RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #13


__ADS_3

Jika hanya sebuah permainan, kamu bisa datang ke taman. Bukan ke pelaminan. Karena pernikahan bukan main-main.


-Azka-


Semenjak kepulangan Nuri, Ragil memilih untuk berdiam diri di kantor. Sesekali Ia pulang ke rumah atau justru pergi mengunjungi teman-temannya. Nampaknya memang Ia tidak ingin berada satu rumah dengan Marsha, yang padahal sudah berstatus sebagai istrinya.


Pagi itu, setelah Ia berjaga malam di kantornya, Ragil memilih pulang untuk membersihkan diri. Seperti biasa, dirinya akan masuk ke rumah, mandi dengan cepat di kamarnya, lalu berlalu pergi kembali tanpa repot-repot menyapa Marsha. Namun sepertinya kebiasaan yang sudah berlangsung tiga hari itu sedikit membuat Marsha tidak suka. dan sepertinya, kepulangan Ragil kali ini tidak akan semulus biasanya.


"Lo udah pulang?" tanya Marsha dari sofa tempatnya duduk. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali karena tahu Ragil akan pulang pagi itu.


Ragil bergeming, Ia melepas sepatunya dengan sekali gerakan, berjalan cepat menuju meja dapur untuk mengambil gelas dan menuangkan air. Ia bersikap seolah Marsha dan suaranya hanya halusinasi.


"Ragil!" panggilnya cepat sebelum Ragil beranjak dari meja bar di dekat dapur. Ragil mendelik, menatapnya dengan raut wajah yang selalu sama, TIDAK SUKA.


"Gue mau pergi hari ini. Lo gak mau tau gue bakal kemana?" Marsha mulai memancing pembicaraan.


"Terserah Lo mau kemana. Gak pulang lagi itu lebih baik." tanggap Ragil cepat dan berlalu ke arah kamarnya. Ia menutup pintu kamar dengan gerakan kasar. Suara debam yang sedikit kuat menggetarkan dinding kamarnya. Ia segera melepas pakaiannya, lalu menuju kamar mandi. Ia biarkan air dari shower menguyur tubuhnya. Kerja semalaman membuat tubuhnya sedikit lengket oleh debu dan keringat. dan air hangat menjadi satu hal yang Ia inginkan pagi ini.


"Lo ngapain?" tanya Ragil mendapati Marsha berjongkok di depan laci lemari paling bawah di dalam kamar itu.


"Eh, emm Gu-Gue mau nyiapin baju Lo." ucap Marsha terbata, Ia segera menutup laci itu dan beralih ke pintu lemari yang lebih besar. Kehadiran Ragil di sana membuat dirinya shock dan terkejut seketika.


Bagaimana tidak? Ragil dengan tubuh atletisnya hanya keluar dengan selembar handuk melilit di pinggangnya. Rambut pendeknya yang basah meninggalkan butir-butir air di sudut wajahnya. Belum lagi air yang berjatuhan membuat ada sedikit efek dramatis yang tertangkap oleh Marsha. Apalagi, dirinya sedang tidak melakukan perbuatan terpuji di sana. Hah! perse*** dengan itu semua, Ia harus keluar dari sana secepatnya, sebelum ia tertangkap basah sedang terpesona pada Ragil, atau yang lebih parahnya adalah Ia ketahuan sedang...


"Lo ngapain sih? baju Gue kusut Lo pegang kayak gitu." Ragil mendekat. Melihat Marsha yang bukannya menyiapkan baju-atau lebih baik pergi- justru meremat baju seragamnya hingga meninggalkan bekas kerut di sana. "Pergi Lo!" Ragil mendorong tubuh Marsha menjauh dari lemarinya. Tenaga Ragil yang lebih kuat membuat dirinya terhuyung hingga mencapai ambang pintu. Ia pegang erat-erat sesuatu di balik dress rumahan itu agar tidak jatuh. Lalu Ia melesat keluar dengan sumpah serapah yang bergaung di seluruh ruangan.


Ragil melirik sekilas ke arah laci, Ia harus memeriksanya. Apa yang dilakukan Marsha di depan laci itu? Laci itu tidak berisi pakaian jika wanita itu benar-benar ingin menyiapkan dirinya pakaian kerja. Benarkah wanita licik itu akan menyiapkan dirinya pakaian kerja? rasa-rasanya tidak bisa ditangkap oleh akalnya.


Ragil selesai mengancingkan kemejanya, lalu Ia memakai celana bahan semata kaki untuk menutup kaki jenjangnya.


Baru saja dirinya akan berjongkok menggapai laci di bagian bawah lemari itu, suara ponsel berdering di atas nakas membuatnya berpaling. Ia segera bergegas ke arah nakas, meraih ponsel dan meletakkannya di telinga. Menjepit diantara kepala dan leher.

__ADS_1


Ia berjalan ke arah jendela untuk mulai berbicara dengan rekannya di seberang telepon.


---


"Lo beneran bisa kesini Sha?" tanya seseorang dari seberang telepon.


"Iya dong. Kan Gue udah bilang, Gue bakal ikut dateng ke pesta Lo." ucap Marsha bangga.


"Emang Lo diijinin sama laki Lo?" tanya suara itu lagi.


"Ijin? hahaha. Ijin gimana maksud Lo? Gue bebas mau kemana dan ngapain aja. Bahkan sama siapa aja, gak ada yang bisa larang Gue!" Marsha tergelak di sana.


"Lo kan udah nikah Sha, ijin dulu lah. Apalagi di sini ada Reno. Ntar laki Lo ngambek." ejek suara itu puas.


"Hahaha, nikah ya. Tapi Ragil gak peduli tuh Gue mau ngapain aja." Marsha menjawab enteng.


"Oke deh, sampe ketemu di sini." ucap suara itu mengakhiri sambungan telepon.


Marsha mengunjungi kantor sebuah bank swasta sesuai yang tertera di buku itu. Ia memilih layanan customer service untuk mengurus beberapa hal sebelum dirinya pergi ke pesta temannya di salah satu hotel di Jakarta. Ia sudah menyiapkan alur cerita yang bisa Ia gunakan untuk mencairkan beberapa rupiah dari buku itu. Juga surat kuasa bermaterai untuk memperkuat aksinya.


Voillaaa!! Marsha kini sudah keluar dari gedung itu. Ia melenggang dengan binar bahagia di matanya. Ia menyetop taksi dan mengatakan lokasi tujuannya, sebuah mall besar di Jakarta. Di sana dirinya akan bertemu dengan teman-temannya dan juga Reno.


---


"Teh, pesan dari Prof. Ara tadi tolong siapkan lagi file presentasi hasil penelitian kita. Tolong dibagi ke tiga tema sesuai kesepakatan kemarin. Ternyata nanti akan dibuat semacam diskusi panel. Prof. Ara, Teteh, dan Kak Nita yang akan menjelaskan di depan." Kara berbicara dari balik laptopnya.


"Oke. Hemm.. dimana Nita?" tanya Azka beralih pada timnya di ruangan itu.


"Nita lagi keluar Ka. Beli kopi buat kita." ucap Andreas dari tempatnya.


"Kenapa gak pesen online aja?" tanya Azka lagi.

__ADS_1


"Sambil cari angin segar kali Ka." ucap Andreas lagi.


"Oh. Yaudah. Aku ke ruang Prof. Ara dulu, bilang Nita nyusul ya " teriak Azka pada keempat orang di ruangan itu.


"Siap Ka!" ucap mereka bersamaan. Kecuali Kara, yang justru bangkit dari duduknya mengejar Azka.


"Teh, kalo udah keluar dari sana, kita keluar bentar yuk?" tawarnya.


"Lho, gak akan makan bareng anak-anak?"


"Sebentar aja, cari angin segar lah gitu. Gak sumpek apa di sini mulu?" ucapnya bersungut, Azka tersenyum melihatnya. Ya, Kara sudah menekuni pekerjaannya tanpa jeda sejak pagi. Ia yang bekerja untuk bagian pendataan, perhitungan, dan statistik harus merangkap sebagai operator di sana akibat satu orang yang tidak bisa hadir. Karena ketiga orang tim lainnya sibuk dengan persiapan pameran hasil, tentu membuat Kara akhirnya menjadi satu-satunya harapan untuk menggantikan pekerjaan yang kosong.


"Oke. Nanti ajak Nita juga ya?" tanya Azka lagi, Ia sudah bersiap membalik tubuhnya untuk berlalu.


"Oke, siap." Kara menautkan telunjuk dan ibu jarinya membentuk isyarat OK.


---


"Kamu tuh, suka ada-ada aja!" Nita menepuk bahu Kara pelan. Ia tergelak di tempatnya mendengar lelucon Kara. Azka juga tertawa di tempatnya. Mereka tengah duduk di depan minimarket dengan segelas kopi di hadapan mereka masing-masing.


"Ka, Pak Saga gimana kabarnya? proyeknya masih lama ya?" tanya Nita setelah menghentikan tawanya.


"Iya, prosesnya tuh lama banget Nit. Belum lagi, ini nanti akan jadi semacam lembaga untuk semua peneliti gitu. Dan untuk bisa dapet sertifikatnya, mereka yang tergabung juga harus menyelesaikan dulu beberapa penelitian di berbagai bidang. Ya gitu deh, aku juga gak ngerti banget gimana-gimananya." ucap Azka panjang lebar.


"Bakal lama dong di Jakarta?" tanya Kara menginterupsi.


"Gatau deh. Eh omong-omong aku udah tiga minggu di Jakarta. Gak kerasa udah lama juga ya?" ucap Azka.


"Baru tiga minggu Neng!" ucap Nita menimpali.


"Hehehe, Iya sih, baru tiga minggu, hehe." Azka nyengir, Ia meraih gelas kertas di depannya, mengecap kopi yang hangat menyentuh bibir dan rongga mulutnya. Pandangannya seketika terpaku pada sosok di depan hotel tempat mereka akan melakukan seminar dan pameran.

__ADS_1


Lho? itu kan.. tapi kenapa gak sama Ragil?


__ADS_2