RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #31


__ADS_3

Katakan, sudahkah kamu bahagia dengan semua yang aku lakukan?


-Azka-


Hari itu adalah agenda sidang perceraian antara Ragil dan Marsha. Untuk itu, Ragil kembali pulang ke rumahnya, sebab ia melayangkan gugatan cerai itu pada pengadilan agama di tempat asalnya. Awalnya, Ragil kira Marsha memang langsung pulang setelah ia mengusirnya dari rumah. Rupanya Marsha baru kembali setelah Kara ditangkap atas kasus tabrak lari terhadap Azka.


Ragil masih tidak habis pikir tentang apa yang terjadi. Hari itu, Kara ikut membawa Azka ke rumah sakit. Ia yang membawa mobilnya. Bagaimana bisa pemuda itu yang justru menjadi pelaku penabrakan terhadap Azka? Ragil memijat pangkal hidungnya. Ia sedang manunggu waktu dimulainya persidangan. Di sebelahnya ada Nuri dengan wajah tertekuk. Ia masih tidak setuju dengan keputusan anak bungsunya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat Ragil menunjukkan sisi buruk Marsha selama mereka menikah beberapa bulan ini.


Pintu ruangan terbuka, membawa tiga orang masuk ke ruangan. Adalah Marsha, ditemani oleh ibu dan ayahnya. Pintu terbuka lagi, menunjukkan sosok Reno yang sudah lama tidak ditemuinya. Ragil tersenyum tipis, pemuda bernama Reno itu terlalu setia pada Marsha. Bahkan dirinya menemani Marsha di sidang perceraian itu. Sepertinya, Marsha sudah sadar siapa yang harus ia pilih. Buktinya, Marsha menerima gugatan cerai yang dilayangkan oleh Ragil. Nyaris tanpa perlawanan.


Nuri menoleh, ia refleks berdiri. Namun keempat orang yang baru saja datang itu segera mengambil tempat bersebrangan dengan mereka. Membuat Nuri kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk menyapa. Nuri kembali menunduk, setelah melirik sekilas ke arah Ragil yang tenang di tempatnya.


---


Kara dibawa ke ruang persidangan. Dirinya akan menjalani sidang putusan hari ini. Ia tidak ditemani siapa-siapa. Salah satu hal misterius yang selama ini tidak diketahui oleh siapapun tentang dirinya. Kemana keluarganya?


Saga hadir di persidangan itu. Bahkan Saga hadir di setiap pemeriksaan terhadap Kara.


Pemuda itu, tidak pernah menyangkal perbuatannya. Ia mengakuinya dengan tenang, membuat penyelidikan kasus itu berjalan cepat dengan Kara sebagai pelaku tunggalnya. Saga masih tidak percaya. Bahkan pemuda itu masih tersenyum dan terus memberi semangat pada Saga untuk menjaga Azka hingga akhir hayat.


"Saga, hari ini Ragil sidang cerai. Ragil akan bebas mencari kebahagiaannya di luar sana. Dan Kamu, harus memastikan Azka bahagia setelah ini semua." ucapnya sebelum persidangan itu dimulai.


Pemuda itu duduk dengan tenang di hadapan majelis hakim. Tuntutan di bacakan. Kara tidak di temani pengacara, sementara pihak pelapor di wakili oleh pengacara Ragil. Sebab laki-laki itu harus menjalani sidang perceraian. Dan ketokan palu dari hakim, menandakan sidang ditutup. Kara dikenakan hukuman dua tahun penjara dengan tuduhan pembunuhan berencana yang mengakibatkan kelumpuhan pada korban.


Ya, Azka masih belum sadarkan diri. Ia masih berjuang di atas tempat tidur dengan segala alat medis yang melekat di tubuhnya. Keluarga Azka dan Saga sudah diberitahukan. Mereka bergantian menjaga Azka selama Azka dirawat di rumah sakit.


Kara dibawa keluar ruangan. Saga segera berjalan mengikutinya.


"Kar!" panggilnya menghentikan langkah petugas yang membawanya.


"Sekali lagi, saya minta maaf sudah mencelakai Azka." ucap Kara tersenyum. "Setelah saya keluar nanti, tolong jangan larang saya untuk bertemu Azka. Saya harus minta maaf dengan dia." tambahnya.


"Maaf saya gak bisa melakukan apa-apa. Terima kasih untuk semuanya. Saya percaya Azka akan bersikap sama dengan saya." Saga menunduk, "Apa memang kamu berniat melukai Azka?"


"Saya berniat membuat dia sadar siapa yang harus ia tatap dan siapa yang harus ia tinggalkan." Kara terkekeh, "Tapi ternyata, saya termakan emosi saya sendiri. Saya gak pernah tau kalau akibat saya, Azka harus terbaring di rumah sakit sampai saat ini." Kara terlihat menyesal.


"Doain Azka segera bangun, Kar."

__ADS_1


"Hemmm." Kara mangangguk, ia berjalan lagi ke arah pintu. Namun, sebelum menghilang di balik pintu ia kembali menoleh, "Jangan lupa buka flashdrive yang saya kasih." ucapnya.


---


Derit pintu mengisi hening di ruangan itu, disusul dengan derap langkah yang terdengar gontai. Kini suara-suara itu mulai mengisi udara kosong di sana. Sejak tadi ruangan itu hanya di isi oleh suara mesin monitor detak jantung, satu-satunya suara yang memberi tanda bahwa masih ada harapan bagi seorang gadis yang terbaring di sana. Saga masih duduk diam menghadap Azka yang terbaring di ranjang. Ia hanya melirik sekilas, mendapati Ragil datang dengan pakaian rapih yang melekat di badan. Ia terlihat sedikit lesu, tidak jauh berbeda dengan kondisi Saga saat ini.


Meski parfum menguar dari tubuhnya, rambut ditata rapih, dengan baju klimis dan sebuah jam tangan melingkar di tangan, namun dua laki-laki itu kentara sekali tidak bisa menyembunyikan keadaan mereka.


Mereka, tidak baik-baik saja.


Dan mereka tidak bisa berpura-pura bahwa mereka baik-baik saja.


Derap sepatu makin mendekat ke arah Saga. Namun Saga sudah kembali ke posisinya semula. Duduk tenang dengan tangan saling bertaut pada jari jemari Azka. Sampai akhirnya, dari ekor matanya, ia bisa melihat tubuh Ragil menjulang di sisi ranjang.


"Siang Ga," ucapnya hati-hati. Di tangannya terdapat sebuah buket bunga berwarna putih. Saga melirik pada sebuah vas yang ada di sisi ranjang. Disana terdapat buket bunga lain yang sudah terkulai mengenaskan.


"Siapa yang udah dateng pagi ini?" tanya Ragil sembari mengganti buket bunga layu itu dengan buket bunga yang baru ia bawa. Ia kemudian beralih ke arah tempat sampah di dekat pintu. Membuang buket bunganya yang entah sudah keberapa.


"Lo udah makan belum?" suaranya beradu dengan derit kursi yang digeser di atas lantai. Ragil duduk bersebrangan dengan Saga. Saga masih enggan bergerak dari tempatnya. Masih setia dengan genggaman tangannya pada tangan Azka yang terasa dingin.


"Jadi, apa yang lo tau setelah ngecek flashdrive dari Kara?" baru setelah pertanyaan ini terlontar, Saga mendongak menghadap Ragil. Sesaat keduanya hanya diam. Menciptakan suasana yang kembali mencekam. Saga dan Ragil terlihat hanya saling berbalas tatap, meski tatapan itu sama-sama kosong.


"Kamu benar, semua ini tetap berhubungan dengan istri kamu, Gil. Meskipun kejadian itu murni sebuah kecelakaan dari rencana Kara."


***


Sejak kehadiran Ragil yang kembali mengusik kehidupan Azka diketahuinya, Kara berubah menjadi lebih posesif. Entah apa yang ia rasakan, ia hanya tahu bahwa Azka belum selesai dengan perasaannya. Dan Azka harus dibantu untuk lepas dari kondisi itu.


Maka, sejak saat itu Kara selalu mengikuti kemana Azka pergi. Ia tahu bahwa di hotel itu, Azka mengikuti Marsha. Kara juga tahu motif Azka melakukannya karena ia sangat terobsesi atau mungkin itu adalah bawaan rasa bersalahnya pada Ragil. Azka merasa, bahwa Ragil harus mendapat kebahagiaan seperti halnya dirinya yang dilepaskan untuk mendapat kebahagiaan bersama Saga. Perasaan itu memperkuat rasa cintanya pada Ragil yang memang sudah tertanam selama ini. Memperparah keadaan Azka. Namun Kara tahu, bahwa Azka sangat mencintai Saga sebagai suaminya. Hanya saja, ia belum bisa terlepas karena apa yang ia sebut sebagai 'kebahagiaan Ragil' belum ia raih.


Kara menyelidiki cctv hotel tempat mereka mengadakan seminar dan pameran. Berbekal luasnya relasi yang ia punya di jakarta, ia mendapat salinan video dari cctv di kamar itu. Kara juga mengikuti Azka saat wanita itu menemui Marsha. Dari percakapan Azka bersama Marsha, Kara tahu bahwa Azka sudah tidak terobsesi memiliki Ragil, tidak terobsesi pada terbalasnya perasaannya. Kini Azka hanya ingin Ragil bahagia.


Kemudian saat ia pagi itu ke apartemen Azka bersama Nita, Kara melihat Marsha, dan menemuinya. Ia memberi perhitungan dengan wanita licik itu. Inti permintaannya satu, jauhi Azka. Jangan menyakitinya. Kara akan membuat Azka tidak lagi ikut campur urusan mereka. Namun ternyata hal itu tidak diindahkan oleh Marsha, sampai ketika Kara meninggalkan Azka di apartemennya, Marsha justru melakukan hal kejam yang membuat Azka harus dibawa ke rumah sakit akibat pendarahan.


Kejadian ini tentu tanpa sepengetahuan Saga. Kara sangat merahasiakannya. Dan saat ia membawa Azka dalam gendongannya karena wanita itu tertidur di perjalanan, ia mengecek cctv di apartemen itu. Ia mendapati bahwa Marsha datang kesana. Kara tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja. Ia memiliki satu rencana.


Ia membuat Reno pergi, menyisakan kekosongan pada Marsha. Membiarkan Marsha larut dalam dendamnya. Membiarkan Marsha mengirimkan terornya pada Saga, tetapi tanpa sepengatahuan Marsha, Kara juga menjaga Azka dengan memberikan setiap bukti kesalah pahaman yang ingin dibangun Marsha. Saga tidak berhasil diusik oleh Marsha.

__ADS_1


Sampai akhirnya, ketidak berhasilan seluruh rencana yang dibuat Marsha membuatnya kecewa. Hari itu, ia pergi menemui Marsha. Memintanya untuk berhenti menyakiti Azka.


"Kalo lo nyuruh gue jauh dari Ragil, Azka juga gaboleh deket Ragil!" ucap Marsha emosi.


"Saya yang akan memastikan itu." jawab Kara.


"Kenapa lo ngelakuin ini? Lo mata-matain gue! lo ngegagalin rencana balas dendam gue buat ngancurin pernikahan Azka! Dan sekarang lo bilang mau minta gue ngejauhin Ragil supaya Ragil bahagia?" Marsha meraung. "Lo tuh sebenernya maunya apa?? Lo cinta sama Azka? Kenapa lo gak mau ikut gue buat ancurin dia sama suaminya? Dengan gitu kita sama-sama menang. Gue menangin Ragil, lo menangin Azka."


"Sayangnya saya gak selicik kamu." ucap Kara mantap.


"Azka gak pernah punya dendam sama kamu," tambahnya.


"Dia psycho!!! dia buta karena terlalu cinta sama Ragil!!! dia beg*o terus belain Ragil!!! dia dendam ke gue, ya kan??"


"Azka hanya ingin Ragil bahagia, dan yang dia tahu, Ragil akan lebih mudah bahagia kalo kalian bercerai. Azka hanya mencoba menebus rasa bersalahnya." Kara masih terlihat tenang.


"Tapi Ragil punya gue!!!"


"Kamu cuma terobsesi Marsha. Kamu cuma cinta sama satu laki-laki. Tolong jawab pertanyaan saya. Apa rasanya ditinggal Reno?"


"Sh**!!! lo juga yang bikin Reno pergi??"


"Cuma mau buat kamu sadar siapa yang kamu inginkan."


"Dimana Reno???" teriak Marsha.


"Kalo kamu berjanji untuk menerima perceraian itu, dia masih nunggu kamu di luar untuk pulang ke rumah kalian." ucap Kara.


"Kamu tinggal pilih, mau saya bongkar semuanya dan kamu bisa saja masuk penjara bersamaan dengan kamu menjadi janda. Atau kamu memilih penawaran ini, dan saya yang akan membereskan semuanya di sini." tutup Kara.


***


"Maksud kamu?" Ragil masih tercengang mendengar penuturan Saga tentang kenyataan itu.


"Kara hanya terlalu cinta sama Azka. Dia hanya melakukan apa yang gak bisa Azka lakukan." ucap Saga. "Tapi ternyata, kesalahan sedikit membuat dia salah sasaran dan justru melukai Azka dengan parah."


Ragil bangkit, ia mengepal tangannya kuat.

__ADS_1


"Kamu.. apa kamu lebih bahagia sekarang, Gil?" Ragil menoleh.


__ADS_2