RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #30


__ADS_3

Apapun alasannya, dia tetap harus bertanggung jawab. Karena ini berhubungan dengan seseorang yang berarti dalam hidup kita.


-Ragil-


"Saya gak pernah melaporkan kasus ini, Pak. Saya berpikir bahwa ini murni sebuah kecelakaan. Jadi, siapa yang membuat laporan untuk penyelidikan kasus ini?" tanya Saga setelah dirinya sampai di kantor polisi. Ia sampai meninggalkan Azka di rumah sakit sendirian.


"Gue yang lapor." Saga menoleh karena terkejut dengan suara lain di ruangan itu. "Ragil?"


Ragil mengedikkan bahunya, "Gue punya banyak kenalan polisi. Gue laporin aja, soalnya gue.. takut semua ini ada hubungannya sama istri gue." ucap Ragil lagi.


"Kami sudah mengecek cctv di sekitar jalan itu. Dan tim kami tengah menjemput seseorang yang sudah kami ketahui sebagai pengemudi mobil penabrak istri anda." jelas polisi di hadapan Saga.


"Gil? kamu serius? Senekat itu kah istri kamu?" Ragil menunduk.


"Kalo bener dia yang ngelakuin ini.. gue gak tau harus ngelakuin apa untuk nebus semua kesalahan gue."


"Saya gak bisa maafin kamu atau istri kamu, kalo semua ini memang berhubungan dengan istri kamu." ucap Saga tegas. Ragil hanya diam menunduk.


Sesaat kemudian ruangan itu hening. Saga dan Ragil hanya saling diam meskipun keduanya duduk bersebalahan. Mereka masih menunggu kedatangan petugas yang katanya tengah menjemput sang pelaku. Keduanya gelisah, Saga gelisah karena harus meninggalkan Azka. Sementara Ragil gelisah karena jika benar Marsha yang ada di balik semua ini, ia mungkin tidak akan punya kesempatan lagi untuk meminta maaf pada Azka. Menjenguknya pun mungkin Saga tidak akan mengijinkan.


Pintu di sisi ruangan terbuka lebar, dua orang petugas masuk, diikuti tiga orang lainnya. satu orang diantaranya menunduk. Saga sepertinya mengenali orang itu. Ia berdiri dari duduknya dan mendekat.


"Kara?" sapa Saga tak percaya.


"Saya udah bilang saya akan bertanggung jawab, Ga." ucap Kara menunduk.


"Tapi.. tapi ini pasti salah paham. Kamu.." Saga masih belum percaya, sementara Ragil masih terdiam mengingat-ingat wajah pemuda yang dipanggil Kara itu.


"Kamu inget percakapan kita di depan kantor kan Ga.. sorry, ternyata saya justru buat Azka celaka."

__ADS_1


"Kar!" Saga memanggil namanya lagi saat petugas membawanya menuju ruang penyidikan.


"Saya.. masih sulit percaya. Kamu.."


"Saya selalu berharap Azka bisa menyelesaikan semuanya, trus hidup bahagia dengan satu-satunya orang yang selalu dia pilih." Kara menunduk sejenak,


"Saya gak apa-apa harus ngalamin ini semua. Asal nanti, Azka bisa bahagia dan sembuh dari segala perasaan yang mengekangnya." Kara kembali digiring menuju sebuah ruangan.


---


"Gil! bisa kamu cabut laporan itu?" mereka tengah duduk di depan sebuah kedai dengan secangkir kopi dihadapan masing-masing.


"Gak bisa. Gue gak bisa cabut laporan itu. Gue yakin, dia bukan orang baik."


"Gil! Kara itu temen Azka. Dia yang selalu ada di pihak Azka selama ini. Bahkan mungkin dia lebih mengerti Azka dari saya yang suaminya sendiri."


"Ya Tuhan.." Saga menghela napas. Masalah apa lagi yang akan mereka hadapi? Saga butuh penjelasan. Saga masih belum percaya bahwa Kara yang ada di balik semua ini. Dan bukan Marsha, istri dari Ragil.


Tunggu, kemana perginya wanita itu? Sejak dikirimnya foto-foto itu, dirinya tidak mendapat teror lanjutan. Sejak dikirimnya foto-foto itu juga, Kara menghilang.


Suara dari ponsel Ragil menginterupsi keheningan diantara keduanya. Laki-laki itu menatap layar yang sudah menyala. Mengerutkan keningnya hingga alisnya menukik ke bawah. Sebuah pesan dari Marsha.


Ada angin apa Marsha mengiriminya pesan, dan isinya.. membuat Ragil tidak percaya. Permainan apa lagi yang akan ia jalankan sekarang? Ragil mengepalkan tangannya. Tindakan itu menarik atensi dari Saga yang duduk di sebelahnya.


"Ada apa?" tanya Saga menoleh sekilas ke arah laki-laki itu.


"Marsha. Dia.. masih di jakarta selama ini."


"Ya, saya pikir demikian. Karena dia mengirimkan saya foto ini. Pertemuan kalian siang itu." Saga menyodorkan ponselnya. Ragil menoleh, menelisik foto yang terpampang di layar itu.

__ADS_1


"Azka.. apa dia di RS sendirian?"


pertanyaan itu membuat Saga menegang ditempatnya.


---


Pintu kamar rawat terbuka. Napas yang tersengal masih memenuhi dadanya. Saga melihat Azka masih terbaring di sana. Perasaan lega seketika meliputi dirinya. Azka baik-baik saja. Ia segera mendekat.


"Aku takut banget kamu ninggalin aku, Ka. Kamu bangun Ka, plis!" Saga melirihkan suaranya.


Ia menautkan jemarinya diantara jemari lentik Azka yang terkulai lemas. Saga tengah dirundung kebingungan. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Tentang Kara, tentang dirinya, tentang Ragil. Tentang apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Ka, aku harus apa? Tolong bilang sama aku.. apa aku harus percaya kalo Kara pelaku semuanya? Aku harus membela dia atau harus melindungi dia, Ka?" Saga menunduk, "Aku masih gak percaya kalo Kara yang melakukan ini ke kamu. Aku gak tau harus percaya yang mana."


Ya, Saga tahu benar bahwa Kara menyimpan perasaan pada Azka sejak pertemuan pertama mereka. Bahkan, Kara tidak pernah hadir di pernikahan mereka akibat patah hatinya. Sampai akhirnya di pernikahan mereka yang menginjak usia satu tahun, Kara kembali. Ia menjadi lebih dewasa meski tetap konyol dan ceria. Saga tahu benar, bahwa sorot matanya masih sama seperti dulu. Ia masih menganggap Azka adalah Azka yang sama. Dan Saga tidak menyalahkan itu, karena Saga pun juga merasa demikian. Tidak banyak yang berubah dari Azka meski ia sudah menikah. Dan mungkin, perasaan Kara pada Azka memang masih tertanam dalam di hatinya.


Beberapa bulan lalu, mereka justru di pertemukan dalam satu proyek. Kepercayaan Saga bahwa Kara tidak akan menyakiti Azka, menyebabkan dirinya menitipkan sepenuhnya Azka pada pemuda itu. Karena ia tahu bahwa dirinya mungkin tidak bisa selalu ada akibat proyek yang menyita waktunya.


Kara yang lebih mengerti Azka. Kara yang lebih memahami Azka dibanding dirinya. Dan sialnya, Kara juga yang lebih peka pada setiap perubahan Azka. Sampai kehamilan Azka pun, pemuda itu justru tahu lebih dahulu dibanding dirinya.


Saga juga ingat, suatu malam Kara mengunjunginya saat Azka sudah tertidur. Pemuda itu menunjukkan beberapa video cctv di sebuah hotel. Video yang menjelaskan perkara yang sama yang membuat Saga sedikit risau. Pasalnya ia mendapatkan potongan-potongan foto yang di dalamnya tertangkap Azka yang tengah bertemu dengan Ragil di banyak kesempatan. Dan satu foto yang memperlihatkan mereka seperti tengah berpelukan di ambang pintu kamar sebuah hotel. Dari penjelasan Kara, dirinya tahu bahwa hotel itu adalah lokasi mereka mengadakan pameran dan seminar. Gambar-gambar itu adalah gambaran kejadian dimana Azka mengikuti Marsha, istri Ragil, untuk memperoleh bukti perselingkuhan wanita itu. Dan karena Azka ketahuan, ia diselamatkan Ragil masuk ke dalam sebuah kamar dimana dirinya dan temannya bernama Arif tengah mengumpulkan juga bukti-bukti tentang perselingkuhan itu.


"Azka masih terobsesi pada kebahagiaan Ragil. dia sepertinya rela melakukan apapun asalkan Ragil bahagia. Dan sialnya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat dirinya lepas dari semua perasaannya." ucap Kara saat itu. Meski itu masih sebuah hipotesis semata, Saga tidak menyangkal. Karena sebagian dirinya justru merasa apa yang dikatakan Kara memang benar adanya.


Saga berhasil diredam amarahnya oleh pemuda itu. Saga mendapat segala jenis penjelasan yang membuat dirinya mengerti dan tetap bersikap seperti biasa. Kara juga selalu mengatakan bahwa Azka sedang dalam kondisi pengaruh hormonal , hingga emosinya tidak terkendali dengan baik. Pemuda itu berkata, bahwa ia sebagai suami harus mengerti itu semua. Kara juga yang menahan emosinya saat lagi-lagi menerima teror dari Marsha. Hingga Kara berjanji untuk menyelesaikan masalah itu asal Saga mau menemui Azka dihari Azka mengalami kecelakaan.


"Urusan Ragil biar jadi urusan saya. Lebih baik kamu pulang, saya janji, Ragil gak akan ganggu Azka lagi setelah ini. Kamu tunggu Azka di rumah." ucap Kara siang itu. Entah apa yang direncanakannya. Tapi semua hal yang ia lakukan selama ini, semua hanya karena ia tidak ingin Azka kembali terluka oleh perasaan lamanya. Dan kenyataan ini membuat Saga semakin tidak percaya jika Kara tega melakukan itu pada Azka, membuat Azka celaka.


Jadi, apakah mungkin Kara yang melakukan itu semua hingga Azka saat ini tergeletak tak berdaya? Bagaimana Saga bisa percaya itu semua, mengingat apa yang sudah pemuda itu lakukan untuk membantu Azka dan dirinya menjalani pernikahan selama ini?

__ADS_1


__ADS_2