RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
Season 2 #33


__ADS_3

Setiap yang bernyawa, pasti akan menghadapi sang maut pada waktunya. Kita hanya menunggu giliran saja.


-Author-


"Happy birthday, Ka." ucap Saga pada gundukan tanah yang telah ditaburi berbagai jenis bunga berwarna warni. Tanah itu terlihat basah, akibat siraman yang Saga berikan beberapa menit yang lalu.


Ia juga membawa dua buket bunga segar untuk ia letakkan di atas pusara kematian istrinya dan calon anaknya itu. Saga menunduk dalam, bibirnya terlihat komat-kamit melangitkan doa-doa.


Dua pusara di sisi kanan dan kirinya itu tak lepas dari jamahan tangannya. Ia mengelus permukaan tanah, seolah ia tengah menyentuh Azka dan bayi mereka dengan kasih dan sayangnya.


"Kamu sama si utun udah merayakan hari ini belum? Aku disini ngerayain sendiri. Tapi aku gak sedih, karena meskipun kamu udah ninggalin aku di dunia. Kamu sebenernya gak pernah benar-benar pergi. Kamu tetap hidup di sini." ucap Saga.


"Ka, dua minggu lalu Kara sudah keluar dari tahanan. Dia terpukul, aku sengaja gak kasih tau dia soal kepulangan kamu." Saga menunduk,


"Kamu tahu? kamu beruntung, kamu beruntung bertemu Kara. Dia orang yang tulus, dan percaya atau gak, aku merasa bahkan dia lebih mencintai kamu dari pada aku. Aku cemburu." Saga terkekeh, "Tapi aku lebih beruntung, karena kamu selalu memilih aku."


"Makasih untuk semuanya Ka. Makasih untuk semua bahagia yang kamu kasih. Makasih untuk semua pelajaran yang kamu ajarin ke aku. Aku gak akan pernah bertemu dengan orang yang lebih baik dari kamu. Aku, di sini akan selalu mengenang kamu. Gak peduli seberapa sepi rumah kita, gak peduli seberapa banyak orang yang dibawa Ibu untuk ngegantiin kamu. Kamu, gak akan pernah terganti oleh siapapun."


"Oiya, Ocha titip salam. Dia belum bisa kesini hari ini. Prof. Ara dan Nita juga. Sepertinya Nita lagi nemenin Kara, dia bilang akan kesini setelah bertemu dengan Kara." Saga menyelesaikan ucapannya.


Saga bangkit, setelah mengelus kembali dua pusara itu. Ia melangkah dari sana, tatapannya sendu. Menggambarkan betapa kehilangan Azka adalah kehilangan terbesar yag ia alami selama hidupnya. Namun Saga tidak pernah merasa putus asa, ia tetap menganggap Azka ada di hidupnya. Azka, tetap hidup dalam dadanya, dalam setiap detak jantungnya, dalam setiap hembusan napasnya. Azka, selalu hidup dalam dirinya.


---


Sebuah kue cantik di letakkan di depannya. Lilin yang menyala di atasnya bergoyang-goyang akibat hembusan angin yang masuk dari sela-sela tralis jendela.


"Make a wish untuk Azka, Gil." ucap seseorang di hadapannya. Ragil menutup matanya, menarik napasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.


*Ka, apa kabar? Aku gak punya harapan apa-apa untuk kamu. Kamu sudah lebih baik di sana. Kamu gak perlu mikirin penatnya dunia, lelahnya kerja bagai kuda, apalagi nyinyirnya netizen +62. Kamu, baik-baik aja kan di sana? Gue pengen banget ketemu lo Ka. Gue kangen senyum lo, gue kangen sama bawelnya lo. Gue.. kangen sama lo Ka.


Ka, seperti yang lo kira, gue sekarang sudah menemukan seseorang yang tulus sama gue, gak peduli segimana bejatnya gue dulu, gak peduli seberapa buruk masa lalu gue, dia tetep nerima gue Ka. Ini, malaikat yang lo kirim buat gue ya? Makasih ya.


Lo tau gak? dia sekarang ada di depan gue, bahkan dia nemenin gue setiap gue ngerayain ulang tahun lo dua tahun ini. Dia juga selalu siap nemenin gue kalo gue mau ke makam lo. Dia, seperti penjelmaan rasa sayang lo ke gue Ka. Gue bersyukur bisa ketemu sama dia, sama kayak syukur gue karena gue pernah ditakdirkan untuk bertemu lo.


Gue mau ngelamar dia bulan depan. Doain dari sana ya Ka, bilang sama Allah, untuk selalu limpahin berkahnya buat seluruh urusan gue. Nanti, kalo gue nikah, lo dateng ya? dalam mimpi juga gak papa. Gue cuma mau kasih liat sama lo, kalo gue sekarang udah bener-bener bahagia. Seperti yang lo minta.


Terakhir, gue harap kita nanti diijinin ketemu di SyurgaNya sama Allah. Terserah mau sebagai apa, tapi semoga gue dikasih kesempatan untuk ketemu lo lagi di sana. Gue masih berhutang sama lo. Semoga nanti lo terima penebusan gue.


Gue, sayang banget sama lo Ka. Sayang banget*.


Matanya terbuka, bertepatan dengan padamnya api di atas lilin itu. Ragil tersenyum, angin seperti membawa Azka kembali hadir di sini. Bersama mereka merayakan hari lahirnya yang tidak pernah ia rayakan sebelum ia tiada.


"Kita pulang?" tanya gadis di depannya.


"Ayo, aku anter kamu pulang." Ragil menyetujui.


"Aku ingin banget bisa kenal Azka. Sepertinya, dia wanita yang istimewa." ucal gadis di sebelahnya. Kini mereka sudah berada di tengah macetnya jalanan. Kue yang tadi dibeli di pegang erat di atas pangkuan gadis itu.


"Hemm, kamu bisa cukup kenal dia dari cerita aku."


"Hhhmm, kapan kita ke makamnya lagi?"


Ragil menoleh, lalu kembali fokus ke jalanan. "Gak hari ini, hari ini pusara Azka milik Saga seorang. Kalo besok kamu luang, kita bisa kesana." gadis itu mengangguk.


"Gil?"

__ADS_1


"Iya?"


"Aku besok mau minta ijin sama Azka," Ragil mengernyitkan dahinya. Tatapannya masih fokus ke depan. "Aku mau minta ijin untuk bisa jaga kamu, untuk bisa bikin kamu bahagia. Semoga Azka senang ketika tau kamu udah bahagia."


"Makasih, Azka pasti seneng kamu ngomong itu." diusaknya kepala gadis itu seraya tersenyum.


"Kuenya jadi kita kirim ke anak-anak lagi?" Ragil mengangguk, "Oke."


---


"Kar, kamu lagi suka sama seseorang?"


"Sotoy banget! Tapi iya sih," ucapnya cuek.


"Siapa?"


"Yang pasti bukan kamu, Teh. Saya punya selera tinggi masalah pasangan hidup." jawabnya tengil.


"Dih," Azka mendengus, "Aku beneran tanya. Siapa yang lagi kamu suka? Kenalin dong."


"Tanpa saya kenalin juga kamu udah kenal sama dia, Teh." jawabnya tanpa menoleh.


"Serius??" Kara mengangguk.


"Cantik gak?"


"Biasa aja," jawabnya asal.


"Cantikan aku dong!" Kara hanya menggumam-gumam tidak jelas. Kan kamu orangnya! Dibilang biasa aja, berarti biasa aja!


"Kamu gausah dateng sekalian! Kamu gak diundang kalo saya nikah!" jawabnya yang langsung mendapat delikan tajam dari wanita di sebelahnya.


"Dih jahatnyaaa." cebik Azka.


Kara membuka matanya, ia masih duduk di meja yang sama sejak pagi. Meja pertama yang mempertemukannya dengan Azka. Meja di tengah-tengah ruang baca perpustakaan kampus mereka dulu. Meja yang mengantar Kara mengetahui banyak sisi dari hidup seorang gadis yang membuat dirinya tertarik.


Kara, meskipun telah bebas dari tahanannya dua minggu lalu. Namun, ia justru semakin merasa terpenjara oleh rasa bersalahnya. Ia yang menyebabkan Azka-nya tiada. Usahanya untuk melindungi Azka, nyatanya justru membuat Azka terluka, bahkan pergi meninggalkan mereka. Andai ia tidak melakukannya. Andai ia membiarkan Azka menyelesaikan sendiri masalahnya. Mungkin wanita itu kini tengah ada di hadapannya. Melontarkan kalimat-kalimat aneh, bawel pada segala hal, atau justru murung mengeluhkan banyak hal.


Ah, Kara rindu Azka. Azkanya yang sudah tidak menjadi Azkanya sejak tiga tahun lalu. Namun anehnya, ia masih selalu merasa bahwa Azka adalah Azkanya. Azka memang selalu menjadi Azkanya. Sampai kapanpun, Azka tetap menjadi Azkanya.


"Kara, udah lama nunggu?" suara Nita tiba-tiba memenuhi pendengarannya. Menyabotase dirinya dari lamunan yang sejak tadi membuatnya tak berada di tempat.


"Eh, Nit. Enggak kok, baru aja dateng." Nita hanya tersenyum. Ia jelas tahu Kara berada di sana sejak pukul delapan pagi. Ia melihatnya dari buku pengunjung di meja resepsionis.


"Jadi, hari ini mau kemana?"


"Disini aja."


"Gak akan ke makam?"


"Hari ini pasti Saga kesana. Saya gak mau mengganggu."


"Jadi..?"


"Saya mau di sini aja, di meja ini." Nita melirik, apa istimewanya meja ini?

__ADS_1


Nita duduk di kursi di depan Kara. "Meja ini..?"


"Meja tempat pertama kali saya ketemu Azka." Kara terkekeh, namun pandangannya menerawang. Sorot matanya sendu, penuh dengan kesedihan dan penyesalan. Nita hanya ber ooh ria tanpa suara.


"Kar, emm.. aku ngerti perasaan kamu. Tapi Pak Saga titip pesen ke aku untuk mengatakan ini ke kamu. Pak Saga bilang, ini semua takdir. Kamu.. gak perlu merasa bersalah." suara napas berat yang terhembus terdengar dari hidung Kara.


"Aku rasa, Pak Saga benar. Kita semua.. memang akan meninggal pada saatnya kan? Begitu juga dengan Azka."


"Azka gak akan meninggal kalo bukan karena saya tabrak, Nit." potong Kara.


"Azka meninggal karena memang sudah waktunya dia kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa, Kar."


"Melalui perantara saya."


"Itu hanya.."


"Hemmmh." Kara mendengus.


"Azka gak akan senang melihat kamu begini." Kara memejamkan matanya, berusaha untuk tidak mendengar ucapan Nita. Lama keduanya hanya terdiam. Kara tak kunjung membuka matanya. Nita bangkit untuk mengambil beberapa buku untuk ia baca. Sepertinya, ia harus memiliki kegiatan lain selain melihat Kara yang sedang depresi begitu.


"Kar. Dengerin tuh, ucapan Nita." suara itu sangat Kara kenal. Ia membuka matanya, mendapatkan Azka duduk di tempat Nita tadi berada.


"Ka.." panggilnya lirih.


"Hush! gak sopan. Teh Azka!" Azka mendelik lucu.


"Kamu apa kabar?"


"Aku bahagia di sana. Kamu juga harus bahagia. Benar kata Saga dan Nita. Ini bukan salah kamu. Maaf sudah buat kamu harus menghabiskan 2 tahun di sana." Kara justru terkekeh,


"Kar, janji sama aku."


"Apa?" jawabnya malas.


"Senyum dong. Kamu harus senyum! kamu harus bahagia, atau aku bakal terus gak tenang di sana. oke!" Kara mencebikkan bibirnya, mengedik bahu tanda tak acuh.


"Janji ya! oke?"


"Oke."


"Kar?? Hei, Kar? kamu bisa ketiduran di sini? Ya Tuhan" Nita menggoyangkan bahu Kara.


"Apa, Ka?"


"Hei, ini aku. Nita." Kara mengerjapkan matanya, Nita kembali duduk di kursinya tadi. Kara masih terdiam, Nita memilih membuka buku yang ia ambil tadi. Sampai akhirnya Kara mengangkat suara.


"Happy Birthday, Azka."


------‐---‐-------—‐‐‐—--------------------—‐--—------------------


Alhamdulillah, tamat juga akhirnya Ragil season 2. Semoga akhir ini membuat semua puas, ya. Ehm.. kalo boleh, aku mau minta komentarnya dong untuk cerita Ragil dari season 1 sampe season 2. Buat kenang-kenangan aku. Hehehehe. Soalnya setelah ini, aku pasti akan kangen dengan Ragil, Azka, Saga, dan Kara. Dan dengan adanya komentar kalian, aku akan semakin senang saat mengenang cerita ini.


Ehehehe.


Terima kasih yang sudah membaca, mengomentari, memberi like, dan masukan. Aku padamu.💕

__ADS_1


Follow watt pad aku di @AzkaraSenja.


__ADS_2