RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA


__ADS_3

Tidak ada yang salah dengan cinta.


Kita memang tidak bisa mencegahnya untuk datang dan pergi.


-Azka-


"Jadi, gimana kamu dengan Rasya?" tanya Ocha disela-sela percakapan mereka. Ocha segera menghampiri Azka sesampainya Ia dirumah. Tahun-tahun yang panjang mereka lewati tanpa satu sama lain. Jarak yang menjeda, kesibukan yang menjarak hubungan mereka berdua nyatanya tidak bisa mengikis persahabatan keduanya.


"Kami sudah selesai Cha. Dan itu sudah lama sekali. Tolong jangan buat aku mengingat kenangan itu." Ucap Azka lalu menghela nafasnya


"Oke, oke. Lalu, Ragil?" tanya Ocha sambil menatap netra hitam pekat milik Azka


"Hemmm" Azka menjeda sejenak. "Masih sama seperti dulu. Ayolah Cha, Itu cinta bocah yang sudah lama sekali." Azka terlihat enggan membahas perihal cinta tak berbalasnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.


"Benarkah hanya cinta bocah?" tanya Ocha sangsi


Azka mengedikkan bahunya, Ia tidak mau ambil pusing. Jemarinya kembali memainkan ponsel yang tidak bergetar sedari tadi. Kegiatan scroll up scroll down yang sia-sia.


"Dia mungkin masih sama tidak tahunya dengan dulu." ucap Azka lirih


"Ya, apalagi setelah kamu dan Rasya..." ucapan Ocha menggantung.


"Ya, dan aku akan semakin bersalah dengan semuanya"


"Ka, tidak ada yang salah dengan cinta. Ketika ia datang, kamu gak akan pernah bisa menahannya. Begitu juga ketika ia harus pergi. Dan aku rasa, kamu sudah sangat hebat dengan perasaanmu selama ini" Ocha mengambil dompet Azka yang terbuka disebelahnya, menunjuk lambang R.A yang sempat ditulis dahulu. Kertas itu masih tersimpan di dalam dompet Azka. Azka tersenyum terpaksa, Ia ternyata masih menyimpan lambang itu. Lambang yang Ia tulis dahulu saat hatinya berada pada puncak rasa kagum terhadap seorang Ragil.


---


"Apa kamu sedang jatuh cinta?" tanya Ocha pada Azka yang duduk disebelahnya. Gadis itu terlihat tersenyum sendiri.


"Ehm ehm" Jawabnya enggan, namun senyum itu masih terukir jelas diwajahnya. Siapa saja yang melihat pasti akan berfikir hal yang sama dengan Ocha.


"Trus kenapa kamu senyum-senyum begitu?" tanya Ocha lagi

__ADS_1


"Gak apa-apa Cha"


"Jadi gak mau cerita?" bujuk Ocha


"Gimana yah, hehe" Azka masih tersenyum, kemudian Ia mengambil nafas, menahannya sebentar dan menghembuskannya secara perlahan. Menoleh pada sahabat yang sejak setahun lalu selalu menjadi tempatnya bertukar cerita.


"Kamu lihat dia?" tanya Azka sambil menunjuk seseorang yang duduk jauh disebrang mereka. Ocha menyipitkan matanya.


"Rasya?" tanya Ocha menebak


"Bukan, tapi yang sebelahnya" ucap Azka sedikit tersipu


"Siapa? Ragil???" Ocha terperangah mendapati pipi Azka sudah semerah buah tomat disebelahnya.


"Kamu suka sama Rag--?"


"Ssssssst!!! Jangan kenceng-kenceng!" buru-buru Azka menutup mulut gadis disebelahnya, yang sudah tergelak karena tingkah Azka yang semakin aneh. Azka melepas tangannya setelah Ia rasa Ocha cukup tenang. Meskipun Ocha masih terkikik geli, tapi Ia mencoba mengatur nafasnya, bersiap mendengar penuturan sahabatnya tentang seorang laki-laki bernama Ragil, yang tak lain adalah teman sekelas Ocha saat dikelas tujuh.


"Jadiii?" tanya Ocha memulai


"Nadia? Suci? Anne?" Ocha mengabsen nama-nama teman sepermainan mereka yang sekelas dengan Azka. Azka menggeleng.


"Aku gak berani mau cerita sama mereka. Biarin aja ini jadi rahasia antara aku, hati aku, dan Allah yang ada di atas sana. Dan juga kamu yang sekarang sudah tau" ucap Azka mantap. "Janji ya, jangan cerita-cerita. Aku juga ga berharap apa-apa kok. Aku cuma kagum, suka, entah nanti akan jadi rasa seperti apa lagi" Ia menatap Ragil yang sedang tergelak di sebrang sana. Nampaknya Ia sedang bercanda atau bertukar lelucon dengan teman-temannya. Azka menceritakan bagaimana mulanya Ia tertarik pada Ragil, yang tidak Ia kenal karena berbeda kelas. Ia juga mengakui sebagian alasan-alasan kenapa Ia sering menghampiri Ocha adalah agar Ia juga bisa melihat sekilas keberadaan Ragil dikelas itu. Bahkan Azka juga menceritakan bagaimana dirinya sangat terkejut ketika tahu bahwa dirinya akan sekelas dengan Ragil saat pembagian kelas di kelas delapan.


"Aku kira sama Rasya. soalnya katanya Rasya suka sama kamu" Ocha bertanya setelah Azka selesai bercerita.


"Gimana rasanya sekelas sama gebetan? Eh, salah tapii, gimana rasanya sekelas sama gebetan yang sahabatnya suka dan ngedeketin kamu?" Ocha menyelipkan kikikan geli diantara pertanyaannya. Ia menutup mulutnya, menahan agar tawanya tak pecah.


"Apa sih Cha. Rasya sama aku gak deket kok. Cuma karena sekelas, dan..."


"dan sering chatting semenjak kakaknya meninggal. Iya kan? Aku tau kamu suka chatting sama Rasya" Ocha tak kuasa menahan tawanya, Ia tergelak disamping Azka.


Azka mendengus kesal. Kesal pada dirinya sendiri, karena apa yang dikatakan Ocha benar. Alih-alih Ia mendekati Ragil, atau sebaliknya, Ia justru lebih dekat dengan Rasya, teman sebangku sekaligus sahabat Ragil sendiri. Meskipun hal itu tak merubah apapun. Nyatanya Ia memang lebih tertarik pada Ragil ketimbang Rasya. meskipun dibanding Ragil, Rasya memang lebih bersahabat.

__ADS_1


"Jangan merasa kesal begitu Ka. Yah, setidaknya kalo Ragil ga dapet, masih ada Rasya. Sama-sama manis kan?" Ocha menggoda Azka yang sudah sedikit cemberut.


"Enak aja. Kalo punya tujuan itu harus fokus, jangan pikirin cadangan dulu" Ocha semakin terbahak mendengar ucapan Azka.


"Iyaa iyaa. Semoga berjodoh ya. Hihihi"


"Apa sih, kita masih kelas delapan. Kok ngomongin jodoh" semburat merah itu kembali muncul di pipi putih Azka


"Loh, kok gamau didoain jadi jodoh. Kan bisa aja nanti setelah lama kita melanglang buana, kuliah, kerja, eh ternyata bertemu lagi. Trus kalian menikah deh" ucap Ocha enteng


"Menikah? Ya ampun, aku belum berpikir kearah sana Cha" Azka mengatakannya sambil menepuk-nepuk dahinya. Jujur, Ia tak sampai berpikir sejauh itu. Mereka masih kecil, hanya seorang remaja yang baru mencicipi bagaimana rasanya pubertas. Ini masih rasa paling dangkal. Ia mengagumi Ragil, rasa yang tak bisa dijelaskan dan tak memberi alasan. Bahkan jika saat ini Ocha bertanya kenapa Ia suka dengan laki-laki itu, Azka yakin dirinya tidak memiliki jawaban yang pasti. Biarlah rasa itu mengalir, pikirnya. Toh kalimat-kalimat mutiara tentang cinta yang berseliweran di laman-laman penelusuran internet seringkali berkata, "Cinta itu bisa datang tanpa alasan". Sekali lagi Azka berpikir, biarlah apa yang Ia rasakan pada Ragil datang tanpa alasan, sehingga ketika Ia harus pergi, juga tidak akan meninggalkan alasan.


"Tapi aamiin-in gak?" tanya Ocha sedikit menggoda


"Aamiin-in deh, aamiin paling serius" ucap Azka tersenyum


---


"Jadi, lusa bakal ngumpul sama anak-anak?" tanya Ocha menarikku dari lamunan yang membuat kami terdiam beberapa waktu.


"Iya, disini. Kamu yakin gabisa ikut Cha?" tanya Azka berharap jawaban dari bibir gadis disebelahnya akan berubah


"Enggak bisa, maafin ya. Aku harus ke rumah nenek" jawabnya sama kecewanya dengan Azka


"Aku takut"


"ketemu Ragil?" tanyanya meyakinkan tebakannya


"Iya, baru kali ini, dia ikut kumpul sama kita kan. Baru kali ini, aku ketemu lagi sama dia"


"Ya bagus dong. bersikap wajar aja Ka. Jangan terlalu terbawa perasaan" ucap Ocha mencoba menenangkan. Ia mengelus-elus pundak sahabatnya, mendekatkan kepala keduanya hingga mereka saling bersandar.


"Jangan-jangan bener nih yang aku bilang waktu dulu. Setelah lama kalian melanglang buana, kuliah, kerja, eh sekarang ketemu lagi. Trus kalian menikah deh" ucap Ocha melayangkan lamunannya saat dulu pertama kali Azka memberi tahunya bahwa Ragil, adalah cinta pertamanya.

__ADS_1


"Aamiinin lagi jangan?" ucap Ocha sambil menyenggol lengan Azka yang terduduk disebelahnya.


"Entahlah" jawab Azka sambil mengangkat bahu.


__ADS_2