RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #12


__ADS_3

Maaf, selama apapun kamu tinggal, itu tidak akan mengubah apapun selain rasa benci yang semakin dalam.


-Ragil-


Sesampainya di rumah, Azka segera menuju kamarnya. Ia membersihkan diri di kamar mandi setelah melempar pakaian kerjanya ke dalam keranjang yang terletak di depan pintu kamar mandinya. Entah mengapa, Ia jadi sering mengingat bagaimana tatapan Marsha padanya. Tatapan itu begitu tajam, ada sorot tidak suka di dalamnya. Tapi kenapa wanita itu tidak suka dengan Azka? Bahkan mereka baru sekali bertemu. Azka tidak punya salah apa-apa kan?


Ia menghidupkan shower lg, membiarkan kepalanya terguyur air dingin yang keluar membasahi sekujur tubuhnya. Rasanya begitu segar, seolah setiap lelah di sudut tubuhnya larut bersama jatuhan air di lantai kamar mandi. Ia biarkan dirinya sedikit lebih lama menikmati kucuran air itu. Sepertinya beberapa hari ini Ia terlalu sibuk dan lelah. Dan mandi, menjadi salah satu aktivitas favorit Azka saat sedang merasa seperti itu.


Ia keluar dari kamar mandi dengan lilitan jubah mandi yang melekat di tubuhnya. Sebuah handuk kecil menutupinya kepalanya. Suara pintu terbuka diikuti derap langkah di ruang tamu memberinya isyarat bahwa Saga sudah pulang. Tumben udah pulang. Maka Azka segera berlari ke arah lemari, mengambil setelan baju tidur untuk Ia kenakan. Yaah, meskipun masih terlalu sore, tidak apa-apa lah.


"Kara bilang, kamu muntah lagi?" suara Saga menggema. laki-laki itu sudah berdiri di ambang pintu. kemeja kerjanya sudah sedikit lusuh, dengan lengan baju yang tergulung sebatas siku. Dua kancing teratas sudah terbuka berdampingan dengan dasi yang mengendur di lingkaran lehernya.


"Ah, anak itu. Dia jadi pengadu sekali." Azka bersungut kesal. Melanjutkan aktivitasnya mengancingkan piyama berwarna coklat susu dengan gambar beruang di saku kanan bawah.


"Gak apa-apa, jadi aku tau kalo kamu kenapa-kenapa. Kamu gak bisa boong lagi." ucap Saga seraya mendekat ke arah Azka.


"Wah kamu punya sekutu nih sekarang." balas Azka sambil terkekeh. Mereka kini sudah berdiri berhadapan.


Saga hanya mengedikkan bahunya, Ia mengambil handuk kecil yang ada di kepala Azka, membantu istrinya untuk mengeringkan rambut yang terlihat sedikit basah. Butir-butir air mengalir di sepanjang leher jenjangnya. Membuat Azka terlihat lebih segar di mata Saga.


"Eh, aku aja." ucap Azka terkejut dengan apa yang dilakukan Saga.


"Gak apa-apa. Biar aku aja." ucapnya masih terus melanjutkan aksinya. Azka terdiam, hanya bisa tersenyum sambil terus memandangi laki-laki di depannya yang tengah fokus mengeringkan rambut untuknya.


"Tumben kamu romantis!" ucap Azka seraya tersenyum. Dirinya masih terus memandangi Saga dari bawah. Ya, Saga dengan postur tubuh menjulang mengharuskan Azka mendongak tatkala memandangnya.


"Tuh, romantis dibilang tumben, gak romantis di bilang payah. Cewek tuh kenapa suka gitu sih, Yang?"


"Gak tau aku juga!" jawab Azka asal.

__ADS_1


Saga menyelesaikan pekerjaannya. Lalu Ia melempar handuk kecil itu ke sudut ruangan dimana terdapat keranjang cucian di sana.


"Masuk!" serunya. Azka terkikik di depannya.


"Kamu udah gak apa-apa?" tanya Saga mengulurkan tangannya untuk meraba pipi mulus Azka.


"Udah gak apa-apa. Kayaknya aku emang masuk angin. Kecapean." ungkap Azka dengan pandangan teduh menghadap suaminya. "Tapi ya Ay, tadi itu aku muntah karena ngeliat istrinya Ragil. Gak tau kenapa aku mual gitu aja, haha." terkutuklah mulut Azka yang tidak bisa memfilter ucapannya. Saga terlihat menegang di tempatnya.


"Ragil???" ada nada tidak suka di sana. Dan Azka menyadari kesalahannya. Duh!


"Emm, Iya. emang Kara gak bilang kita tadi gak sengaja ketemu-"


"Kenapa harus dia lagi?" Kini tangan Saga sudah terlepas dari pipi Azka. Bahkan tubuhnya sudah mundur beberapa langkah menjauhi istrinya itu.


Andai pembahasan ini bisa dilakukan dalam mode bercanda, Azka pasti akan menjawab "jodoh mungkin." tanpa rasa bersalah sedikit pun. Namun Azka tahu, bahwa menyebutkan nama Ragil saja sudah bisa membuat rahang tegas suaminya itu mengetat sempurna. Jadi ia memilih diam dan mendengar saja, seolah Saga sedang bermonolog di sana.


Eh, sebentar. Kenapa kalimatnya ambigu begitu sih? Jadi maksudnya kalau bertemu secara sengaja, apakah Azka akan merasa apa-apa? Demi dewa laut Neptunus, Azka sudah banyak salah bicara dalam beberapa menit pertemuannya dengan Saga sore ini.


---


"Keputusan saya udah final. Saya mau bercerai. Saya akan segera mengurus surat-suratnya."


"Ragiil.." Nuri menggenggam erat jemari Ragil yang terkepal di atas meja. Ia masih belum bisa menerima begitu saja bahwa putra bungsunya itu akan mengakhiri pernikahan secepat ini. Meskipun Ia tahu bahwa pernikahan ini tidak pernah diinginkan oleh putranya, tapi Ia tidak pernah bercita-cita bahwa putra kesayangannya itu akan menceraikan istrinya dan berakhir menjadi seorang duda. Nuri masih berharap bahwa pernikahan ini bisa diperjuangkan, hingga akhirnya mereka menjadi keluarga bahagia.


Ragil terlihat tidak menggubris usaha Ibunya, meski Nuri berkali-kali mencicitkan keinginannya dalam suara yang tertahan. Di seberangnya, ada Marsha yang terlihat begitu kecewa dengan ucapan Ragil barusan. Hei, mereka baru menikah dalam hitungan hari. Dan dengan mudahnya Ragil mengatakan akan bercerai? Marsha sibuk dengan pikirannya. Sebagian pikiran di kepalanya mencari-cari siapa yang berhak disalahkan untuk ini semua. Tentu bukan dirinya, pikirnya.


"Besok kamu pulang ke rumah sama Ibu. Saya gak mau ada kamu di sini." Nuri kembali menegang, beberapa kata terlontar dengan nada memohon. Namun Ragil tidak menghiraukan cicitan Nuri di sebelahnya.


"Apa aku ganggu kehidupan kamu di sini kalo aku tinggal?" Marsha melancarkan tanggapannya. Ia menemukan seseorang yang bisa Ia seret untuk membuatnya bertahan di sini.

__ADS_1


"Jelas!" Jawab Ragil cepat.


"Kamu jadi gak bisa ketemu sama pacar kamu? siapa tadi namanya?" tanya Marsha dengan wajah yang dibuat lugu dan ingin tahu. Tidak lupa ia menyisipkan sedikit ekspresi terluka di sana.


"Pacar? siapa?" Kali ini Nuri yang seolah kebakaran jenggot. Apa lagi ini? setelah dirinya shock dan mengalami penurunan kesehatan saat Marsha dan keluarga datang meminta pertanggung jawaban, kenyataan macam apa lagi yang akan Ia dengar?


"Gak usah halusinasi. Saya tau kamu yang lagi ngejer pacar kamu di sini." balas Ragil telak.


"Tunggu, jelasin ke Ibu. Ada apa ini? Kamu masih punya pacar selain Marsha Gil?" Nuri mulai tidak sabar, bahkan Ia tidak mendengar kalimat terakhir yang Ragil ucapkan. Ia menekan dadanya kuat-kuat di balik hijab yang Ia gunakan.


"Ragil gak punya siapa-siapa Bu, bahkan Marsha juga gak berhak milikin Ragil."


"Apa kalau perempuan bernama Azka itu yang duduk di sini baru kamu akan mengakuinya sebagai istri???" ucap Marsha nyalang. Ia harus memenangkan ini, pikirnya. Ia harus dibiarkan tinggal di sini, di Jakarta.


"Azka?" Nuri menatap Ragil dan Marsha bergantian.


"Gil, kamu sama Azka?" tanya Nuri tak percaya.


"Ya Tuhan. Bu, jangan percaya sama dia. Ragil udah bilang semuanya sama Ibu kan?"


"Marsha cuma mau mempertahankan apa yang udah jadi milik Marsha Bu. Marsha mau di sini nemenin Ragil," ucapnya lesu. dan kalimat itu sukses menarik atensi Nuri. Ya, Nuri sebagai wanita akan melakukan hal yang sama. Bertahan dimana suaminya berada. Menemani dan menjaga agar Ia tidak kehilangan orang yang dicintainya. Nuri ragu, apa sebenarnya yang membuat Ragil sangat membenci Marsha, anak mantunya itu? Benarkah hanya karena pernikahan terpaksa itu, atau memang karena kehadiran Marsha membuat Ragil tidak bisa...


Benarkah Ragil dan Azka? Buru-buru Nuri menghilangkan pikiran buruknya. Sepertinya Azka bukan orang yang tepat untuk menjadi tokoh dalam pikiran buruknya tadi. Tapi mungkin, Nuri setuju dengan apa yang Marsha katakan.


"Marsha bener Gil. Marsha di sini aja. Kalian bisa menyelesaikan masalahnya di sini. Tanpa Ibu, supaya kamu leluasa." Nuri menunduk, mendorong kursi ke belakang. Memberi ruang untuk dirinya berdiri dan hengkang dari meja makan itu. Pembahasan tadi membuatnya kehilangan selera makan. Ia memilih pergi tidur sekarang juga.


Marsha melirik ke arah Ragil sepeninggalan Nuri. Salah satu ujung bibirnya terangkat, membentuk sebuah seringai kemenangan. Dan Ragil sungguh semakin membenci wanita itu.


Pinter banget akting Lo, An****!

__ADS_1


__ADS_2