
Cinta sudah bukan hal yang sama bagiku, dan untuk bertahan aku tidak hanya butuh cinta, tetapi juga komitmen.
-Azka-
Kamar rawat inap kelas vip itu tampak sepi. Hanya suara dari mesin pendeteksi detak jantung yang menguasai sunyi. Di sebuah ranjang, kini Azka tengah terbaring. Tindakan yang dilakukan oleh tim dokter beberapa jam lalu telah berhasil menyelamatkan nyawa Azka. Hanya saja, Saga masih harus belajar menerima bahwa anak mereka sudah tiada bahkan sebelum detak jantungnya sempat ia dengar. Sementara Azka juga masih harus berjuang melawan kondisinya saat ini.
Dokter mengatakan bahwa mungkin Azka akan mengalami koma jika dalam dua kali dua puluh empat jam dirinya tidak sadarkan diri. Benturan yang diterima Azka saat kecelakaan itu, membuat sebagian tubuhnya mengalami trauma. Dan salah satu trauma itu berhubungan dengan otaknya.
Sampai saat ini, Saga belum menghubungi siapa-siapa. Ia masih takut untuk mengabarkan berita duka ini pada keluarganya. Ia takut jika keluarganya tidak bisa menerima kenyataan bahwa Azka harus mengalami hal ini. Terlebih, calon anak mereka juga ikut terenggut dalam kecelakaan itu.
Yang bisa dilakukan Saga saat ini hanyalah berdoa. Semoga Allah memberikan kesempatan untuknya bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Azka.
"Selamat malam, Pak." ucap seorang perawat yang baru saja memasuki kamar inap itu.
"Malam." jawab Saga singkat.
"Saya periksa dulu ya Pak," perawat itu meminta ijin.
Perawat itu mengecek berbagai alat yang menempel pada tubuh Azka. Mencatat beberapa data pada kertas yang dilekatkan di sebuah papan berjalan.
"Saya permisi Pak. Besok ada dr. Anindita yang akan mengecek kondisi Bu Azka." jelas perawat sebelum ia pergi keluar ruangan.
Saga mendekat ke ranjang, dan duduk di sebuah kursi di sampingnya. Ia menumpuk kepalanya di atas lipatan tangan, dan mulai menggumam-gumamkan sesuatu di sana.
---
__ADS_1
Menatap dari balik pintu pada seseorang yang ingin ditemui. Hanya bisa melihat dari jauh sementara hati ingin mendekat bahkan mendekap. Itulah yang dirasakan Ragil saat ini. Sepulangnya dari kantor selepas maghrib, ia kembali ke Rumah Sakit Harapan Kita. Ia ingin menjenguk Azka, orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Ragil memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan. Suara derit pintu yang baru saja ia buka membuat Saga yang tengah duduk menatap ranjang mendongak. Kini tidak ada amarah dalam tatapannya. Tatapan itu justru penuh kesenduan. Seolah seluruh kebahagiaannya telah hilang bersama hilangnya kesadaran Azka.
"Gue.. boleh masuk?" tanya Ragil hati-hati. Saga hanya mengangguk lemah dan kemudian menarik satu buah kursi mendekat ke arahnya. Ragil masih berdiri di depan ranjang, ragu untuk duduk di kursi yang disediakan.
"Duduk dulu, Gil." ucapnya ramah.
Ragil yang sedari tadi hanya bergeming akhirnya menarik kursi itu agak menjauh, ia duduk di sana. Sekarang dua pria itu tengah duduk berhadapan, dengan ranjang Azka berada di sisi mereka berdua.
"Gue, minta maaf ya Ga. Kalo gue gak ajak Azka ketemu siang tadi, mungkin.."
"Yang udah terjadi, gak perlu disesali." timpal Saga tenang. Tatapannya terjatuh pada ujung-ujung sepatunya yang belum berganti sejak kedatangannya di rumah sakit siang tadi.
"Tapi, gue masih ngerasa bersalah sama Azka. Sama lo juga. Gue cuma mau bilang, gue sama Azka ketemu bukan karena apa-apa. Gue cuma mau berterima kasih untuk semua bantuan dia selama gue ngurus perceraian dengan istri gue." mendengar pernyataan itu, Saga mendongak.
"Jadi, kamu pun tau kalo istri kita saling berhubungan?" Ragil mengangguk,
"Gue gak tau apa yang ada di pikiran Azka, tapi yang pasti Azka sudah terlalu banyak bantu gue." Ragil menghela napasnya kasar, "Gue gak tau kenapa Azka berani ngelakuin itu. Bahkan gue gak tau Marsha ngelakuin apa aja ke Azka hanya karena dia dendam. Azka pasti kesulitan."
"Azka masih mencintai kamu, Ragil." Saga mengatakannya dengan nada suara yang sangat tenang, Ragil yang mendengarnya sedikit mengernyit.
"Kami sudah selesai semenjak kamu meminang dia Ga. Gak ada apa-apa diantara kami." Ragil mengatakannya dengan sedikit ragu. Ia tidak tahu apa yang dirasakan Azka. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah dirinya memang sudah benar-benar melepaskan Azka atau tidak.
"Selama setahun pernikahan kami, Azka begitu berusaha untuk bisa melepaskan perasaannya. Menerima pernikahan kami, menjalaninya dengan sepenuh hati. Azka sangat berusaha." Saga melirik sekilas ke tempat dimana Azka berbaring tak berdaya. "Tapi satu hal yang saya tau, Azka belum benar-benar lepas dari perasaannya. Azka masih terus hidup dengan perasaan itu. Azka, sekuat apapun dirinya berusaha, belum berhasil mencintai saya lebih besar dari rasa cintanya ke kamu."
__ADS_1
Ragil diam, dan hanya bisa menatap Azka dalam-dalam. Sampai akhirnya Saga melanjutkan.
"Ketika kamu hadir lagi beberapa waktu lalu, usaha Azka selama satu tahun itu hancur tak bersisa. Azka kembali menjadi Azka yang dulu. Dia.. memang gak pernah bohong tentang beberapa pertemuan kalian akhir-akhir ini, tapi dia mulai kembali berbohong tentang perasaannya. Dia bilang sayang, tapi di hati, rasa sayangnya untuk saya hanya setengah hati, karena setengah lagi masih tetap dia kasih untuk kamu. Bahkan dia rela menghadapi istri kamu, hanya untuk membela kamu." Saga tersenyum kecut.
"Istri kamu bahkan meneror saya, mengirimkan beberapa foto yang membuat saya cemburu. Hmm.. Ya, saya akui saya sangat cemburu dengan kamu. Saya gak tau apa yang ada dalam diri kamu, yang gak saya punya. Sampai Azka bisa mencintai kamu dengan sangat seperti itu. dan apa yang dilakukan istri ksmu, hampir membuat saya hilang arah dan menyerah. Jika saja tidak ada Kara." Ragil terkejut, sejauh itukah perbuatan Marsha? Namun detik kemudian Ragil kembali fokus pada ucapan Saga.
"Tapi Gil, sejak awal saya memang sudah berjanji untuk menerima Azka apa adanya. Menerima bahwa dia gak akan pernah bisa mencintai saya sepenuh hatinya. Menerima bahwa dalam pernikahan kami, ada setengah hati yang terbagi untuk orang lain. Dan.. menerima bahwa Azka sudah amat terbiasa dengan perasaan itu. Cinta udah bukan hal yang sama bagi Azka, begitupun dengan saya." Saga menjeda kalimatnya,
"Bagi saya, selamanya memang kadang kita gabisa memaksa untuk dicintai sepenuhnya oleh orang yang kita cintai. Dalam hubungan hati, kadang akan selalu ada celah dimana kita membiarkan perasaan lain menyelinap di sana. Tapi semua ini membuat saya, mungkin juga Azka, banyak belajar. Bahwa dalam pernikahan, kita sudah bukan lagi hanya bicara cinta. Pernikahan gak akan bisa bertahan kalo hanya didasari cinta. Yang kita butuhkan untuk bertahan, itu adalah sebuah komitmen. Komitmen untuk saling mengisi kekurangan, menghargai kelebihan, memenuhi kantung-kantung cinta dengan hal-hal lain yang bermakna selain cinta itu sendiri. Kita butuh itu untuk bertahan pada sebuah perjalanan bernama pernikahan."
Saga bangkit, dari tempatnya. kemudian ia menatap Ragil dari posisinya. Ia menghela napas perlahan, lalu mengatakan sesuatu yang sudah ia pikirkan matang-matang.
"Saya mengijinkan kamu, untuk datang kesini setiap kamu luang dan mau. Bantu saya melindungi Azka. Bantu saya untuk membuat Azka bisa selesai dengan rasa penasarannya. Saya ingin kalian menyelesaikan apa yang belum sempat kalian selesaikan. Agar kedepannya, Azka bisa kembali utuh. Gak lagi membawa beban perasaan itu."
Ragil terpaku, kalimatnya tertelan begitu saja di tenggorokannya. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia hanya bisa berjanji, bahwa setelah ini Azka akan bisa kembali utuh seperti sebelum Azka mengenal dirinya. Ya, Saga benar.. dirinya harus menyelesaikan ini. Salah satunya adalah, ia harus memastikan bahwa Azka melihatnya bahagia sebagaimana dirinya akan melihat Azka bahagia bersama Saga.
Bukankah itu yang selalu Azka minta pada dirinya? Akankah Azka melepas semua perasaan itu jika ia sudah benar-benar bahagia menata hidupnya? Apakah Azka akan merasa lega dan tidak lagi mengikat dirinya dengan perasaan yang sama?
"Gue janji, gue akan terus berusaha supaya lo bisa melepas semuanya."
---
"Tuan Saga?" tanya seseorang berseragam polisi yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Azka bersama satu rekannya. Saga terkejut, ada apa ini? Namun dirinya mengangguk seraya mendekat ke arah dua orang berseragam itu.
"Kami membawa surat pemanggilan untuk anda sebagai saksi atas kejadian kecelakaan yang menimpa istri anda."
__ADS_1
"Apa?"