RAGIL (Cinta Pertama)

RAGIL (Cinta Pertama)
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Mata kadang tak jernih melihat dan melewatkan yang selama ini selalu tersemat. Maaf jika selama ini aku melewatkanmu.


-Ragil-


Setelah berpamitan dengan kedua mempelai, Azka dan Saga segera keluar dari gedung. Mereka segera menuju Astina tua berwarna hijau botol milik Saga. Setelah Saga memasukkan kunci dan membukanya, Azka segera melesak masuk ke dalam mobil.


"Maaf untuk hari ini. Aku traktir makan di luar. Ayo" Ajak Azka setelah keduanya menutup pintu di samping mereka. Saga menghidupkan mesin dan membawa mobilnya bergerak melaju menuju tempat makan yang mereka sepakati.


Akhir minggu selalu membuat jalanan Bandung padat merayap. Sekitar 45 menit berada di jalan dengan perut kosong, membuat Saga sedikit uring-uringan. Mereka segera masuk dan memilih meja manapun yang kosong. Tangan Azka melambai pada pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. Setelah menyebutkan pesanan mereka, pelayanpun bergerak menuju dapur, menyampaikan pesanan pada koki dan kembali berdiri di sekitar tempatnya tadi.


"Jadi, dia itu siapa?" Saga sudah tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Emm, dia laki-laki yang aku ceritakan dulu"


"Benarkah?" Jadi, pengirim surat itu bukan laki-laki yang sama dengan yang diceritakan Azka? Jadi siapa laki-laki itu? . Saga.


"Iya" Azka tersenyum, ekspresinya menunjukkan kelegaan. Sorot sendu dari matanya yang terpancar selama berbicara dengan laki-laki yang Ia temui di gedung itu sudah tak lagi terlihat.


"Kamu senang Kak bertemu dia?" tanya Saga ingin tahu.


"Sulit diungkapkan. Aku lebih merasa lega Ga. Yaah, kamu tau kan ceritanya? kami dekat dalam waktu yang lama. Kemudian berpisah! dan seperti aku, dia sangat terluka" Azka menghela nafasnya, "Aku selalu ingin bertemu dengannya setelah perpisahan itu. Hanya sekedar ingin mengatakan bahwa perpisahan itu bukan salahnya, bukan pula salah siapa-siapa. Dan hari ini aku bertemu, meski tidak sengaja, dan berhasil mengatakan itu. Aku sudah minta maaf secara langsung, hal yang sangat ingin aku lakukan. Aku lega Ga. Aku seperti terlepas dari lilitan hutang yang besar selama ini" Azka sadar dirinya sudah terlalu banyak bicara. Azka menyadari bahwa Saga memperhatikannya dengan tatapan yang agak berbeda, Itu membuatnya jadi sedikit salah tingkah.


"Aku sudah terlalu banyak ngomong, hahaha. Maaf ya" celoteh Azka akhirnya.


"Syukurlah, jika rasa bersalah itu sudah berhasil kamu tebus Kak"


"Iya, Alhamdulillah. Aku sangat berharap setelah ini semua akan baik-baik saja" ucap Azka penuh harap


"Saya juga" Semoga begitu dengan hubungan kita juga. Saga berucap dalam hatinya.


Pelayan yang datang mengantarkan pesanan, menjeda pembicaraan mereka. Mereka makan dalam diam, tidak ada obrolan apapun. Keduanya larut dalam kegiatan masing-masing, atau mungkin pikiran mereka masing-masing. Setelah makanan dan minuman itu tandas dari piring mereka, Azka segera mengajak Saga untuk pulang. Saga menuruti tanpa berkata. Ia hanya melihat Azka membayar semua pesanan yang mereka makan, lalu berjalan beriringan menuju Astina hijau botol yang terparkir cantik di ujung parkiran.


Pikiran Saga masih melayang pada pertemuannya dengan seseorang yang Ia yakin memiliki cerita di kehidupan Azka. Sampai saat ini, Ia tidak pernah mendengar cerita lain selain ceritanya bersama seorang laki-laki yang baru Ia ketahui bernama Rasya. Tapi nyatanya, orang itu tidak sama dengan yang menitipkan secarik kertas bernada rindu yang sampai saat ini belum Ia berikan pada Azka.


"Ga?" Panggil Azka dari sisi sebelah kiri kemudi


"Iya?" Saga menoleh sekilas, lalu menatap jalanan kembali.


"Kamu kenapa jadi diem?"

__ADS_1


"Lagi nyetir kak" jawab Saga singkat. Ia membelokkan mobilnya saat memasuki gapura perumahan tempat kontrakan Azka. Mobil berhenti tepat di depan rumah kontrakan dengan halaman yang terlihat rapi.


"Sorry ya, buat hari ini" Ucap Azka sebelum berpamitan.


"Kenapa minta maaf?" tanya Saga, tangannya sudah melepas kemudi yang sedari tadi Ia pegang dengan erat.


"Gak apa-apa. Maaf udah berani dateng ke rumah kamu, maaf untuk kejadian di pesta tadi" ucap Azka masih di tempatnya.


"Itu bukan hal yang harus di mintakan maaf kak" Saga masih memandang lurus ke depan. "Oiya, dua hari lagi saya akan ikut Pak Sam ke Bangkok. Ada proyek penelitian dan kegiatan seminar. Pak Sam meminta saya untuk menemani" Saga mengalihkan pembicaraan.


"Oiya? Baguslah. Hati-hati ya. Berapa lama di sana?" Azka bertanya sembari melepas seatbelt yang menahan tubuhnya.


"Dua minggu. Kakak jangan kangen ya" Saga tertawa, suasana sudah lebih cair dari beberapa detik sebelumnya.


"Ahaha, kamu ini. Aku pasti sangat kangen Ga. Siapa yang akan nemenin aku makan siang di kampus? Aku juga harus baca buku sendiri selagi menunggu kelas" Azka berceloteh,


"Kalo gitu tunggu saya. Jangan kemana-mana" ucap Saga. Azka tanpa sadar menganggukkan kepalanya. Azka bergeming di tempatnya, belum berniat untuk beranjak dari kursi di dalam mobil itu. Sesaat keheningan menyergap keduanya. Lirih-lirih suara Fiersa Besari mengiringi keheningan itu dengan tembangnya, Rumah.


Kita hanya berjarak, namun bukan berpisah


Bentangan kilometer, untukmu kan kutempuh


Dipelukanmu sayang, Aku akan pulang


Saga bergumam-gumam kecil mengikuti alunan musik yang terdengar. Sesekali Ia melirik ke arah Azka yang masih diam terpaku di tempatnya. Ia terlihat menyunggingkan senyuman.


Setelah beberapa menit Azka menikmati lantunan musik dari radio di dalam mobil, Azka berpamitan. Ia turun dan menunduk di sisi pintu mobil. Saga menurunkan kaca jendela. Azka melambai yang di balas oleh Saga.


"Masuklah Kak"


"Oke. Sampai bertemu lagi" ucap Azka lalu mundur dan berbalik. Tubuhnya menghilang dibalik debaman pelan pintu kontrakan. Saga masih diam dibalik kemudi. Perlahan Ia menarik laci dashboard dan mengambil dompetnya. Ia meraih kertas yang terselip di dalamnya. Ia masih ingat betul wajah orang yang menitipkan ini. Laki-laki itu bersama dengan Tama, teman Azka yang mereka temui saat di foodcourt. Mengapa Ia memilih untuk menitipkan itu dan bukan memberikannya secara langsung? Dan apakah laki-laki itu begitu percaya dirinya tidak akan membuka secarik kertas itu?


Kemana kau selama ini?


Bidadari yang 'ku nanti


Kenapa baru sekarang kita dipertemukan?


Mungkin salahku melewatkanmu

__ADS_1


'Tak mencarimu sepenuh hati, maafkan aku


Apa kabarmu, yang menanti sebegitu lama?


R.A


Saga mengernyit melihat inisial yang ditulis di akhir surat itu. Ia tak menyadarinya selama ini. Apakah Ia pernah melihat lambang itu? Tapi dimana? Apa maksud dari lambang itu? Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa benar Azka selalu menanti dirinya? Tapi kenapa Ia yang tahu begitu dinanti justru tak ingin menemui?


Ah, rasanya Saga ingin berteriak. Ia merasa bersalah menyembunyikan surat itu. Sudah lebih dari seminggu Ia menyimpannya. Tapi, Azka baru saja membuka jalan baru bagi dirinya. Mengapa Ia harus susah payah merusak hal itu dengan memberikan secarik kertas yang dititipkan oleh entah siapa? Pikiran-pikiran itu memburu Saga, Rasanya kepalanya hampir pecah memikirkan terlalu banyak pertanyaan tentang seseorang di balik secarik kertas yang Ia pegang saat ini.


---


Saga baru saja sampai di lobi pusat perbelanjaan yang Ia datangi bersama Azka. Panggilan dari Pak Sam membuatnya harus meninggalkan gadis itu sendirian. Dari jauh Saga melihat Tama, teman yang tadi dikenalkan oleh Azka. Ia tidak sendirian, namun bersama seorang laki-laki yang tak dikenali Saga. Mereka terlihat terlibat percakapan yang serius. Berkali-kali Tama menarik lengan laki-laki yang satunya lagi, seolah mencegahnya untuk masuk ke pusat perbelanjaan itu. Tama berbicara serius dengannya, tapi kemudian Ia menghentikan pembicaraannya ketika sudut matanya menangkap keberadaan Saga disana. Ia kemudian mengatakan sesuatu pada laki-laki itu yang tak bisa di dengar oleh Saga. Keduanya mendekati Saga, setelah dengan terburu-buru laki-laki yang tak dikenali Saga menuliskan sesuatu pada secarik kertas yang Ia ambil dari dalam tasnya.


"Tolong berikan ini pada Azka"


"Boleh saya tau siapa nama kamu?" tanya Saga pada salah satu dari laki-laki di hadapannya.


"Azka akan tau itu dari siapa" Ucapnya


"Oke" Saga memasukkan secarik kertas itu ke dalam jaketnya. "Kenapa gak dikasih langsung? Azka masih di atas"


"Kami pamit dulu. Makasih ya" Saga akhirnya hanya bisa mengangguk melepas kepergian keduanya.


---


Bunyi dering telpon dari ponselnya menyadarkan lamunan yang terlintas tentang kejadian sekitar seminggu lalu yang terbersit di kepalanya. Buru-buru Ia merogoh saku celananya, sebuah panggilan telpon dari Azka.


"Halo"


"Hei, kenapa masih di luar? Apa kamu gak jadi ke kampus? Mau mampir?" tanya suara Azka yang ceria di sebrang telpon. Saga menoleh ke arah pintu rumah kontrakan Azka. Gadis itu berdiri di sana.


"Enggak, tadi ngecek dulu beberapa hal. Ini mau ke kampus" ucap Saga sambil menurunkan kaca jendela di bagian tempat Azka duduk tadi.


"Oke, hati-hati Ga" ucap Azka sambil melambai dari depan rumahnya.


"Siap. Saya pergi dulu" ucapnya sambil tersenyum ke arah Azka yang masih melambai.


Sambungan telpon diputus lebih dulu oleh Saga. Ia memasukkan kembali kertas yang tadi Ia keluarkan ke dalam dashboard. Ia menyelipkannya di sela-sela buku catatannya dan menumpuknya dengan dompet di sana. Ia memutar kemudi mobilnya, membuat mobil itu kemudian berputar arah. Ia membunyikan klakson tanda pamit kepada Azka yang masih saja berdiri di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2