
Kebetulan yang sering terjadi, membuat prasangka semakin menjadi. Salah siapa jika ini terjadi?
-Saga-
Azka baru saja selesai mengerjakan tugas proyeknya. Ia merentangkan tangannya dan menggerakkan badannya ke kiri dan kanan untuk meregangkan otot-ototnya yang sudah kaku akibat posisinya yang tidak berubah sejak pukul sembilan pagi. Ia sudah bekerja hampir delapan jam di ruangan itu. Memeriksa berkas dan data hasil survey yang kemarin mereka lakukan.
"Ka, sudah di cek?" Pak Ara masuk ke ruangan itu. Meletakkan beberapa berkas lain yang baru saja diurutkan oleh rekan tim yang lain.
"Sudah Pak. Tinggal satu berkas lagi," ucap Azka memalingkan sebentar wajahnya ke arah Pak Ara, lalu kemudian kembali menunduk menghadap berkas yang sedang Ia periksa.
"Berkas ini sudah diperiksa. Tolong nanti kembali dikelompokkan berdasarkan kriteria seperti yang tadi kita lakukan."
"Oke Pak!"
"Ka?"
"Iya Pak?"
"Setelah itu kamu bisa pulang. Jangan lupa hubungi suamimu."
"Baik Pak. Azka akan ingat itu." Azka tersenyum, sebelum akhirnya kembali menunduk menghadap berkas saat Pak Ara berlalu ke luar ruangan.
Sebuah panggilan di ponsel Azka membuat Azka menghentikan aktivitasnya. Ia bangkit dari kursi dan mendekati meja tempat ponselnya diletakkan. Layarnya yang menyala menampilkan satu nama.
Saga.
"Halo Ay. Assalamu'alaikum." Sapa Azka dengan riang. Mencoba menutupi kelelahan yang sudah tebal menempel di badan.
"Wa'alaikumsalam. Ayang sudah pulang?" Tanya suara di seberang.
"Sebentar lagi, masih ada yang harus aku periksa."
"Besok jadi pulang?"
"Em-em. Tentu. Semoga pekerjaan ini cepet kelar. Sebagian mungkin bisa aku bawa ke rumah. Besok bisa jemput?" Tanya Azka penuh harap.
"Ehmmm.. aku lihat jadwal besok. Semoga aku bisa jemput." ucap Saga dengan nada sedikit menyesal.
"Jangan terlalu memaksakan. Aku bisa pulang sendiri. Bisa pake ojol kan?" Azka mengerti benar seperti apa lelahnya Saga mengurus proyek yang diberikan pada suaminya itu.
"Makasih ya,"
"Sama-sama. Aku harus balik kerja nih. Biar gak kemaleman." Ucap Azka bergerak menjauhi meja. Mendudukkan kembali dirinya saat sudah berada di meja kerjanya.
"Hati-hati pulangnya. Sampai jumpa besok."
"Ay juga. Love u!" Ucap Azka menutup percakapan. Sambungan terputus setelah Saga membalas dengan ucapan yang sama.
Hampir satu setengah jam waktu yang digunakan Azka untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada. Kini Azka keluar untuk pertama kalinya dari ruangan itu sejak pertama Ia masuk ke sana pagi tadi. Keluarnya Azka disambut riuh oleh rekan tim yang lain. Karena keluarnya Azka menandakan bahwa pekerjaan mereka akan segera berakhir.
"Sudah Ka?"
"Wah, Azka keluar auto pulang nih kita."
__ADS_1
Sahutan semacam itu terdengar lebih banyak sampai akhirnya Pak Ara menghentikan keributan itu.
"Baiklah data sudah terkumpul. Tinggal kita lakukan langkah selanjutnya. Jika esok pekerjaan kita selesai sesuai jadwal, selebihnya bisa dikerjakan di rumah. Mari kita berkemas." ucap Pak Ara yang disambut dengan senang hati oleh semua yang ada di ruangan itu.
"Ka,"
"Ya?" Azka menoleh ke arah salah satu rekannya yang baru saja masuk ke ruangan itu setelah membawa tumpukan sampah ke luar.
"Ada yang nyari di depan." infonya.
Siapa? Azka menyadari bahwa dirinya tidak berjanji bertemu dengan siapa-siapa di sini.
"Oh Oke. Makasih Nit." ucapnya pada Nita, rekannya yang tadi bicara.
Azka bergegas membereskan barang-barangnya. Ia menyempatkan mencuci tangan sebelum berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
Ia mendekat ke arah pintu. Dengan hati-hati membuka pintu itu dengan sangat perlahan. Ia teliti orang di hadapannya. Seorang pemuda, yang sepertinya tidak asing. Ketika Azka meloloskan tubuhnya dari pintu dan berjalan mendekat, sebuah panggilan membuatnya terhenti dan berpaling.
"Teh! Hai!" Coba tebak siapa yang memanggilnya ini. Ya, ini jelas suara dan gaya bicara seorang Kara.
Seseorang yang dengan cueknya terus berjalan mendekat dan berhenti di hadapan Azka. Tangannya terangkat di samping kepala. Ia menggerakkannya ke kanan dan ke kiri seperti sedang melambai.
Azka mengerjap, menyadarkan dirinya tentang kehadiran Kara yang tiba-tiba. "Oh Hai!" Azka terdengar sangat kaku.
"Teh? Kamu kenapa?" Tanya Kara dengan kening berlipat dalam. Azka menggeser kepalanya untuk melihat pemuda di belakang Kara yang tadi mencarinya. Melihat tingkah Azka, Kara menoleh ke arah yang sama. Dengan gerakan pelan Ia memundurkan badannya menjadi sejajar dengan Azka.
"Teh, kamu kenal dia?" Azka mengangguk.
"Tunggu di sini sebentar. Oke," ucap Azka tanpa menoleh.
"Hai Ka."
---
Mereka bertiga duduk satu meja di sebuah restoran. Ketika Ragil tadi mengatakan bahwa dirinya ingin berkeliling Bandung dengan ditemani Azka, Azka hanya bisa mengangguk setuju. Dan kehadiran Kara yang tidak bisa diabaikan akhirnya membawa mereka berada di satu meja dengan kecanggungan yang luar biasa.
"Emm," Azka mencoba membuat suara setelah hampir lima belas menit mereka bertiga diam seribu bahasa. Kara terlihat sibuk dengan ponselnya. Sedangkan pemuda yang diketahuinya sebagai Ragil- si cinta pertama Azka- itu hanya diam sambil menatap suasana di sekitarnya.
"Jadi kita semua tinggal di Jakarta ya?" Pecah keheningan itu oleh suara Azka. Sumpah demi apapun, bahwa saat ini adalah saat yang paling awkward bagi dirinya. Dan Azka seolah tidak menjadi dirinya di tengah dua orang yang saling diam seribu bahasa itu.
"Emm," Ragil bergumam.
"Teh, saya gak akan dikenalin sama temennya?" Tanya Kara beralih saat ia sudah meletakkan ponselnya.
"Oh. Hahaha, maaf Ya." Azka baru ingat bahwa tadi mereka segera saja masuk ke dalam mobil Kara saat bocah itu menawarkan tumpangan.
"Kar, ini Ragil. Temenku saat SMP dan SMA. Ragil, ini Kara. Emm," Kara manggut-manggut pura-pura mengerti, ia lalu mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Kara "
"Ragil."
Azka terhenti, tidak melanjutkan karena kedua orang itu segera berjabat tangan sambil menyebut nama mereka masing-masing.
__ADS_1
"Teh, ini cinta yang mana lag-Aw!!" Kara berbisik sebelum akhirnya meringis karena segera mendapat pukulan pelan di lengannya.
"Jangan ngomong macem-macem!" Balas Azka sama-sama berbisik. Ia tahu Ragil memperhatikan kedekatan mereka sejak tadi. Azka jadi merasa tidak enak. Kara berkali-kali mengajak bicara Azka. Tidak menghiraukan seorang Ragil yang berada di tengah-tengah mereka. Sampai sebuah suara menginterupsi aktivitas keduanya.
"Ka, bisa temenin gue keliling di sini?"
"Eh? Ayo. Ayo aku temenin" ucap Azka. Ia kemudian beralih ke seorang lain diantara mereka, "Kar-"
"Lo aja deh. Gue gak enak ngerepotin temen Lo juga."
Kara mengerti maksudnya. Ragil hanya ingin di temani Azka saja. Hah! Kenapa dirinya harus terjebak diantara dua orang ini sih?
"Nah, bener tuh. Dari tadi saya nunggu kalimat ini nih. Sorry Teh, saya pulang yak. Ngerepotin aja Kamu!" Ucap Kara terkekeh. Ia sudah siap berdiri, namun Azka menahan lengannya.
"Kar, plis." Azka memohon. Namun bukan Kara jika ia luluh begitu saja. Pemuda itu justru memukul tangan Azka di lengannya sehingga cekalan Azka terlepas diikuti dengan ringisan dari mulut Azka.
"Bye! Besok saya balik ke Jakarta. Nanti kita ketemu ya!" ucap Kara saat dirinya menjauh dengan satu minuman di tangannya. Pemuda itu melambai, menampilkan wajah meledek pada Azka. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Azka dan Ragil berdua saja.
"Ayo," ajak Azka pada Ragil. Mereka berjalan berkeliling di sekitar restaurant yang berada di tengah kota itu. Kota begitu ramai. Mereka berjalan hingga sampai ke sebuah taman.
"Cuma bisa gini kelilingnya. Aku gak ada kendaraan." ucap Azka saat keduanya duduk.
"Gak apa-apa Ka. Lo besok balik ke Jakarta?"
"Iya. Kayaknya sih sore." ucap Azka memberi tahu.
"Lo naik apa?" Ragil masih mencari tahu.
"Travel sih rencananya."
"Oke."
Oke?? Azka tidak mengerti apa maksudnya itu. Tapi Azka mencoba untuk tidak terlalu mau tahu.
---
"Sampe ketemu lagi Gil," ucap Azka saat Saga sudah menjemputnya di pemberhentian travel yang digunakan Azka untuk kembali ke Jakarta.
"Yo. Makasih Ka." jawab Ragil dari tempatnya.
"Ragil lagi? Sama-sama dari Bandung?" tanya Saga saat Azka sudah berada di dalam mobil.
"Eh, I-iya. Kemarin katanya dia ke nikahan temennya sambil liburan." Entah mengapa Azka terbata menjawabnya. Ia seperti tengah tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.
"Trus pulang sama-sama?" Saga masih belum menjalankan mobilnya. "Bukannya kemarin kamu bilang ada Kara? Kenapa gak pulang sama Kara aja?"
Ya, Saga tahu tentang Kara. Teman baik Azka saat gadis itu mengalami banyak masa kritis dalam hubungan percintaannya. Sekaligus orang yang juga berperan dalam keberhasilan hubungan dirinya dengan Azka.
"Kara pulang lebih dulu sebelum aku selesai dari kampus." ucap Azka membela diri.
"Dan Ragil dengan sengaja pulang di saat yang sama dengan kamu, Yang? Atau hanya kebetulan?" Saga seolah sedang mencecar pertanyaan pada seorang terdakwa.
"Maaf." ucap Azka. Entah mengapa dirinya merasa tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Karena bisa jadi mereka akan bertengkar setelah ini. Azka hanya bisa meminta maaf seraya menundukkan kepalanya. Perilaku ini, bagi orang lain pasti akan bermakna bahwa dirinya mengakui tuduhan itu. Namun tidak bagi Saga. Ia mengerti makna maaf yang diucapkan Azka.
__ADS_1
"Aku anggap ini hanya sebuah kebetulan." ucap Saga tersenyum.