RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Jika kau meminta sesuatu dariku, aku akan katakan bahwa aku akan menjadi teman baikmu.


-Azka-


Hari-hari terlewati seperti biasa. Hari ini Saga akan kembali ke Indonesia, setelah dua minggu menemani Pak Sam untuk seminar dan membahas proyek penelitian. Selama kepergian Saga, Azka selalu ditemani oleh Kara. Hampir setiap hari Azka dan Kara selalu makan siang bersama di waktu istirahat. Kara sudah mendaftarkan dirinya untuk ujian dua hari lalu. Hari ini Ia akan mendapatkan jadwal ujian sekaligus daftar nama penguji skripsinya.


"Apa dia akan pulang hari ini?" Kara bertanya dengan lesu.


"Ya, hari ini kabarnya Saga akan terbang ke Indonesia" jawab Azka yang sedang menikmati semangkuk baso di kantin fakultas.


"Saya akan kembali sendiri setelah ini" ucap Kara sambil menatap Azka yang terlihat tak peduli dengan ucapannya.


"Apa maksudmu?" Azka berhenti meniup sesendok bakso yang sudah berada di depan mulutnya.


"Ya, dua minggu bersamamu membuat aku semakin tidak punya teman selain kamu disini. Lalu sekarang dia akan kembali. Apa kamu tega meninggalkanku sendirian, Teh?" Kara mendengus lalu bersandar pada sandaran kursi di belakangnya.


"Kamu keberatan kalo ikut bergabung bersama Saga?" tanya Azka meletakkan sendok ke dalam mangkok. Ia menghentikan kegiatan makannya untuk mengamati Kara yang terlihat sedikit frustasi.


"Itu gak akan baik untuk kamu Teh. Bukankah kamu akan mulai membawa hubungan kalian ke arah lebih serius? Akan sangat aneh kalau Saya bergabung. Lagipula saya tak mengenalnya" Ucap Kara masih pada posisinya.


"Oh ayolah Kara. Ini seperti bukan Kara. Aku pikir kamu adalah orang yang akan mudah bergaul dengan siapapun"


"Tapi ini berbeda! Saya gak mau nanti malah membuat dia cemburu. Itu gak akan baik untuk kalian berdua" Azka mengerti, Kara pasti tidak akan merasa enak jika harus bergabung dengannya dan Saga.


"Dia gak akan cemburu dengan bocah sepertimu! Hahaha" Azka tertawa.


"Sialan!" Kara mengumpat, enak saja dia dibilang bocah. Dia hanya berbeda beberapa tahun dari Azka dan Saga. "Ah, lupakan. Saya akan terbiasa nantinya" Azka hanya tertawa melihat tingkah Kara di depannya. Dia selalu tidak suka dibilang bocah, tetapi kelakuannya sungguh kekanakan.


Azka melanjutkan kegiatan makannya, sedangkan Kara memilih sibuk membaca draft skripsinya. Siang ini Ia akan kembali ke kantor departemen menanyakan jadwal ujian akhirnya. Semoga saja jadwalnya segera keluar. Kara sudah merasa muak membaca skripsinya berulang kali.


Siang itu mereka berdua berjalan menuju kantor departemen yang berada di lantai tiga gedung fakultas. Azka tidak memiliki jadwal asistensi dengan Pak Ara sore itu. Ia memutuskan akan menemani Kara menyelesaikan urusan ujiannya sebelum pulang ke kontrakan. Mereka berada di ruang tata usaha departemen Matematika. Di hadapan mereka seorang Bapak yang masih cukup muda berusia sekitar 30-an sedang mengecek jadwal ujian yang akan dikeluarkan siang itu. Ia menatap layar komputer dengan sangat lekat, mencari-cari nama Kara di sepanjang daftar mahasiswa calon peserta ujian tugas akhir. Sang bapak mendongak, lalu menuliskan sesuatu pada secarik kertas. Kertas itu diberikan pada Kara yang segera mengambilnya dengan sigap. Kara menghela nafas lega. Jadwal ujiannya dua hari lagi. Ia akan diuji oleh tiga orang dosen yang menurutnya sangat baik dan kompeten.


"Syukurlah. Kalau begitu kamu bisa sedikit merilekskan syaraf-syarafmu yang sudah tegang dari tadi Kar" ucap Azka saat Kara memberitahunya informasi ujian yang tadi diberikan oleh Bapak kepala Tata Usaha.


"Yah, syukurlah" ucapnya.

__ADS_1


"Tapi tetap harus belajar dengan benar Kar. Takut kalau-kalau kita malah mengecewakan atau malah bersikap memalukan" Azka mengingatkan Kara yang berjalan di sebelahnya.


"Iya, saya pasti belajar dengan giat untuk dua hari ke depan"


"Sayang sekali ujiannya dilaksanakan secara tertutup. Aku jadi gak bisa ngeliat saat kamu diuji" Azka terkekeh.


"Ah, itu satu hal lagi yang patut disyukuri, hahaha" Kara terlihat senang dengan hal itu. "Ayo saya antar pulang" Kara berjalan lebih cepat dan bersemangat.


"Bukannya kamu mau belajar?" tanya Azka menyusul langkah Kara yang berada beberapa langkah di depannya.


"Nganter sebentar gak apa-apa Teh" jawabnya sambil tersenyum


"Oke, baiklah. Terimakasih Kara" Azka ikut tersenyum. Mereka berdua berjalan menuju halaman di depan gedung dimana mobil Kara terparkir. Setelah keduanya masuk, mobil segera melaju menuju kediaman Azka.


"Jangan sampai kamu gak dateng untuk memberi selamat dua hari lagi!" ucap Kara sesaat sebelum mereka berpisah.


"Tentu, jam berapa ujian selesai?" tanya Azka memastikan.


"Jadwal ujian saya jam satu siang. Kemungkinan selesai dalam 90 menit"


Azka segera mengecek jadwalnya di ponsel, lalu tersenyum.


---


Menjelang siang hari Kara segera bersiap menuju kampus. Hari ini adalah perjuangan terakhirnya. Setelah hari ini, Ia akan siap untuk mencari perjalanan baru. Kalau bukan karena Azka, mungkin dirinya masih bergelut dengan tugas akhir itu sampai muak. Dua minggu kebelakang, Azka selalu membantunya menyelesaikan skripsi. Bahkan ketika Ia diminta mengambil data pendukung diakhir-akhir masa pendaftaran ujian, Azka tetap menyemangati dan membantu banyak hingga Ia hari ini bisa terdaftar sebagai peserta ujian akhir.


Ia menatap cermin di depannya. Ia mengamati pantulan dirinya dalam balutan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi yang terpasang rapi.


"Sampe juga di tahap ini" Kara menggumam, lalu melirik ke arah meja belajarnya. Di atas meja sudah tertumpuk draft skripsi dan beberapa lembar catatan yang Ia buat selama menyiapkan ujian dua hari ini. Ia menyambar tumpukan kertas itu, memasukkannya ke dalam tas dan menyampirkannya di bahu. Tidak lupa Ia mengambil ponsel yang masih tertancap pada kabel charge di ujung meja. Ia melangkah mantap, menyambar kunci mobil dan berangkat menuju kampus.


Sesampainya di kampus, Kara segera menuju ruang seminar di lantai tiga. Menurut jadwal, hari ini hanya ada dua peserta ujian di ruangan itu. Dirinya menjadi orang kedua yang akan ujian setelah jadwal istirahat sholat. Ia menunggu, sambil membalik-balik draft skripsi yang ada di pangkuannya. Entah mengapa Ia memilih menunggu di depan ruangan itu. Padahal ini masih pukul sebelas. Seharusnya Ia masih punya waktu dua jam untuk bersiap atau menunggu di tempat lain. Ia mengintip dari balik jendela, seseorang di dalam sana sedang mempresentasikan hasil penelitiannya. Ketiga dosen duduk dengan tenang. Kara bisa melihat, ketiga dosen penguji sedang memperhatikan setiap hal yang dijelaskan oleh mahasiswa di depannya. Sesekali mereka saling berdiskusi, mencoretkan sedikit catatan di draft yang mereka terima. Suasana yang Ia lihat membuatnya sedikit memiliki gambaran apa yang akan dirinya lakukan nanti.


Ia memilih untuk kembali duduk. Ia melepas jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi yang ada di sebelahnya. Ia menopang kaki, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang bergetar. Sebuah pesan masuk ke kolom chat di whatsapp, dari Azka.


Semangat Kara! Kamu pasti bisa. Nanti aku kesana. Oke.

__ADS_1


Sebuah kalimat penyemangat yang terlalu dini, mengingat Ia masih harus menunggu selama dua jam untuk ujian. Ia tersenyum, karena bingung mau membalas apa, Ia memilih mengirimkan emot senyum kepada Azka. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


***


Sudah hampir satu jam Ia berada di ruang seminar. Pertanyaan demi pertanyaan sudah Ia jawab. Tiga orang yang menjadi penguji dalam sidang kali ini masih berdiskusi. Kara menunggu dalam diam. Tadi, sekitar lima belas menit Ia mempresentasikan hasil penelitiannya. Setelah presentasi Ia menerima beberapa catatan dari masing-masing dosen penguji yang salah satunya adalah pembimbingnya. Setelah itu Ia mendapat beberapa pertanyaan. Entah itu pertanyaan yang benar-benar layak dipertanyakan atau hanya sekedar pertanyaan sembarang. Sidang ternyata tidak semerikan yang teman-temannya bicarakan. Suasana di dalam ruangan tampak santai dan nyaman.


Salah seorang dosen penguji berdehem dan membenarkan posisi duduknya. Dua orang lainnya ikut menegakkan duduknya dan memasang ekspresi serius dihadapan Kara. Kara mencoba untuk tersenyum, tetapi bibirnya terasa kaku. Jadi Ia memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang dosennya sampaikan. Kara sungguh merasa lega, Ia dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana mulai hari itu. Ia menyalami dan mencium punggung tangan dosennya sambil mengatakan terimakasih. Ia keluar dari ruangan dengan raut yang sangat bahagia.


Ia mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari sesuatu. Sesaat Ia kecewa, ternyata memang tidak ada yang akan menyambutnya hari ini. Ia menuju tas yang teronggok di kursi di depan ruang seminar. Ia membereskan draft skripsi dan melepas jas hitam yang sejak dua jam lalu melekat di tubuhnya. Ia memilih pulang. Jika tidak ada yang datang untuk mengapresiasi keberhasilannya, mengapa tidak Ia saja yang mengapresiasi keberhasilannya sendiri? begitu pikirnya. Ia menyampirkan tas ke bahunya, berjalan santai seperti biasanya. Rasa kecewa yang sempat menyergap perlahan termaklumi. Lalu Ia teringat Azka. Kemana gadis itu? Apakah Ia ada kelas tambahan sehingga tidak bisa datang? Kara kesal, Azka sudah janji akan datang, dan ternyata Ia mengingkari janjinya.


Jadi, sekarang kamu sudah terlupakan lagi Kara.


Kara berjalan disepanjang lorong. Ketika hendak berbelok menuju letak lift Ia mendapati sesosok gadis yang sangat Ia kenali. Gadis itu tengah duduk termenung di sebuah kursi di depan ruangan. Kara memandanginya lamat, setelah yakin bahwa gadis itu adalah Azka, Kara mendekat.


"Teh?" sapa nya pada gadis dihadapannya. Azka terlihat terkejut, Ia buru-buru memalingkan wajahnya. Gerakan tangannya seperti sedang menghapus air mata. Kara menarik lengannya hingga Azka menghadap ke arahnya.


"Hei, kamu kenapa?" tanyanya.


"Aku gak apa-apa. Apa aku salah ruangan?" Azka mencoba tersenyum setelah melemparkan pertanyaan basa basi itu. Padahal jelas bahwa dirinya memang memilih untuk menunggu disana sedari tadi, alih-alih menunggu di depan ruang seminar tempat Kara melaksanakan ujian.


"Apa ada masalah?" tanya Kara tak menghiraukan pertanyaan Azka sebelumnya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Kara, selamat! Kamu sudah berhasil" ucap Azka menyodorkan tangannya. Kara memandangi tangan itu, lalu Ia sambut uluran tangan Azka.


"Terimakasih" Ia menepuk-nepuk pelan tangan Azka dengan tangan kirinya.


"Sepertinya aku belum bisa memulainya" ucap Azka tiba-tiba saat keduanya berjalan di sepanjang lorong gedung fakultas.


"Memulai? Dengan Saga? Mengapa?" Tanya Kara heran. Azka menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.


"Ini" Kara mengernyit melihat secarik kertas yang ditunjukkan oleh Azka.


"Apa ini?" Kara mengambil kertas itu dari tangan Azka lalu membukanya.


"Saga menerimanya, tapi Ia menyimpannya selama satu bulan ini" Azka menunduk.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi seharusnya dia memberikannya padaku" ucap Azka sedikit emosional.


"Apa ini cinta pertamamu?"


__ADS_2