
Hal yang tidak terduga memang selalu membuat penasaran.
Tapi tentangmu, itu semua jadi berlebihan.
-Azka-
"Ayang jadi ikut tinggal di apartemen aku di Jakarta?" Saga mulai membuka percakapan setelah mobil mereka meninggalkan pelataran gedung pernikahan antara Fabel dan Dini.
"Iya dong. Aku gak mau di tinggal sendiri di Bandung"
"Padahal aku kan cuma tiga bulan di sana"
"Tiga bulan itu lama ya!" Azka memukul pelan lengan suaminya. "Nanti kamu di sana kebablasan!"
"Ululuu, cemburunya lucu sekali istri aku ini"
"Berisik ih"
"Hahahaha" Saga tertawa melihat tingkah Azka yang menggemaskan itu.
Dddrrt
Drrrt
"Sebentar Ay, aku angkat telpon Ocha dulu" Saga mengangguk sekilas, pandangannya fokus ke jalanan yang mulai terlihat ramai.
"Halo Cha"
"Hei Ka. Kamu udah lihat foto yang aku kirim?"
"Foto? Di Whatsapp? Belum. Kenapa?"
"Kamu lagi dimana Ka?"
"Lagi di mobil, di jalan pulang"
"Ada Saga ya?"
"Eh?" Azka melirik Saga sekilas, namun karena Saga memang sedang memperhatikan Azka mata mereka bersitatap. Azka tersenyum tulus, "Iya. Kenapa Cha?"
"Kita via chat aja deh. Aku gak enak sama Saga"
"Oh, Oke. Chat aku ya. Bye"
"Bye"
"Ocha kenapa lagi Yang?" tanya Saga saat Azka sudah memutus sambungan telepon di ponselnya. Azka menoleh, "Gak apa-apa. Dia mau kabarin aku soal temen-temen yang tadi ketemu di nikahan Anda"
"Oh"
Azka membuka lamat chat antara dirinya dan Ocha. Sebuah foto terkirim ke sana. Azka mendownloadnya. Di sana terlihat ada Andri, Vidi, Rizky yang sudah menjadi suami Ocha, dan beberapa teman lain yang dulu bersekolah di tempat yang sama dengan Azka. Azka tidak terlalu mengerti dengan foto itu. Apa maksud Ocha mengirim ini dan menyuruh Azka untuk membukanya?
Azka mengetikkan balasan,
__ADS_1
Cha, kenapa dengan fotonya?
Ocha is typing...
Kamu gak ngeliat di sana ada siapa?
Azka kembali menyentuh foto yang di kirim Ocha sehingga foto itu terpampang jelas dalam satu layar di ponsel Azka. Siapa?. Dan detik kemudian Azka menemukan apa yang di maksud Ocha. Di sana ada Ragil. Dengan menggunakan kemeja hijau dan sebuah kopiah hitam yang bertengger lurus di kepalanya. Tatapannya menerawang jauh ke depan. Mungkin salah satu dari mereka sedang bercerita. Tapi, Azka masih tidak mengerti. Apa yang harus Ia lakukan ketika mengetahui ada Ragil di sana? Lagipula, mereka tidak banyak berkomunikasi dalam setahun terakhir ini. Hanya sekedar membalas pesan jika penting, atau memberi like pada postingan di akun instagram masing-masing. Itu pun sepertinya lebih banyak Ragil yang melakukan. Seingatnya, Ia hanya dua kali memberi tanda cinta itu pada postingan Ragil. Pertama, saat dirinya mempost swafoto dirinya dengan menggunakan seragam, dan yang kedua adalah ketika laki-laki itu mempost video dirinya yang tengah menyanyikan sebuah lagu yang di populerkan oleh Marcel bertajuk "Tak kan Terganti".
Aku baru sadar ada Ragil di sana.
Trus aku harus menangkap pesan apa lagi dari gambar itu?
Dia lagi pulang Ka.
Katanya Ibunya sakit
Kamu tau gak?
Eh kenapa aku jadi ngadu ke kamu ya. Hmmm
Cha, aku mau nanya. Sejak kapan dia ngerokok sih?
Aku baru tau dia post foto lagi ngerokok sama temen-temennya.
Eh iya? Tapi di IG dia emang lagi galau terus sih Cha
Hah? Sakit? Sakit apa?
Emang dia gak cerita ke kamu?
Ya kali dia mau curhat
Atau kamu sempet denger kabar gak dari dia? Tentang dia atau keluarganya?
Cha, maksud kamu apa sih? Kamu tau sesuatu tentang Ragil?
Mmmm, Dia pasang story ngerokok ya? Dia lagi butuh kekuatan kali Ka
Tapi dia kasian
Kasian? Karena?
Coba aja kamu tanya sama dia. Katanya dia besok kembali ke Jakarta.
Azka menimang ponselnya. Melihat gelagat Ocha, sepertinya sahabatnya itu mengetahui sesuatu yang terjadi dengan Ragilnya (ralat, mantan Ragilnya). Tapi sepertinya Ocha tidak ingin memberitahukannya kepada Azka. Azka semakin penasaran. Apa harus Azka mencari tahu sendiri? Tapi apa masih mungkin dirinya melakukan itu ketika sudah ada Saga di sisinya?
Tapi Ia melakukan ini bukan karena Ia ingin kembali mencintai Ragil. Ia hanya ingin memastikan bahwa Ragil baik-baik saja. Tetap bahagia dan memperoleh kehidupan yang baik setelah perpisahan mereka setahun yang lalu. Sepertinya tidak apa-apa jika Ia melakukannya dengan ijin Saga. Hmmm. Tapi harus bagaimana Azka mengatakan hal ini pada Saga?
"Yang? Helo Yang? Hei," Tangan Saga melambai-lambai di depan wajah Azka yang terlihat memandang fokus ke jalanan.
"Eh, Ay. Maaf. Kenapa?"
"Ayang lagi mikirin apa sih? Setelah buka chat dari Ocha, kening Ayang berlipet gitu. Mikirin apa?" tanya Saga dengan nada lembutnya yang biasa.
__ADS_1
"Emmm, mikirin kapan aku bisa pulang ke rumah" ucap Azka asal. Lagi, kenapa Ia harus berbohong? Azka ****!
"Ayang mau pulang?"
"Emmh, tunggu Ayang libur aja. kita pulang sama-sama ya?" Ajak Azka. Ia menatap lekat suaminya yang masih berfokus pada jalanan yang seakan tak ada habisnya.
"Iya boleh"
Tring!
Sebuah pesan masuk kembali ke ponsel Azka. Dari pop up pesan yang muncul di layar, Azka tau bahwa itu pesan dari Ocha.
Kamu beneran gak tau apa-apa tentang dia Ka?
Aku rasa ini ga bijak sih, mengingat ada Saga di samping kamu. Tapi aku kepikiran kamu.
Ragil sepertinya butuh cerita. Dan aku ingin kamu juga bisa mendengar ceritanya.
Kalo kamu gak keberatan, kamu bisa hubungi Ragil.
Azka semakin kesal dengan keadaannya. Bagaimana dirinya bisa menghubungi pemuda itu kalau Ia tidak punya nomor kontaknya? Ponsel Azka hilang, yang berarti kontak Ragil pun ikut hilang. Azka menggusar wajahnya kasar. Ia seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ia ingin mencari tahu, tapi tidak tahu apa yang di cari, dan kemana harus mencari. Dasar gila! Ocha gila! Kenapa Ia menarik Azka pada kondisi seperti ini? Tidak puaskah dirinya melihat Azka terus menggandrungi seorang Ragil sejak beberapa belas tahun yang lalu? Tapi di balik kekesalannya, Azka tahu Ocha pasti punya alasan. Dan Ocha, tidak mau jika Azka harus menjadi orang terakhir yang mengetahuinya. Mungkin juga, Ragil memang sedang butuh dirinya saat ini. Sebagai teman? Mungkin.
---
Azka dan Saga sampai di sebuah apartemen di tengah kota Jakarta. Saga diberikan tugas dari kantornya untuk mengurus proyek di Jakarta. Selama kurang lebih tiga bulan ini, pasangan suami istri yang baru setahun menikah itu akan mencoba mencicipi kehidupan keras di Ibu Kota. Sebenarnya Azka tidak terlalu ingin mengikuti Saga bekerja di mana. Karena Ia pun masih punya beberapa pekerjaan. Tapi setelah ditimbang-timbang, sebaiknya Azka ikut. Dan karena perguruan tinggi tempat Ia bekerja memberikannya keleluasaan untuk ikut bersama suaminya, maka Azka dengan senang hati ikut ke Jakarta bersama Saga.
"Ayang cape?"
"Sedikit. Sebentar kok perjalanan Bandung-Jakarta mah" Ucap Azka tersenyum.
"Suka gak?"
"Suka apa? Kamu? Ya suka lah, kalo gak suka gak akan aku mau nikah sama kamu" Azka terkekeh.
"Deuh, Kalo itu aku udah tau. Yang aku tanya, Ayang suka gak apartemennya?" tanya Saga lembut. Sebelah tangannya sudah melingkar di pinggang sang istri.
"Suka. Dari sini bisa lihat Jakarta. Aku baru pertama kali ini akan tinggal di Jakarta. Aku sedikit gugup"
"Kan sama aku, kamu tenang aja" Saga menumpukan dagunya di bahu Azka. Membuat Azka bergidik geli.
"Ay, udah ih. Geli" ucap Azka menjauhkan bahunya dari kepala Saga yang bertumpu di sana.
"Ayo kita makan" Ajak Saga menarik lembut lengan Azka. Mereka berdua keluar menuju restoran terdekat. Untuk makan malam pertama di kota yang akan menjadi kota mereka tiga bulan ke depan.
"Kenapa ke restoran sih? Padahal ke warung makan aja" Azka bersuara saat keduanya sudah masuk ke salah satu restoran yang dekorasinya sangat cantik.
"Di ajak ke tempat bagus malah nawar" Saga terkekeh
"Hehe, maaf Ay"
Keduanya menikmati makan malam dengan hikmat. Menghabiskan waktu di awal minggu sebelum esok mereka sudah mulai kembali pada rutinitas mereka masing-masing. Setelah selesai keduanya bergegas pulang. Azka menunggu di depan restoran saat Saga mengambil mobilnya. Samar-samar matanya menangkap bayangan seorang laki-laki yang sepertinya Ia kenali.
Mengikuti rasa penasarannya yang mulai menggebu, Azka berjalan mendekati pemuda yang sedang duduk di depan sebuah minimarket. Degub jantung Azka semakin bertalu-talu. Ia merasa gugup dan bersemangat di waktu yang sama. Ia terus berjalan, melewati jalan kecil yang memisahkan antara restoran dengan minimarket. Azka sudah tidak berpikir bahwa Saga mungkin akan mencarinya. Yang ingin Azka lakukan saat ini adalah, menebus rasa penasarannya dengan mendatangi orang yang kini sedang Ia tuju. Sampai akhirnya Ia berhenti tepat di belakang pemuda itu.
__ADS_1
"Ragil"