalah jawaban. Setidaknya, aku masih memilikimu sebagai kenangan.
Ini adalah postingan kedua Azka dengan kalimat yang sama. Hanya saja Ia menambahkan sajak baru tentang melepaskan. Saga tau hari itu adalah hari dimana Ragil menemuinya. Entah apa yang mereka bicarakan, yang Ia tau Azka tetap memilih dirinya.
__ADS_1
"Ga, minum dulu" Ucap Azka sambil membawa secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Senyuman tersungging dari bibirnya. Tidak ada yang tersembunyi disana, tulus. Tapi di dalam matanya, masih tersimpan kenangan itu. Azka benar, Ia tidak akan pernah terpisahkan dari perasaannya. Cinta pertama yang telah membuat hatinya tak utuh, cinta pertama yang membuatnya tegar dan rapuh dalam satu waktu.
Saga akan menjaga hati itu, membuatnya tetap sempurna meski ada kecacatan di dalam sana. Saga akan tetap pada tempatnya, menerima Azka dengan segala perasaannya. Memberikannya kekuatan untuk kembali mengubur perasaan yang sempat mencuat begitu hebat. Membiarkan perasaan itu tetap disana, dalam sudut terdalam hati wanita yang Ia cinta. Hingga nanti, ia lupa, atau bahkan tak pernah menemukannya lagi. Hingga nanti ia tidak akan lagi terluka.