
Tanggung jawab yang kau emban saat sudah menikah bukan lagi hanya tentang dirimu. Suami, anak, dan keluarga juga memiliki porsi tertentu.
-Azka-
"Eh, Nit? kok kamu bisa di sini?" tanya Azka saat mendapati Nita di depan pintu apartemennya.
"Surprise!!! Kejutan buat ibu hamil. Hehehe," jawab Nita terkekeh.
"Apa sih! siapa yang kamu maksud ibu hamil? hn?" Azka memundurkan tubuhnya, memberi ruang agar Nita masuk ke dalam apartemennya.
"Kara ajakin aku kesini. Katanya kamu lagi ngidam. Lontong lah, ketoprak lah, iya kan?" tanya Nita melewati Azka menuju sofa di ruang tamu wanita itu.
"Hahahaha, Kara kamu percaya." Azka ikut duduk di samping Nita, membuka bungkusan yang tadi diletakkan temannya itu di atas meja. "ini semua yang aku minta sama Kara?" tanya Azka tidak percaya. Pemuda itu benar-benar membelikan semua pesanannya. Matanya semakin berbinar ketika menangkap bungkusan yang ia ketahui pasti dibeli dari Pak De di dekat kantor. Buru-buru ia membuka bungkusannya.
"Oh My God, pisang goreng Pak De!!!" pekiknya begitu antusias. Nita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.
"Gak usah dilihatin terus Ka. Makan sana," suruh Nita yang sudah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang terasa empuk.
"Emmm, aku gak mau makannya sih Nit. Emm, kamu mau ya makanin pisang gorengnya?" tanya Azka penuh harap. Nita melongo, tetapi karena ia dan Kara sangat yakin bahwa Azka tengah mengidam, Nita hanya bisa mengangguk setuju. Ntar kalo anaknya ngeces bahaya nih, pikirnya.
"Yaudah sini," baru akan menggigit ujung pisang goreng itu, Azka sudah menahan gerakan tangan Nita lebih dulu.
"Eh Nit, belum pake ini." ucapnya menunjukkan saos sachet yang ada di bungkusan yang sama.
"Hah? serius kamu Ka? nggak ah," tolak Nita terang-terangan.
"Kamu belum pernah coba kan? enak Nit, percaya deh sama aku. Cobain biar tahu rasanya." pinta Azka lagi.
"Yaudah, sini aku cobain. Ehm, sedikit aja ya." Nita pasrah, mengoleskan saos sachet itu sedikit ke ujung pisang goreng yang masih hangat di tangannya. Ia membuka mulitnya dengan ragu-ragu, "Aku coba nih ya Ka.." ucapnya mengulur waktu. Ia berdoa semoga Kara segera datang dan membebaskan Nita dari tugas icip-icip tidak masuk akal ini.
"Ayo gigit, Nit." Azka antusias menunggu gigitan pertama Nita pada pisang goreng saos di tangannya.
Nita menggigitnya, mengunyahnya dengan gerakan mulut yang kaku. Rasanya memang tidak membuat dirinya mual lalu memuntahkan pisang itu. Namun jika diminta lagi, Nita memilih untuk tidak memakannya lagi. Sensasi pedas pada pisang yang terasa manis itu membuat lidahnya jadi sulit menerima rasa.
"Enak, Nit?" tanya Azka penasaran.
"Emmm, aneh sih Ka, tapi kalo kamu mau coba boleh kok Ka."
__ADS_1
"Kamu gigit lagi dong, Nit!" pinta Azka bersemangat,
"Eh, enggak deh Ka. Aku makan pisang gorengnya aja." Nita menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Nah, ini kentang gorengnya. Wiiih Kara is the best nih. Choki-chokinya juga dibeliin." Azka berseru senang.
"Itu kentang gak akan di cocol sama coklat kan Ka?" tanya Nita sedikit ragu.
"Ih, ya di cocol dong. Pasti enak."
"Jangan suruh aku makan lagi ya Ka. Aku gak mau." sebelum Azka memintanya, lebih baik menolak dari awal. Terserah bodo amat dengan mitos bayi ngeces karena ngidam tidak terturuti.
"Yaaah, siapa dong yang aku minta nyobain?" Azka memelas. "eh, Kara kemana sih Nit? kok belum kesini?"
"Bentar lagi kali Ka. Dia tadi gak tau mau kemana, ketika nyuruh aku duluan." Nita teringat sesuatu yang mereka beli di jalan tadi. Bukan pesanan Azka, namun mungkin Azka perlu mencobanya. Agar ia bisa mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan mual, muntah, dan segala perubahan tingkahnya dalam seminggu ini.
"Ka, tadi.. Aku sama Kara mampir apotik. Trus.."
"Lho? siapa yang sakit Nita?" Azka memotong dengan cepat.
"Kan bahaya juga kalo ternyata kamu beneran hamil. Lagian kamu gak masalah kan Ka?" tanya Nita hati-hati.
"Ya ampun, kalian tuh baik banget. Aku emang baru mau tes hari ini Nit. Ya jelas gak masalah dong Nita, kan aku udah nikah. Dan hamil jadi salah satu impian dari setiap pasangan yang menikah kan?" Azka gugup, tetapi dari binar matanya dapat dilihat bahwa Azka sungguh-sungguh.
"Yaudah, cek gih. Aku tadi beli dua merk. Dua-duanya yang bisa dipake kapan aja kata mba petugasnya, gak harus pake urin pagi." Jelas Nita lagi sambil mengeluarkan dua benda beda merk itu.
"Kamu tunggu di sini ya, aku mau cek. Aduuuh aku jadi gugup Nit." digenggamnya tangan Nita kuat dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraih dua tespack yang tadi dikeluarkan.
"Aku tunggu di sini, cepet. Aku gak sabar pengen tau. Duuh aku mau jadi onty." Nita membalas genggaman itu sebelum melepasnya saat Azka menjauh menuju kamarnya dan Saga.
---
Azka memegang dua buah testpack di tangannya dengan kuat. Ia meragu untuk mulai mengecek status dirinya. Apakah benar dirinya hamil?
Dirinya sangat gugup saking bahagianya sampai jantungnya pun ikut bersemangat berdetak. Namun kalimat Saga beberapa waktu lalu tiba-tiba terngiang di kepalanya.
"Aku gak lagi minta kamu cepet-cepet hamil kok. Kita nikmatin aja dulu pacaran after merried ini..."
__ADS_1
Apa Saga juga akan sebahagia dirinya? lebih bahagia? emm, atau Saga justru tidam senang karena belum selesai menikmati masa pacaran setelah menikah? Ah, apapun keadaannya. Hal yang penting saat ini adalah tahu apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak.
Ia membuka bungkusan testpack pertama yang berwarna hijau. Ia meraih benda pipih itu dan menelitinya. Ia letakkan kembali benda itu di atas kemasannya yang sudah terbuka, lalu beralih pada kemasan yang lain. Ia mengeluarkan benda pipih dari merk yang lain dan kemudian memegang keduanya di satu tangannya.
Ia menampung urinnya di sebuah gelas plastik bening. Kemudian ia celupkan dua benda berbentuk pipih itu ke dalamnya. Ia menunggunya sebentar lalu ia keluarkan. Menurut petunjuk, Azka harus menunggu sekitar tiga menit sebelum keluar hasilnya berupa garis merah dan tanda positif. Azka menutup matanya sembari menunggu. Ia sampai mengatur alarm selama tiga menit agar ia tahu harus menunggu sampai kapan. Begitu alarm di ponselnya berbunyi, ia segera membuka mata. Dengan hati bergetar dan jantung berdebar, ia melirik ke arah dua benda itu.
Azka sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia masih tidak percaya melihat hasil di dua benda yang ada di hadapannya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, lalu melihat kembali hasiltesnya. Dua garis merah dan tanda positif di dua alat yang ia gunakan cukup membuat hatinya merasa terbuncah. Seperti ada kembang api yang berdentam-dentum di dalam dadanya. Ia pun segera menghambur keluar seraya terpekik kegirangan.
"Nita!! aku beneran positif." ucapnya mendekati Nita yang sontak berdiri menerima pelukan dari temannya itu.
"Waw.. Ka. Selamat! akhirnya kamu akan jadi seorang ibu!" Nita membalas pelukan Azka dengan erat.
"Aku seneng banget Nit," Azka mengeratkan pelukannya seraya melompat-lompat kecil.
"Eeiits.. Ka. Jangan berlebihan, gerakan kamu bisa membahayakan malaikat kecil yang sedang tumbuh di perut kamu." Nita mengingatkan Azka yang terlalu kegirangan.
"Oopss, sorry. Maafin Mama ya Baby," ucap Azka mengelus perutnya yang masih rata itu.
"Ada kabar bahagia?" tanya suara di ambang pintu. Pintu yang sedari tadi dibiarkan terbuka membuat Kara bisa dengan mudah masuk ke sana. Dan melihat dua perempuan di hadapannya saling tersenyum membuatnya penasaran.
"Kara!!!" pekik Azka segera berlari kecil mendekati pemuda itu.
"Iya?-- Auch!" Kara terkejut karena Azka memeluknya secara tiba-tiba.
"Aku hamil Kar." ucap Azka sama seperti yang ia lakukan pada Nita tadi.
"Euw.. yah, selamat Teh." ucapnya seraya melepas pelukan Azka perlahan. Karena sepertinya Azka menyadari sesuatu.
"Eh, emm.. sorry,"
"No problem, Teh. Saya kan bukan suamimu. Simpan pelukan itu untuk Saga okey," ucap Kara jail.
"Owh. Ahaha, iya iya. Aku terlalu senang." ucap Azka sudah merekahkan kembali senyumannya.
"Yeah, tapi kamu harus tetap hati-hati Teh."
"Iya. Pasti."
__ADS_1